Pages

06 February, 2026

[Review buku] Diary of a void

Judul: Diary of a void
Penulis: Emi Yagi
Penerbit: Bentang
Dimensi: 196 hal, cetakan 2024
ISBN: 9786231862815

Semenjak pura-pura hamil Shibata merasakan banyak kemewahan yang didapatkannya. Padahal awal ia berbohong karena bosan mengerjakan tugas-tugas tambahan tak tertulis yang jadi kewajibannya hanya karena ia satu-satunya wanita di kantor. Seperti menyediakan kopi, mencuci gelas tamu dll. Ia kaget ketika diizinkan pulang lebih cepat dan bisa belanja sayur serta lauk yang segar. Tidak seperti saat ia dianggap lajang, selalu kehabisan sesuatu yang segar. Demi mendukung kebohongannya, ia sampai mengunduh aplikasi kehamilan dan ikut komunitas aerobik ibu hamil. Tanpa ia sadari, kadang ia lupa mana realitas dan mana halusinasi.

Dengan gaya bahasa ringkas dan to the point, penulis menggambarkan 'kehamilan' Shibata melalui jurnal pekanan. Terasa juga betapa sepi hidup wanita lajang mandiri di usia 30an. Tidak ada waktu bersosialisasi sebab sibuk bekerja demi membayar tagihan dan bertahan hidup. Teman pun memiliki kehidupan masing-masing dan jarang bertemu. Pulang ke rumah orangtua juga tak terasa sama. Hingga kebohongan hamil tanpa suami membuat ia merasa lebih istimewa dan dimanjakan. Apakah harus hamil dulu dan memproduksi anak laki-laki baru seorang wanita itu berharga?

Meski begitu, saya agak bingung dengan realitas saat Shibata pergi USG dan dokternya melihat sang bayi. Apa yang dia pakai ya? Plot twist juga di ending, ketika dia tetap melanjutkan kebohongan dan mengakui seorang anak di IG sebagai anak yang dilahirkannya. Sakit, sih!

Cocok dibaca bagi yang suka literatur Jepang, isu kesetaraan gender di dunia kerja, kesepian di usia 30an, dan patriarki.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#bookstagram #oneweekonebook #kubusetengahtujuh #resensibuku #reviewbuku

No comments:

Post a Comment

Text Widget