Pages

13 August, 2014

Knowing your place

 
Sering kali saya agak shock tiap kali menghadiri reuni sekolah atau buka puasa bersama tahunan. Kebanyakan teman-teman saya—khususnya lelaki—yang kurang berprestasi justru menjadi lebih menonjol dalam bidang karirnya. Yang dahulu biasa jadi bahan bullyan, kini menjadi tempat dimintainya lowongan pekerjaan. Lebih sering lagi, tiba-tiba saya mendapatkan undangan pernikahan. Yang paling mengejutkan adalah salah satu teman saya, pernah berkata “Met, nanti gw mau nikah sama dia.” Padahal teman saya itu gak cakep, standar B.G.T. dan cewek incarannya adalah idola di sekolah. Tapi, apa yang dia bilang itu terjadi! Walau itu cewek pacaran beberapa kali dan menolak dia beberapa kali, hingga sepuluh tahun lamanya, teman saya itu tetap gigih berusaha mendapatkan sang wanita.

Nah, dari sana, saya berpikir…. Memang ya, sudah banyak kejadian sekitar yang menegaskan, bahwa lelaki itu memang pemimpin. Bila dia sudah menemukan apa yang diinginkannya atau menetapkan pilihan apa yang ingin dicapainya, dia akan gigih dan pasti jadi! Walau mungkin dia berangkat dari zero to hero.

Membaca kalimat di atas, saya setuju sekali… bahwa sebagai wanita dalam sebuah hubungan (relationship), kita harus tahu tempat/arti/makna kehadiran diri kita baginya. KNOWING YOUR PLACE, GIRLS!

Jika kalian sudah membina hubungan begitu lama (pacaran), ada hak untuk kalian menanyakan “Mau dibawa ke mana hubungan kita?”

Sebab bila dibiarkan kelamaan pacaran, akan lebih banyak dampak negatif, dan hanya ada satu kemungkinan positif, yakni POSITIF HAMIL. Ya iyalah, secara… kalian pacaran sudah ngapain aja? Pastinya perlahan-lahan akan menembus semua batas yang seharusnya dijaga. Panggilan “mama-papa”, sudah dilakukan, pegangan tangan, pelukan, ciuman, sudah. Tinggal melakukan hubungan “mama-papa” toh! Terus punya anak deh… ya gitu terus deh kelangsungannya…. Kamu tahu sendiri.
Seharusnya, bila memang lelaki itu serius sama kamu, dia pasti gak akan membiarkan kamu kelamaan menjamur tanpa kejelasan. Mana tega dia ngegantungin hati, perasaan dan status kamu? Jemuran aja digantung kelamaan bisa hilang, apalagi hati. Mau bilang enggak, karena cinta? Makan tuh cinta! Saya puasa! Eeeh… kok jadi error gini sih saya.

Hmm… jadi gini, loh… intinya… lelaki itu pasti memiliki bidikannya. Karena dia seperti pemburu, sudah tahu mana mangsanya dan ke mana ia akan membawa mangsanya pulang. Dia sudah tahu arah akhirnya. Kalau saat ditanya tentang kejelasan hubungan kalian, dia gak mampu menjawab, atau jawabnya kayak gini,

“Hmm… kita jalani aja dulu. Nanti kita lihat ke depannya.” Hati-hati aja jalan di tempat. Kan, dia ngajakin jalan terus, gak berhenti-henti.

“Aku belum tahu.” Yang kayak gini kamu harapin? Sprite aja tahu yang kumau, masak dia kalah sama minuman? Eeh…

“Aku belum kepikiran.” Katanya, orang yang sayang sama seseorang itu walau sesibuk apa pun akan terus memikirkannya. Lah ini, kamu setia di sampingnya aja, dia gak mikirin. Haduuuhh… kasihan banget kamu, girls! Kamu segitunya mikirin dia, merhatiin, eh dianya malah gak mikirin kamu!

Memang ada beberapa tipe pria. Tapi, semua memiliki kesamaan. Saya pernah iseng bertanya ke teman-teman lelaki saya, “Apa kriteria cewek lo?”

Tahu enggak, mereka jawab apa?

“Kalau cewek untuk dipacari, beda Met dengan kriteria cewek untuk dijadikan istri.”

Nah… so, knowing your place. Kamu itu mau memilih ditempatkan sebagai apa? Dijadikan pacar yang seperti hotel, hanya diingat kalau butuh, didatangi sekali-kali, dan hanya untuk hiburan/liburan? Atau mau dijadikan istri yang seperti rumah, selalu diingat, dan selalu menajdi tujuan akhir setiap manusia di bumi, tempat mereka berpulang.

Semua, ada di tanganmu, Girls…

Semoga kamu bijak memilih…

Sebab, memaksakan cintamu dengan lelaki yang tidak baik, sama halnya seperti memaksa perutmu memakan makanan kotor, tidak bergizi. Pada akhirnya akan membuatmu sakit.

Meta morfillah

12 August, 2014

Tentang mimpi, tulisan dan kesunyian

"Menulis adalah proses disiplin dalam berpikir."

PROSES.
DISIPLIN.
BERPIKIR.

Tiga kata utama. Kalau menulis sekadar mengurai kata, semua orang adalah penulis. Tapi, mengapa tidak semua orang melahirkan karya? Minimal sebuah buku. Terjawablah dari definisi di atas. Tidak semua orang mampu mengimani jalan sunyi seorang penulis. Berkutat lama dan dalam di proses, yang pada akhirnya dikenal sebagai 'proses kreatif' penulis. Disiplin dalam membuat waktu utama untuk menulis, bukan sekadar waktu luang, atau waktu sisa yang tersisihkan. Juga, bersedia berpikir. Berpikir radikal, mengenai apa yang ingin dituliskan, apa tujuan dan manfaatnya, apa dampak dari tulisannya.

Jadi, bukan teknik yang utama--walau tetap saja teknik menulis itu penting--harus dipelajari bagi penulis. Melainkan, proses berpikir kita. Bagaimana caranya agar pikiran menjadi sistematis, logis, dari prolog (awal) hingga ending (akhir) tidak salah logika. Itulah, yang membedakan penulis pro dengan awam. Mereka yang profesional, mampu mengemas berita remeh menjadi 'wah' dan berbeda, memakai sudut pandang yang tak pernah terpikirkan/tak biasa. Sedang yang awam, masih tahap modelling, meniru yang pro, main di kuantitas (jumlah banyak tulisan), tapi belum dapat feelnya.

Nah, saya banget tuh, kategori yang awam. Enggak di dunia fiksi, mau pun non fiksi. Di pekerjaan saya, membuat proposal, dan brosur pun, masih sering cacat logika. Belum paham-paham runutannya, masih sering miss. Pemikiran saya masih kurang disiplin. Terlalu fluktuatif, loncat-loncat seperti cengcorang di kebun. Pembelaan saya, ketika dites psikologi sih, karena saya orangnya acak-abstrak, jadi memang agak sulit mendetailkan hingga ke operasional/strategis. Ah, alasan aja kau, Met!

Intinya, saya merasa sedang mundur seperti undur-undur dalam hal tulisan. Futur dalam keimanan saya sebagai (calon) penulis. Benarkah saya siap dan mampu menjadi seorang penulis? Sedangkan cara berpikir saya masih belum benar. Aaaarghh.. Ada apa dengan otak saya? Bisakah direset ulang? Heh, dikata game watch!

Saya lagi sedih. Itu saja, sih. Saya sedih, mempertanyakan... Benarkah menjadi penulis adalah mimpi saya? Jika benar, penulis macam apa? Cuma artikel-artikel enggak jelas kayak gini? Buat cerpen saja kewalahan. Aah... Payah!

Ataukah jalan ini terlalu sunyi, bagi saya yang membenci sepi? Saya merindukan riuhnya jalan penulis, bersama saling menyemangati. Tapi, nampaknya harus dikunyah sendiri. Kembali lagi, jangan berharap mereka mengerti. Jangan berharap ditemani. Sekali-kali jangan mempercayai orang lain, kecuali dirimu sendiri! Sebab, mereka semua akan mengecewakanmu, semoga saja dirimu tak sebegitu teganya, mengkhianati mimpimu.


Meta morfillah

11 August, 2014

Pernah dikecewakan

“Hanya karena kamu pernah dikecewakan seseorang yang kamu sayangi, bukan berarti kamu bisa mengecewakan orang lain yang menyayangimu.”
Gambar dari sini

Sudah seberapa sering kamu dikecewakan? Walau sudah sering dikatakan kepadamu, bahwa jangan pernah terlalu berharap atau percaya pada manusia, sebab kamu pasti akan kecewa. Cara terbaik untuk tidak kecewa adalah hanya berharap pada Tuhan, atau jangan pernah memiliki harapan berlebihan pada seseorang.

Kalau dipikir-pikir lagi, selama ini sudah seberapa sering kita dikecewakan orang yang sangat kita sayangi dan percayai? Mungkin begitu sering. Meskipun kadang-kadang kita tidak bisa menjelaskan bagaimana kita perlahan belajar memaafkan dan melupakannya, lalu melewati rasa kekecewaan yang membuat dunia kita kelam, hati terasa dicerabut kasar—begitu sakit—namun hingga hari ini kita tetap hidup dan berjalan sebagaimana biasanya. Bagaimana kita bisa pulih, setelah berkali-kali dilukai? Apakah untuk soal perasaan, kita juga memiliki benang-benang fibrinogen yang otomatis terproduksi saat terdeteksi tubuh kita mendapat cedera/luka? Apakah otomatis, Tuhan membuatkan benang-benang fibrinogen untuk menambal luka hati akibat rasa kecewa? Melalui waktukah, obat segala penyakit? Maha baiknya Tuhan, memberikan kita jeda waktu, sebagai penyembuh luka.

Forget to forgive… or … forgive to forget??

Berapa perbandingan antara orang yang mudah melupakan rasa kecewanya untuk memaafkan dengan orang yang memaafkan untuk melupakan? Mana yang lebih mudah, mencoba melupakan terlebih dahulu rasa kecewa tersebut, atau mencoba memaafkan dahulu, sembari perlahan melupakan rasa sakit itu? Setiap orang memiliki caranya masing-masing. Pastinya, setiap permasalahan memiliki penyelesaian. Tergantung pribadi, akankah kita terus berfokus pada kekecewaan?  Hanya saja, apakah dengan terus mengingat kesakitan itu, kamu akan merasa nikmat? Damai? Apakah dengan mempertahankan perihnya rasa kecewa, otomatis memberikan kita hak untuk mengecewakan orang lain yang menyayangi kita? Hanya karena kita merasa paling terzalimi, lantas membenarkan kita untuk mengabaikan perasaan orang lain. Tanpa sadar, kita berubah dari korban “yang dikecewakan”, menjadi pelaku “yang mengecewakan”.

Mungkin, pelan-pelan kita harus menyadari kenyataan bahwa suka atau tidak suka kita  semua pasti mengalami kecewa, dikecewakan dan mengecewakan. Itu sebuah siklus, dan masing-masing kita memiliki jatahnya. Toh, pada akhirnya… kita sudah lupa hampir sebagian besar peristiwa yang telah kita lewati hari ini. Mungkin rumus yang sama juga berlaku untuk rasa kecewa kita.

Meta morfillah

7 Surga

Kumandang cinta bergema hingga ke hati
Lafaz-lafaz asmara memanggil jiwa yang rapuh
Rapuhnya aku kau maha tahu
Pagi, siang, malam dunia yang kutuju
Saat kujatuh baru kusadar kaulah segalanya

Kubaca firmanNya, yang mengumandangkan cinta hingga ke hati. Diajaknya aku bercengkerama melalui kata demi kata. Lafaz-lafaz asmaraNya memanggil jiwa yang merapuh. Segala jawaban, janji dan kepastian penunaian ada di dalamnya. Permasalahannya, terletak pada aku. Seberapa besar keyakinanku dan kepasrahanku untuk tunduk pada janjiNya? Seberapa lebar bentang kesabaranku yang diuji olehNya melalui waktu? Sedangkan, aku sebagai manusia seringkali tercipta tergesa-gesa dan menagih. Menuntut apa yang kukira hakku, setelah kurasa telah kutunaikan kewajibanku. Padahal, tak seperti itu... Tidak seperti itu penilaianNya.

Rapuhnya aku, Dia maha tahu. Semua yang kupendam dalam dada, dengan mudah Dia keluarkan, bila Dia mau. Berkat kasihNya, masih ia jaga dan simpan rapi segala hal yang tersembunyi di balik bibir. Sering kali, aku terlupa akan keberadaanNya, sebab terlalu asyik dengan perkara dunia. Menduakannya dengan pekerjaan, sahabat, kesenangan belaka, makanan-makanan lezat, tontonan melenakan dan sebagainya. Lalu, ketika hatiku jatuh dan membentur tembok kelam, barulah kusadari lagi keberadaanNya.

Tuhan, kuangkat kedua tanganku
Sudikah Engkau menerima cintaku
Berdarah-darah akan kutempuh
Menggapai tarikat cintaMu
Tujuh surga pun aku tak pantas
Menerima diri yang bersimbah dosa
Kuharap cinta dan ampunanMu
Setinggi arasyMu seluas semesta cinta

Maka, saat kesadaran itu datang...
Bahwa aku hanyalah segumpal darah yang akan kembali ke tanah, disambut selimut kepekatan, dan akan kembali pada ketiadaan. Seketika ketakutan hinggap bersarang dan menggetarkan sekujur badan. Untuk apa? Untuk apa aku ada di dunia? Akan seperti apa? Akan seperti apa aku meninggalkan dunia? Setelah kematian, akan menjadi apa aku ini?

Bila neraka dan surga nyata adanya, aku demikian takut. Takut bahwa ketujuh surgaNya tak pantas kutinggali. Bahwa semua amalanku bisa saja seketika sia-sia, seperti debu yang tertiup angin. Tak berbekas. Tak kutahu, apakah akan menetap, apakah aku mampu beramal dengan ikhlas mencari ridhaNya, bukan semata riya', atau sekadar merasa kewajiban belaka yang bila ditunaikan, lantas aku merasa aman dari siksaNya.

Benarkah aku cinta padaNya? Benarkah aku jauh mencintaiNya melampaui makhluk-makhlukNya?
Pantaskah diri yang berlumur dosa, berupaya memaksa hingga berdarah-darah, memasuki salah satu di antara tujuh surgaNya (Firdaus, 'Adn, Naim, Ma'wa, Darussalam, Darul Muqamah, & Darul Qarar)?
Bila bukan padaNya, pada siapa lagi aku berharap? Semoga cintaNya setinggi arasyNya, hingga mampu mengangkatku dari lembah kehinaan. Semoga ampunanNya, seluas semesta, hingga mampu memaafkan diri yang seperti noktah bagiNya.


*cerita lirik lagu edcoustic - 7 surga


Meta morfillah

07 August, 2014

Ada beberapa pria yang lebih terbuka kepada sahabat wanitanya dibandingkan kekasihnya

Ada beberapa pria yang lebih terbuka kepada sahabat wanitanya dibandingkan kekasihnya. 

Salah satunya seperti sahabat saya, Jo. Sungguh lucu, ketika saya yang berbeda kantor dan hanya bertemu beberapa kali dalam sebulan, jauh lebih tahu tentang aktivitas dan hari-hari yang ia hadapi, dibandingkan kekasihnya. Contohnya, seperti dua minggu lalu, Jo mengajak saya nonton film, lalu di tengah serunya film, ia bercerita bahwa minggu depan ia akan mendaki Gunung Rinjani. Saya hanya mengangguk-angguk, setengah mendengarkan, karena lebih fokus pada film di hadapan saya.

Seminggu kemudian, Jihan—kekasih Jo—menelepon saya.

“Tha, kamu tahu enggak Jo ke mana?”

“Loh, bukannya dia ke Rinjani?”

“What! Aduuh.. itu orang ya, kenapa enggak bilang-bilang sih. Pantesan dari kemarin HPnya susah banget dihubungi. Kebiasaan deh, enggak pernah cerita.”

“….”

“Tha tahu dari mana dia naik ke Rinjani?”

“Dia sendiri yang ngomong pas nonton minggu lalu…”

“Hah? Minggu lalu dia nonton sama tha?”

“Iya. Kenapa?”

“Padahal minggu lalu aku juga ngajakin dia nonton, tapi dia bilang lagi malas ke bioskop. Iihh… Jo kenapa, sih? Nyebelin deh!”

Aku hanya diam. Tak lama Jihan memutuskan sambungan teleponnya. Huff… kejadian ini bukanlah sekali dua saja terjadi. Sejak kekasih pertamanya hingga kekasih kesekiannya saat ini, Jo masih saja berperilaku seperti itu. Dan sialnya, aku selalu saja kena getahnya! Jadi bagian pendengar curhatan kekasih-kekasihnya dan segala macam uneg-uneg mereka. Menyebalkan!

***

“Jo, kenapa sih lo enggak terbuka sama cewek-cewek lo?”

“Jihan ngadu lagi sama lo?”

Aku mengangguk.

“Kasihan tahu, cewek-cewek lo. Mereka pasti merasa dinomorduakan sama lo. Gw juga jadi enggak enak. Masak gw jauh lebih tahu kegiatan lo dibanding mereka sih…”

“Biarin aja, sih. Kan lo sahabat gw.”

“Iyaa… tapi enggak gitu juga. Memang kenapa, sih, lo enggak seterbuka itu ke cewek-cewek lo?”

Jo diam dan membuang pandangannya ke arah jam sembilan. Tanda bahwa dia tak mau membincangkan lagi masalah ini. Tapi aku bosan. Bosan menghadapi keluhan-keluhan yang sama dari kekasihnya.

“Atau… karena lo enggak pernah yakin sama mereka?”

Jo menoleh ke arahku. Alisnya yang sebelah mengernyit. Menampakkan kebingungan.

“Yaah.. lo gak pernah cerita sama mereka, karena lo berpikir bahwa hubungan lo sama mereka enggak akan lama. Jadi, buat apa cerita? Cuma buang-buang energi, toh!? Makanya lo lebih terbuka sama gw, karena gw sahabat lo, enggak ada kata ‘putus’ dalam persahabatan. Gitu?”

“Gila, lo, Tha! Pemikiran lo canggih banget. Cocok lo jadi detektif.”

Terasa sindiran dalam nada suara Jo. Dia kesal. Tapi, aku kan lebih kesal. Biar saja, sekali-sekali aku tak memedulikan tatapan marahnya.

“Apa kalau gw jadi cewek lo, lo bakal kayak gitu juga ke gw, Jo?”

“Case closed! Gw enggak suka berandai-andai, Tha.”

Jo beranjak pergi. Meninggalkan aku yang cemberut sebelum akhirnya mengalah dan mengikutinya. Aku tak mengerti pemikiran lelaki. Mungkin sama dengan lelaki yang tak pernah mengerti tentang kami, wanita.
***

Prioritasmu belum tentu prioritas orang lain

"Ya ampuun, Meet... Udah dua tahun gak ketemu. Masih kurus, cakep dan jomblo aja!"

Begitulah, ketemu teman seperjuangan. Kata-kata nyindirnya khas, tapi saya sih senyum-senyum saja.

"Gila lo ya, udah ganti tahun, ganti status dari mahasiswa jadi karyawati, ganti pekerjaan juga, ini HP masih aja. Setia amat lo!"

"Tahu tuh, gaji lumayan, tapi nggak ada yang berubah dari nih anak. Masih aja sama kayak dulu. Barang-barangnya masih dijagain."

"Meta mah, jangan ditanya. Kalau enggak sampai rusak hancur, enggak berfungsi atau hilang, dia enggak bakalan ganti gadget."

Kembali saya tersenyum saja menanggapi ragam komentar teman-teman seperjuangan. Mereka cukup tahu, bahwa komentar itu tidak akan sekejap membuat saya mengganti semua gadget jadul yang saya miliki ini.

***

Kalau bukan karena keparnoan mama atas bintik putih di wajah saya yang semakin menyata, tidak akan pernah saya mau ke dokter kulit. Malas! Tapi, demi meredam rasa parno mama--yang takut banget saya kena kanker kulit--saya mengalah, dan bela-belain pulang malam demi ke dokter kulit.

Setelah antre satu jam, tibalah waktu saya konsul dengan sang dokter. Disentuh pun tidak. Cuma dilihat wajah saya sekilas, beberapa pertanyaan pendek dan nasihat "Jangan panas-panasan. Rajin pakai payung ya. Kamu kena -- sesuatu yang terdengar pengucapannya seperti petrisis alba (karena panas)--"

Tidak sampai lima menit saya konsul, lalu antre membayar biaya konsul sebesar Rp 155.000 dan beranjak ke ruang sebelah untuk menebus obat. Niat awalnya, ingin tanya dulu berapa total harga obat yang harus saya tebus. Namun, padatnya orang membuat apotekernya menyuruh saya duduk saja dulu, menunggu antrean. Saya kebagian nomor urut 85, sedangkan yang dipanggil baru nomor 60. Aah.. Kembali menunggu membuat saya mengantuk.

"Nomor 85."

Itu nomor saya! Saya bergegas ke kasir untuk membayar.

"Totalnya Rp 627.000"

Hah!? Mahal banget! Saya intip layar komputer mbak kasir yang terlihat karena letaknya tegak lurus dengan tempat saya berdiri. Ada satu obat, namanya AOT kalau tak salah seharga Rp 497.000. Itu dia penyebab mahalnya!

"Ng.. Mbak, saya tebus sabun sama sunblocknya saja."

"Obatnya enggak, Mbak?"

"Enggak usah."

"Oke, jadi Rp 44.000"

Saya bayar tunai. Lalu kembali menunggu lima menit untuk menerima obat yang sudah dibeli. Jarum pendek jam ada di antara angka tujuh dan delapan, sementara jarum panjangnya di angka tujuh. Lumayan membuang waktu, pikir saya. Dari pukul enam, hanya seperti ini hasilnya. Saya semakin heran, rumah praktik dokter itu tak pernah sepi. Padahal, kalau saya perhatikan, yang datang ke sana tampan dan cantik. Apa yaa yang mereka obati?

Tak habis pikir saya. Kembali teringat pada harga obat yang seharusnya saya tebus tadi. Uang segitu, bisa untuk biayain sekolah ponakan, anak yatim, atau makan seminggu, atau travelling ke pulau seribu/kota lain, dan masih banyak lagi, ketimbang cuma untuk menghilangkan flek putih akibat kepanasan. Toh, flek itu bukan penyakit yang membuat produktivitas kinerja saya menurun. Bukan penyakit serius. Bisa diakali dengan memakai bedak atau sunblock. Bisa juga saya perbaiki melalui pola makan, memperbanyak vitamin dan nutrisi alami bagi kulit. Cara alami yang lebih mudah, murah dan menjanjikan. Tidak instan memang. Lebih baik uang itu untuk kepentingan yang lebih besar, dibandingkan kepentingan secuil diri saya, yang bukan kebutuhan primer saya.

***

Yaa.. Sering kali, suatu hal yang menurut orang lain penting, belum tentu penting bagi kita. Seperti gadget, bagi saya, selama masih berfungsi sebagaimana fungsinya, saya masih bisa menghasilkan tulisan melaluinya, walau sudah jadul, agak error, tapi tetap oke. Tidak perlu diganti. Namun, bagi sebagian orang, ada yang merasa penting baginya mengikuti perkembangan zaman. Prioritas, untuk mengganti gadgetnya agar dia lebih paham update terbaru, bisa memerinci specification tiap gadgetnya. Manusiawi, lumrah.

Pun halnya dengan uang 600 ribu. Bagi saya untuk obat kulit yang tidak mengganggu fungsional tubuh saya, hal itu bukanlah prioritas. Tak penting. Tapi, bagi seorang model, artis, atau orang yang bekerja dan harus berpenampilan menarik, hal itu sangatlah penting.

Tidak boleh bagi kita memaksakan ukuran-ukuran/nilai-nilai hidup kita pada orang lain, dan menjudgenya negatif bila tak sesuai dengan nilai kita. Itu sama saja seperti memaksakan orang berukuran L memakai baju kita yang berukuran S, pun sebaliknya.

Prioritas, biasanya berangkat dari nilai-nilai hidup yang dianut. So, tentu berbeda prioritas orang yang berjiwa sosialis dengan orang yang berjiwa individualis. Berbeda prioritas orang yang bergaya hidup hedonis dengan bergaya hidup prihatin.

So, pahami dasarnya, mengapa semua itu bisa berbeda. Ada kalanya, prioritas bagimu, belum tentu prioritas bagi lainnya. Pun sebaliknya.


Meta morfillah

06 August, 2014

Satu tulisan yang dipaksakan

Terbangun pukul lima pagi, dengan firasat tak enak. Tapi kuacuhkan saja. Bergegas salat subuh, melawan kantuk yang memaksa untuk tetap bergelut di balik selimut. Dua rakaat kutunaikan sekadarnya. Bahkan sempat kuselingi dengan menguap. Entahlah, benarkah ibadah yang kulakukan dalam setengah kesadaran itu. Secepatnya kuakhiri agar dapat bercumbu lagi dengan guling.

Terbangun untuk kali kedua pukul enam. Omelan mama adalah nyanyian pagiku. Omelan yang sama isinya di tiap pagi. Masih tentang kelakuanku sebagai anak perawan, dan kekhawatirannya akan masa depan rumah tanggaku, menilik sifatku yang semakin sering bangun siang. Lagi-lagi, kubalas dengan cengiran dan menggodanya dengan ciuman. Yaa... Menurutku, bila orang sedang marah-marah, cemberut atau emosi negatif lainnya hanya perlu disikapi dengan senyuman, pelukan dan ciuman. Perlahan omelannya mereda, mama terdiam pasrah dengan godaan dan ciumanku yang bertubi-tubi di pipinya. Menyerah. Mama kemudian beranjak mengambil kerudungnya, bertanya mau dibelikan nasi uduk Bu Yati atau nasi uduk RT 06. Kujawab, nasi uduk RT 06. Lumayan jauh dari rumahku. Tapi, begitulah mama. Benar-benar surga seperti surga. Sementara aku bebenah dan mandi, mama menyediakan sarapanku. Selesai berpakaian, kutemukan nasi uduk kesukaanku sudah tersedia, lengkap dengan segelas teh manis hangat. Seperti biasanya, aku hanya mampu memaksakan diri untuk menghabiskan setengah porsi. Sisanya? Yaa mama yang habiskan. Mama hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku. Tapi dihabiskannya juga nasi uduk itu.

Jam menunjukkan pukul setengah delapan saat aku pamit. Matahari sudah sepenggalah, sinarnya begitu terang, menandakan ia begitu bersemangat menyambut pagi ini. Lumayan membuat peluhku mengalir, walau aku berlindung di balik bayang-bayang tiang listrik saat menanti bus. Lima menit. Bus yang kunanti datang. Supirnya masih muda, mengemudi dengan kecepatan supersonik. Mungkin ia merasa dirinya kucing, memiliki sembilan nyawa. Atau karena merasa masih muda, ia tidak takut mati. Walau agak ngeri, berlafazkan istigfar, aku cukup menikmati. Dengan gaya seperti ini, ditambah jalanan ibu kota yang belum begitu padat, kemungkinan sampai kantor akan lebih pagi. Benar saja, setengah jam kemudian aku sudah tiba di perempatan radio dalam--tempatku biasa turun.

Sepuluh menit kuhabiskan berjalan kaki, melewati jalanan komplek radio yang cukup lengang. Lazuardi begitu indah. Pohon-pohon seperti bercahaya keemasan, tertimpa sinar matahari dari sebelah kiri. Bahkan aku melihat seekor tupai berlari meniti kabel listrik. Cukup membuat aku tercengang, di Jakarta melihat tupai, bukankah itu lumayan langka!? Seperti biasa, lantai satu masih sepi. Aku mengaktifkan laptop, lalu perlahan tenggelam dalam kesibukan membuat silabus, pre & post test, serta rutinitas lainnya, ditemani suara penyiar radio Jak FM yang kustreaming. Sekitar pukul sebelas, perutku sakit dan migrainku kambuh. Firasatku bahwa periode datang bulanku jatuh pada hari ini terbukti. Dari rumah sudah kukenakan pembalut dan kubatalkan niat puasa qadha. Oh Tuhan, rasanya ingin kucopot sebentar kepala ini, atau berharap bisa mengeluarkan rasa sakit karena migrain seperti Dumbledore mengeluarkan ingatannya ke dalam pensive. Sayangnya, itu hanya imajinasiku semata. Kutahan-tahan, sambil sesekali wajahku mengernyit bila ada beberapa titik yang terasa ditusuk-tusuk di dalam kepalaku sebelah kiri. Perlahan mataku terasa pedih, badanku terasa meriang, pegal-pegal di sekujur tubuh. Hari pertama selalu menyiksa. Ingin sekali rasanya mematikan laptop, gadget, dan segala benda yang bercahaya. Yaa.. Saat migrain, aku menjadi photofobia--menghindari cahaya. Yang kubutuhkan adalah kegelapan pekat, dan berbaring. Sayangnya, di kantor tidak bisa kulakukan itu. Kucari panadol merah di kotak obat. Kutemukan sisa satu. Kutenggak cepat dengan seteguk air mineral. Berharap obat itu langsung bekerja, menghentikan rasa sakit yang semakin menjalar dalam kepalaku.

Jam istirahat tiba. Awalnya malas beranjak ke mana-mana. Rasanya aku hanya ingin meringkuk di kursiku, menekan erat-erat perutku yang semakin sakit dan merebahkan kepalaku seperti bersujud. Tapi, aku lapar. Berpikir lebih menguras energiku, dibandingkan berenang. Energi yang dihasilkan dari nasi uduk tadi pagi sudah habis seiring lahirnya sebuah silabus dan revisi dua silabus lainnya. Kuikuti ketiga rekan kerjaku yang mengajak makan soto padang. Kebetulan, sudah lama aku mengidamkan soto padang, namun belum berhasil mewujudkannya. Sebab, saat aku datang ke warung padang tersebut di waktu istirahat hari jumat, mereka tutup. Pegawai mereka ternyata lelaki semua dan salat jumat semua. Hatiku lumayan senang membayangkan akan merasakan soto padang yang terkenal enak dan direkomendasikan beberapa temanku itu. Tapi kesenangan itu hanya bertahan sementara. Warung padang tersebut tutup, karena tempatnya sedang diperbaiki. Ah, sentimen sekali warung itu padaku. Dua kali tak berhasil kurasakan soto padang. 

Kami pun berbelok tujuan, ke Lokananta. Sebuah cafe yang cukup cozy, harga lumayan, cukup worth it untuk ukuran dan rasa makanannya. Hanya saja, agak menyebalkan. Total waktu yang kami habiskan di sana adalah dua jam. Satu jam lebih kami habiskan untuk menunggu orderan. Untunglah, suasana kerja masih belum terlalu efektif. Jadi ketelatanku kembali ke kantor masih dimaklumi, toh pekerjaanku sudah selesai semua. Sempat stuck mau mengerjakan apa lagi setelahnya, sehingga kusibukkan diri dengan beragam ad hoc. Keasikan mengerjakan ad hoc, membuatku tak menyadari bahwa jam telah menunjukkan pukul lima. Waktunya pulaaaang. Sengaja aku pulang tepat waktu dan bergegas cepat, karena ingin ke dokter kulit untuk memeriksakan bintik putih yang ada di wajahku. Tapi, kekecewaan lagi-lagi menyapaku. Dokternya hanya praktik di hari senin, rabu dan jumat. Kuhela nafas panjang, berbalik arah dan kuputuskan pulang. 

Di atas bus yang melaju mengantarkanku pulang, banyak kelebatan pikiran di kepalaku. Salah satunya, menyayangkan betapa akhir-akhir ini aku mudah merasa lelah dan mengabaikan komitmen menulis satu tulisan dalam satu hari. Belum lagi hutang-hutang proyek cerpen. Aah.. Kupaksakan diri mengetikkan kata demi kata di kepalaku. Tapi jariku membeku. Akhirnya, kuputuskan untuk mencoba menceritakan kejadian yang kualami hari ini mulai dari bangun hingga detik kutuliskan cerita ini. Inilah hasilnya... Satu tulisan yang dipaksakan.


Meta morfillah

Ketakutan dalam kesempurnaan?

Denganmu, hidupku nyaris sempurna...
Tapi akunya saja yang terlalu takut.


Itukah jawabannya?
Mendapati kesempurnaan saat bersamamu, malah membuat hatiku mengerut. Takut. Takut bahwa ini semua hanyalah mimpi. Tapi, setelah kucubit pipiku... Sakit. Rasa sakitnya senyata dirimu yang ada di hadapanku.

Memang, seperti inilah yang kuimpikan. Namun ketika kudapatkan semua yang kuinginkan, lantas ketakutanku muncul. Apakah ini benar? Tidakkah ini terlalu fatamorgana? Bukankah hidup tidak akan pernah sempurna? Di mana retakan itu? Di mana... Di mana? Kucari-cari celamu, tapi tak kutemukan. Inikah yang disebut manusiawi? Terlalu banyak keinginan, namun ketika semua keinginannya terpenuhi, ia tetap saja tak percaya, dan menginginkan ketidakpengabulan akan mimpinya.

Sayangnya, untuk sebuah rasa, yang begitu abstrak dan tak mewujud, kita tak bisa meminta bantuan seperti phone a friend, fifty-fifty atau ask the audience. Untuk menjawab keraguan tersebut, terkadang kita membutuhkan jarak, seperti spasi saat mengetik. Untuk menegaskan, apakah rasa ini akan semakin membesar ataukah memudar? Tentunya, tak lepas akan peranan sang waktu yang menguji kualitas.

Jadi, kamu yang nyaris membuat hidupku sempurna, atau akunya yang memang terlalu takut?


Meta morfillah

Masihkah aku akan beriman?

Sering kali, setiap aku akan tidur, terlintas pertanyaan "Tuhan, akankah aku masih beriman padamu, saat aku terbangun nanti? Akankah di akhir usiaku, aku masih menjadi hambamu?"

Terbersit rasa takut yang amat dahsyat, bagaimana bila tidak? Bagaimana bila aku tidak lagi menjadi hambaNya? Bagaimana bila di akhir usiaku, aku malah menjadi musuhNya, hanya karena sering dikecewakan makhlukNya? Bagaimana? Bukankah semua yang kulakukan pada nantinya, hanyalah kesia-siaan belaka? Siapa yang dapat menjaminkan hal tersebut untukku? Menjaminkan... Bahwa segala hal yang kulakukan bukanlah kesiaan. Sedangkan, godaan dalam beribadah begitu banyak. Celah-celah riya' dan sombong semakin menyeruak lebar. Walau kadang, tak pernah ada niatan untuk itu... Tapi pujian sering kali menyesatkan dan membelokkan arah niatan. Niat awal, mengajak kawan ke arah kebaikan, menujuMu. Sebab, surga begitu luas, maka ingin sekali diri ini mengajak yang disayanginya untuk masuk semua ke sana. Tapi, postingan tulisan, status, di beragam media sosial malah bisa menjadi bumerang. Disangka riya', pamer, lalu ada komentar pujian yang menggoda sombong untuk melekat di hati, merasa diri lebih baik amalan dan ibadahnya dibanding yang lain. Seketika, niat pun berubah. Naudzubillah...

Dalam upaya pencarianku terhadap diriMu, semakin aku mendekat, semakin besar rasa takut ini Tuhan. Pernah kudengar sebuah kisah... Tentang fulan dan amalannya.

Fulan begitu rajin beribadah, hampir tak ada cela. Hingga malaikat merasa kagum padanya. Lalu saat hari pengumpulan amal, malaikat membawa pahala amalan-amalan si fulan. Menembus tujuh langit dan masing-masing malaikat penjaganya. Semua malaikat di tiap langit meloloskan pahala amalan si fulan, dan meyakini bahwa fulan pantas mendapatkan surgaMu. Namun, ketika amalan itu sampai di hadapanMu, Engkau bahkan tak sudi melihat amalanNya, dan menyuruh malaikat memasukkan si fulan ke dalam neraka. Tentu saja, malaikat bingung dan bertanya mengapa si fulan harus dimasukkan ke neraka. Dan apa jawabMu?
"Boleh saja amalan-amalan itu menipu kalian, para malaikatku. Tapi sesungguhnya, aku maha mengetahui. Apa yang disembunyikan dalam hati si fulan. Hanya aku dan si fulan yang tahu apa dasar dari niat si fulan melakukan amalan-amalan itu."

Ya Tuhan... Sungguh, menyeramkan mendengar cerita itu. Semua amalan menjadi kesiaan hanya karena niatnya yang ternoda. Lalu, bagaimana dengan amalanku? Yang masih jauh dari ilmuMu. Masih bodoh dan kadang mengikuti apa yang menurut orang baik. Bagaimana dengan amalanku yang belang-blentong, menuruti syahwat, fluktuatif, naik-turun bagai pesawat. Bagaimana dengan amalanku yang kadang masih mengharapkan balasan sesuai keinginanku, bukan mencari ridhaMu. Bagaimana dengan amalanku yang belum mencapai rasa tertinggi, nikmat beribadah padamu. Bagaimana, bila aku tak lagi memiliki waktu untuk memperbaikinya? Sebab gelap pekat tak berdasar keburu menjemputku. Bagaimana bila aku mati dalam akhir usia dan dalam keadaan tak lagi menjadi hambaMu? Naudzubillah...

Tuhan, sang pemilik dan pembolak-balik hati... Maka kutitipkan hatiku padaMu. Siapa lagi yang mampu menjaminkan semua hal itu, bila bukan Engkau, sang penciptaku? Boleh saja makhlukMu banyak yang mengecewakan, tapi... Engkau tak akan pernah mengecewakan, bukan? Semoga... Aku bukan termasuk hambaMu yang bodoh, yang banyak jumlahnya namun tak berarti... Seperti buih di lautan.

Yaa rahman, yaa rahiim, yaa ghafuur...
Perkenankanlah muhasabahku ini sebagai pengingatku di masa-masa yang akan datang. Bila aku hendak menduakanMu, melenceng dari jalanMu, maka jadikan tulisan ini penampar pertamaku, sebelum tertampar azabMu. Aamiiin.


Meta morfillah

Text Widget