Pages

30 July, 2017

Guru Villain

Cerita seputar kelas 8:

"Bu Rara, di kelas 7 sekarang, Bu Meta sudah pernah marah belum?" Tanya dua murid ikhwan yang dulu memang pernah saya marahi terkait sikapnya.

"Belum."

"Wah, kelasnya baik berarti."

----------_-------------_---------------

"Bu Ria senang ya, jadi wali kelas 7 sekarang. Bisa marah-marah terus."

"Lah, memang wali kelas kerjanya marah-marah terus?"

"Bu Meta kan dulu jadi wali kelas sering marah-marah."

----------_-------------_---------------

Tiap baru datang, pas salaman sama kelas 8 di bawah, sebelum naik ke atas ke kelas 7, akhwat suka salaman dan narik saya ke dalam kelasnya "Sini Ibu. Ibu ngajarnya di kelas ini."

Terus ikhwan suka halangi pintu kelas 8, biar saya gak bisa keluar kelas.

Jam istirahat pun suka naik ke kelas (padahal badannya besar dan suka terengah-engah kalau naik tangga) dan nyamperin sambil narik-narik tangan saya lalu bilang, "Ibu ngajar kita lagi atuh. Fisika juga gak apa-apa, deh."

----------_-------------_---------------

Yaah, gitu dah anak-anak. Makhluk paradoks. Bilangnya sebel, malas, tapi nyari muluk. Masih belum move on, nunggu 3 bulan kali ya (kayak masa probation). Nanti juga jatuh hati sama walas dan guru kelasnya setelah melewati beragam kebersamaan.

Sementara saya, senang saja sih dari dulu jadi tokoh villain. Tokoh antagonis yang dicintai karena bukan dasarnya antagonis, tapi demi kesuksesan harus jadi terlihat galak, killer, tegas, dll. Macam Snape di film Harry Potter. Saya mah yakin saja, nanti juga mereka tahu bahwa saya juga sayang mereka, tapi dengan cara berbeda. Tidak melulu menuruti dan lemah lembut.

#kicauguru

Meta morfillah

29 July, 2017

Senyumin aja!

Allah itu sudah baik banget sama aku. Dilengkapinya diriku akan hal yang kurang kusuka tapi kubutuhkan. Contohnya dari segi pertemanan, alhamdulillah aku dipertemukan dalam bingkai ukhuwah yang menerima "warnaku" sesuai fitrahnya.

Dari segi pendidikan, alhamdulillah dikelok-kelokkannya aku macam benang kusut tak nyambung, namun ternyata memberi beragam pengalaman yang memperkaya hidupku.

Dari segi pekerjaan, dimenclok-menclokkannya diriku bagai tak tentu arah, namun nyatanya selalu menujuNya dan membuatku semakin terjaga.

Dari segi keluarga, dijadikannya aku yatim di usia remaja agar aku paham sebenarnya peran wanita sebagai istri dan ibu melalui kiprah mama dalam hidupku.

Dari segi kesabaran, diberikannya aku seorang uda yang luar biasa, agar aku terbiasa menghadapi beragam tipe anak berkebutuhan khusus yang nyatanya semakin sering kutemukan. Pandanganku meluas, tidak sekadar perasaan sang anak, tapi juga keluarga dan sekitarnya.

Dan masih banyak lagi kebaikan Allah pada diriku terhadap hal yang bahkan aku luput memintanya. Pencapaian rasa syukur ini, tidak semudah yang kalian lihat. Bahkan dalam lautan syukur nikmatNya, masih banyak godaan syaithan untukku berpaling hanya karena satu hal.

Ya, perkara pendamping hidup yang sering digaungkan sekitarku. Biasanya orang yang tak mengenalku dan sok tahu akan hidupku seakan dia sutradaranya. Kadang jengkel menghadapinya, tapi mendingan didiamkan saja. Senyumin aja. Biarlah mereka dengan perhatian terhadap satu ketaksempurnaanku menurut mereka, sementara aku cukuplah qana'ah akan nikmatNya yang melimpah hingga detik ini. Berfokus pada kertas putih, bukan tinta hitam di tengah kertas.

Mudah?
Tentu tidak. Sebab surga tak semudah itu, kawan!

Meta morfillah

27 July, 2017

[Review buku] Sekolah anak-anak juara

Judul: Sekolah anak-anak juara
Penulis: Munif Chatib
Penerbit: Kaifa learning
Dimensi: xvi + 196 hlm, 24 cm, cetakan I Mei 2012
ISBN: 978 602 8994 84 2

Buku ini menjelaskan tentang sistem pendidikan yang ideal, di mana sekolah bukanlah tempat untuk menjadikan siswanya sebagai robot. Patuh namun tidak kreatif, pintar hanya dalam kognitif, sementara potensi kecerdasan lainnya tidak dihargai. Sekolah robot hanya menerima masukan anak-anak "cerdas" dan mengolahnya menjadi luaran yang seragam.

Dengan basis multiple intelligences, penulis memberikan contoh aplikasi tentang bagaimana seharusnya lembaga pendidikan berperan. Diawali dengan bab pertama yang menyadarkan bahwa manusia adalah karya terbaik Tuhan, lalu penyadaran akan kehebatan Otak, sebagai sumber kecerdasan manusia, bab ketiga menjelaskan keanekaragaman kecerdasan yang dibagi menjadi 9 oleh Howard Gardner, bab keempat tentang sekolah robot yang belum optimal dalam tes masuk, proses, dan output, ditutup oleh bab lima: kondisi akhir terbaik, tentang beragam kisah keberhasilan tiap Multiple Intelligences. Bahwa guru harus yakin bukanlah murid yang bermasalah, mungkin cara mengajar kita sebagai guru yang belum sesuai dengan gaya belajar anak.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Manusia, bagaimanapun keadaannya, jika tak diterima oleh lingkungan terdekatnya, tidak akan berbahagia." (H.27)

"Tak ada satu pun jenis kecerdasan yang lebih baik daripada kecerdasan lainnya. Apa pun bentuk dan jenis kecerdasan yang ditawarkan, sepanjang produk kecerdasan tersebut punya manfaat, maka dalam makna itulah seseorang dikatakan cerdas." (H.109)

"Mengajar adalah sebuah pekerjaan seni tingkat tinggi. Guru adalah seniman pendidikan, yang melukis pikiran anak-anak muda. Mengajar tidak hanya transfer ilmu pengetahuan, tetapi melibatkan kekuatan pikiran, energi pengetahuan yang melimpah, psikologi kesabaran, dan keyakinan bahwa semua anak cerdas dengan multiple intelligences." (H.141)

Meta morfillah

26 July, 2017

Tentang Al Aqsha

"Met, buatlah tulisan tentang Palestina, Al Aqsha!"

"Aku ingin. Tapi aku sedang mendalami rasa."

"Pergilah ke Palestina kalau kau ingin merasakan!" Temanku berkata dengan marah, dikiranya saya bercanda dan main-main.

"Ya, aku ingin ke sana." Saya menjawab dengan datar dan mata menerawang.

Ketahuilah, saya tidak bermaksud bercanda tentang "rasa". Tapi, saya kelu menuliskan tentang mereka. Sebab tiada habis pikir mengapa mereka selalu dijahati. Mengapa mereka diusir dari tanah mereka sendiri? Mengapa mereka tidak bebas beribadah sedangkan mereka tidak mengganggu ibadah yang lain? Mengapa dari dulu hingga sekarang Palestina dan Masjidil Aqsha tidak kunjung Allah berikan rasa aman dalam negeri, Allah menangkan? Mengapa begitu kejam perlakuan orang yang menjunjung Hak Asasi Manusia terhadap wanita, anak, dan bayi? Sampai kapankah ini akan terjadi?

Terlalu banyak MENGAPA dalam pikiran saya, hingga saya begitu ingin mendatangi Palestina. Ingin berbicara dengan bahasa manusia dan ilmu pengetahuan yang mereka agungkan tentang manusia. Bisakah? Akankah didengar?

Menulis itu mudah, tapi menulis di atas penderitaan itu, rasanya bagai saya ikut tersayat. Tulisan saya tidak sekadar fakta, tapi juga rasa. Rasa bagaimana bila itu semua terjadi di negeri yang saya diami saat ini, pada masjid yang saya suka kunjungi, pada keluarga saya, pada diri saya? Masihkah bisa menuliskan kesedihan itu?

Luka mereka, sedih mereka, kesabaran mereka, membuat saya malu... saya tak tahu harus bagaimana menggambarkannya. Saya tak kuasa menjadikan mereka bahan tulisan, sebuah puisi untuk diperdengarkan sementara mereka menerjang nyawa dalam kata-kata saya. Astaghfirullah...

Yuk, bantu doa, donasi, dan apa saja yang kita bisa, bila tak mampu membantu langsung ke sana!

"Bila seonggok kemanusiaan terkapar, siapa mengaku bertanggung jawab? Bila tidak ada, biarlah saya yang menanggungnya, sebagian atau seluruhnya." (Alm. Ustad Rahmat Abdullah)

Meta morfillah

22 July, 2017

RPP

"Met, jarang online sekarang? Lama balas japrian. Sibuk banget ya?"

"Yup, sebulan ke depan lagi fokus buat RPP karena temaku yang pertama."

"Kok, lihat kamu, kayaknya ribet amat jadi guru. Banyak yang dipikirkan? Yang lain enak-enak aja. RPP juga kan tinggal copas, selesai."

Oh my Allah... masih loh banyak yang mikir jadi guru itu nyantai, asyik, kerja cuma kalau jam ngajarnya tiba. Mikir gak sih yang ngomong itu, namanya aja guru. Bekerja di bidang pendidikan, masak iya ilmunya gak update? Apa karena merasa sudah jadi guru, ya sudah pintar? Gak perlu update baca, tonton, amati tentang Human Talent, parenting, berita terkini, perkembangan otak, hingga novel, cerpen, dan puisi terbaru?

Padahal guru itu profesi. Maka bekerjanya juga profesional. Ada langkah ilmiah layaknya profesi lain seperti dokter, pilot, dan lainnya. Gak percaya? Mau tahu bukti keprofesionalan seorang guru? Ceklah RPPnya!

RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) atau dikenal dengan lesson plan adalah hal wajib dan tak terpisahkan dari seorang guru. Untuk melihat kualitas seorang guru yang benar-benar mikir dan profesional, bisa kalian lihat strategi mengajar dan aneka persiapan, media belajar hingga penilaian autentiknya.

Sebab saat mendesain lesson plan/RPP sebelum mengajar, guru melakukan pekerjaan ilmiah yang memerlukan perilaku ilmiah dan didukung oleh data hasil riset, layaknya disertasi pada strata tiga. RPP tersebut harus merupakan aplikasi silabus yang mengacu pada taksonomi Bloom. Dan saya akui, saya sendiri sebagai sarjana pendidikan masih kelimpungan untuk mengaplikasikan teori-teori pendidikan yang saya ketahui dalam aktivitas pembelajaran.

Itulah mengapa tidak sembarangan copy paste dan asal saja membuat RPP ini. Bagi saya ini adalah challenge dan ladang saya berkreasi serta bebenah diri. RPP yang sama di tahun ajaran lalu, belum tentu bisa digunakan di tahun ajaran saat ini. Mengapa? Sebab peserta didiknya berbeda. RPP memang begitu-begitu saja, selembar kertas berformat, tapi isinya, akan selalu dinamis karena berhadapan dengan manusia yang paradoks. Siswa yang kita ajar tidaklah akan pernah sama.

Tak heran juga, bila RPP merupakan beban terberat bagi seorang guru dalam bekerja. Namun, bukan hal mustahil. Sehingga saya amat kecewa jika masih mendengar atau menyaksikan guru yang PD mengajar tanpa merancang RPPnya, membuat RPP setelah selesai mengajar (Tak sesuai dengan namanya yang sebagai rencana, itu mah namanya pendokumentasian pengajaran) hanya untuk memenuhi kelengkapan administrasi yang dipakai akreditasi sekolah.

Ketahuilah, ada banyak manfaat dengan jujur, rajin, dan disiplin membuat RPP. Mau tahu apa saja manfaatnya? Baca tuh buku "Sekolah anak-anak juara" karya Munif Chatib halaman 142-143. Biar gak malas-malas banget kalian. Bacalah buku, jangan mau enaknya saja , menerima saripati. Kalau belum paham, ya belajar! Konsultasi sama yang paham.

Meta morfillah

#wanita yang sedang-akan-selalu belajar

21 July, 2017

Warna-warni

Sama tidak selalu menarik. Justru dari perbedaanlah, kita tahu indahnya dunia. Seperti Kampung Warna-Warni Katulampa saat ini. Mendadak jadi semangat tiap berangkat ke sekolah, soalnya cerah ceria, full colours. Baru-baru ini pun Katulampa mendapat penghargaan atas keceriaan itu dan jargonnya GEMAR SAWI (Gerakan Masyarakat Sadar Wilayah). Sekolah Islam Ibnu Hajar, tempat saya mengajar merupakan bagiannya. Jadi kami turut happy (n_n)

Menyadari potensinya di mana Bendung Katulampa dengan air yang terus mengalir deras, masyarakat Katulampa mengadakan wahana tubing. Kalau sekolah saya sih sudah biasa tubing dan susur sungai katulampa. Sebab itu memang bagian dari proses belajar anak. Seperti Local Explorer lalu (semacam MOS), kami turun ke sawah mencari tutut, kepiting, dan ikan lalu lanjut susur sungai sekalian cuci baju dan kaki yang terkena tanah sawah.

Kalau dipikir, cuma modal cat sih. Tapi kok menarik ya? Sebab kita sadar bahwa setiap warna itu menarik dan berbeda itu indah. Maka jangan paksakan untuk terus sama, kuncinya adalah MENGHARGAI. Sama kayak warna STIFIn: mau merah, hitam, kuning, biru atau hijau, semuanya keren kalau saling menghargai potensi dan mengingatkan untuk mewaspadai kelemahan.

Dan warna terindah di dunia adalah warna yang telah tercelup warna Ilahi (shibghatallah). Warna yang taat pada Rabbnya. Semoga kita mampu mewarnai atau diwarnai oleh warna itu ya.

I see your true colours, that's why I love you... don't be afraid...

Meta morfillah

17 July, 2017

Tahun ajaran baru 2017/2018

Selamat datang!

Selamat bergabung dalam kehidupan kami setahun ke depan. Kamilah yang akan belajar banyak dari kalian, Nak! Maka para guru begitu bersemangat menyambut anak didiknya di pagi hari. Memberikan senyum terbaik dan menyemangati yang masih belum move on dari libur, dari TK, dari SD, dan dari guru sebelumnya.

Setelah perkenalan, ada banyak persiapan. Kita perlu menyepakati beberapa rules. Tentunya dengan menyadarkan bahwa kalian adalah remaja keren yang sudah akil baligh. Banyak kesepakatan yang harus kita musyawarahkan. Sebab kita akan mulai berlayar dalam program-program kece. Agar tidak tenggelam dan perjalanan kita asyik, maka mohon taat aturan!

Hingga saat berpisah nanti, kenangan manis, ilmu bermanfaat dan hal positif yang kalian warisi. Ah, life... time flies~

Kita boleh melakukan apa saja, asal tidak ada hak Allah/hak orang lain yang terganggu.

Mungkin, dalam semua hubungan bisa kita berlakukan seperti ini. Perkenalan-kesepakatan-konsekuensi dan reward-pendalaman-konsistensi-perpisahan.

Meta morfillah

16 July, 2017

Menuju

MENUJU

Sesaat demi sesaat...
Perlahan-lahan kita akan menuju tempat yang ingin kita datangi. Pun mimpi kita. Tentu saja dengan menjaga harapan. Harapan yang selalu kembali padaNya. Pengabul segala harapan.

Contohnya, dulu hanya terbersit sekali saja aku ingin ke luar negeri. Singapura adalah terdekat ingin kujelajahi. Ingin naik pesawat. Tak kusangka, Allah mengizinkan dari hasil keringat sendiri dan bersama teman-teman baik. Keberhasilan pertama membuat diri tambah percaya diri. Berlanjut ke Malaysia. Lalu sekarang aku sangat ingin menjelajah (tentu haji dan umrah selalu menjadi yang pertama) ke Eropa dan lokal.

Tapi, bila kita rasa mimpi kita belum terwujud, mungkin ada mimpi orang lain yang harus kita wujudkan. Baru setelah orang tersebut bahagia, Allah akan kabulkan mimpi kita.

Contohnya, menjadi guru di sekolah alam di Bogor adalah impian mamaku. Saat aku sudah mengikhlaskan mimpiku untuk tidak bekerja kantoran, mengejar jenjang karier trainer dan melanjutkan S2 sampai S3, Allah malah mendidikku di sekolah ini. Beragam ilmu pengembangan diri yang setipe dengan kantor dahulu kudapat banyak. Tak berhenti sampai ilmu duniawi saja, melainkan ilmu akhirat. Pun mimpiku mendaki gunung. Allah kabulkan menjadi rutinitas tahunan, hingga aku yang bosan dan enggan hehe.

Jadi, sabarlah... sesaat demi sesaat kita sedang menuju puncak yang kita impikan. Kuncinya adalah serahkan semua mimpi itu pada Allah, Jagalah Allah... maka tunggulah keajaiban Allah bekerja. Jangan pernah takut sendiri, selama Allah ada di hati.

Meta morfillah

[Mentoring] Q.S. Ali Imran: 185

Ahad, 16 Juli 2017
disadur dari tausiyah Bu Efi

Alhamdulillah, hari raya atau hari kemenangan telah kita lalui. Syawal sudah hampir meninggalkan kita. Bertepatan lebaran, kita liburan. Seliweran foto-foto keluarga yang happy dan liburan bersama memenuhi timeline kita.

Senang melihatnya. Semoga apa yang tampak juga apa yang sebenarnya terjadi. Semoga momen bahagia itu benar-benar hakiki, bukan sekadar penghias selfie.

Sebagai pengingat, mari kita senantiasa ingat mati. Seperti yang dituliskan dalam Q. S. Ali Imran [3]: 185 yang mengingatkan kita bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Juga gegap gempita kita akan pencapaian target ramadhan atau kebaikan kita di masa lalu, bahwa segalanya baru kita akan ketahui saat hari kiamat.

Maka jangan bosan berbuat baik, sebab kita tak pernah tahu kebaikan kita yang mana yang akan membuahkan surga. Jangan bosan beristighfar, sebab kita tak pernah tahu taubat kita yang mana yang menyelamatkan kita dari jatuh pada neraka.

Maka teruslah memegang prinsip "Dahulukan menghindari mudharat, sebelum mengambil manfaat."

Perjuangkan diri agar tidak masuk neraka, barulah mengharap surga. Sebab insya allah syahadat kita adalah jaminan masuk surga, tapi apakah proses masuk surganya semulus jalan tol? Atau masih perlu pembersihan diri di neraka? Maka jagalah diri dan keluargamu dari api neraka. Jangan sampai deh menjejakkan kaki di sana! Naudzubillah...

Jangan lupa pula, bahwa segala kesenangan dunia hanyalah kesenangan sementara yang memperdaya. Sebab kesenangan sejati hanya ada setelah kita mati: SURGA.

*catatan sepemahaman penulis

Meta morfillah

15 July, 2017

[Review buku] AsoiGeboiBohai

Judul: AsoiGeboiBohai
Penulis: Yudhi H.
Penerbit: Gradien mediatama
Dimensi: 192 hlm, 13 x 19 cm, cetakan kedua 2008
ISBN: 978 602 8260 060

Buku berisi 39 kisah yang dikelompokkan ke dalam 4 bagian: gosh stori, balada-baladi, lauf stori, dan XXX ini 21+, berkisah tentang para penghuni kos yang satu kosan dengan penulis. Nama kosannya Eltorros. Ada juga beberapa kosan yang diceritakan dalam buku ini.

Menurut kata pengantar penulis, dia menulis buku ini sebab membaca karya komedi yang cetak ulang namun saat dia baca menurutnya sama sekali tidak lucu. Maka dia yakin, dia bisa menuliskan hal yang gak kalah lucu tapi bisa diterbitkan dan cetak ulang.

You know what? Aku pun merasakan hal yang sama. Sepanjang baca buku ini, gada senyum-senyumnya. Beneran jatuh ke jayus, garing, dan berujung gak jelas semua. Terasa tak konsisten, atau dibelokkan dari kisah awal atau judulnya. Intinya mah mau buat twist, tapi ga berhasil gitu. Gak kompor gas kalau menurut Om Indro Warkop.

Tapi, saya gak kepikiran mau buat karya komedi selanjutnya sebagai karya tandingan buku ini sih. Cukup saya cerita kisah hidup saya aja, sudah lucu, kok. Tuhan senang bercanda sama jalan hidup saya soalnya.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Text Widget