Pages

20 October, 2014

Dosa Termanis

Sherlock.
Begitulah aku memanggilmu dahulu. Bukan karena wajahmu atau perawakan tubuhmu yang mirip detektif terkenal di baker street itu. Bukan. Melainkan karena kecintaanmu dan kegilaanmu--yang pada akhirnya menular padaku--terhadap tokoh sherlock.

Sudah berapa lama kita tak berkirim kabar, apalagi bersua? Terakhir kudengar, kamu sudah memiliki kekasih, yang namanya mirip dengan panggilanku. Ingin sekali kuguraukan, sebegitu sulitnyakah lepas dari bayang-bayangku? Tapi, saat itu kita terlalu sibuk membenahi perasaan masing-masing, bukan? Sehingga gurau pun menguap, perlahan kita diam, lalu menghilang. Lalu, mengapa sekarang aku mengungkitmu kembali?

Hari ini, setelah sekian tahun aku tak menjejakkan kaki di daerahmu. Yaa, kusebut daerahmu, karena di sanalah kamu tinggal, bersekolah hingga berkuliah. Tanpa kuizinkan, kotak lama yang tersimpan di sudut hatiku, yang berukirkan namamu terbuka dan berceceran. Seperti terembus angin kencang. Berserakan. Semua tempat yang pernah menjadi saksi kita menghabiskan waktu bersama, tiba-tiba seperti berbisik lirih. Menggaungkan namamu. Nama yang terlipat rapi di sudut pojok sana. Yaa, ada beberapa nama lagi di sana. Sebab, setiap manusia yang bersinggungan memiliki porsi di hatiku. Sayangnya, kamu masuk ke porsi kenangan-yang-tak-ingin-kuingat-lagi. Karena kamu bagaikan dosa termanisku. Bagaimana bisa manis dan pahit bersamaan? Ya, seperti kamu.

Kota ini, kota kita. Tapi sudut ini, sudutmu. Energiku kalah di sudutmu ini. Kamu begitu berkuasa di pikiranku, hingga aku tiba di rumah. Suatu kejadian yang menyesakkan hatiku, membuatku semakin mengingatmu. Betapa kamu menjadi begitu sempurna di mataku. Kamu yang pandai menenangkanku, di saat aku butuh dikuatkan. Padahal usia kita dahulu, terlalu bijak untuk perilakumu. Lalu aku menjadi bodoh, membandingkanmu dengan nama-nama lain. Kamulah pemenang mutlak. Tapi, segala yang sempurna mungkin tidak akan menarik. Kekuranganmu cuma satu. Aku sendiri bingung, apakah itu kekurangan? Hanya karena aku berlafazkan "Bismillah," sedang kamu "Dengan nama Tuhan Bapa," kita merentangkan tangan, kemudian berjarak. Melindungi perasaan masing-masing, sebab kita memilih untuk setia pada Tuhan kita.

Rasanya ingin aku mengutuk daerahmu yang membangkitkan ingatanku tentangmu. Tapi, kautahu kan, aku tak pandai bersumpah serapah. Aku hanya bisa mengurai titik air di sudut mataku.

Kamu yang hampir sempurna, dosa termanis, apa kabarkah sekarang, Sherlock?


Meta morfillah

Mohon maaf

70% kegagalan hubungan terjadi karena kegagalan KOMUNIKASI.

Hampir setiap hari, aku menuliskan kalimat itu di proposal. Lalu, baru saja beberapa hari lalu aku menuliskan "10 Jangan" yang akan membantuku menghindari penyesalan di usia 30-40 tahun nanti. Tapi, dalam satu malam, dengan keputusan yang gegabah, aku mematahkan dua 'Jangan' dari sepuluh tersebut.

1. JANGAN membuat janji yang tak bisa kamu tepati
2. JANGAN berusaha menyenangkan semua orang

Sebenarnya, terkait janji.. Kesalahan fatalku adalah di komunikasi. Komunikasi lisan dan tulisan akan berbeda dampak. Karena sudah lelah, aku tak memperhatikan lagi kata-kata yang kuketikkan. Hingga saat kubaca ulang, dan melihat responnya, barulah kusadari apa yang salah. Tapi, kata-kata seperti paku yang menancap di papan, kan? Walau pun kucabut, tetap akan meninggalkan bekas. Maaf dilayangkan, penyesalan hadir menguras air mata. Tapi, sakit yang ditimbulkan, luka itu... Pasti tak akan pulih dengan cepat. Aku tahu itu. Maka, aku hanya mampu meminta maaf dan sabarmu. Hak prerogatifmu untuk memaafkanku atau tidak. Aku hanya mampu meminta pada Tuhan, untuk membolak-balikkan hatimu. Maafkan diri yang bodoh ini, jiwa yang compang-camping dalam beriman dan berinteraksi ini.

Aku begitu bodoh, ingin menyenangkan banyak orang dengan mengorbankanmu. Tapi, sesungguhnya aku ingin merangkulmu, bahagia bersama dengan banyak orang tersebut. Berharap kita bisa lebur bersama. Nyatanya, kesalahan penyampaianku, menjadikan niat itu tak ditangkap dengan tepat. Ia berbelok. Medium perantara, mungkin salah satu penyebabnya. Tapi, apa pun itu.. Kesalahan memang jelas padaku. Aku ya aku, kamu ya kamu, soal siapa yang benar atau salah, itu perkara membosankan.

Lewat tulisan malam ini, aku ingin menampar diriku lebih keras lagi. Mengingatkan, bahwa tak patut untuk aku mengulanginya kembali. Bila suatu hari nanti aku khilaf kembali, semoga aku ingat bagaimana rasanya nyeri, sesak di dada, sulitnya membangun hubungan yang pernah retak dan kembali kuhancurkan dalam beberapa menit. Semoga aku mengingat... Semoga tak terulang lagi.


Mohon maaf lahir batin semuanya.


Meta morfillah

Gadis & keyakinannya

Aku mengenal seorang gadis yang memiliki sebuah keyakinan kuat. Tentang hidup, jodoh, dan rezekinya. Bisa dikatakan dia adalah gadis yang agak keras kepala dan kuat pendirian jika berkenaan dengan keyakinannya itu.

Di saat orang lain menyangsikannya, dia begitu percaya pada Tuhannya. Terutama tentang cara. Cara hidup, cara menjemput jodoh, dan cara menjemput rezeki. Sebuah ketidakmungkinan yang dia semogakan. Dia selalu bilang, semua ini bukan perkara keberanian dan waktu saja, melainkan keimanan dan ketakwaan. Seperti kamu memilih seseorang, seberapa jauh kamu mengimani bahwa dia adalah seseorang yang patut kamu perjuangkan? Seberapa dalam ketakwaanmu dalam mengkondisikan keluarga untuk menerimanya? Sebab, bila saat itu datang, kamu seharusnya sudah tak lagi pusing dengan perkara di belakang. Sudah tak boleh ada luka, perasaan bimbang, atau hambatan restu. Sebab, segalanya telah kamu perjuangkan. Dengan keimanan dan ketakwaan, akan lahir keadilan. Sebab, hidup bukan sekadar siapa lebih berani, atau siapa lebih cepat.

Sementara, bila saat itu belum datang juga. Saat yang kamu nanti-nantikan. Maka, teruslah berprasangka baik dan memohon pada tuhan. Tak usah kau cemaskan usia. Itu hanya bilangan. Tapi, cemaskanlah apa saja yang sudah kaulakukan dalam rentang usia itu. Bukankah begitu banyak hal baik yang belum kamu lakukan, karena sedikitnya waktu yang kamu miliki di dunia fana ini? Maka, dalam masa penantian, jangan berkhayal atau mengiming-imingi diri dengan gambaran indah. Tapi isilah dengan sesuatu yang bermanfaat. Sebab, pembicaraan tentang masa depan tak akan pernah cukup waktu untuk menuntaskannya. Kamu hanya perlu menjalaninya saja. Semakin banyak pembicaraan, akan membuat kamu semakin bosan dan lelah. Itu hanya akan menumpulkan rasamu. Sudah cukup kamu menerima beragam janji manis. Sudah saatnya kamu bertanya pada tiap orang yang hadir dalam hidupmu, "Apa manfaatmu bagiku?", "Apa bedamu?"

Kita akan dinilai dari bukti yang ada. Jejak-jejak hidup kita. Bila kamu terlalu fokus pada masa depan dan melupakan hari ini, maka jangan kaget bila suatu hari nanti kamu tak ingat untuk meninggalkan jejak. Hidup untuk hari ini, seakan kita mati besok, untuk perkara akhirat. Bukankah itu sungguh bijak? Bahwa Tuhan mengingatkanmu untuk fokus pada hari ini, mengupayakan kebahagiaanmu yang terbaik untuk hari ini. Sebab, tak akan kita tahu kapan kontrak hidup kita akan berakhir. Sementara kita terus sibuk merencanakan hidup kita. Padahal, hidup adalah apa yang sedang kita alami saat ini.

Begitu banyak pelajaran yang kuambil dari gadis itu. Gadis yang kukenal baik, sebaik dia mengenalku. Mungkin, kalian kenal dengan gadis itu.



Meta morfillah

16 October, 2014

Pernah merasa sama sepertiku?



Pernah merasa sama sepertiku?

Saat bersama mama—satu-satunya orang yang kupercayakan hatiku padanya—seringkali jiwa kekanak-kanakanku menjadi lebih gigantis. Di hadapannya, aku benar-benar menjadi diriku yang sesungguhnya, tanpa sedikit pun berusaha jaga image, semua keburukanku pastinya mama yang paling tahu. Saat mama di sampingku, aku tak takut bangun siang. Bahkan sepertinya, selama mama ada di kosanku, aku jadi bangun lebih siang. Sebab terlalu nyaman tidur bersamanya. Di dekatnya. Tak takut ketinggalan salat subuh, sebab pasti ada yang membangunkanku dari tidur lelapku. Tak perlu bicara, sarapan sudah selalu tersedia. Walau itu semua didapatkan dengan iringan “nyanyian khas” mama.

“Anak gadis bangun siang, rezekinya dipatok ayam!”

“Gimana mau jadi istri dan ibu kalau hidupmu kayak gini?”

“Pantas kamu sakit melulu. Ga ketemu matahari, sih!”

Yaa… di hadapan mamaku, aku amat sangat tidak mandiri. Tak heran, bila kusela “nyanyiannya” dengan bilang bahwa aku tak begitu saat mama tak ada, mama tak percaya. Haha… semua orang apalagi orang tua, memang melihat bukti, toh!

Tapi, itulah yang terjadi. Saat mama tak di sisiku, alarm tubuhku mendadak aktif. Bahkan aku menjelma sepertinya. Tidurku menjadi jarang. Bangunku lebih pagi. Kamarku selalu bersih dan rapi, sebab aku membunuh sepi dan kekosongan dengan bebenah. Tumpukan cucian pun tidak ada—kecuali air mati atau tidak naik ke kosanku. Aku menjadi sadar diri dan mawas diri, bahwa tak ada yang bisa kuandalkan selain diriku sendiri. Aku jadi lebih pandai mengontrol pola makan, bahkan mendisiplinkan diri untuk tak melewatkan makan—sebab biasanya aku paling malas makan. Juga, aku menjadi begitu perhatian terhadap apa yang kumakan karena tak mau sakit. Sebab, jauh dari orang tua, sendirian, di kosan, itu adalah hal yang cukup menyiksa. Akan lebih menyiksa lagi, bila ditambah sakit. Pernah aku mengalami, pingsan di kamar sendiri hingga sadar sendiri. Sungguh, tak enak rasanya. Sakit tanpa ada seorang pun yang tahu apalagi menemani. Berbeda saat ada mama. Aku sering bermanja-manja, mengeluhkan segala penyakitku. Bukan obat yang kucari, hanya perhatiannya saja. Belaian dan pelukan mama sudah menjadi obatnya.

Sungguh lucu, bukan? Semandiri apa pun, aku menjadi demikian manja dan melemah di hadapan mama. Seakan mama adalah batu kryptoniteku. Kekuatan sekaligus kelemahanku. Tak peduli usia, atau seberapa tangguhnya aku di luar sana. Saat kembali di hadapan mama, mendadak aku menjelma menjadi anak gadis kecilnya yang tak kunjung menua. Dan aku menikmatinya.

Pernah, kalian merasakan hal yang sama denganku?


Meta morfillah

15 October, 2014

10 JANGAN!

Beberapa minggu lalu, atasan saya mengirimkan artikel berbahasa inggris mengenai “Apa yang umumnya disesali orang-orang di usia 30-40 tahun saat menelaah kembali hidupnya?”
Ada 10 penyesalan, dan semuanya dimulai dengan kata “Jangan”. Kamu mau tahu, apa saja “10 Jangan” tersebut? Ini, saya intisarikan menurut pemahaman dan sudut pandang saya.
1.       JANGAN membeli benda!
Belilah pengalaman. Benda contohnya adalah rumah. Pengalaman adalah perjalanan. Pengalaman adalah cara memaknai segala materi yang kita miliki.
2.       JANGAN melakukan apa pun yang tak ingin kamu lakukan!
Ketika kamu berpikir masih memiliki banyak waktu untuk melakukan hal lain, dan memaksa mengerjakan hal yang tidak kamu inginkan, lalu semuanya terjadi. Waktu berlalu. Tiba-tiba saja kamu menyadari, bahwa kamu telah kehabisan waktu. Sebab waktu adalah hartamu yang paling berharga. Waktu adalah hidupmu. Tak dapat diputar ulang. Jadi, jangan habiskan waktumu dengan mengerjakan hal yang tidak kamu inginkan/cintai. Yang ada, kamu akan menjadi tidak ikhlas dan merasa kurang bermakna.
3.       JANGAN mencoba menyenangkan semua orang!
Tidak ada orang lain yang patut dicintai di dunia ini selain dirimu sendiri. Uang yang habis bisa kembali lagi atau kamu usahakan untuk mencarinya. Tetapi waktu yang kamu habiskan untuk berusaha menyenangkan orang lain, tidak mampu kamu kembalikan sedetik pun. Maka, cobalah untuk menyenangkan dirimu, sebab kamu tak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Kalau kamu memaksa, kamu akan gila.
4.       JANGAN jatuh cinta dengan orang yang mencintai orang lain!
Orang-orang seperti ini memang bagaikan magnet cinta. Menarikmu masuk ke dalam hidupnya, lalu ketika kamu menyadarinya, semua sudah terlambat. Kamu akan seperti berada dalam black hole, di mana tak seorang pun pernah terlihat berhasil keluar darinya, dan tak ada seorang pun yang tahu itu. Kamu akan kehilangan ruang dan waktu. Dan akan ada bagian dirimu yang tak akan pernah sama setelah berhasil keluar darinya. Pemulihannya pun akan membutuhkan waktu yang sangat lama.
5.       JANGAN membuat janji yang tak bisa kamu tepati!
6.       Larilah. JANGAN berjalan!
Bukan “lari” ke tujuan yang dimaksud. Tidak ada tujuan dan Anda menyadari hal ini sekitar usia 30 atau lebih. Maksudnya hanya "berlari". Kamu membangun hidupmu lebih cepat dari mereka yang berjalan (santai-santai saja). Maka kamu akan melihat lebih dalam ke hidup mereka (orang-orang yang santai dalam menjalani hidupnya). Yang menghabiskan waktu mereka sambil menunggu saat yang tepat. Menunggu cuaca yang tepat, koordinat yang tepat, orang yang tepat, untuk menjatuhkan jangkar. Tidak pernah ada saat yang tepat. Jadi jalani saja hidupmu, dan buat percepatan.
7.       JANGAN menunggu mereka berkata “Ya”
Katakan “YA” terlebih dahulu pada dirimu, dan orang lain akan mengikuti. Jangan menunggu mereka berkata “YA” untuk semua yang kamu katakan. Sebab, kamu hanya akan membuang waktu.
8.       JANGAN mencuri/curang terhadap peralatan kantor
Kelihatannya kecil, seperti membawa paper clip kantor ke rumah. Jujurlah. Itu dibeli kantor untuk keperluan kantor, bukan pribadimu. Kejujuran hal kecil tersebut yang akan menguatkan kebesaran karakter dan pribadimu.
9.       JANGAN makan makanan yang buruk
Kesehatanmu adalah aset terpenting. Maka jagalah baik-baik. Tentunya kamu ingin menikmati hidup lebih lama dengan orang yang kamu sayang, kan? Maka perhatikanlah makanmu.
10.   JANGAN menyesal
Jangan memaksa melintasi waktu, hanya untuk kembali ke masa lalu. Today it starts all over again. Every tomorrow is determined by every today.


So, apakah artikel ini cukup membantu kamu untuk belajar, dan mengurangi penyesalan sebelum menjelang usia 30-40 tahun?

14 October, 2014

Jangan sampai canda mengebiri niat baik kita

Seringkali saat kita memergoki teman kita sedang membaca buku tentang pernikahan, ta’aruf, atau pun sejenisnya, kita akan meledeknya. Mencandai bahwa ia sebegitu galaunya, kebelet, dan hal lainnya. Tanpa pernah berpikir dampak psikologis setelahnya. Bahwa mungkin saja ia malu, lalu berhenti mencari tahu tentang ilmu nikah tersebut. Padahal dengan hal itu, kita telah berlaku tidak adil. Menghentikan proses seseorang dalam menggapai ilmu, bukankah itu jahat?

Akhir-akhir ini saya sering berpikir, mengapa banyak sekali yang membully (baca: mencandai) saya tentang jodoh. Ternyata, setelah berdiskusi dengan beberapa kawan, mereka menjawab karena tulisan, status di beragam media sosial saya yang cenderung kebanyakan membahas tentang jodoh. Bahkan tak jarang terkesan menantang (terutama kaum pria yang sering merasakan hal ini setelah membaca tulisan saya). Padahal, saya menulis itu pun demi mendukung pencarian ilmu saya mengenai pernikahan, dan mengekalkannya melalui tulisan. Sebab, semakin saya banyak membaca, menulis dan mengilmui tentang hal itu, saya merasa semakin saya tak tahu apa-apa. Mungkin memang begitulah hakikat ilmu. Seperti air laut. Semakin kaureguk, semakin kauhaus. Namun, akhir-akhir ini memang saya merasa agak risih, ketika dibilang ‘kebelet’ atau ‘nafsu banget’, hanya karena saya begitu gencar mengilmui pernikahan. Tentu saja saya protes. Sebab, mau nikah besok, atau seratus tahun lagi pun, saya tetap akan mencari ilmunya dari sekarang. Bukankah pernikahan sama dengan kematian. Siap tidak siap, harus kita siapkan. Nah, kalau bukan dari sekarang, kapan lagi saya menyiapkannya? Mengapa harus malu?

Lalu kembali saya berpikir, jangan-jangan dulu saya sering membully (mencandai) orang yang sedang mengilmui pernikahan, membuatnya urung lalu berhenti. Aah… betapa jahatnya saya. Saya sendiri tak suka diolok-olok dengan hal yang sama. Sekarang saya merasakannya. Betapa saya merasa jahat. Melalui tulisan ini, saya ingin meminta maaf bila dahulu ada yang pernah terkena candaan saya. Bahkan bila sekarang saya masih suka mengolok seperti itu, tolong ingatkan saya. Maafkan saya. Mulai saat ini, saya ingin sekali berkata pada mereka yang masih malu-malu atau takut dalam mengilmui pernikahan, bahwa saya ada di sisi mereka. Saya mendukung sepenuh hati. Sebab menikah adalah ibadah yang bernilai separuh agama. Betapa besar, bukan?! Maka wajiblah diilmui dengan serius dan tekun. Saya berharap agar jangan sampai canda mengebiri niat baik kita.

Maukah kamu belajar bersama saya?


Meta morfillah

My idiot brother

Amat jarang bagi saya, memilih film indonesia untuk ditonton di bioskop. Sebab, seringkali agak mengecewakan. Tapi film My Idiot Brother (seterusnya MIB) ini, trailernya hadir di saat yang pas. Di sela iklan youtube saat saya streaming, dan saat saya sedang kesal dengan uda saya. Cuplikannya berhasil membuat saya ingin sekali menonton, sebab saya merasa terwakili sebagai adik yang memiliki kakak berkebutuhan khusus. Sayangnya, trailer tersebut tak menjamin film ini bagus seperti yang saya harapkan. Tapi, tetap saja film ini memiliki keterikatan emosi bagi saya. Ada sisi-sisi yang memang benar dan bahkan jauh lebih berat saya alami dibanding tokoh si adik di film tersebut.

***

"Sebenarnya, apa arti kebahagiaan buatmu?"

Pertanyaan itu terlontar di awal cuplikan. Seringkali, jawaban atas pertanyaan itu akan berpusat pada diri kita sendiri. Kebahagiaan menurut persepsi kita, yang membahagiakan diri kita saja. Tapi, saat kamu memiliki kakak berkebutuhan khusus, mungkin kamu akan memahami bahwa definisi kebahagiaanmu akan sedikit bergeser. Kamu akan meletakkan kebahagiaannya di atasmu. Terlebih, bila dia menjadi tanggunganmu seumur hidup. Kamu akan memilih pasangan, cinta, setelah kamu yakin bahwa orang tersebut mampu mencintai kakakmu itu. Kakak yang luar biasa. Lalu perkara cinta menjadi sepele bagimu, karena fokusmu pada kakakmu. Seperti yang dialami tokoh adik di film ini, saat ia jatuh hati dan jelas-jelas ada yang mencintainya. Tapi ia menjadi abai, ketika ada sesuatu menimpa kakaknya yang luar biasa tersebut.

Walau sering kali, rasa iri, cemburu dan keinginan memiliki kakak lelaki normal melanda, terutama saat melihat teman-teman lain membanggakan atau berinteraksi dengan kakaknya. Diantar jemput, bisa curhat tentang cowok yang disukai, meminta saran dari sudut pandang cowok, atau saat mereka bercerita bahwa kakak lelakinya sering jahil. Cerita-cerita itu membangkitkan nyeri di dadamu. Kamu ingin. Kamu juga ingin hal itu terjadi padamu. Sayangnya, selamanya hal itu hanya mimpi yang kamu tahu, tak akan pernah terwujud. Kakakmu yang luar biasa itu hanya mampu menyayangimu dengan caranya yang sederhana. Yang bahkan sangat jarang solutif untuk tiap masalah yang kauhadapi. Sehingga kamu benar-benar merasa sendiri. Harus berjuang sendiri. Sebab, tak ada lagi yang bisa kamu andalkan.

Lalu perihal tersebut, kamu menjadi sering mencari sosok kakak laki-laki. Perhatianmu tulus, ingin membangun persahabatan atau kekeluargaan. Tapi, banyak yang menjadi salah paham. Mereka salah mengartikan niatmu. Disangkanya, kamu ada rasa. Padahal, memberikan perhatian bukan berarti memberikan hatimu. Meski saat mencintai, kamu pasti akan memperhatikan. Padahal, yang kamu harap, mereka benar-benar membalas perasaanmu cukup dengan menganggapmu adik. Tidak lebih. Tapi nyatanya, mereka sering menaruh harap, yang pada akhirnya membuat mereka kecewa. Akhirnya, kamu sadar... Bahwa kamu tidak bisa mengharapkan orang lain menjadi kakak lelakimu. Menggantikan kakak lelaki kandungmu, yang kamu harapkan normal. Begitulah rasanya. Lubang di dada itu akan nyeri sewaktu-waktu.

Apalagi yang bisa kamu lakukan, selain menerimanya dengan (mencoba) ikhlas?

Sebab, kesabaran adalah hal terbaik yang kamu miliki untuknya. Mungkin, bila kamu kehilangan sabar, kamu akan kehilangannya.


Meta morfillah
*muhasabah setelah ditraktir nonton My Idiot Brother sama chatelia. Makasih chatel*

13 October, 2014

Cara ibu menjagaku

"Suatu hari nanti, akan ada laki-laki yang cukup sopan untuk mengetuk pintu hatimu. Meminta masuk. Perkara kamu mengizinkannya masuk atau tidak, sepenuhnya hakmu." (Dikutip dari twitter kurniawan gunadi)

Ibu berhenti sejenak, memandang pohon jambu di pekarangan rumah kami, yang tampak berjuang mengalahkan tinggi pagar.

"Kautahu, mengapa ibu pasangkan cincin emas di jari manis kirimu? Cincin sederhana, tak berukir, sehingga banyak orang salah paham mengartikan bahwa kausudah menikah atau bertunangan?"

Aku menggeleng perlahan, sembari mengamati wajahnya lamat-lamat. Wajah ibu nampak serius, seperti ada beban berat yang ingin ia tumpahkan. Mengingatkanku pada langit yang digantungi awan hujan cumulonimbus. Hanya soal waktu, menunggu sebuah cerita mengalir bagaikan hujan menderas.

"Memang ibu sengaja membuat orang lain salah paham terhadap keadaanmu."

Ibu tersenyum dan memandangku yang keheranan.

"Maksudnya?"

"Bukankah kamu sering bercerita bahwa bosmu, rekan kerja, teman-teman, dan orang yang baru saja berkenalan denganmu selalu memandang jari manis kirimu dan mengajukan pertanyaan yang sama? Bertanya, apakah kausudah menikah?"

"Iya."

"Bahkan, ketika kaujawab dengan jujur pun, kadang mereka tak percaya? Ada saja yang mengira bahwa kaumemang telah menikah, bukan?"

"Hmm... Iya."

"Justru memang itulah yang ibu harapkan."

"Loh, kok? Justru aku jadi pusing karenanya, Bu. Berkali-kali aku harus menjelaskan dan meyakinkan bahwa ini adalah cincin hadiah dari Ibu. Aku sampai lelah dan bosan. Kadang kuiyakan saja, bila mereka bertanya terus apakah aku sudah menikah."

Saat mengatakan kalimat tersebut, aku sadar wajahku pasti agak manyun. Mulutku mencibir seperti gaya bebek, sehingga menyebabkan ibu tertawa.

"Baguslah. Sebab, cincin itu adalah salah satu pengaman yang ibu pasang untukmu."

"Hah?! Ibu pasang jimat di cincin? Aduuuh... Musyrik, Bu! Bahaya! Astagfirullah..."

"Bukan begitu. Tapi, berkat cincin itu Ibu akan tahu siapa yang serius mencintaimu dan siapa yang tidak. Sebab, bila dia memang serius mencintaimu, dia pasti akan mendatangi ibu. Bertanya, apakah kamu jujur bahwa kamu memang belum menikah. Lalu, dia pasti akan memintamu dari ibu. Dan bila dia tidak serius, pasti nyalinya akan ciut melihat cincin di jari manismu. Berpikir bahwa kautelah ada yang memiliki. Bagi orang yang baru saja mengenalmu pun, mereka tidak akan berani macam-macam, karena berpikir bahwa kasudah memiliki suami yang menjagamu. Padahal sesungguhnya, kamu masihlah gadis kecil ibu."

Aku terperangah mendengar penjelasan ibu. Cincin yang kukenakan--entah sejak kapan--ini ternyata memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar hadiah dari ibu, melainkan penjagaku, yang mungkin juga telah terapalkan sebuah doa ibu saat memakaikannya di jari manis kiriku.

"Dan ini pula yang ibu katakan pada lelaki yang baru saja datang memintamu... Kautahu, Sayang, lelaki itu cukup sopan memintamu. Kini, keputusan ada di tanganmu. Apakah kamu akan mengizinkan dia menjadi bagian hidupmu atau tidak. Penjagaan ibu hanya mampu sebatas ini saja. Selebihnya, hidupmu adalah milikmu. Ibu hanya dapat mendoakanmu, semoga kamu mampu memilih yang terbaik menurutNya. Tapi ketahuilah satu hal yang pasti! Bila kamu tersakiti, maka akan ada seseorang yang berkali lipat sakitnya dibandingkan dirimu. Begitu pula, bila kamu bahagia, maka akan ada seseorang yang berkali lipat bahagianya dibandingkan dirimu. Dan itu adalah aku. Ibumu."



Meta morfillah

10 October, 2014

Jeda

Dalam hidup, seringkali kita lupa bahwa kita membutuhkan jeda. Agar kita tak terjebak pada rutinitas yang mungkin mematikan indera. Agar kita mampu mengurai makna dan lebih mudah mengeja arti dengan adanya jeda atau pun jarak. Sama persis sebagaimana arti spasi dalam tiap ketikan kita. Memudahkan, mempercantik, dan menjelaskan tiap kata yang kita ketikkan. Bayangkan bila tidak ada spasi, apa yang akan terjadi? Tulisan menjadi tidak indah, ruwet, membuat malas orang membacanya, apalagi mendalami maknanya.

Bila kita sudah terlalu asyik dengan rutinitas, ada kalanya Tuhan mengingatkan kita untuk memberi jeda pada hidup kita. Melalui sakit, misalnya. Bisa jadi, memang sakit adalah peluruh dosa. Tapi, bisa jadi pula, sakit merupakan cara Tuhan yang ingin mengajakmu tamasya, melalui jeda. Dalam ketakberdayaanmu di tengah kesakitanmu, kamu hanya mampu membaca. Membaca seliweran twitt, status, recent updates di dunia maya, yang membuatmu jadi tahu kabar terakhir beberapa teman yang selama ini kamu luput. Atau, membaca buku yang sudah lama tak tersentuh di pojokan kamarmu. Lebih bagus lagi, membaca firmanNya, yang menyembuhkan ruhanimu, lalu berdampak pada jasmanimu, sebab kamu menjadi begitu bersyukur akan sakitmu.

Jeda, memberi kita waktu sebelum melangkah lebih jauh. Mengkondisikan diri kita pada keadaan terbaiknya, sebelum menuju titik tolaknya. Sebab, dari jeda kita belajar, bahwa semua ini hanya untuk sementara waktu, bukan? Segala kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, kemenangan, dan lainnya tidak akan bertahan lama. Itu semua hanyalah jeda dalam kehidupan kita.

Selamat menikmati jedamu!
Jeda kita masing-masing, tentu berbeda, bukan?


Meta morfillah

Bukankah begitu?

Kau tahu?
Aku selalu berdoa semoga tidak bertemu dengan gadis satu almamater. Bila pun bertemu, aku selalu berharap itu berada di dunia luar. Tidak saling mengetahui asal usul kita. Lalu, sama-sama tertawa saat tahu ternyata kita saat almamater.

Kau tahu?
Aku tidak pernah mencari seorang gadis satu almamater. Bangku sekolah ini terlalu arogan, terlalu keras, dan terlalu melangit. Seringkali memandang begitu jauh hingga lupa apa yang ada di dekat. Seringkali melihat dari atas dan lupa bahwa kita semua sejajar mata.

Aku tidak pernah mencari. Tapi seperti dulu aku bilang, ‘Jangan Jakarta’. Nyatanya aku justru hidup di tengah-tengahnya. Mungkin benar kata orang, hati-hati terhadap kata-kata sendiri.

Bila saja kita bertemu di dalam almamater sana, mungkin aku sama sekali tidak akan memikirkanmu. Sayangnya ceritanya tidak begitu. Kita harus bertemu di kala hujan. Saat kita sama-sama kalah oleh dingin dan basah air. Saat kita harus bersembunyi di bawah atap-atap yang melindungi kita dari kejaran hujan. Kita bertemu. Pertemuan pertama.


(Karya Kurniawan Gunadi)



Hati-hati terhadap kata. Mulutmu harimaumu. Yaa.. Sering kali, kita berharap tak mendapatkan orang-orang dekat, sealmamater, atau bahkan sahabat sebagai jodoh kita. Tapi, katanya jodoh itu dekat. Yaa, mulailah cari dari yang dekat-dekat. Hahaa... Lucu kan. Hidup begitu banyak paradoks.

Padahal, kita ingin orang lain, yang kadang masih merupakan misteri bagi kita, agar dapat memberi warna baru dalam hidup kita. Hingga kita mencari sejauh mungkin, nyatanya dia yang kita cari selama ini ada di samping kita. Membersamai langkah kita.

Padahal, kita sengaja tak memilihnya, karena kita sudah terlalu mengenal buruk baiknya. Tapi, saat kita lelah mencari, lalu kita mulai tersadar bahwa dia yang selalu membuat kita nyaman, maka kita memilihnya. Pencarian berakhir. Mana kita tahu, jadinya akan begini? Skenario awal, skenario buatan kita tak berjalan dengan mulus. Terbukti, kan, bahwa semua akan mengikuti skenarioNya. Kita, hanya perlu menjalankan peran kita sebaik-baiknya. Masalah ending, ya sutradara--dalam hal ini Tuhanlah--yang menentukan.

Sesadar apa pun logika kita. Setinggi apa pun standar kita. Sebanyak apa pun batasan yang kita cipta. Semua akan sirna, bila kita telah jatuh, mungkin lebih tepatnya menemukan akar kecocokan pada seseorang. Bukan dia yang rupawan, cerdas, kaya, atau keturunan bangsawan. Melainkan dia, yang melengkapi rusuk kita. Memberi kenyamanan, keamanan dan membuat kita merasa tak perlu memoles make up untuk tampil cantik di hadapannya. Sebab, dalam segala keadaan, kita merasa cantik bila ada dia di dekat kita. Dia yang mampu membuat kita tersenyum seharian. Ada atau pun tak ada. Bukankah begitu?




Meta morfillah


NB: Mas Gun, begitu panggilannya... Melalui tulisannya, seringkali membuat saya berpikir ulang tentang pemahaman hidup dari sisi lelaki. Ternyata, ada banyak kesamaan yang dipikirkan oleh kepala yang berbeda. Tulisannya pun memiliki ruh, yang menurut saya sama dengan tulisan saya. Lepas, fragmen-fragmen, tanpa tokoh yang jelas, hanya ingin menyampaikan satu pesan. Selalu tentang cinta. Tak bosan. Senang rasanya mengetahui bahwa ada seseorang (mungkin banyak orang) yang memiliki pemikiran sama, cara menulis dengan diksi dan tak banyak kata, demi menyampaikan pemahaman hidup yang lebih baik. Mungkin, inilah tulisan yang selama ini saya cari. Mas gun berhasil menelurkan buku 'Hujan Matahari' dan sukses dengan akun soundcloud suaracerita yang digagas dengan dokter fina. Ah, keren sekali. Saya iri. Saya mau juga. Hihii..

Text Widget