Pages

28 April, 2014

How long you can hold

Saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya:

“Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?” 

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.

“Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya,” kata Covey.

“Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”

“Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya,” lanjut Covey.

Sobat, apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini tinggalkan beban pekerjaan atau masalah sekolah/kampus sejenak. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di pundak sobat hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi……

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.

Selain itu, beristirahat sejenak untuk dapat mengayuh kembali hidup dengan lebih kuat. Jadi sisakan porsi aktivitas keseharian Anda untuk mengistirahatkan, badan, pikiran (otak), dan rohani.

22 April, 2014

Bukan tentang kita saja

Aku bisa memotong senja untukmu, tapi tidak kulakukan. Sebab aku ingin mereka, anak cucu kita menikmatinya. Ini semata, perkara bukan tentang kita saja.

Aku bisa begitu egois membahagiakanmu seorang, tapi tidak kulakukan. Sebab aku ingin membahagiakan mereka, yang telah mendukung kita. Ini semata, perkara bukan tentang kita saja.

Aku bisa begitu fokus memikirkanmu saja, tapi tidak kulakukan. Sebab kita hidup tidak hanya berdua di dunia. Ini semata, perkara bukan tentang kita saja.

Ketika kita hanya berpikir tentang KITA, maka dunia seketika begitu sempit. Sebab kamu dan akulah porosnya. Dunia mengabu, menjadi absurd dalam pikiran dan genggaman kita.

Tapi ketika kita mulai berpikir tentang MEREKA, maka dunia kembali pada fitrahnya, begitu luas, dan belum terjamah oleh kita. Sebab, dunia menuntut kebermanfaatan kita di segala aspek. Itulah esensi peleburan aku dan kamu, menjadi kita. Bukan dua menjadi satu, melainkan dua menjadi seribu, sepuluh ribu atau bahkan berjuta-juta.

Ada saatnya, kita memikirkan kita, dalam porsi kita. Namun, akan lebih banyak kita harus memikirkan mereka. Sebab, dunia bukanlah sinetron yang menyajikan drama, lalu akan selesai berdasarkan ketentuan episode. Bahkan dapat disela oleh iklan dan acara lain. Isu-isu kemanusiaan bahkan tak mengizinkanmu beristirahat untuk menghela nafas.

Akankah kita begitu egois membiarkan seonggok kemanusiaan terkapar di sana? Sedangkan kita membangun dunia penuh romansa, dunia tentang kita saja?

Meta morfillah

Sesal & akhirmu

Kamu hafal tiap detail wajahnya. Bagaimana dia berjalan, berdehem, batuk, tertawa, bete, marah dan semuanya, kamu rekam baik-baik dalam lobus memorymu. Lisanmu tak pernah mengaku rindu, apalagi cinta. Semua terasa kelu. Namun gerak-gerikmu, orang bodoh pun tahu, kamu mencintainya. Tapi, bukankah cinta selalu seperti itu? Cinta itu buta. Yang mencintai dan dicintai tak menyadari perilaku mereka yang begitu terang menyuarakan cinta. Entah kegelapan apa yang menyelimuti kamu dan dia. Kalian bersembunyi di bawah naungan persahabatan. Persahabatan yang kata orang, tidak akan pernah kekal. Antara lelaki dan wanita.

Hubungan kalian begitu awet, seperti hujan di bulan desember. Tapi kamu, menyadari ada hal yang harus dicukupkan. Usiamu lewat seperempat abad, ibumu sudah berkoar begitu hebat. Takut sekali, kamu membiarkan masa mudamu lewat. Beragam lelaki, ibumu kenalkan padamu, untuk mengalihkan perhatianmu darinya. Namun, kamu masih tetap kukuh, percaya bahwa akan ada suatu masa. Masa di mana namamu dan namanya bersanding di sebuah undangan. Kamu merasa kemungkinan itu ada, dan begitu nyata dalam mimpimu. Hingga berjanji dalam hati, tanpa materai. Tapi sekarang, kamu mulai goyah. Dia tak menunjukkan tanda-tanda untuk perkembangan hubungan kalian.

Kamu harus memutuskan. Semua harus dicukupkan. Cukup sebatas sahabat. Kamu mulai membentangkan jarak, walau itu membuatmu begitu perih. Meninggalkan dia, membuat dadamu sesak, serasa ada rongga besar yang tercerabut bersama kepergiannya--tepatnya kepergianmu darinya. Kamu merapikan kenangan, melipatnya dengan rapi. Dan mengabaikan sekotak penyesalanmu, yang lalu kamu pojokkan di sudut hati. Berusaha tak melihat dan mengingat-ingatnya lagi.

Pada akhirnya, ketika keseriusan memintamu serius, kamu akan patuh. Pada akhirnya, bukan perkara kamu mencintai siapa, melainkan dia yang memperjuangkanmu hingga akhir penghabisan.

Meta morfillah

21 April, 2014

Rumit

"Cinta itu sederhana,
Hanya kamulah yang membuatnya rumit."

Itu yang kamu ucapkan kala aku menolakmu.

"Aku mencintaimu, biarlah, itu urusanku.
Bagaimana kamu kepadaku, terserah, itu urusanmu."

Kamu mengatakan kalimat penghibur hati untukku, yang sepertinya kamu kutip dari sebuah buku. Karena begitu jelas, lukamu terlihat saat mengatakannya. Hati dan mulutmu tak menyatu. Tapi aku memilih mempercayainya.

Mengapa?
Mengapa aku membodohi diriku sendiri?
Mengapa aku terkesan menjual mahal?
Mengapa aku menjauh dari sebentuk cinta yang kamu tawarkan?
Mengapa, mengapa, dan mengapa lainnya?

Bilang saja aku naif, munafik dan pengecut.
Aku terlalu sibuk menjaga perasaan dan hati-hati lainnya. Hingga lupa bagaimana membahagiakan hatiku. Begitu pun padamu. Aku terlalu takut menyakitimu. Padahal, tanpa sadar, perubahan perilakuku, sikap menghindarku justru menyakitimu.

Lantas, benarkah cinta sesederhana yang kamu bilang?
Jika cinta begitu membuatku rumit?
Benarkah cinta sesederhana hujan yang luruh ke bumi?
Benarkah cinta sesederhana tarikan nafas kita?
Benarkah cinta sesederhana tawa anak kecil, atas hal-hal yang bahkan tidak lucu?
Benarkah sesederhana itu?

Beritahukan letak kesederhanaannya padaku. Bentuk dan sudut-sudutnya yang membuatnya sederhana bagimu. Sebab bagiku, ini begitu rumit.

Atau, memang akulah kerumitan itu?

Meta morfillah

[Review Buku] Howls(dot)com

"Kau dapatkan waktumu. Sebanyak yang kau mau. Tapi, kau tak bisa terus menunggu, kan?"

"Jodoh tidak selalu tentang pasangan hidup. Bisa saja kalian berjodoh, tapi untuk lain hal, misalnya, menjadi sahabat."

Pernah berpikir, akan menjadi sahabat bahkan saudara gara-gara pertemuan di media online?
Aku sendiri bahkan tidak pernah. Tidak percaya, lebih tepatnya. Hingga aku benar-benar mengalaminya. Memiliki keluarga baru, genkbooks & love books a lot id. Kalau kalian tahu, aku paling takut yang namanya, KOPDAR. Tapi itu dulu, sebelum KOPDAR dengan kalian, yang bahkan membuatku ketagihan. Para kakak, adik, dan temanku, di dunia maya dan nyata.

Nah, di buku ini, aku merasa flashback. Sedikit mirip dengan yang kualami. Seruuu...

Judul: Howls(dot)com
Penulis: Ghyna Amanda Putri
Penerbit: De TEENS
Identitas: 322 hlm
ISBN: 978-602-255-489-9

Review ala meta:
Ini buku teenlit! Saya tak menyangka, bahwa saya menikmati (kembali) membaca buku genre teenlit! Yang biasanya begitu mudah tertebak dan membosankan.

Buku ini menceritakan tentang tujuh orang, dengan tujuh kehidupan yang berbeda, yang terangkum dalam sebuah portal forum bernama howls(dot)com.

Mereka bertemu tanpa menyadari, bahwa mereka memiliki satu keterkaitan, dan dikumpulkan demi satu kepentingan. Howls sendiri memiliki arti lolongan, teriakan, dan ucapan apa pun dari seseorang, tanpa memedulikan orang menanggapi. Dan.. Forum ini sukses membuat tujuh orang tersebut 'membuka diri'.

Mereka tidak saling mengenal, memakai identitas samaran, bahkan ada yang berbohong, mengaku wanita padahal lelaki. Ketujuh ID tsb adalah Mr. K, Lady Frog, Vermarine, Matryoshka, Windbell, Butterfly, dan November.

Klimaks dari novel ini adalah saat November tiba-tiba menghilang. Kelima orang, kecuali Mr. K merasa khawatir dan mencari tahu kabar tentang November. Mereka mulai membuka identitas dan merasa dekat secara psikis, walau tak kenal secara fisik. Begitu banyak rahasia yang perlahan tersibak, dan membawa perubahan dalam hidup mereka. Ternyata dunia maya dapat memengaruhi keputusanmu di dunia nyata, guys!

Yang menarik di buku ini, dari segi tampilan dan desainnya. Lalu beragam emoticon yang mewarnai percakapan dunia maya. Persis seperti saya sedang Whatsappan. Ditambah pengetahuan baru untuk saya, bahwa ada situs roleplay berbasis teks yang membuat penulis melahirkan buku ini. Idenya begitu menarik, menurut saya.

Kekurangannya:
Ada beberapa typo yg saya temukan, tapi tidak terlalu mengganggu.

Bintang: 4 dari 5 bintang.

16 April, 2014

[Surat] Selamat Jalan, Ibunda Fury

Kamu tahu?

Bidadari surga memiliki segala apa yang diinginkan wanita di dunia ini, tapi dia selalu mencemburui satu hal. Dia selalu mencemburui para ibu. Sebab mereka memiliki anak, baik yang lahir dari rahimnya atau pun yang dibesarkannya sepenuh hati dalam koridor Tuhannya. Anak-anak itu, adalah doa yang tak putus, amalan tiada henti. Walau terpisah raga oleh dimensi ruang dan waktu, nama para ibu selalu abadi dan dilantunkan dari masa ke masa oleh anak dan keturunan mereka. Sedang bidadari? Tidak ada yang mengagung-agungkan namanya.

Hari ini, 15 April pukul 13.00 WIB, seorang ibu hebat telah kembali ke sisiNya. Kembali bidadari akan cemburu. Ibunda Sri Purwanti, ibunda tercinta dari saudariku, sahabatku, Fury Wiri Sundari. Bercerita tentang ibunya, tentulah aku mengenal beliau dari cerita dan perilaku anaknya, Fury.

Sejak tahun 2007, kami berkenalan di kampus, lalu menjadi dekat di dalam sebuah ukhuwah yang dilabeli nama duckies. Lima wanita--termasuk aku--yang berusaha menapaki jalanNya. Khusus fury, entah mengapa, aku lebih dekat dengannya. Bukan karena kemiripan nama kami. Nama belakangku FURI, dan nama depan dia FURY. Sering kali kami berkelakar mengenai salah pengejaan nama kami, sebab memiliki arti yang berbeda. Hingga kami dijuluki duo furiy.

Kami semakin dekat dan menjadi sepaket tiap ada tugas kampus yang mengharuskan berkelompok. Aku yang suka menulis dan berada di balik layar, sangat klop dengan dia yang senang tampil dan berbicara. Kekuranganku, adalah kelebihan dia. Pun sebaliknya. Kami saling melengkapi. Walau kami juga sering kesal satu sama lain. Apalagi aku, mendengar suaranya yang melengking tinggi--khas anak priuk--terkesan seperti teriak-teriak dan sering membuat jantungku berdebar tak karuan, sungguh menyebalkan. Tapi di sanalah, kami menemukan arti ukhuwah. Walau sudah lama tak bersua, kami tak pernah kehilangan obrolan. Walau jarang bertemu, tapi kami selalu saling mendoakan. Saat kesusahan, kami saling mengingat dan menguatkan. Pun kesenangan.

Aku percaya, bahwa kebaikan-kebaikan seseorang adalah hasil didikan orang tuanya, terutama IBUnya. Dan terbukti benar. Aku bertemu ibunya kali pertama sehabis lebaran--tahunnya aku lupa. Itu acara silahturrahim ke rumah para duckies. Ibunya pandai memasak. Saat itu kami dimasakkan soto ayam, yang begitu enak. Ibunya lucu, lembut, ramah, dan pendiam. Kali kedua adalah saat wisuda kami. Kali ketiga--sekaligus kali terakhir aku melihatnya dalam keadaan sehat dan bernyawa--saat di Rumah Sakit Persahabatan, tempat beliau dirawat karena sakit kanker paru-paru stadium empat.

Setelah perjuangan melawan penyakitnya tanpa mengeluh, beliau akhirnya pergi. Semoga amal kebaikan semasa hidupnya, diterima di sisi Allah. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah dan tawakkal menyikapi kepergiannya.

Fury sayang... saat kamu di posisi kehilangan, satu detik terasa satu jam. Entah mengapa jarum detik kian memanjang.

Fury sayang... boleh kamu menangis, melegakan hatimu, dadamu, walau mungkin rongga itu akan selalu ada dan tidak akan pernah tertutupi.. Tapi jangan sampai kamu antar kepergian ibunda dengan air mata. Jangan teteskan air matamu pada dirinya. Berikanlah senyuman terbaikmu, walau berat.. Sangat berat... Untuk tersenyum dalam keadaan sedih.

Fury sayang... Bila tidak ada pundak untuk bersandar, telinga yang sudi mendengar, maka bersujudlah dalam-dalam. Adukan semua pada Tuhan. Bicaralah padanya dan doakanlah ibunda dalam sujud panjangmu.


Salam sayang dari saudarimu,

PeluKiss..

 Meta

14 April, 2014

Filosofi garpu pop mie

Tidak, garpu pop mie tidak pernah salah. Yang selalu salah adalah si PAHAM. Yaa… makanya kita sering dengar orang bilang, “Salah Paham, lo!”

Ah, kalimat pembuka tulisan macam apa itu. Seperti bukan diri saya. Ini sisi lain dari diri saya, bisa jadi alter ego—apaan sih ni? Sok kece dah istilahnya!—atau si iska, atau si furi. Hmm… jadi gini, saya nulis ini sebenarnya iseng saja. Beberapa waktu belakangan, saya sering nyindir orang dengan ngomong,

“Ah, lemah lo! Kayak garpu pop mie!”

Seringnya ke kaum lelaki,

“Ingat, lo itu LELAKI! Bukan garpu pop mie!”

Atau, kalau ada lelaki yang mentalnya kayak cewek, banyak alasan, dan bla bla, just speak without real action, saya bilang gini,

“Lo itu laki apa garpu pop mie, sih?”

Kenapa dengan garpu pop mie?


Filosofi ala meta…

Tahu gak sih, garpu pop mie? Iyaa.. itu loh yang warna putih, bisa dilipat, bengkok. Nah… kayaknya, lemah banget kan. Kalau agak keras penggunaannya, atau buat motong daging bakso, langsung patah. Gak banget gitu, loh!

Kurang asyik makan pakai garpu pop mie, kecuali terpaksa banget gak ada garpu yang asli.

Kaitannya adalah, ke sikap kita setiap menghadapi sebuah masalah. Any kind of problem, huh! Kadang banyak yang udah ‘patah’ duluan, kayak garpu pop mie. Padahal belum juga digunakan untuk membelah bakso jadi dua. Begitulah kira-kira, semacam belum berperang sudah kalah. Too many reason, don’t wanna hurt or safe player. Afraid, and weak!

Jahat banget ya, kedengerannya? Iya, sih. Tapi saya nulis juga buat mengingatkan diri saya, kok. Jadi kalau sakit, ndak apa lah ya. Namanya juga perjuangan, masak baru dicela sedikit sudah mundur. Harus kuat!

Eh, tapi saya sering banget ngomong hal ini ke para lelaki. Why? Karena saya prihatin. Kok makin ke sini, banyak lelaki yang ‘kalah’ sama wanita. Dari mental, pengetahuan, karir, keuangan, dan keteguhan hati. Banyak sekali mereka yang mudah menyerah. Terlalu  banyak alasan dan membenarkan tindakan mereka itu. Komentar amannya, “Ya sudahlah, kalem aja. Rezeki enggak ke mana.” Tapi aksinya tidak ada. Cuma menghibur diri sendiri. Padahal harusnya, obsesi terhadap tujuan lelaki itu lebih besar daripada wanita. Karena dia penentu di segala bidang. How to reach the goals and develop the capacity…

Eh, maaf… tulisan ini kok jadi terkesan gender, ya? Duh, maklum… namanya juga lagi labil. Intinya gini deh, jangan jadi kayak garpu pop mie… yang lemah, mudah patah, mudah dibengkokkan. Hidup tuh harus punya prinsip. Gelombang kehidupan begitu kuat dan hebat, jadi kalau kamu ndak punya pegangan hidup, siap-siap aja terhempas badai rayuan dunia, lalu karam dan tenggelam.

Bye!
 

Meta morfillah

[Cerpen] Cinta mati



Cinta mati
Meta morfillah

Wanita itu bangun dan menyibak tirai biru di kamarnya.  Langit masih gelap, namun suara azan sayup-sayup terdengar dari masjid kampung sebelah. Subuh datang semakin cepat. Dia bergegas ke dapur, menjerang air panas untuk membuat teh manis hangat untuk suaminya. Tidak boleh terlambat. Sebab hal itu akan memperburuk suasana hati suaminya. Dia tidak ingin membuat suaminya merasa kecewa padanya. Tidak lagi.
“Ini tehnya, Mas.”
Dia meletakkan teh manis itu di meja samping tempat tidur suaminya. Lalu mulai merapikan rumah. Menyapu, mengepel dan tak lupa menyemprotkan pengharum ruangan kesukaan suaminya. Wangi lavender yang lembut, sama seperti dirinya—kata suaminya. Lalu ia mandi dan bergegas mengenakan pakaian yang pernah dipuji oleh suaminya, saat ia memakainya. Lalu menyemprotkan parfum beraroma vanila—hadiah suaminya di tahun ketiga pernikahan mereka—ke leher, belakang telinga dan punggung tangannya. Ia ingin membuat suaminya selalu nyaman bersamanya.
“Aku akan ke pasar untuk berbelanja. Akan kumasakkan makanan kesukaanmu. Tidurlah lebih lama, sebab ini hari Minggu.”
Dia tersenyum manis setelah membisikkan kalimat itu pada suaminya yang terbaring di tempat tidur. Senyum yang—lagi-lagi kata suaminya—membuat suaminya jatuh cinta padanya.
Dia dan suaminya tinggal di ujung jalan perkampungan yang merupakan jalan buntu. Mereka berdua sengaja memilih rumah itu, sebab menyukai ketenangannya. Dia dan suaminya bukan orang yang suka keramaian. Bukan berarti anti sosial, hanya saja tidak ingin melibatkan diri mereka dengan lingkungan sekitar karena tak ingin dijadikan bahan pergunjingan. Yaa… bahkan di perkampungan seperti ini, lidah manusia tetap tak bertulang dan sering kali menyebarkan berita-berita tak enak. Itulah salah satu sebab dia lebih suka berbelanja ke pasar yang agak jauh, dibandingkan tukang sayur di dekat rumahnya. Setidaknya, di pasar tidak ada yang akan bertanya basa-basi, padahal ingin mengorek informasi tentang rumah tangganya.
Sekembalinya dari pasar, ia segera ke dapur, memasakkan makanan kesukaan suaminya. Ayam rica-rica pedas, dengan lalapan daun selada, daun kemangi dan mentimun. Dengan lihai, dia memotong dan membagi ayam—yang utuh dan bulat—tersebut menjadi beberapa bagian. Kepala, dada, sayap, paha dan ceker. Lalu memetik daun kemangi dan memotong daun selada serta mentimun. Menyiapkan bumbu-bumbu, dan mencucinya di ruang yang terletak di sebelah kiri dapur kecilnya. Sebuah ruang terbuka yang dipisahkan sebuah pintu. Dia membuka kunci pintu itu. Matahari telah naik sepenggalah. Cahaya hangat matahari menyentuh pori-pori pipinya yang lembut dan putih. Cahaya itu tak memantul kembali, melainkan seolah meresap dan terus meresap mendiami rongga-rongga kecil di balik kulitnya. Memunculkan rona merah di pipinya.
Merasa kegerahan, dia menggulung rambut hitamnya yang panjang sepinggang dengan khas. Menyisakan anak-anak rambut yang menggoda untuk disentuh. Dia melanjutkan aktivitasnya dalam diam. Angan-angannya melambung, kembali pada percakapan seminggu lalu dengan suaminya.
***
            “Lin, aku ingin berbicara serius denganmu.”
            “Kenapa, Mas? Tak biasanya Mas mengajak bicara saat mau tidur. Tak bisakah esok pagi saja?”
            “Ini penting, Lin.”
            Wanita itu memahami kegusaran suaminya. Walau mengantuk, dia paksakan duduk tegap kembali dan menghadapkan wajahnya pada suaminya.
            “Aku mencintaimu. Kamu mengerti, kan?”
            Dia mengangguk.
            “Aku juga menyayangi ibu,”
            Ah! Dia sudah dapat menebak ke mana arah pembicaraan ini. Topik yang sama, selama tiga tahun lebih pernikahan mereka. Wajahnya berubah sendu. Kelabu.
            “Kamu tahu, kan, aku anak satu-satunya. Aku tak dapat menyalahkan mereka, atas keinginan mereka memiliki cucu dariku. Aku—”
            “Lalu apa solusi ibu untuk hal ini?” dia memotong perkataan suaminya, tak tahan mendengar pemojokan itu kembali.
            “Aku harus menikahi Lastri bulan depan. Atau harus menceraikanmu.”
            “…”
            “Bagaimana? Aku selalu ingat perjanjian kita, bahwa aku tak akan pernah menceraikanmu.”
            “Ya sudah, aku terima keputusan ibu. Sekarang aku lelah, aku mau tidur.” Dia membaringkan tubuhnya dan membelakangi suaminya. Percakapan itu telah selesai. Selalu saja, ia harus mengalah. Padahal, ada hal-hal yang di luar kuasanya. Air mata bergulir dari sudut matanya. Ia menangis dalam diam. Tak bersuara.
***
            “Mas, masakannya sudah matang.”
Lelaki itu tetap diam dalam tidurnya. Wajahnya tampak damai, wajah yang mencintai dan dicintainya.
“Bila aku tak dapat memilikimu seutuhnya, maka tidak juga Lastri, ibu atau lainnya, Mas. Aku sayang kamu.”
 Lembut, dia mengusap pipi lelaki itu. Dingin. Lalu mengecup bibirnya lembut dan menyemprotkan parfum vanila—hadiah suaminya di tahun ketiga pernikahan mereka—ke seluruh tubuh mayat lelaki itu. Yaa… Lelaki itu sudah menjadi mayat selama enam hari, sejak dia racuni makanannya dengan racun tikus.
***

*Tugas 2 KF: Tokoh Villain yang dicintai pembaca

11 April, 2014

[Surat] Kepada Tuan-tuan

Kepada Tuan-tuan,

Ada begitu banyak cara Tuhan menghadirkan cinta. Salah satunya seperti kehadiran Tuan. Tapi Tuan, lagi-lagi cinta begitu teledor. Selain cinta sering datang terlambat, tidak tepat waktu, cinta pun memiliki cara yang keliru. Keliru, yang dijadikan pembenaran oleh kebanyakan orang. Mengertikah Tuan, apa yang kumaksud? Semoga mengerti. Bahwa sesuatu yang salah, bila dilakukan berulang kali dan didukung orang banyak, kemungkinan besar akan menjadi pembenaran, hal yang lumrah. Itu fenomena marak di dunia ini, Tuan. Sayangnya, aku hidup bukan untuk dunia ini saja, Tuan. Aku mendamba surga.

Seperti Colombus yang dicemooh ketika ingin mencari benua Amerika. Menemukan tempat berlabuh dan menjanjikan pengharapan hidup lebih baik. Seperti itulah aku, Tuan. Mencoba menemukan benuaku. Bukan semata pulau kecil untuk tempat singgah, yang menjanjikan kenikmatan semata, lalu hilang tenggelam. Bukan, Tuan.

Walau dalam perjalanannya, begitu tinggi ombak yang dilalui, begitu terjal karang yang menghadang dan begitu deras bisikan yang melemahkan. Aku selalu mengingat kembali, titik awal mulaku dalam mencari benua harapan itu, Tuan. Tidak harus sempurna, tapi caranya, Tuan. Benua yang mau melekat dan bertumbuhkembang bersamaku, Tuan.

Maafkan sikap puan yang bodoh ini, Tuan. Bila begitu menyakiti hatimu. Mungkin bagi sebagian orang, jarak adalah penghalang, penentang. Tapi bagiku, jarak adalah pelindung, sekoci penyelamat hati yang hendak karam, Tuan. Sengaja aku melebarkan jarak kita. Jarak rasa tepatnya. Karena jarak raga kita begitu dekat. Lucu, ya, Tuan? Nampaknya kita begitu dekat, nyatanya jarak membentang begitu hebat. Kamu tahu, Tuan? Bila kamu merasa begitu sakit hati akan perlakuanku, ketahuilah sesungguhnya aku lebih sakit. Sakit saat mendapati--kalian, Tuan-tuan--serentak menghilang dari hidupku. Janji pertemanan apa adanya, menguap bersama pengharapan kalian yang tak mungkin kuwujudkan. Begitu sulitnyakah membangun pertemanan di antara kita, Tuan? Tanpa memasukkan rasa yang mengoyak hubungan kita?

Ah, Tuan. Maka aku akan pergi. Bukan berarti aku tak setia. Aku menghargai kenangan kita. Kita pernah bersama, pernah menangis dan tertawa bersama. Bahagia bersama. Aku tak ingin ada caci, apalagi benci. Ketahuilah, Tuan, kendalikan rasamu, bunuh atau pendam dan pantaskan. Selama proses itu, aku hanya dapat menjadi temanmu. Meminjamkan telingaku sesaat saja. Ada waktu-waktu aku harus menghilang, menguji rasa pertemanan kita.

Karena, jika benar aku suarmu, maka labuhkan dirimu tanpa tapi. Sebab, gelombang keraguan tak dapat diterka pasang surutnya. Itu pun jika aku suarmu, Tuan.

Karena, jika benar aku rona di hidupmu, maka mengapa takut dan renta sikapmu, memintaku menghiasi langit hatimu? Itu pun jika aku benar rona di hidupmu, Tuan.

Salam,
Meta morfillah

10 April, 2014

Ketika cinta tak dapat dimiliki



Tenang saja, ketika sesuatu yang kita anggap baik berakhir, ketika kita kehilangan seseorang yang kita nilai spesial, ketika sebuah kesempatan emas hilang, maka tenang saja, akan datang sesuatu pengganti yang lebih baik, seseorang yang lebih istimewa, pun kesempatan emas lainnya.

Pastikan saja syaratnya dipenuhi: bersabar.

Bagi orang-orang bersabar, selalu datang hal-hal baik sebagai pengganti hal-hal sebelumnya.

Nasihat orang tua kalian, bahkan lebih indah dibanding nasihat-nasihat ini. Malah lebih afdol, karena mereka orang tua sendiri, dijamin kasih sayangnya murni.

Di mana-mana tentu saja orang akan jatuh cinta ke orang yang tampil baik, keren, punya uang, pekerjaan, masa depan. Punya segala-galanya. Situasi aman sentosa. Semua serba indah dan mudah.

Tapi sesungguhnya, perasaan diuji ketika situasi menjadi sulit dan rumit. Ketika kita bangkrut, dipecat dari pekerjaan, atau kecelakaan yang mengambil tampilan fisik, ketika sakit berkepanjangan. Saat situasi menjadi buruk dan sesak, dan kalimat-kalimat cinta tidak bisa dimakan atau bisa membayar tagihan-tagihan.

Ketika itulah kita tahu persis siapa yang sebenarnya mencintai kita. Siapa yang tetap berdiri di sebelah kita.

*Darwis Tere Liye

Tenang saja. Kuncinya ada pada kata sabar, ujian dan waktu. Ketika kita sabar menghadapi ujian dalam rentang waktu yang tak pernah kita tahu, di sanalah kita akan melihat siapa yang sungguh mencintai dan memperjuangkan kita. Let it go. Tak perlu kita balas semua perasaan yang terlihat manis saat ini, ketika saat kamu meminta kepastian saja, ia tak mampu memberikannya. Datang dan pergi. Hilang dan kembali. Timbul dan tenggelam. Kita tidak membutuhkan pendamping yang seperti itu. sebab ujian, masalah dan dinamika hidup selalu siap mengintai kapan saja. Ketika kamu membutuhkan dia, lalu dia tak ada, apa kamu mau seperti itu?

Tak usah pacaran dengan gaya suami istri. Sebaiknya suami istri yang bergaya pacaran. Tak perlu kamu umbar-umbar, toh dunia tahu cinta kalian yang murni. Alangkah indahnya cinta yang terjaga itu. yang dikokohkan oleh sebuah janji yang begitu kokoh dan berat. Disebut Mitsaqan Ghaliza, mengandung arti perjanjian yang kokoh.

Dalam Al Qur'an kata mitsaqan ghaliza hanya dipakai 3 kali saja:
1. Allah SWT membuat perjanjian dengan para Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (Al Ahzab 73:7)
2. Allah SWT mengangkat bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia pada Allah (An Nissa 4:154)
3. Allah SWT menyatakan hubungan pernikahan (An Nissa 4:21)

Selain cinta antara dua insan yang terbingkai dalam ikatan pernikahan, tak ada lagi cinta sejati. Ketika cinta tak dapat dimiliki, bunuhlah cinta itu atau teruslah sakit hati. Maka cinta yang tak pernah sampai ke pernikahan, sebaiknya kau lupakan atau bunuh dengan keji. Agar tak menjadi bayang-bayang yang membuatmu sakit hati.


Meta morfillah

Text Widget