Pages

06 June, 2015

#Day7 Ujian

Bukan tidak ridha dengan ujian, cuma hendak mengadu padaMu...

Pada dasarnya manusia diciptakan bersifat pengeluh, pelupa, dan tergesa. Sedikit ditimpa kesusahan serasa selamanya gelap. Serasa bahagia tak pernah ia cecap. Seketika lupa kurnia Tuhannya yang selama ini ia dapatkan dengan mudah, bahkan tanpa diminta. Tapi Tuhan tahu, dan Dia menunggu. Menunggu kita kembali mengingatnya, dengan menyentil kesenangan kita.

Manusiawi bila kita mengeluh atas beban dan ujian yang membuat kita tertatih menjalani hidup. Merapuh dalam langkah, bahkan sering tak setia pada Tuhan. Meski cinta itu tetap ada dan tetap Tuhanlah yang bertahta. Tak mengapa, bila kita mengeluhkan itu semua kembali pada tuhan. Bukan tidak ridha dengan ujianNya, hanya hendak mengadu. Hanya hendak berbicara dan didengar. Terkadang tanpa berharap solusi, hanya sekadar meringankan sesak di dada. Lebih sering lagi, mengharap solusi pada Sang Maha Penyedia Jalan Keluar.

Berkali kita mengeja alif ba ta, untuk kembali mengingat tujuan kita di dunia. Sebab kemilau dunia seringkali menyilaukan mata. Hingga kita lupa esensi dan terpikat pesona yang abstrak. Dan tertakdirlah kita menjalani segala kehendak Tuhan. Mengimani bahwa segala langkah kaki kita berada dalam rencanaNya.

Tuhan tidak pernah bermain dadu dalam membuat jalinan cerita kita. Maka, percaya saja... bahwa Tuhan maha romantis. Sebagaimana tiap pekan ada akhirnya, seperti itulah ujian kita... juga akan berakhir. Tugas kita hanya menjalani, bukan berhasil.

Meta morfillah

#Day6 Pilihan

Suatu hari nanti, akan ada seseorang yang kamu persilakan masuk dan mendiami hatimu. Maka, orang seperti apakah yang akan kamu pilih?

Rupawan..?
Menyenangkan memiliki seseorang yang rupawan. Memandangnya terasa seperti memandang karya tuhan yang sempurna. Bisa jadi, Tuhan menciptakannya saat sedang berbahagia, itu lelucon umumnya. Membayangkan memiliki keturunan yang rupawan pula membuat kita bahagia dan bangga. Tapi bagiku itu belum cukup. Bukan itu yang kucari.

Keturunan ningrat atau bernama besar..?
Bangga sekali bisa bersanding dengan orang yang bobot, bebet, dan bibitnya ternama. Derajat kita akan terangkat, kecipratan nama besarnya. Pengaruhnya membuat kita merasa punya kekuatan dan nilai di masyarakat. Tapi bagiku itu belum berarti. Bukan itu yang kucari.

Berharta..?
Waah... enaknya bila bersanding dengan orang kaya. Tidak perlu pusing untuk memikirkan hari esok. Tinggal menikmati, apalagi kalau kayanya sampai tujuh turunan. Asal kamu bukan turunan kedelapan, insyaa allah terjamin hingga hari tua. Tapi bagiku itu belum menjamin. Bukan itu yang kucari.

Lalu apa...?
Aku mendahulukan ia yang bertakwa. Sebab, cinta karena rupawan, keturunan, dan harta akan hilang seiring sebabnya. Tidak dengan takwa. Saat wajahku menua, tidak lagi jelita, ia tetap akan setia. Saat tercorengnya nama baikku, dia akan tetap menjaga. Saat miskin dan papa, ia akan tetap bersama. Sebab ia takut pada tuhannya. Dengan takwa, bila ia mencintaiku maka ia memuliakanku, bila tidak maka ia tidak akan menghinakanku.
Cinta akan hilang dengan cepat. Maka saat cinta hilang, takwanya pada tuhan yang akan menjadikannya pribadi istimewa. Dia tidak akan risih mencebokiku saat aku sakit dan menua. Dia tidak akan malu memapahku bila aku lemah dan tak berdaya. Dia tidak akan marah dan merasa dirugikan saat aku tak lagi sehebat dulu.

Bebas saja kaupilih mau yang seperti apa. Tapi, cinta saja tidak cukup. Ia butuh dikekalkan dengan komitmen. Komitmen itu lahir dari takwa. Komitmen dia yang bersedia lahir batin, susah senang, sehat sakit, menerimaku dan berani bertanggung jawab di hadapan tuhannya. Perjanjian yang begitu berat, mitsaqan ghaliza, yang bahkan disetarakan dengan kokohnya gunung.

Jadi... orang seperti apakah yang akan kamu pilih untuk mendiami hatimu?

Meta morfillah

05 June, 2015

#Day5 Bukan hal baru

Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Semua hanya pengulangan.

Derita kita, bukanlah hal baru.
Saat ayah saya meninggal, saya kira hidup saya tidak akan lebih baik atau menyenangkan lagi. Nyatanya, saya masih hidup hingga hari ini, dikenal dengan wajah yang selalu ceria, hingga saat wajah saya muram mereka bilang itu tidak cocok bagi saya. Padahal saya pernah begitu tidak bersemangat hidup dan sedih hingga berhari-hari seperti mayat hidup. Tapi, saya yakin hal seperti itu bukanlah hal baru. Ada banyak derita yang serupa, dialami jiwa-jiwa lain yang mungkin jauh lebih tangguh dari saya. Tak pernah mengabarkannya pada dunia.

Cinta kita, bukanlah hal baru.
Jatuh hati diam-diam, memendam rindu, patah hati dalam diam lalu pulih diam-diam. Takut membuka diri, pengingkaran, lalu perlahan menerima dan berhasil jatuh hati lagi. Segala romansa cinta itu juga bukanlah hal baru. Pernah ada yang mengalami seperti kita. Semua hanya pengulangan pada manusia yang berbeda. Sikap yang berbeda.

Kisah kita, bukanlah hal baru.
Jalan hidup kita, hingga jalinannya ke diri kita saat ini bukanlah hal baru. Banyak orang yang pernah mengalami atau memiliki kesamaan kisah yang berkelindan dengan kisah kita.

Jadi, tidak usah berpikir terlalu jauh, ingin mencipta yang wah. Sebab semua hanya pengulangan.
Jangan berpikir terlalu istimewa dengan derita, cinta, dan kisah hidup kita, sebab semua hanya pengulangan.

Baiknya, dari pengulangan itu kita belajar... menghindari yang tak baik, sebab tidak semua harus kita alami, serta tak ada waktu untuk mencoba segala hal. Belajar memaksimalkan usaha sehingga memberi dampak besar. Berkaca pada pengalaman-pengalaman sebelumnya. Karena begitu banyak yang merasa semua hal yang terjadi pada dirinya adalah hal baru, hingga mereka mengabaikan petuah orang yang terdahulu mengalaminya.

Hati-hati tergelincir dengan pandangan 'baru' yang nyatanya kejadian sama, hanya terjadi pada orang yang berbeda dan sikap penerimaan yang berbeda.

Meta morfillah

04 June, 2015

#Day4 Musafir

Little by little, one travels far.
J. R. Tolkien

Ya... perlahan kita semua berjalan. Tidak akan pernah diam di tempat. Bukankah sudah berkali dibilang, bahwa hidup ibarat mengendarai sepeda. Kita harus terus mengayuh agar tetap seimbang dan mencapai tujuan. Bila kita tidak bergerak, kemungkinan ada yang salah dengan diri kita.

Konsekuensi dari perjalanan itu, kita akan mengalami penambahan serta pengurangan. Penambahan teman-teman baru, pengurangan teman-teman lama. Tidak... bukan berarti kita semua lupa teman lama, melainkan kita akan terus melihat ke depan dan bersama dengan yang sevisi atau setujuan kita. Perlahan, kita akan memilih jalan yang berbeda. Yang biasanya saat mau jalan, tinggal ngomong langsung jalan, sekarang tidak. Sudah lama dibahas, pas hari H banyak yang mengundurkan diri karena beragam kepentingan. Semakin banyak wacana. Semakin banyak yang mulai menentukan prioritas, dan kita bukanlah lagi prioritasnya. Perlahan semua akan berpasangan dan bukannya lupa, tapi mereka sibuk mengayuh sepeda mereka ke tujuannya.

Bijaklah, bila kita mulai kehilangan beberapa teman main. Bahkan, mungkin saja kita yang meninggalkan mereka. Sebab, perlahan kita semua adalah musafir, yang sedang berjalan ke tujuannya masing-masing. Percayalah, tidak akan ada niat menghapus kenangan, mungkin terlupa iya.

Meta morfillah

03 June, 2015

#Day3 Tuhan tahu

Betapa bijaknya tuhan memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Sebab kita banyak hidup dari angan-angan. Saat menghadapi ujian, kita berangan bagaimana jika begini dan bukan begitu, bagaimana jika ini tak menimpaku, serta bagaimana jika lainnya. Kita lupa menikmati ujian tersebut dan memaknai hadiah apa yang ada di baliknya. Sebab, tak jarang tuhan mengirimkan hadiah istimewa melalui kurir buruk rupa. Seperti itulah masalah.

Aku sendiri, dulu sering menyalahkan tuhan, mengapa aku dibuatnya yatim di usia belia, mengapa aku diberikan uda (saudara laki-laki dalam bahasa minang) disabilitas, mengapa aku yang bungsu seharusnya manja malah berasa sulung, mengapa aku harus bertanggung jawab pada mama dan udaku serta mengapa lainnya. Perlahan saat semakin dewasa, aku memahami hadiah tuhan untukku. Ia ambil semua kemungkinan yang memungkinkanku jadi anak manja, malas, serta tak bertanggung jawab dengan mengambil fasilitas serta perantaranya. Menjadi yatim, membuatku lebih peka atas perasaan di balik senyum seseorang yang kehilangan, meski harta menyelimutinya. Memiliki uda disabilitas, membuatku tahu cara berkomunikasi dengan orang-orang luar biasa tersebut, serta menghargai begitu dalam bagi para pendampingnya. Menjadi bungsu rasa sulung, mengajarkanku untuk tetap membumi saat kaki ingin berlari dan melangit. Mendapat kehormatan dipercaya mama untuk menjaganya di hari tua, mengajarkanku tanggung jawab. Meski tidak semua langsung aku terima dengan baik. Tetap saja aku mengingkari awalnya, merasa lelah, tak seharusnya di posisi itu, tak jarang menyalahkan dan ingin meninggalkan semua itu, bertindak semauku. Tapi, semua itu menandakan bahwa manusia tetaplah manusia. Aku bersyukur pernah mengalami hal-hal yang tidak semua orang rasakan.

Kita juga sering berangan-angan atas hal yang belum hadir. Berangan tentang alangkah indahnya hidup ini bila ada dia yang menemani, misalnya. Padahal, belum tentu saat ini kita siap menerima hal itu. Bisa saja, bukannya membantu menyelesaikan atau meringankan beban hidup kita, orang yang kita harapkan itu malah jadi masalah tambahan bagi kita.

Begitulah... kita banyak hidup dengan berangan-angan. Betapa bijaknya tuhan, tak mengikuti keinginan kita yang besar kemungkinan hanya angan-angan kita sejenak yang rapuh seperti istana pasir digerus ombak laut. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, bahkan tanpa perlu kita pinta.

Meta morfillah

Kokohnya keluarga dengan Al Qur'an [part Ust. Deden]

Kokohnya keluarga dengan Al Qur'an

Hari, tanggal: Selasa, 2 Juni 2015
Tempat: Masjid Istiqlal
Pembicara: Ustad Deden

Menghafal Al Qur'an bukan untuk diburu-buru atau ditunda-tunda, tapi untuk dinikmati. Seperti makan, nikmatnya ada pada saat makan, bukan akhir. Bila kenikmatan makan ada saat akhir, maka makan pakai lauk ayam atau nasi pakai garam saja akan sama nikmatnya, asal cepat. Begitu pun dengan menghafal al qur'an.

Mengapa orang tidak hafal qur'an? Jawabannya hanya satu. Karena ia tidak menghafal. Pun sebaliknya, orang hafal qur'an, ya karena ia menghafalnya. Jangan bangga kalau kita banyak menghafal lirik lagu, tapi tidak hafal qur'an.

Nikmat menghafal qur'an bukan dilihat dari jumlah ayat atau juz, melainkan jumlah waktunya. Jadi pertanyaannya bukan sudah berapa ayat atau juz yang dihafal? Melainkan, berapa lama/berapa jam menghafal dan berinteraksi dengan qur'an? Minimal sediakan waktu 1 jam untuk membaca atau menghafal Qur'an. Sebab, bukan kemampuan kita yang menjadikan kita penghafal Al Qur'an, melainkan Allah lah yang mengizinkan hal itu.

Jangan berdalih sibuk sehingga tidak ada waktu. Orang sibuk itu hanya ada 3 dalam Al Qur'an:
1. Orang sakit.
2. Pebisnis yang memikirkan banyak orang, selain diri sendiri dan keluarganya.
3. Orang yang sedang berperang di jalan Allah.

Bila kita bukan termasuk ketiga golongan tersebut, seharusnya kita bisa meluangkan waktu untuk Al Qur'an.

Meta morfillah
Catatan pribadi dengan redaksi penulis

Kokoh keluarga dengan al qur'an [part OSD]

Kokohnya keluarga dengan Al Qur'an

Hari, tanggal: Selasa, 2 Juni 2015
Tempat: Masjid Istiqlal
Pembicara: Oki Setiana Dewi

Sebelum membangun keluarga, ada 3 hal yang harus diperhatikan:

1. Cari/pilihlah pasangan yang baik
Jangan pilih wanita cantik yang tumbuh di lingkungan kurang baik. Carilah di lingkungan baik seperti masjid.
Tidak ada yang namanya pacaran syariah: Gak pegangan, tapi boncengan iya.
Sebab wanita ibarat ladang. Meski benih suami baik, jika ladangnya tidak, maka tidak optimallah pertumbuhan benihnya bahkan bisa jadi tidak tumbuh.
Islam menyuruh kita mencari pasangan dengan kriteria yang paling baik agamanya. Agama itu adalah akhlak. Maka lihatlah akhlaknya baik atau tidak. Cara termudah adalah lihat dari pergaulannya. Apakah ia terbaik tapi dalam pergaulan buruk atau penuh maksiat?

2. Prosesnya juga harus baik
Jangan kotori prosesnya. Semisal laki-laki dan perempuan berduaan. Tak peduli seberapa saleh atau panjang jilbabnya, rentan sekali setan menggoda jika sudah berduaan.
Ada sebuah kisah nyata. Seorang laki-laki saleh dan wanita saleha yang akan menikah. Mereka sedang mencari rumah untuk tempat tinggal mereka nanti. Sayangnya, tidak ada satu pun keluarga yang dapat menemani. Sehingga mereka berangkatlah hanya berdua, dengan mobil. Saat sampai di rumah yang dituju, sang wanita masuk ke dalam kamar mandi dan mendapati banyak kecoa. Spontan, dia pun menjerit-jerit ketakutan. Sang lelaki yang khawatir, sigap masuk ke kamar mandi. Setelah mengusir kecoa, tinggallah mereka berdua di kamar mandi itu. Apa yang kemudian terjadi? Setan melihat peluang dan dia menggoda keduanya. Maka terjadilah zina. Sang lelaki bilang, "Tenanglah wahai calon istriku, sebentar lagi kita halal. Nanti kita taubat sama Allah." Beberapa hari menjelang pernikahan, sang lelaki mati karena kecelakaan sedangkan sang wanita tengah hamil. Naudzubillah.
Begitulah Allah melarang kita untuk mendekati zina. Sekadar mendekatinya saja dilarang, apalagi melakukannya. Karenanya, pada lelaki dan wanita, Allah menyuruh kita menahan pandangan dan menjaga kemaluan (Q. S. An nur ayat 30-31).
Juga sebagai orangtua, kita harus menjaga anak-anak kita. Jangan malah menjerumuskan seperti berkata "Malam minggu kok di rumah saja. Cari pacar, gih. Jangan kelamaan menjomblo." Lalu mengizinkan anaknya keluyuran sampai pukul 12 malam.
Dulu pada zaman Umar bin Khattab, ada sebuah kisah orangtua melaporkan anaknya yang durhaka pada Umar. Sebelum diadili, sang anak bertanya pada Umar "Adakah hak seorang anak dari orangtua?"
Umar menjawab, "Ada. Seorang anak berhak atas 3 hal. Pertama, orangtua wajib memberikan IBU yang baik. Kedua, memberikan NAMA yang baik. Ketiga, memberikan PENDIDIKAN (al quran) yang baik."
Anak tersebut menjawab, "Tidak kudapati ketiganya dari orangtuaku."
Maka Umar mengatakan, "Durhakalah orangtuamu."

3. Jadikanlah diri kita yang terbaik untuk pasangan kita kelak
Terutama seorang ibu. Sebab ia adalah madrasah pertama seorang anak. Maka, jadilah ibu yang baik, karena anak adalah peniru paling ulung, dan ia akan meniru orang terdekatnya, yakni ibu (orangtua).
Biasakan berkata baik, jangan suka memukul.
"Tidak akan disayangi Allah, orang yang tidak menyayangi."
Maka berdoalah yang baik untuk anak, sebab ada anak yang dilahirkan menjadi cobaan. Berikan contoh yang baik (uswatun hasanah).
Ajarkan tauhid sebagai dasar utama, dan kokohkan agar kelak ketika ia dilepas atau berjauhan dengan orangtuanya, ia akan tetap terjaga. Perintah ini ada dalam Q. S. Luqman ayat 12 dan Q. S. Al baqarah ayat 83. Terakhir, dan yang sering dilupakan oleh orang-orang, cara membuatnya (jima') pun harus sesuai aturan. Diawali dengan berwudhu, dan jangan lupa berdoa saat hendak jima', agar kelak anak yang dihasilkan dari jima' tersebut dilindungi dari setan.

Meta morfillah
Catatan pribadi, dengan redaksi penulis.

02 June, 2015

#Day2 Tidak cukup

Aku sering merasa tidak cukup baik untukmu.
Tidak cukup baik untuk disandingkan denganmu.
Tidak cukup baik untuk menjadi penenangmu.
Tidak cukup baik untuk menjadi ibu dari anak-anakmu.
Tidak cukup baik mengelola keuanganmu.
Tidak cukup baik memasakkan makanan yang menyehatkanmu.
Dan masih banyak ketidakcukupan lainnya.

Tapi... ada harapan untuk bersamamu.
Ada bayangan menghabiskan waktu bersamamu.
Ada keinginan menjadi tua, keriput, dan tetap menggenggam tanganmu.
Ada doa tentang kamu.

Lantas, bagaimana mempertemukan harapan dan kecemasanku?
Bagaimana menentukan bahwa ini adalah saat yang tepat, orang yang tepat, dan cara yang tepat?

Apakah selalu seperti ini saat mencintai seseorang? Kau selalu merasa tidak pernah cukup untuknya, meski kau begitu mendambanya?

Meta morfillah

01 June, 2015

#Day1 Kamu dan Tulisanku

Suara : @dokterfina
Cerita : @kurniawangunadi
Backsound : Anonim

(c)Medan, 27 Mei 2015

MENANTI TULISANMU

Aku selalu menanti tulisanmu. Karena darimana lagi aku bisa tahu tentang apa yang sedang kamu pikirkan bila tidak dari sana. Kita tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang dalam, hanya sebuah sapaan. Aku selalu menunggu tulisanmu. Karena darimana lagi aku bisa tahu tentang jalan pikiranmu, tentang masalah yang sedang kamu hadapi, atau tentang perasaan yang sedang kamu rasakan. Meski tulisan itu tidak sepenuhnya mewakili perasaan, setidaknya aku tahu perasaanmu masih hidup untuk nantinya aku cintai. Itu pun bila kamu mengijinkan.

Aku selalu membaca tulisanmu. Dari halaman satu hingga halaman yang aku yakin akan terus bertambah. Karena darimana lagi aku bisa mengenalmu dengan leluasa bila tidak dari sana. Aku bahkan tidak kuasa menyebut namamu di hadapan temanmu. Aku harus menunggu sepi atau malam hari untuk bisa leluasa memandang layar dan membaca berulang-ulang setiap kata yang lahir dari pikiran dan hatimu.

Aku menyukai cara jatuh cinta seperti ini. Tidak kamu tahu dan aku pun tidak harus repot-repot bertanya kesana kemari tentangmu hari ini. Teruslah menulis, karena suatu hari salah satu tulisanmu akan kuwujudkan. Tentang resahmu menunggu seseorang yang tak kamu tahu siapa, tapi kamu percaya pasti datang. Aku pasti datang.

***

Seorang kawan mengirimkan ini melalui japri pada saya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, mengapa bisa ia menujukan tulisan ini pada saya. Tapi, tulisan ini memantik sebuah kenangan. Sebab ada beberapa konteks yang memang memiliki field of experience sama dengan pengalaman saya.

Saya mulai menyadari saya menikmati menulis sejak tahun 2009, maka mulailah saya membuat blog. Bukan penulis yang selalu menerbitkan buku, tetapi saya menulis untuk menumpahkan kelebatan pikiran yang menumpuk. Menulis bagi saya menyenangkan, menenangkan, dan media untuk berbicara dengan diri saya sendiri. Membaca tulisan lama, saya menyadari fase hidup saya, serta beragam pengalaman lalu yang membentuk saya hari ini. Lewat blog, saya semakin menjadi-jadi dan bergairah menulis. Tidak pernah berharap dibaca banyak orang, atau pun menjadi tenar karenanya. Blog seperti lemari arsip saya. Kadang saya menjawab beberapa pertanyaan atau masalah dari tulisan-tulisan saya tersebut. Tentu saja, kebanyakan tulisan dalam blog saya adalah seputar diri saya dan sekitar saya. Beragam kegelisahan saya mengenai hidup, kerinduan, harapan, kekecewaan, aktivitas, dan lainnya. Hingga kini, saya masih suka mengisi blog saya.

Yang tak pernah saya sangka, dan hingga kini saya masih suka terkaget-kaget adalah bila ada yang mengingatkan saya untuk mengisi blog. Atau ada yang mengajukan friend request dan chat dengan menyatakan kekagumannya pada saya, sebab ia suka membaca blog saya. Hingga bos saya pun terkadang kepo tentang saya melalui blog. Pun teman-teman saya. Pun kamu. Meski saya tampak begitu mudah dibaca melalui blog saya, tetap saja saya begitu sulit dimengerti. Begitu ungkapmu. Dan satu hal yang saya tertawakan, saat kamu merajuk mengapa saya tak pernah menuliskan tentangmu dalam blog saya. Nada kecemburuan itu, tertangkap begitu nyata. Seharusnya kau tahu jawabnya. Meski saya begitu terbuka, tetap ada privasi yang selalu saya jaga. Seperti kamu, misalnya. Cukup saya dan tuhan yang tahu.

Melalui blog, atau tepatnya tulisan-tulisan saya, kamu senantiasa memantau keadaan saya. Kamu memberitahu saya hal itu. Bahwa kamu pun mulai jatuh cinta pada saya lewat tulisan saya. Jauh sebelum kita bertemu, kamu sudah mengenal saya melalui tulisan saya. Bahwa ada rasa pada kata-kata. Terima kasih, saya tersanjung. Hingga kini, saat kita terpisah pun... saya yakin kamu masih memantau tulisan saya, meski perhatian itu mulai berkurang. Entahlah, saya yakin saja. Tak mengapa saya dibilang GR.

Tapi, meskipun itu tidak benar, saya akan tetap menulis. Mengabarkan pada dunia saya masih baik-baik saja. Meski dunia saya hancur, saya masih bisa menulis. Mengabarkan hati saya. Maka, bila suatu hari nanti tulisan-tulisan saya berhenti, mungkin itulah saat perpisahan yang nyata.

Meta morfillah

[Review buku] Sabtu bersama bapak

Judul: Sabtu bersama bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: GagasMedia
Dimensi: x + 278 hlm, 13 x 19 cm, cetakan pertama 2014
ISBN: 978 979 780 721 4

Satu jam 46 menit waktu yang saya perlukan untuk menghabiskan novel ini. Tapi, ceritanya terekam dan membekas begitu lama untuk saya. Membuat saya terpekur, merenung dalam, membayangkan andai bapak saya bisa mengoperasikan handycam, apa pesan yang akan ia sampaikan pada saya. Sebab, terkadang saya jadi jauh lebih pendiam saat ingin bertanya kepada sosok bapak. Pertanyaan yang kadang tak mampu mama saya jawab. Betapa beruntungnya Satya, Cakra dan Ibu Itje memiliki tokoh Bapak dalam novel ini.

Nama adhitya mulya saya kenali lewat novel jomblo dan travellersnya. Saya kira dia adalah spesialis humor. Dan memang benar, dalam novel ini pun kesan humorisnya begitu terasa, terlebih menyangkut sisi jomblo. Pakar banget kayaknya, haha. Novel ini sendiri, banyak direkomendasikan oleh teman saya. Hanya saja saya belum memberi izin pada diri saya untuk membaca atau membelinya sebelum menghabiskan tumpukan bacaan saya yang menumpuk. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Kemarin, tepat ketika hutang bacaan saya sudah tinggal 5 dan topik buku bacaan itu begitu berat, seorang kawan meminjamkan saya buku ini. Dan heiii... ternyata dia memiliki dua buah, sehingga yang dipinjamkannya pada saya ini dia hadiahkan dan otomatis menjadi milik saya. Alhamdulillah, makasih banyak ka agnes. Begitulah jodoh dan skenario tuhan. Setelah berpuasa beli buku dan mencoba konsisten untuk melunasi hutang baca, buku yang saya inginkan datang pada saat terbaik, dari teman yang baik, dengan cara yang baik. So, keep trust to you, Allah!

Judul novel ini membuat saya awalnya berekspektasi bahwa akan mirip dengan sebuah novel luar berjudul "Tuesday with Morrie" karangan Mitch Albom. Secara keseluruhan mungkin iya, sama-sama berisi tentang petuah hidup. Tapi kemasannya tidak. Meski sarat makna, cara penyampaiannya begitu ringan. Bahkan saya banyak tertawa, meski juga banyak menangis membacanya. Teringat kenangan almarhum bapak saya lagi. Well, kenangan akan selalu berusia lebih panjang dari pemiliknya.

Novel ini bercerita tentang sebuah keluarga kecil beranggotakan empat orang. Bapak (Gunawan), Mama (Itje), Satya, dan Cakra. Sang bapak, setelah melalui fase denial dan akhirnya pasrah terhadap takdirnya yang divonis mengidap kanker dan memiliki sisa waktu hidup satu tahun, membuat sebuah keputusan besar. Mungkin fisiknya sudah tidak ada lagi, tapi ia ingin terus membersamai anak-anaknya. Membantu mereka tumbuh dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, tanpa merepotkan sang istri. Banyak persiapan yang ia lakukan untuk membuat keluarganya tetap mandiri meski tanpa dirinya nanti. Salah satunya melalui rekaman video yang diputar setiap hari sabtu. Rekaman yang dibuat per episode dan bahkan khusus untuk tiap fase penting anaknya, seperti ulang tahun, hingga menjelang pernikahan. Banyak pelajaran yang saya ambil dari buku ini. Tentang agama, kehidupan, cinta, pernikahan, kepemimpinan, hubungan orangtua dan anak, kebermanfaatan diri kita, dan lainnya.

Cerdas sekali penulis mengemasnya. Saya memasukkan buku ini sebagai salah satu rekomendasi bacaan dan salah satu buku favorit saya. Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Tiga perkara yang pria minta dari perempuan saat menikah:
Saya pilih kamu.
Tolong pilih saya, untuk menghabiskan sisa hidup kamu. Dan saya akan menghabiskan sisa hidup saya bersama kamu.
Percayakan hidup kamu pada saya. Dan saya penuhi tugas saya padamu, nafkah lahir dan batin.
Pindahkan baktimu. Tidak lagi baktimu kepada orangtuamu. Baktimu sekarang pada saya." (Hlm. 221)

"Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

Find someone complimentary, not supplementary." (Hlm. 217)

Meta morfillah

Text Widget