Pages

18 June, 2014

Bercengkerama tentang bahagia, bersama sepi

Jangan biarkan sepi merasuk, sebab akan datang kawannya yang lain: kantuk & suntuk!

Lantai satu terlihat begitu lengang seperti biasa. Menjadi orang pertama yang menyapa meja-meja tak berpenghuni, menyentuh saklar lampu, kipas angin, dan AC adalah keterbiasaanku. Kalau boleh jujur, aku membenci sepi yang seperti ini. Sepi di tempat yang seharusnya ramai. Tapi sudahlah, tak usah kita bahas mengapa kantor ini selalu sepi meski jam menunjukkan pukul 08.30. Khususnya di lantai satu ini. Dengan sepi itu, aku bermain tiap harinya, tapi tak mau begitu akrab. Menyetel musik dengan volume yang cukup kencang adalah upayaku mengusir sepi. Sebab, bila dibiarkan sepi meraja, tak lama kantuk dan suntuk pun datang menyambangi. Sayang, aku tak digaji untuk mengantuk atau mudah suntuk.

Saat sepi seperti ini, benakku malah merimbun. Banyak kata yang berseliweran minta dituangkan. Banyak kata yang berusaha muncul berkali-kali, menggoda, menarik perhatianku untuk melakukan sesuatu. Salah satunya, adalah kata BAHAGIA.

Ya, kata BAHAGIA beberapa waktu terakhir berulang kali timbul tenggelam dalam kepalaku yang seperti hutan kata-kata. Membenak, membelukar. Jadi, bagaimana bila kita bahas tentang bahagia?

BAHAGIA.

Bukankah kata itu begitu magis?
Membuat banyak orang memburunya. Begitu merinduinya. Seperti pesakitan merindu obat. Semua orang begitu mengharapkannya. Tapi, kebahagiaan begitu tega. Semakin dipikirkan, semakin ia melipir. Semakin dicari, semakin ia lari. Semakin diburu, semakin ia tak tentu. Semakin ditangkap, semakin ia melesat. Semakin dihadang, semakin ia hilang. (Paragraf ini dimodifikasi dari prolog buku “lapis-lapis keberkahan” ustad Salim A. Fillah)

Dalam mata kita, kebahagiaan selalu tampak seperti pelangi. Hanya terlihat di atas kepala orang lain. Tak pernah di kepala kita. Kehidupan orang lain selalu terlihat lebih cerah, terdengar lebih ceria, dan lebih bercahaya. Penderitaan kita terasa berlipat-lipat, bila dibandingkan dengan orang lain.

Pertanyaannya adalah, apakah mungkin selama kita hidup dan bernafas di muka bumi, kita bisa mencapai suatu kebahagiaan yang total, sempurna, dan final tanpa ada kesulitan lain?

Seberapa pun sukses hidup kita menurut pandangan dunia saat ini, sukses dari segi finansial, pengakuan diri, nama baik, keluarga yang sempurna, tetap kita tidak dapat mencapai suatu situasi bahagia yang final. Kita mungkin merasa bahagia jam ini, namun jam berikutnya kita sudah menemukan kesulitan yang dapat membuat rasa bahagia kita terusik. Manusiawi…

Betapa sayangnya jika hidup kita setiap hari, detik demi detik dihabiskan untuk berusaha mencapai bahagia sejati.

Namun jika hidup kita bukan untuk mencapai bahagia, untuk apakah hidup kita?

Mungkin ini tentang kesadaran kita. Kesadaran bahwa bahagia bukanlah tujuan. Sebab, bila bahagia dijadikan tujuan utama dalam hidup, kita akan luput untuk menikmati proses meraih kebahagiaan itu. bila bahagia dijadikan cita-cita, kita akan kehilangan gelora. Sebab, bila bahagia sudah tercapai, apa lagi yang akan kita upayakan? Kehilangan visi, rasa dan makna akan kehidupan itu sendiri. Sebab, bila bahagia dijadikan tema utama kehidupan, kita akan kehilangan ia setelah kematian.

Bagaimana? Apakah kamu setuju dengan apa yang aku tuliskan di atas? Atau kamu memiliki pendapat lain?

meta morfillah

17 June, 2014

Surat untuk Tuhan

Dear Tuhan,

Apa kabarmu hari ini?
Hahaa... Pertanyaan retoris! Tentunya kau akan selalu baik-baik saja, meski tanpa diriku. Tidak sepertiku, yang tidak akan pernah baik-baik saja tanpamu.

Tuhan, kutuliskan surat ini karena aku begitu ingin menyampaikan rasaku hari ini. Tadi, sepulang kerja, aku minta ditemani makan oleh teman-teman sekantor. Sebab, bila tak begitu, aku akan malas mencari makan setiba di kamar kosan. Menghabiskan waktu bersama mereka, adalah salah satu nikmat yang selalu kusyukuri. Membantuku melupakan sejenak rinduku pada mama nun jauh di sana. Di tengah cengkerama, terceletuk sebuah kesadaran, betapa hidupku terlihat indah di mata mereka. Padahal bagiku, hidupku sangat biasa. Ibarat aktris, mungkin hanya sebatas pemeran figuran. Tidak menarik. Tapi tidak bagi mereka. Bahkan untuk segala masalah yang kuhadapi, tetaplah indah di mata mereka. Hingga aku berpikir bahwa sering kali kita sibuk memimpikan kehidupan orang lain, tanpa sadar bahwa hidup kita adalah hidup yang diimpikan oleh orang lain. Masalahku masih seputar pekerjaan, kebimbangan, pasangan, dan hanya itu-itu saja. Bukankah Engkau telah begitu baik, tidak menambah porsi masalahku sampai kau merasa aku mampu? Berkali-kali aku harus melihat ke sekeliling bila hal negatif mulai menyerang dan berusaha merajai hati. Berulang kali aku harus mengingatkan diriku untuk bersyukur. Kesadaran itu membuatku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.

Setiba di kamar, migrain menguasai kepalaku. Membuatku serba salah, mau tidur kepala sakit, tidak tidur tapi aku lelah. Akhirnya kubuka HP, memerhatikan setiap picture di gallery. Yaaa, itu adalah salah satu penghiburanku kala sendiri. Melalui foto-foto, aku merecall segala ingatan. Senang mau pun sedih. Dan ada banyak hal yang kembali menginspirasi. Beragam capture-an chat. Aku dan dia, dia, dia. Salah satu hobiku, mengcapture chat-chat unik. Kebanyakan gombalan, kata-kata bijak, sharing di grup dan janji-janji. Ada tawa menyeruak seketika saat membaca ragam gombalan dari lelaki yang berbeda. Ada perih mengiris saat membaca puisi yang khusus dibuatkan untukku. Juga lagu yang dia nyanyikan dan ciptakan untukku. Ada luka yang menganga dari rekatnya yang belum pulih, saat membaca janji-janji masa depannya. Kini semua hanya kenangan. Lelaki yang pernah mencintaiku dengan puisinya, kini memilih perempuan lain dengan puisinya. Menyesal? Tidak. Sakit sebentar, tapi aku senang. Sebab, kesakitan adalah modalku menulis. Kesakitan selalu menginspirasi cerita dan memantik kesyukuranku padamu, Tuhan. Bahkan, saking seringnya aku mengalami kesakitan itu, secara fisik aku telah lupa rasanya sakit. Mungkin, bila mereka melihat diriku, aku hanyalah orang sok kuat, sok tegar, sok prima, sok sehat, sebab aku sangat menghindari sakit. Bahkan ketika sakit, aku sangat enggan menjadikannya alasan, tak suka menjadi manja, terkecuali aku memang tak tahan akan rasa sakit itu.

Melalui surat ini, aku ngalor ngidul hanya ingin memberitahumu, Tuhan... Bahwa aku amat berterima kasih untuk hidupku. Betapa berwarnanya hidupku, kauberikan aku kesempatan mencecap manisnya iman yang didapatkan melalui perjalan panjang, pencarian seorang diri. Kauizinkan aku melakukan beragam kesalahan, lalu ditegur secara keras melalui hambamu yang lain, hingga aku tahu kebenaran dan rasanya, sehingga aku lebih toleran. Setiap harinya, aku belajar untuk mencintaimu semakin dalam dan semakin baik. Walau mungkin aku tak dapat melakukan apa yang kucintai, tapi aku berusaha mencintai apa yang dapat kulakukan. Bila tak mungkin menjadi jalan besar untuk umat ini, maka izinkan aku menjadi jalan setapak baginya. Hidupku saat ini begitu indah, walau belum lengkap sempurna dengan setengah bagian yang lain. Kamu mengajarkanku membagi cinta pada porsinya. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.


Meta morfillah

16 June, 2014

Suatu hari yang hujan di bulan Juni

Suatu hari di bulan Juni milik Sapardi
Di mana hujan merahasiakan rintik rindunya pada pepohonan bunga itu
Aku pun ingin memiliki sebuah hari yang hujan di bulan Juni
Di mana aku merahasiakan cinta darinya
Seperti salju yang jatuh tanpa menimbulkan bunyi
Sebab ia begitu lembut
Sebuah keniscayaan, bila sesuatu yang lembut jatuh ke sesuatu yang sama lembutnya maka tiada getaran bunyi
Tapi siapa pun yang melihatnya seolah terusik pendengarannya
Resonansi rasa yang kupendam dalam diam
Ternyata bergema dalam perilakuku yang terlihat

Betapa pun upayaku menyembunyikan rasa pada sebuah nama
Persis seperti menyelipkan sepotong senja di rembang petang
Saru, namun tetap terlihat walau tipis
Semakin gigantis dan nyata seiring bertambahnya detik

Bersama angin muson barat yang meniupkan titik-titik air menjelma hujan di tanah ini
Maka Juni pelengkap rasa kedua setelah hujan
Bukan maksudku ingin menyaingi keromantisan Sapardi
Hanya saja, hujan di bulan Juni memiliki daya magis tersendiri
Memanggil kembali kenangan yang membelukar di dalam hutan pikiran
Seperti kenangan masa kecilku yang penuh riang tawa
Namun ini sendu
Hujan selalu penawar bagi hati yang sendu
Dibasahinya kekeringan rindu yang lama tak bersua temu
Diingatkannya lagi hijau cinta dan kemungkinannya untuk tumbuh kembali

Hujan bulan Juni,
Selalu membawa pengharapan akan sebuah kisah yang baru


Meta morfillah

Seolah aku bukan diriku

"Bagaimana caramu mempertahankan prinsip untuk tidak berpacaran? Setelah kamu pernah merasakan pacaran yang indah, yang lalu kamu putuskan dengan sebaik-baiknya hanya karena takut dosa?"

"Sebab aku telah mengalaminya. Aku tahu nikmat semu dari pacaran. Semakin ke sini, aku semakin yakin atas pengamatanku terhadap hubungan pacaran," katanya sembari menatap tajam tepat di kedua bola mataku, "Selama pacaran, mereka berpikir sedang berusaha saling memahami..."

"Tapi bukan itu yang terjadi!" tegasnya. "Kenyataannya ialah mereka berusaha untuk tampil lebih baik dari yang sebenarnya. Sehingga setiap kali berbicara, sebenarnya mereka sedang menyembunyikan diri masing-masing. Mereka sedang membuat iklan untuk menggoda pembeli. Karena takut bila pelanggan tidak puas, akhirnya ia akan ditinggalkan. Bukankah hal itu amat sangat munafik?"

"Tapi tidak semua orang berpacaran seperti itu. Ada yang apa adanya."

"Mari kita jujur. Apa iya 100% yang kita tampilkan padanya tentang diri kita itu benar? Tidak kan. Jujur saja, kayaknya kita beda deh waktu di dekat dia dengan saat kita sendiri di rumah. Ini berbahaya untuk perkembangan kepribadian kita. Kita berlatih jadi orang yang hipokrit, bahkan bermuka banyak. Ya, enggak?"

"Tapi, saat kita jatuh cinta, bukankah hal yang wajar? Lalu timbul rasa ingin memiliki, itu pun hal yang wajar? Sebab cinta adalah fitrah, kan?"

"Kamu pernah makan sayur lodeh, yang bumbunya dimakan duluan? Pacaran itu seperti menghabiskan bumbu sayur lodeh tersebut, sebelum sayurnya matang. Lantas ketika sayur matang, rasanya sudah tidak enak. Hambar, tak ada bumbu. Seperti itulah pacaran, tergesa-gesa menikmati sisi-sisi indah dalam hubungan dua insan sebelum ia dihalalkan. Tak hanya berakibat dosa yang menjanjikan siksa akhirat. Tapi terkadang Allah menyegerakan rasa pedih dan perih dalam jiwa saat kita masih di dunia. Ketika pacaran, mereka sudah merasai semua bumbu yang seharusnya digunakan untuk menyedapkan kehidupan rumah tangga. Saling mencurahkan perasaan, berbagi, sentuhan mesra, sandaran, pergi berdua, semuanya sudah. Sungguh, jiwa begitu mudah bosan. Kalau semuanya sudah dilakukan, saat menikah nanti mau apa lagi? Kalau Anda menikah dan pernah pacaran, Anda akan membandingkan pacaran dengan pernikahan. Dan pasti pacaran lebih indah, karena pacaran memang hanya mencari rasa yang indah. Lalu, jadilah kenangan pacaran sebagai penyesalan dalam hidup rumah tangga. Atau, kalau Anda membandingkan pasangan Anda dengan pacar Anda, pasti pacar Anda dahulu lebih sempurna. Ya, karena selama pacaran, hanya sifat baiknya saja yang ditunjukkan pada Anda."

"Lantas, bila tidak pacaran, dari mana kita dapat mengenal pasangan kita?"

"Cara untuk belajar terbaik menjadi istri terbaik hanyalah melalui suami. Cara untuk menjadi suami terbaik hanyalah melalui istri. TIDAK BISA MELALUI PACARAN. Pacaran hanya mengajarkan bagaimana menjadi pacar terbaik, bukan suami atau istri terbaik."

"Lalu bagaimana bila kita terlanjur jatuh hati pada sebuah nama?"

"Ibnu Mas'ud sudah memberitahukan caranya dalam sebuah hadits. Bunyinya 'Apabila kamu merasa kagum dengan seseorang, ingatlah kejelekan-kejelekannya.' Itu adalah salah satu cara menetralisir hati yang mulai terkontaminasi pada sebuah nama. Bukan bermaksud su'udzan (berburuk sangka) atau pun tajassus (mencari-cari aib), melainkan lebih kepada pengembalian objektivitas yang manusiawi. Juga untuk memutus salah satu rantai tazyin (menghias-hias) yang dilakukan syaithan: yang buruk tampak baik, yang busuk tercium wangi, yang nista terdengar mulia. Bukan orangnya yang kemudian harus kita sikapi sebagai 'orang yang banyak kekurangan'. Tetapi lebih agar interaksi yang kita lakukan benar-benat proporsional. Tidakkah terpikir bahwa yang harus dicintai karena Allah banyak jumlahnya? Tak hanya dia, tapi keadilan yang melekati cinta menuntut perhatian besar kita pada masalah-masalah besar umat ini."

"Jadi intinya, tidak ada pacaran sebelum pernikahan?"

"Ya! Keinginan untuk berpacaran dalam diri kita adalah manifestasi kepengecutan yang bertahta dalam sanubari. Kita pengecut, masih takut-takut untuk menanggung beban dalam hidup berumahtangga. Dan di baliknya, kita begitu licik untuk bersegera menikmati sisi-sisi indah dalam hubungan dua insan. Benar-benar pengecut. Belajar dari ahli puasa. Ada dua kebahagiaan baginya, saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Maka menjaga diri dari tidak berpacaran adalah puasa panjang syahwatmu. Kekuatan ada pada menahan. Dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan. Coba saja, kalau Allah yang menghalalkan, setitis cicipan surga akan menjadi shadaqah berpahala. Nikmatnya pacaran setelah pernikahan."



*Modifikasi dari buku "Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan" karya Salim A. Fillah


Meta morfillah

13 June, 2014

Talkshow with Jonru - Klub Buku

- Jalan cerita tidak penting bagi penulis, melainkan: Karakter dan Tema.
- Important: Making believe your reader, with plot!
Untuk membuat making believe, jangan hal yang biasa/wajar.
Contoh:
Ibu sayang sama anak --> tidak perlu Making Believe.
Ibu membunuh anak --> perlu penekanan dengan making believe.

  1. Langkah 1: Tentukan karakter tokoh dan masalah utama.
  2. Langkah 2: Ciptakan konflik. Konflik antar tokoh (dua orang rebutan satu cowok), konflik internal (batin), konflik dengan eksternal (Jurassic Park).
  3. Langkah 3: Eksplorasi konflik. Mulai--Klimaks--Antiklimaks--Peleraian/ending.
  4. Langkah 4: Ending = Kesimpulan (Apa yang hendak saya sampaikan lewat cerita ini?)
3 langkah jitu pintar menulis: Rajin menulis, rajin membaca, dan pelajari ilmunya.

Jangan lupa tentukan segmen pembaca: lelaki/perempuan, usia, domisili, agama, hobi, status, dll.)

*Materi Minggu, 17 Maret 2013

Meta morfillah

Urgensi Tarbiyah Muslimah

A. Kenapa harus liqo?
  1. Karena terkontrol. Kalau tarbiyah dzatiyah (belajar mandiri) sulit mengontrol diri sendiri/tidak ada feedback.
  2. Manusia makhluk berkelompok. Kebutuhan komunikasi dengan sesama yang tinggi.
  3. Manusia itu lemah. "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah." Q.S. 4: 28
  4. Manusia itu bodoh. "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh." Q.S. 33: 72
B. Tarbiyah penting, karena....
  1. Memperluas ilmu/wawasan. Iman ada setelah ilmu. Tahu dulu, baru percaya!
  2. Mendukung suami dalam dakwah.
  3. Sukses mendidik anak. "Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya." Q.S. 52: 21
  4. Eksis di tengah masyarakat dan membuat masyarakat islami/madani. "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." Q.S. 8: 25
ADA TUJUAN LEBIH BESAR DIBANDING KEPENTINGAN DIRI SENDIRI ---> UMAT!

KITA BUKAN ORANG BIASA, AKAN DAPAT ORANG & KELUARGA LUAR BIASA!

*Materi Ngaji Kamis, 21 Februari 2013


Meta Morfillah

Cinta yang tak sempat terjadi

Terima kasih.
Mungkin itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan semua rasaku untuk kalian. Yaa... Kalian yang pernah hadir dan singgah di hati. Walau pada akhirnya cinta kita tak sempat terjadi. Pada awalnya, aku selalu menyalahkan cinta. Mengapa cinta tak pernah datang tepat waktu? Hingga kedatanganmu dengan cintamu yang besar, tak pernah selaras dengan kesiapan dan keadaanku. Namun kini, pada akhirnya aku memahami sesuatu. Bahwa cinta tak pernah salah. Tidak pernah ada kata terlambat, untuk cinta yang selalu tepat waktu.

Cinta kita yang tak sempat terjadi, adalah arena untuk kita saling membenahi hati dan diri. Darinya, kita terlatih merasakan jatuh cinta dalam diam, patah hati dalam diam, dan pulih dari luka karena cinta dalam diam. Tanpa perlu ada yang tahu. Cukup kita dan Tuhan yang menjaga hati kita, hingga seperti saat ini. Bahkan, hingga detik saat kutuliskan tulisan ini...

Ada kelelahan yang amat sangat, namun tak terlihat secara kasat. Ada pertanyaan yang tak habis dan selalu menuntut muara jawaban. Ada gugatan yang lantang bersuara dalam nurani. Namun perlahan semua menyusut. Ketika pilihan yang tersisa hanyalah mengusut hingga kusut dan berdamai lalu menerima, maka aku memilih yang kedua. Sebab, ada kalanya kita akan lebih bijak tanpa mengungkit dan mengusut, lalu membuat hati semakin perih. Bisa saja itu dilakukan. Tapi, nanti. Saat kita telah kuat dan berlapang dada atas segala keputusan.

Tidak pernah ada kata terlambat, untuk cinta yang selalu tepat waktu. Dari air mata, kita banyak belajar. Aku yakin akan satu hal, bila tiba saatnya, maka dia yang akan berbagi hidupnya denganku, adalah yang terbaik di waktu yang tepat. Dipertemukan pada saat yang begitu tepat, ketika sebagian diriku telah menyadari makna dari beberapa sisi tentang hidup bersama. Sebab, cinta adalah energi, maka cinta tidak akan pernah hilang. Ia hanya berubah bentuk dan tujuan. Walau hanya satu muara pada akhirnya. Pada sang pemilik cinta.

Maka, mencintaiMU adalah semacam usaha yang tak pernah selesai. Setiap hari terbangun, aku selalu berkata pada diriku bahwa aku ingin belajar mencintaiMU lebih baik lagi.

Meta morfillah

09 June, 2014

Risiko menjadi bawahan

Lelah! Capek! Mumet! Sebal! Kesal! Bete!

And many else complain about our work. It's normal. That's a life. Problem always there.

Ketika positive thinking, badan sehat, semua masalah--seberat apa pun--mampu kita cerna dan selesaikan menggunakan sudut pandang yang tepat (paradigma, reframing, dl). Dengan mudah kita dapat menyelesaikan, atau setidaknya menangani dengan baik. Mengapa? Sebab saat kita berpikiran positif, hormon endorfin kita akan meningkat. Hormon endorfin adalah hormon kebahagiaan yang menghasilkan daya tahan tubuh. Itulah sebabnya, orang-orang yang ikhlas, tenang, damai dan selalu tersenyum (baik senyum palsu, ala kadarnya atau pun memaksa senyum), jauh lebih sehat dan panjang umur. Mereka membuat diri mereka awet muda, tanpa disadari.

Saat berpikir positif, kita bisa melihat permasalahan dari segala sisi. Tidak hanya sisi kita sebagai bawahan, tetapi juga sebagai atasan, customer eksternal dan internal, serta segala pihak lain yang berhubungan. Kita tidak menjadi egois, mencoba memahami dari sisi mereka, menggali win-win solution.

Tapi bagaimana bila kondisi sedang kurang sehat, terlalu banyak masalah yang menumpuk, sehingga kita jadi berpikiran negatif? Terutama untuk wanita--bukan berarti saya main gender. Sebab, ada suatu periode di mana wanita bahkan kurang dapat mengontrol dirinya sendiri ketika sedang dalam periode tersebut. Ya, periode itu adalah PMS. Kita mengenalnya sebagai Pre Menstruation Syndrome. Tapi beberapa teman wanita saya memplesetkannya menjadi Pas Menstruasi Syndrome, Pasca Mentruasi Syndrome, Pengen Marah Selalu, Pengen Manja Sesekali, dan lainnya. Hahah... Kesannya egois, ya? Wanita ingin selalu dimengerti. Tapi, jika kalian para pria merasakan sedikit saja apa yang kami alami, niscaya kalian akan sedikit berempati. Selogis apa pun wanita yang kalian kenal, bila terkena PMS, dia pun seperti tak mengenali dirinya sendiri. Tiba-tiba saja kelenjar air mata seperti membesar, sehingga mudah menangis. Sensitifitas naik, amarah mudah terpancing, ditambah secara fisik, kadang sampai pingsan, migrain, vertigo, dan lainnya. Kalau ada yang nanya, "Maumu apa, sih?"
Rasanya pengen terjunin tuh orang dari tebing. Sebab, kita sendiri coba mengendalikan lewat logika, tapi tetap aja hormon sedang tidak stabil. Makanya Tuhan membebaskan kewajiban beribadah saat wanita sedang haid. Sebab, itu dianggap sebagai sebuah penyakit.

Nah, kalau lagi kayak gitu, sering banget logika jadi tumpul. Wanita mengedepankan perasaan. Atasan--lelaki-- yang tak peduli, datang dan marah-marah. Menyalahkan bahkan tidak menghargai hasil kerja yang sudah kita kerjakan dengan versi terbaik diri kita. Rasanya pengen teriak "Hellooo.. I did my best! Can't you see it?"
Atau pengen nangis lalu pergi jauh-jauh dari orang yang sudah menyakiti perasaan kita. Timbullah berbagai macam pikiran negatif yang beranak-pinak.

"Gw pengen resign. Udah gak kuat! Capek."

"Lo gak tahu apa, gw datang pagi-pagi. Berusaha mengerjakan dan menyelesaikan tumpukan pekerjaan ini, dan lo bilang gw gak ngapa-ngapain!? Go to hell!"

"Badan gw udah gak enak, gw maksain kerja, dan ini yang gw terima!? Lo nyalahin kerjaan gw, yang setengah mati gw kerjain tanpa ada petunjuk jelas dari orang terkait. Gw yang malah lo omeli? Kayaknya gw salah muluk di mata lo? Emang siapa lo di mata gw? BELEK!"

Dan umpatan-umpatan lain yang berkecamuk. Kaki rasanya ingin lari menjauh dan tak ingin kembali ke kantor. Kalau keesokan harinya masih seperti itu, sebaiknya kita ajukan cuti. Take a breath. Exhale, inhale. Lalu kembali ke rutinitas. Kembali ke problema-problema harian. Kembali mendengar omelan, cacian, kata-kata pedas, dan kita tak kuat menerimanya. Maka resignlah. Karena diomeli, kurang dihargai dan disalahkan adalah bagian dari gaji yang kita terima. Selama kita jadi bawahan, hal itu niscaya. Hanya persoalan waktu. Kalau kita enggak kuat, ya resign saja. Tandanya kita enggak cocok jadi bawahan. Lalu ketika kita mendirikan perusahaan sendiri, coba ingat-ingat lagi rasanya ketika menjadi bawahan. Semoga kita tidak menjelma atasan terdahulu kita. Seharusnya pengalaman membuat kita lebih bijak belajar dari kesalahan, kegagalan dan kepahitan.


Meta morfillah

Pillow Talks

Kalian tahu apa itu pillow talks? Atau jangan-jangan kalian sering melakukannya, namun tidak tahu namanya?

Pillow talks adalah aktivitas ngobrol sebelum tidur dengan pasangan. Makanya dinamakan pillow, karena biasanya saat kita sudah merebahkan tubuh di atas kasur dan memakai bantal--bersiap untuk tidur. Berdasarkan penelitian, pillow talks ini sangat dianjurkan, karena di sanalah saat memperbaiki komunikasi yang mungkin kurang intens atau kuantitas untuk quality timenya kurang. Menurut saya pribadi, pillow talks ini tidak hanya berlaku untuk pasangan, tapi untuk siapa pun yang dekat dan tidur bareng Anda. Bisa saja dengan ibu, kakak, adik, atau sahabat kosan.

Saya sendiri baru menyadari, bahwa ternyata saya sering melakukannya dengan mama. Ya, saya tidur bersama mama jika mama sedang berada di Jakarta. Bahkan, dari jam tidur normal kami yang biasanya jam sembilan atau sepuluh malam, bisa mundur menjadi jam dua pagi karena pillow talks ini. Seperti halnya kemarin.

Awal pembicaraan selalu dipancing oleh pertanyaan mama saya mengenai apa yang saya lalui hari ini, terutama mengenai aktivitas di kantor. Lalu merembet ke arah perihal ibadah harian saya, lalu ke usia, lalu ke jodoh, lalu ke teman laki-laki saya, lalu ke keluarga inti kami, lalu rencana-rencana masa depan, lalu evaluasi dan selalu ditutup dengan ceramah mama tentang wanita yang harus kuat, tidak pengeluh dan selalu menuntut saya lebih rajin--sebab di mata beliau, saya tetaplah bungsunya yang selalu menjadi anak kecil, teledor, dan pemalas. Urutan tengah, selain topik awal dan akhir, bisa berubah-ubah, namun selalu seputar itu-itu saja. Terutama jodoh dan usia. Hampir tiap saat, mama selalu menyindir dan membahas isu ini pada saya. Mungkin karena sebentar lagi saya mau menginjak usia 25 tahun. Usia di mana mama saya menikah dengan bapak saya dahulu, dan beliau merasakan sendiri itu sudah telat. Ketika memiliki anak, kakak saya menikah di usia 22 tahun, sementara saya? Sampai detik ini, saya tak pernah mengenalkan "Ini pacar saya, Ma" yang mungkin akan membuat beliau lebih tenang. Yaa, saya memilih jalan yang berbeda, dan pertama ada di keluarga inti, bahkan keluarga besar saya, baik dari pihak keluarga bapak atau pun mama. Saya berusaha untuk ta'aruf, tak mau menambah dosa dengan berpacaran. Saya cukup tahu diri, dosa saya sudah banyak.

Namun, saya pun bukan orang yang close-minded. Saya tetap berteman dengan lelaki, bahkan karena saya berasal dari SMK, yang notabene lebih banyak lelaki--hingga kami, siswi SMK itu diliput sebuah majalah kota yang terkenal, dan mendapat julukan 'Anak perawan di sarang penyamun--membuat teman lelaki saya jauh lebih banyak dibandingkan wanita. Setiap hari, setiap malam minggu, teman lelaki saya bergantian datang, main ke rumah. Seakan saya gonta-ganti cowok, padahal tidak. Itu jauh lebih aman, sebab keluarga saya mengenal semua teman lelaki saya. Tidak ada yang saya tutupi. Semua hal yang saya coba lakukan terbaik, tetap saja dikomentari pro dan kontra, negatif dan positif. Hingga terkadang, saat pillow talks saya meminta nasihat pada mama, apa yang harus saya lakukan. Sebab, seringkali saya merasa sunyi di jalan yang telah saya pilih ini. Tapi, saya pun tak mau kembali ke jalan lalu yang ramai. Pangkalnya jauh, ujungnya belum tiba.

Pada saat pillow talks ini pula, saya selalu mendiskusikan dan memberi pengertian mengenai prinsip hidup saya. Apa saja keputusan yang akan saya ambil dan latar belakang saya memilih keputusan itu. Dulu, amat berat rasanya, memberitahu pilihan-pilihan hidup yang ingin saya jalani. Tapi waktu menunjukkan kuasanya. Perlahan, saya melihat setelah beratus pillow talks saya lewati dengan mama, beliau akhirnya dapat mengerti apa yang saya inginkan dan butuhkan dari dia sebagai support. Pada akhirnya kepercayaan beliau adalah sumbu utama kepercayaan diri saya, bahwa saya mampu mencapai jalan menujuNya, walau jalan itu sunyi. Walau saya merasa terkadang begitu hampa, sepi dan basi.

Orang tua, tidak akan bisa sekali kita beri penjelasan maka langsung menerima hingga mengiyakan. Mereka melihat niat dan konsistensi perilaku kita. Maka, kita pun harus sabar, dan terus menerus memberikan pengertian pada mereka. Melalui pillow talks salah satunya. Cobalah, komunikasi yang kurang intens karena waktu sibuk Anda untuk bekerja begitu padat, ditebus dengan konsistensi pillow talks barang sepuluh hingga dua puluh menit per harinya.

Lalu, rasakan keajaibannya.



Meta morfillah

04 June, 2014

Akhir Pencarian

Tak ada yang lebih indah selain dua orang yang bertemu karena saling menemukan, sama-sama berhenti karena telah selesai mencari. Tak ada yang akan pergi, sebab tahu bagaimana sulitnya mencari.


Pernahkah kamu memiliki pemikiran yang sama denganku, Sayang?

Mengapa kita dipertemukan pada usia yang tidak lagi muda, tapi juga tidak terlalu tua. Di saat kawan-kawan kita sudah membangun keluarga dan beranak-pinak, sementara kita masih berkutat dalam pencarian.

Masa lalumu yang kudengar sebagai cassanova, penebar jerat cinta. Semua wanita kamu dekati, hampir tak ada yang luput. Tapi semua hanya permainan. Siklusmu selalu sama, setelah enam bulan kamu akan bosan dan mencari pengalih perhatian lainnya. Tentu saja, wanita lain maksudku. Padahal, kamu merasakan kekosongan itu. Sempat kamu terbentur pada seseorang. Mencoba serius dan melamarnya, tapi dia belum siap. Lalu kamu kecewa, dan kembali tidak serius pada wanita. Semua kamu anggap permainan kembali. Semacam uji nyali, undian, dan mengumpulkan piala, yaitu mantan-mantanmu.

Sementara, masa laluku pun diwarnai lelaki yang datang dan pergi silih berganti. Hingga aku lelah menanggapi. Mengapa? Nyatanya, mereka terlalu memujaku, namun takut memilikiku. Bukankah itu pengecut nomor satu, Sayang? Ketika kamu sangat menginginkan sesuatu, namun memperjuangkannya pun kamu enggan. Aku menjadi paradoks. Memercayai cinta, tapi sulit jatuh cinta. Hatiku kukerangkeng dalam ragam kesibukan lain. Menaikkan level diriku, tangga demi tangga ujian kutapaki. Bahkan, aku melupakan cinta. Tapi, cinta sama seperti uang dan dunia. Semakin ditolak, mereka semakin mendekat. Mungkin, mereka tak pernah menerima penolakan, Sayang. Semakin aku acuh, semakin bertambah kumbang penggoda. Dari yang diam-diam, hingga yang terang-terangan. Aku kembali lelah, Sayang.

Hingga tiba masa kita bertemu. Dua orang di puncak kelelahan. Berkutat pada pencarian. Kamu dengan gaya pencarianmu. Aku dengan gaya pencarianku. Kita berbincang. Bertemu. Berbincang lagi. Dan menjelma menjadi janji-janji temu selanjutnya. Seperti menemukan sebuah pelengkap. Kawan bercerita yang pas. Hingga di pertemuan kesekian, kita--lebih tepatnya kamu, Sayang--melakukan hal gila.

"Kita nikah, yuk!" Katamu di sela bahakku.

"Hahaa.. Yuk! Nikah kan tinggal nikah. Ke KUA. Biaya nikah, tuh, enggak mahal, yang mahal biaya gengsinya!" Aku menanggapi dengan lebih gilanya.

Tiba-tiba raut mukamu serius. Aku berhenti dari bahak. Intuisiku mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sering kualami ketika "ditembak" lelaki. Perutku tiba-tiba terasa dikocok-kocok, jantungku berdebar tak karuan. Semoga saja, tidak! Harap cemasku. Di satu sisi aku takut. Di sisi lain, aku terlanjur nyaman denganmu.

"Aku serius."

Damn! Hal yang kutakutkan terjadi.

"Mengapa diam? Kita sudah saling mengenal. Luka dan penderitaan kita sama. Kita sudah lelah mencari. Mengapa tidak kita saja yang saling mengisi satu sama lain? Banyak persamaan yang mampu merekatkanku dan dirimu. Aku nyaman denganmu."

Ada kesungguhan dalam nada suara dan matamu. Membuatku tercekat, tapi di dasar perutku seakan ada yang meledak. Rongga dadaku terasa mengembang, seakan ingin membuncah.

"Baiklah. Kapan kamu akan ke waliku meminta restu?"

"Besok."

Tiba-tiba saja, segala hal dilancarkan. Tidak ada kendala berarti hingga terselenggaranya pernikahan kita. Benarkah ini yang namanya jodoh, Sayang? Kamu bahkan tak pernah masuk dalam daftar lelaki yang ingin kumiliki. Sebab, aku tahu masa lalumu. Detilnya. Pun aku, tak pernah masuk dalam daftar wanita yang ingin kamu pacari. Sebab, aku tak secantik mantan-mantanmu. Tapi, 20 tahun kita bersama, hingga hari ini, barulah aku yakin bahwa kita memang berjodoh, Sayang.

Kamu tak pernah pergi meninggalkanku. Pun aku. Kita hanya akan terpisah dimensi ruang dan waktu. Aku percaya, kita akan tetap saling menjaga, Sayang. Aku melepaskanmu dalam perjalanan damaimu, melalui kecupan terakhirku pada jasadmu yang terbujur kaku dan dingin.

Terima kasih, Sayang. Kamu telah memberikanku 20 tahun kebahagiaan dalam pernikahan. Aku mencintaimu. Selalu.


Meta morfillah

Text Widget