Pages

21 November, 2015

Puisi akrostik: FARIS PRATAMA HERMAWAN

Fyuuh... pemuda ini begitu mencengangkan saat
Aku mulai mengenalnya
Rentetan kegiatannya begitu padat
Inginkan waktunya tak tersia
Semaksimal mungkin

Perbaikan diri senantiasa ia usahakan
Raih ridaNya dengan ilmu
Amalan sunnah pun ia
Tegakkan sebisa mungkin
Adalah ustad sebagai sumber langsung
Menuntut ilmu
Akhirat yang akhirnya mendatangkan kebaikan dunia

Hebat sekali semangatnya
Embuskan rasa malu pada diri yang sering beralasan karena
Ringkihnya hati
Malas yang diikuti
Ambooi... malulah kawan padanya
Walaupun jam kerjanya tak leluasa
Andai pun jarak menjadi penghalang
Namun baginya itu semua tak akan jadi alasan mundur

*puisi akrostik FARIS PRATAMA HERMAWAN yang request hehe

Meta morfillah

Puisi akrostik: FAHMI AFRIYADI

Fahmi nama yang mengandung asa orangtuanya
Agar ia memiliki pemahaman hidup yang baik
Hati yang lembut dan bijak
Mampu berpijak dan dijadikan pijakan kokoh tanpa kalah oleh
Ingarnya godaan duniawi

Alangkah senang ia mengabadikan sesuatu dalam
Foto, cerita, dan puisi yang ia simpan sendiri persis seperti
Riak perasaannya
Ia tak pernah mengungkapkan apa
Yang merisaukan hatinya meski ia begitu ingin
Adalah sepi yang ia pilih saat mencari solusi
Dekatkan diri pada sang maha cinta
Introvert yang terlihat ekstrovert

*puisi akrostik FAHMI AFRIYADI yang request hehe

Meta morfillah

Puisi akrostik: IKRIMA NUR ENDAH

Inilah gadis pendiam di
Komunitas PAY yang kukenal
Rapi nian catatannya akan data anggota lainnya
Ingin tahu data atau khususnya tanggal milad anggota PAY?
Mintalah pada dia
Akan dia berikan dengan senang hati kecuali tanggal lahirnya sendiri

Namun di balik sikap diamnya, sesungguhnya dia begitu perhatian
Untaian doa dan hadiah kejutan ia siapkan
Raih surgaNya melalui kebahagiaan saudaranya yang diberi hadiah

Energi cinta dan ukhuwah yang dibangunnya bagai
Nada indah yang mengalun merdu
Dirinya pun memiliki ruang di setiap hati yang ia sentuh
Aduhai... betapa dicintainya orang yang mencintai
Hadits tersebut nyata bila diterapkan sebagaimana ikri lakukan pada saat milad saudaranya

*puisi akrostik IKRIMA NUR ENDAH spesial niih buat kamu yang request tanpa harus punya anak dulu hehe

Meta morfillah

Puisi akrostik: MUHAMMAD GIBRAN ANAQIE

Memilikimu adalah anugerah terindah ayah dan ibu
Umpama matahari yang menyinari bumi
Hadirkan manfaat bagi sekitar
Asa kami ada dalam namamu
Muhammad, yang terpuji akhlaknya
Mendambakan masa depanmu seperti beliau
Alirkan kebaikan tanpa henti
Dunia dan akhirat

Gerakan kecilmu tiap detiknya
Isyaratkan ayah dan ibu tentang kuasa waktu
Bahwa masa kecilmu hanya sejenak
Ruang bagi kami hanya sebentar
Akan ada masa perpisahan
Nantinya saat kamu mendewasa

Anakku, Sayang...
Nampakkanlah pada dunia keindahan
Agama ini, jadikanlah
Qur'an akhlak dan pedoman hidupmu
Insyaa allah ayah dan ibu selalu mendukung dalam setiap
Embusan nafasmu

*puisi akrostik MUHAMMAD GIBRAN ANAQIE putra pertama Uni Mella dan Uda Zul

Meta morfillah

18 November, 2015

Puisi akrostik: ANNISA AMIRA RAHMANI

Anakku sayang
Namamu adalah kandungan doa dan harapan ayah ibu
Nantinya kami harap kamu menjadi wanita yang pengasih
Ikhlas menjadi perhiasanmu
Saleha di dunia hingga
Akhirat kelak

Anakku sayang
Mekarmu hanya sekali
Ingatlah itu baik-baik dan jaga kehormatanmu
Riuhnya dunia mungkin akan mengalihkan perhatianmu
Akan tetapi, selalu ingat bahwa hidup ini akan bermuara pada Allah kembali

Raut wajahmu semoga menenangkan siapa pun yang melihat
Alirkan ruh semangat
Hantarkan pada jalan kebaikan
Melajulah dalam kebenaran tanpa lelah
Ada kami yang senantiasa mendoakanmu
Nampak jauh jalan yang harus kautempuh
Ibu dan ayah akan berusaha semampu kami menemani dan menjagamu

*puisi akrostik ANNISA AMIRA RAHMANI putri pertama Bang Irvan dan Rahma Sofyan relawan PAY

Meta morfillah

17 November, 2015

[Review buku] Bulan

Judul: Bulan
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: 400 hlm, 20 cm, cetakan kedua maret 2015
ISBN: 978 602 03 1411 2

Buku ini adalah seri kedua dari petualangan Raib, Seli, dan Ali. Di buku pertamanya--BUMI--mereka bertempur dengan Tamus--yang menjadi tangan kanan Si Tanpa Mahkota yang sedang dipenjara di penjara bayangan--di dunia klan bulan. Kali ini, demi menjaga perdamaian empat klan: Bumi, bulan, matahari, dan bintang, maka mereka pun diikutsertakan dalam upaya diplomasi ke dunia klan matahari. Bersama Av penjaga perpustakaan klan bulan, Miss Selena pengintai klan bulan yang menyamar jadi guru matematika mereka, dan Ily cucu cucunya Av yang baru saja lulus akademi klan bulan, mereka berangkat. Hanya satu portal yang masih terbuka dan itu dimiliki oleh Raib: buku kehidupan--yang dalam bentuknya adalah buku pr matematika biasa.

Kedatangan mereka disambut gempita di tengah stadion matahari. Rupanya, beberapa jam sebelum mereka tiba, ada keputusan besar yang diambil ketua konsil klan matahari tanpa mempertimbangkan kesediaan mereka. Tanpa persetujuan dan dengan terpaksa--demi kelancaran negosiasi persatuan klan bulan dan matahari menghadapi Si Tanpa Mahkota--Raib, Seli, Ali, dan Ily harus mengikuti Festival Bunga Matahari sebagai kontingen kesepuluh. Festival ini adalah ajang unjuk kekuatan setiap kontingen. Perwakilannya merupakan empat petarung terbaik berusia minimal 20 tahun dan siap memperebutkan bunga matahari yang pertama mekar dalam sembilan hari kemudian. Usia Raib, Seli, dan Ali bahkan belum genap 16 tahun, tanpa persenjataan dan hewan tunggangan yang terlatih, mereka harus bertarung.

Akankah mereka berhasil menemukan bunga matahari pertama mekar? Bagaimana dengan diplomasi persekutuan kekuatan klan bulan dan matahari?

Membaca cerita ini, saya seperti menyaksikan potongan adaptasi dari film dan buku fantasi yang kemudian dipadukan. Di antaranya adaptasi Hunger Games dalam gaya festival matahari, maze runner dalam tebakan si penyeberang sampan, harry potter dengan julukan Si Tanpa Mahkota, twilight dengan kekuatan Ali yang berubah jadi beruang, dan rangkaian seri supernova karya dee terutama yang berjudul PETIR yang diadaptasi dalam kekuatan Seli.

Menjadi mudah dibayangkan keseruan petualangan itu. Tapi agak meragukan juga, sebab saya jadi menilai di mana letak ciri khas tere liye? Ah tentu saja ada kutipan mengenai pemahaman hidup yang lebih baik dan tokoh-tokoh utama yang 100% protagonis, putih. Konfliknya pun selalu memiliki solusi cepat dan tertebak. Meski kadang penulis berusaha mengaburkan solusi dengan distraksi sebuah peristiwa, meliukkan alur, namun saya tetap mudah membacanya. Beberapa part terasa membosankan dan mengulur waktu. Endingnya pun menurut saya antiklimaks. Begitu saja, tak menimbulkan rasa penasaran akan kelanjutan buku ketiganya: Matahari.

Tapi secara keseluruhan masih cukup menghibur dan tidak berat bahasannya, sehingga meskipun tebal bisa saya selesaikan dalam setengah hari. Oh ya, yang unik adalah nama-nama di klan matahari yang berjumlah 3 suku kata, dan saya tidak ingat semua. Paling hanya nama depannya saja.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Dunia ini dipenuhi banyak sekali hal menakjubkan. Satu-dua kita bisa menyingkap penjelasan, lebih banyak lagi tidak." (Hlm. 146)

"Sungguh ada banyak hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah menggapainya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali: cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri. Ada banyak masalah di dunia ini yang bisa jadi kita mati-matian menyelesaikannya, susah sekali jalan keluarnya, ternyata cukup diselesaikan dengan ketulusan, dan jalan keluar atas masalah itu hadir seketika." (Hlm. 209)

"Aku lupa, kompetisi ini bukan soal memang atau kalah, tapi tentang tim kita, yang saling membantu, menolong, dan setia kawan." (Hlm. 313)

Meta morfillah

[Cerita Lirik] Aku bisa

Kadang ku takut dan gugup
Dan ku merasa oh-oh tak sanggup
Melihat tantangan di sekitarku
Aku merasa tak mampu

Tujuh orang di hadapanku tengah membaca persiapan materi microteaching mereka. Bahkan beberapa nampak melakukan persiapan maksimal. Membawa kertas karton, spidol, contoh dedaunan dalam bentuk cetakan foto dan aslinya. Hanya aku yang terlihat begitu santai dengan tes ini. Yaa… kami adalah calon pelamar posisi guru di sebuah SD Islam terpadu dengan konsep alam. Aku malah asyik mengamati luasnya tanah sekolah itu. Ada kebun pepaya, singkong, arena outbound, bahkan sebuah bangunan untuk SMP yang sedang dibangun. Kelas-kelasnya pun unik. Tidak bertembok, melainkan berbentuk rumah panggung dari bambu—mengingatkanku pada rumah makan sunda. Sejujurnya, dalam hatiku sangatlah takut dan gugup. Aku sempat bercakap-cakap dengan beberapa pelamar dan mengetahui background mereka yang sangat mendukung. Ada yang baru lulus kuliah jurusan PGSD, bekerja sebagai guru bahasa inggris di sekolah lain, mengajar bimbel, dan semuanya masih aktif. Lagi-lagi, hanya aku yang sedang tidak bekerja, sudah lama juga tidak mengajar. Terakhir adalah tahun 2012. Itu pun aku biasa menangani anak SMP, bukan SD. Rasa tak percaya diriku sebenarnya menguat, namun sedang kualihkan dengan mencoba menikmati pemandangan yang indah.

Namun ku tak mau menyerah
Aku tak ingin berputus asa
Dengan gagah berani aku melangkah
Dan berkata aku bisa…

Perlahan aku menenangkan diri dengan kalimat positif yang memotivasiku. Mengingat mati, mengingat tujuanku mengajar kembali, meluruskan niat, dan menihilkan ekspektasiku. Sebab seringkali ekspektasi akan melahirkan kekecewaan yang dalam. Persis seperti mencoba mencintai tapi sadar akan risiko melepaskan. Aku pun mulai tenang.
Rangkaian tes dimulai. Diawali dengan presentasi selama 15 menit dengan mengenalkan diri serta interview langsung oleh ketua yayasan yang siap dengan beragam pertanyaan. Sebab aku tak punya ekspektasi dan berharap cepat keluar dari atmosfer para pelamar yang semakin sering berkomat-kamit menghafalkan materi microteaching mereka, aku pun mengajukan diri untuk presentasi dan interview pertama. Disaksikan oleh sepuluh orang, aku merasa begitu lancar bahkan termasuk setoran hafalan surat pendek—aku membacakan surat At tin—dan membaca Al Quran. Aku menganggapnya seperti biasa saat aku presentasi ke klien dan mengaji. Perpaduan keseharianku dahulu. Setelahnya tes microteaching, lagi-lagi aku maju pertama—kali ini karena semua sepakat jika yang pertama bagus, biasanya ke belakangnya bagus, dan mereka memilihku karena aku dinilai berani—sebagai contoh. Aku membawakan matematika materi pecahan sederhana kelas 3 SD semester dua. Waktu yang diberikan hanya 15 menit. Aku tidak memiliki ide kreatif seperti menyiapkan slide atau peraga, dan lainnya. Aku mengajar biasa, menggunakan whiteboard, menggambar dan bercerita, disertai simulasi menyuruh peserta lain maju mengerjakan soal. Aku hanya memakai waktu 5 menit. Aku sudah tak bersemangat karena perutku keroncongan dan perkiraanku bahwa tes akan selesai dalam tiga jam, ternyata meleset hingga enam jam membuatku ingin cepat pulang.

Aku bisa… aku pasti bisa…
Ku harus terus berusaha
Bila ku gagal itu tak mengapa
Setidaknya ku tlah mencoba

Setelahnya aku menikmati berpura-pura sebagai peserta didik, dan menyaksikan teman-teman pelamar lainnya beraksi. Meski persiapan mereka begitu hebat, banyak juga yang tiba-tiba lupa pada materi. Wajar… grogi. Hal ini pun menerbitkan senyumku, bahwa bila aku gagal setidaknya aku telah mencoba. Aku telah merasakan kembali bagaimana adrenalinku terpacu dalam sebuah persaingan sehat.

Aku bisa… aku pasti bisa…
Ku tak mau berputus asa
Coba terus coba
sampai ku bisa
AKU PASTI BISA!

Tes terakhir adalah mengerjakan 5 soal uraian dalam waktu 5 menit. Aku mengerjakannya dengan mudah, terutama soal hitungan. Hanya 1 soal yang agak kuragukan, tapi aku sudah tak peduli lagi. Aku hanya ingin melewati semua rangkaian tes sebaik mungkin tanpa mencemaskan hasilnya. Aku hanya tidak ingin berputus asa, mencoba menjemput takdir terbaik. Just do the best, and let Allah the rest.

Itu semua terjadi di tanggal 10 November 2015. Pihak sekolah memberitahu bahwa dalam waktu dua minggu hasilnya baru akan diumumkan. Pelamar yang lolos tes akan dihubungi via telepon. Dan hari ini, tepat eminggu setelahnya, aku ditelepon. Esok, aku diminta untuk tandatangan kontrak dan langsung mengajar—belum diputuskan akan mengajar di kelas kecil atau besar, dan mata pelajaran apa. Alhamdulillah… kali ini, Allah ingin aku kembali pada dunia yang selama ini kuhindari. Ya, dunia pendidikan formal. Dunia yang menyebabkanku dilema, sebab aku mencintai dunia ini tapi juga membencinya, bila menjadikan belajar adalah beban untuk anak-anak. Tapi kini, aku telah memiliki perspektif baru, dan berusaha agar cita-citaku menjadikan belajar itu menyenangkan terwujud. Sebab ilmu adalah keutamaan untuk meraih ridaNya. Semoga Allah meridai keputusan ini, dan menjadikanku rida terhadap keputusannya.

 *cerita lirik Aku Bisa - AFI Junior. Lagu penyemangatku!


Meta morfillah

13 November, 2015

[Cerita lirik] Balonku

Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru

Tika sedang gundah. Bahkan lagu balonku yang sedang ia nyanyikan bersama anak-anak di rumah belajar terasa menyindir dan mengingatkan Tika pada sosok itu.

"Haaah... Hatiku ini bukan balon yang ada lima. Hatiku cuma satu. Mengapa lagu ini jadi seperti menyindir aku, sih? Baper deh..." batinnya.

Mengapa cinta seringkali tak tepat waktu? Saat aku tak menyukainya, dia menyukaiku. Saat dia sudah tak menyukaiku, aku perlahan menyukainya. Dan sulit bagiku untuk melupakan bila sudah menyukai seseorang. Menyebalkan. Tika melanjutkan keluhannya dalam hati, sementara mulutnya terus menyanyi bersama anak-anak dan senyum terus terpasang, diiringi gerakannya  yang lincah. Betapa hebatnya wanita! Bisa mengalami dua emosi bersamaan sekaligus menutupi perasaan yang sesungguhnya.

Meletus balon hijau
Dor!!
Hatiku sangat kacau

Yaa... hatiku saat ini sangat kacau. Persis balon hijau itu! Betapa ingin rasanya aku yang menjelma menjadi balon hijau itu di hadapannya. Sekadar untuk mengacaukan hatinya. Aah... tapi boro-boro dia memikirkanku. Dumelan Tika terus berlanjut dalam hati. Otaknya bernyanyi, tapi hatinya menangis.

Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat

Hatiku tetap tinggal satu. Dari awal pun cuma satu. Tapi selepas dia pergi, kupegangi hatiku semakin erat. Begitu erat. Sebab aku takut, bila hatiku terbawa olehnya, tak akan lagi kudapati sepotong hati yang baru.

*cerita lirik "Balonku". Special untuk Chyntiarama Fajriyan Tika.

Meta morfillah

[Cerita lirik] Cintai aku lagi

Setiap malam aku selalu merenung
Terbayang dapat menyentuh wajahmu
Ingin kuulangi sekali lagi
Rasa indah yang pernah kualami

Shanti menatap layar ponsel lamat-lamat. Foto itu. Foto dia dan lelaki itu dengan lanskap pegunungan di belakang mereka. Perjalanan mendaki bersama kawan pecinta gunung yang begitu menyenangkan. Amat menyenangkan terutama bepergian dengan orang yang kausukai, bukan? Shanti sangat suka momen itu. Membayangkan saat kedekatan mereka dahulu. Rasa terindah yang pernah ia miliki seumur hidupnya. Betapa masa depan tergenggam begitu nyata baginya. Tapi itu tiga bulan sebelum sebuah undangan berwarna emas bertintakan nama lelaki itu dengan nama wanita lain tiba di tangannya.

Kurasakan… kehampaan
Kuinginkan… kehangatan

Apa yang salah? Seketika Shanti merasa begitu hampa. Bukankah segalanya begitu lancar? Memang lelaki itu belum menyatakan, tetapi perilakunya berbicara lantang mengenai perasaan lelaki itu padanya. Bagaimana tidak, rumahnya di bilangan Jakarta Timur dengan rumah lelaki itu cukup jauh. Tapi lelaki itu bersedia mengantar jemputnya. Mengajaknya kondangan ke acara teman lelaki itu. Memperlakukannya istimewa. Bukankah itu sebuah bukti? Saat menggenggam undangan itu, sekujur tubuhnya terasa dingin. Ia butuh kehangatan. Sebuah pelukan. Tapi, siapa?

Cintai aku lagi seperti waktu itu
Tak bisa kuhindari, hati selalu merindu
Sayangi aku lagi, Tak mampu kusendiri
Tanpa hadirmu, tanpa cintamu

Menatap lelaki itu bersanding dengan wanita lain. Menatap sisi lelaki itu yang seharusnya diisi olehnya. Rasanya seperti melayang dan lupa berpijak pada bumi. Ia sendiri tak mengenali dirinya. Mengapa ia datang, bila tak sanggup menyaksikan? Mengapa ia tertawa seakan dirinya baik-baik saja, sementara teman-temannya pun mengkhawatirkan dirinya, sebab mereka tahu apa yang terjadi antara dirinya dan lelaki itu? Bodohnya lagi... ia masih berharap lelaki itu mencintainya seperti waktu dulu. Hatinya tak bisa menghindari, bahwa ia rindu. Ia ingin disayang lagi... seperti saat ia diperlakukan istimewa di gunung, kondangan, dan di masa lalunya.

Rasa sayang, rasa cinta
Yang selalu kudambakan
Tak ‘kan lelah hati ini
Menantimu ‘kan kembali

Genap enam bulan berlalu, dan ia masih belum lelah menanti lelaki itu kembali. Meski mungkin bukan kembali untuk menjadikan dirinya masa depan. Tapi ia masih mendamba pengakuan rasa lelaki itu. Hutang penjelasan. Bahwa ada beberapa cinta yang hanya butuh pengakuan, tanpa perlu penyatuan.

*cerita lirik "Cintai Aku Lagi" oleh Sania. Special untuk Shanti Nur Oktavia

Meta morfillah

Setiap kita adalah dai

Setiap kita adalah dai.
Di mana pun kita berada.
Cerminkan nilai islami yang rahmatan lil alamin dalam tiap gerikmu.
Tidurmu, bangunmu, makanmu, nafaskan dalam asmaNya yang indah.

Tapi... bila ada yang belum sesuai, ketahuilah bahwa kamu bukanlah malaikat yang sedang rehat di pelataran bumi.
Mendewasa dan menjadi baik adalah proses seumur hidup.
Jangan kecewa, terus semangat wahai diri...

Bagi kalian, bila melihat saudara yang menyimpang... tunjukkan dan luruskanlah dengan cara yang baik.
Benci perbuatannya, tapi sayangi pelakunya.
Bukan nilai islamnya yang tak sempurna, namun pemeluknya yang belum sempurna.

Yuk, mendewasa dan menjadi baik bersama...
Sebab surga terlalu luas untuk dinikmati sendiri.

Meta morfillah

Text Widget