Pages

20 November, 2013

[Cerbung] Rumah Nomor 22 -part 1-

Prolog


Gadis menanggapinya dengan keraguan. Ia ragu masuk ke dalam rumah itu. ia tak kenal siapa pun. Tapi Jaslim sangat bersemangat sekali mengajaknya tinggal beramai-ramai dengan empat belas penghuni lainnya. Daripada mengekos sendirian dan jatuhnya lebih mahal, bukankah lebih enak mengontrak sebuah rumah? Walau pun ada lima orang lelaki di sana, tapi mereka mampu memisahkan batas wanita dan pria. Insyaa allah aman. Itu janji Jaslim pada Gadis. Di ibu kota yang jauh lebih kejam dari ibu tiri ini, sendiri adalah pilihan terakhir. Maka Gadis menerima ajakan itu. 

Banyak hal yang harus dipelajarinya dari lima belas karakter lain di rumah itu. Jaslim yang sudah ia kenal lebih dahulu, adalah wakil ketua—bidang perempuan—di rumah itu dan merupakan salah satu teman sekamarnya. Berwatak agak keras, sensitif, sangat mencintai ranah Minangnya dan easy going. Lalu teman sekamar kedua Gadis adalah Tria, yang baru saja memulai kuliahnya setelah berhenti bekerja di perusahaan elektronik. Ramah dan suka menolong. Mereka bertiga menempati kamar nomor dua, terletak di ujung dekat dapur.

Di kamar pertama—sebelah kiri dari ruang tamu dan kamar terdepan di rumah itu—berisikan empat orang wanita. Yaitu kakak perempuan terdewasa—tidak boleh bilang tertua di sini. Sensitif usia.. hehe—di rumah ini alias Kak Via, mojang asal Bandung. Jarang berkomentar namun baik dan welcome jika diajak untuk berbicara secara pribadi. Bekerja sebagai guru dan sangat mencintai kucing. Lalu ada Tina, perawat asli Yogyakarta yang sedang praktik di sebuah Rumah Sakit. Tina cerewet, tidak bisa diam, dan stylish—sangat suka memburu barang-barang hijabers dan begitu update tentang hijabers yang dikaguminya seperti Dian Pelangi. Setelah Tina, ada Ilma, calon dokter gigi yang sedang merampungkan skripsinya. Wanita kalem asli Palembang dengan tuturnya yang lembut. Ia pun aktif ikut mentoring sebuah pengajian. Terakhir, penghuni kamar pertama adalah Laya. Wanita asli Makassar yang sedang merampungkan skripsinya—seperti Ilma—di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Bekerja sampingan sebagai editor dan sudah menerbitkan beberapa buku. Suaranya begitu lantang—bagi yang tidak biasa mendengar ia berbicara, mungkin akan mengira ia sedang marah-marah—dan kadang terdengar galak, namun sebenarnya baik dan cenderung cengeng. Namun ia sering menutupinya dengan seabrek kegiatan hingga tak jarang kegiatan-kegiatan itu membuatnya sering sakit.

Di kamar ketiga—samping dapur sebelah kanan—berisikan lima orang lelaki. Ada Zou, lelaki penyandang disabilitas yang begitu aktif, humoris walau agak sedikit sensitif. Masih kuliah namun kegiatannya begitu banyak. Kadang membuat Gadis merasa malu jika ia ingin mengeluh. Satu kamar dengan Zou, ada Fauzi arek Malang—atau bisa disebut kera ngalam. Kebiasaan orang Malang yang suka membalik-balik kata—yang suka frontal dalam menghadapi masalah, pendiam namun agak menyeramkan dengan kediamannya itu. Lalu Zaladi, lelaki asli Kendari yang mahir berbahasa Jawa. Satu-satunya di antara penghuni rumah ini yang sedang melanjutkan kuliah S2 dan merupakan ketua umum. Senang sekali travelling dan bermain badminton, serta menggoda para wanita di rumah ini dengan gaya playboy cap kabelnya yang lucu. Playboy selanjutnya yang sangat setia seperti namanya, adalah Setyo. Yaa.. dia setia untuk mencintai tiap wanita di rumah ini atau pun di luar rumah, makanya sering dibilang pakarnya playboy, hehe. Masih kuliah dan sedang depresi dengan kuliahnya yang terlalu lama sehingga sering kali ia melarikan dirinya ke gunung atau pantai seperti puisi yang dibacakan Cinta dalam film “Ada Apa Dengan Cinta”—apakah aku harus berlari ke hutan? Atau ke pantai?—untuk mengusir kejenuhannya. Terakhir, lelaki penghuni kamar ketiga adalah Malud, pribadi paling kritis dan besar sekali rasa ingin tahunya—kalau tak boleh dibilang kepo—yang sedang menyiapkan diri untuk magang di kampusnya. 

Di kamar terakhir—kamar keempat yang berhadapan dengan ruang tengah sebelah kanan—berisikan empat wanita. Pertama, ada Foren, wanita asli Berau Kalimantan timur yang sedang magang di sebuah Sekolah Menengah Atas sebagai guru bahasa inggris. Pribadi yang humoris bahkan terkesan konyol, suka joget “Bang Jali” dan ketagihan menggombal dari buku “Sadgenic” yang diberikan oleh Gadis. Lalu ada Fathia, wanita asal Medan yang baru saja diwisuda dan berhasil melamar pekerjaan di sebuah perusahaan Multifinance. Seringkali berfilosofi dengan “e’e” yang selalu memancing tawa di rumah ini. Namun akhir-akhir ini dia sedang diam, mungkin terlalu lelah usai bekerja. Wanita ketiga di kamar nomor empat adalah Dyani, asli Lampung yang masih sibuk kuliah. Suaranya bagus sekali saat menyanyikan dangdut, cengkokannya pas. Gadis menyukai suara wanita ini saat ia menyanyi. Pendiam, tapi kalau dipancing bicara dia pun bisa konyol seperti yang lainnya. Terakhir dan merupakan yang paling bungsu secara usia, adalah Naita. Wanita lembut asli Semarang yang baru saja berhijab dan masuk kuliah. Dia memang paling kecil, namun kisah percintaannya sudah begitu pesat. Seringkali dijadikan teman curhat dan konsultasi wanita-wanita di rumah ini.

Dalam satu bulan, Gadis sudah menikmati perkenalan dan persaudaraannya (ukhuwah) dengan kelima belas kepala di rumah itu. dan satu kesamaan yang paling menonjol di antara mereka semua, adalah kegemaran membaca buku dan menuliskannya kembali dalam berbagai cerita, baik fiksi maupun non fiksi. Kehidupan di rumah bernomor 22 di kawasan Jakarta Pusat itu pun mulai berdetak. Banyak kisah yang terjadi di sana, dan rangkaian cerita pun dimulai…

(bersambung)

With love,
Meta morfillah

19 November, 2013

Perenungan

Tidak semua perenungan berujung pada jawaban. Seringkali, pertanyaan barulah yang lahir. Karena hidup adalah proses bertanya dan pertanyaanlah yang membuat kita terus maju (Madre)

Sering gak sih kalian merasakan seperti itu? Setiap kali kalian merenung (bermuhasabah/introspeksi), kalian malah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan baru yang semakin tidak dapat kalian jawab. Padahal pertanyaan awalnya saja belum terjawab? Lalu apa yang biasanya kalian lakukan?

Apakah kalian akan semakin bertanya-tanya?
Apakah kalian semakin merasa hidup ini begitu berat dan rumit?
Apakah kalian semakin merasa tidak berdaya, seperti debu yang tak berdaya melawan kehendak angin yang membawanya ke sana-ke mari?
Apakah kalian semakin menyadari kalian begitu bodoh dan tak mengetahui apa-apa?
Ataukah kalian menjadi lebih damai dari sebelumnya, menyadari bahwa kalian harus menerima sesuatu di luar logika?
Atau mungkin kalian semakin keukeuh mencari jawaban, walau itu semua membuat kalian menjadi semakin gila?

Dan banyak kemungkinan-kemungkinan lainnya…

Itu semua manusiawi. Tiap kepala berbeda kan. Tapi yang pasti jangan sampai kalian berbuat baik karena pujian orang lain, berhenti berbuat baik karena makian orang lain. Teruslah berbuat baik, walau orang akan dengan mudahnya melupakan kebaikan kita.
Pernah saya dengar ada yang lebih utama dari iman, yaitu ihsan (berbuat baik).

“Engkau mengabdi kepada Allah, seakan-akan engkau melihat Dia. Kalau engkau tidak dapat melihat-Nya, yakinlah Dia pasti melihatmu.” (HR. Muslim)

“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (QS Al-Isra’: 7). Dan irfman Allah : “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (QS. Al-Qashash: 77)

Yaa.. semoga tiap perenungan membawa kita menjadi pribadi yang semakin baik tiap harinya.

With love,
Meta morfillah

18 November, 2013

Cinta dalam Stoples

Picture from here
Aku melangkahkan kaki memasuki rumah baruku. Semuanya bernuansa putih, tertutupi kain. Agak berdebu. Rumah dengan selera vintage yang tinggi. Aku menerka pastilah pemiliknya dahulu seorang wanita yang anggun. Komposisinya begitu teratur. Pemilihan lukisan dinding pun terasa sangat kuat. Ada keanggunan yang terpancar dalam tiap sudut ruangnya. Namun entah mengapa, aku pun menangkap rasa sepi yang teramat sangat.

Kutelusuri tiap ruang. Ruang tidur, ruang mandi, ruang makan, dapur serta ruang teras belakang.
Aku suka dengan selera pemilik sebelumnya--yang kuduga kuat adalah seorang wanita lajang. Setelah puas melihat-lihat, aku mengempaskan tubuhku ke sebuah kursi di ruang makan. Lalu aku tertarik akan sebuah benda yang agak aneh untuk ukuran gaya di ruang ini. Sebuah stoples plastik kecil yang amat biasa di tengah meja makan. Tertutup vas bunga, sehingga aku kurang memperhatikannya tadi. Nampak sudah lama dibiarkan di sana dengan sengaja--terlihat dari lingkaran debu yang menumpuk di sekeliling stoples itu, saat kuangkat dari tempat asalnya. Aku menimang-nimang stoples itu. Ada isinya, namun tidak terlihat karena ditutupi kain belacu berwarna putih. Ingin aku membukanya, namun hati terasa sungkan. Pantaskah aku melihatnya? Sepertinya stoples ini begitu spesial. Apakah pemiliknya terlupa?

Kuletakkan kembali stoples itu pada tempatnya. Sementara aku memutuskan beristirahat sejenak sebelum merapikan rumah baruku.
**

Seminggu terlewati. Aku menikmati rumah baruku ini. Namun seringkali aku melirik ke arah stoples itu. Bolehkah aku membukanya? Sebagian hatiku berkata jangan. Mengingatkan itu adalah hal yang tak pantas. Sebagian hatiku berkata boleh, karena sekarang aku adalah pemilik rumah ini. Haaaahh... Aku menghela napas panjang. Menahan diri.
**

Hei, ini sudah sebulan. Sepertinya pemilik lama tidak merasa kekurangan atau kehilangan. Jadi aku memutuskan membuka stoples itu hari ini.

Aku duduk menatapnya lamat-lamat. Perlahan meraihnya dengan gemetar. Entah mengapa, aku merasakan suatu ketakutan yang amat sangat, namun rasa penasaranku mengalahkannya. Perlahan kuputar tutup berwarna merahnya. Kuangkat sebuah kain belacu putih dari atasnya. Saat kulongokkan kepalaku ke dalamnya, betapa aku terkejut!

Seketika aku merasa dunia berputar dan memojokkanku.

Isi stoples itu adalah sepotong cinta. Yang berdenyut lemah. Dan aku mengenalinya, ia adalah cinta milik Prameswari--wanita yang kutinggalkan setelah pengorbanannya di masa terpurukku.(*)


Meta morfillah

Ada surga dalam diri mamaku

I’m just a little girl, lost in the moment
I’m so scared, but I don’t wanna show it.
Just enjoy the show.
(Lenka-The Show)


Aku ingin pulang. Harus secepatnya pulang, menuju sebagian besar hatiku yang kutitipkan pada mama di Bogor. Aku tahu batin dan ragaku menuntut untuk beristirahat sejenak. Ibarat mobil balap, aku harus masuk pit stop segera, bila masih ingin meneruskan perjuangan di balapan tersebut. Maka dengan nekat aku memutuskan pulang dan tak memikirkan esok sejenak. Meliburkan diri yang tidak produktif ini.

Sesampainya di rumah, mama menyambutku tanpa terkejut.

“Mama sudah punya feeling kamu mau datang malam ini.”

Demi Tuhan, apa yang tidak kau ketahui tentang anakmu ini, Ma? Bahkan semua orang bertanya-tanya akan alasan kepulangan dan keberadaanku—termasuk kakak.

“Mama sudah buatkan teh manis hangat dan risol. Makan dulu sana.”

Inikah surga? Tanpa kupinta, segalanya tersedia di depan mata.

Selepas berganti pakaian, aku menikmati teh hangat penuh cinta itu dengan khidmat. Menyesap dan memaknai tiap doa yang terangkum di dalamnya. Tak lama mama menghampiriku di kamar dan terdiam memandangku.

“Siapa yang ganggu kamu?”

DEGG!

Pertanyaan yang sama untuk kali kedua, di situasi berbeda. Seketika aku merasakan déjà vu. Mama pernah bertanya seperti itu, persis setelah beberapa hari Bapak meninggalkan aku untuk selamanya. Bedanya, dahulu aku “kecil” dalam keadaan menangis di kamar tengah malam. Tersadar bahwa aku tidak lagi memiliki bapak. Sedangkan aku “besar” saat ini di dalam kamar juga, namun tidak menangis. Aku sudah jarang menangis. Tapi masih luka yang sama. Luka karena ditinggalkan oleh orang yang kusayangi sepenuh hati. Salahku juga, membuatkan mereka ruang di hatiku—yang kini harus kubuatkan prasasti.

“Gak ada. Kenapa memangnya?”

“Pasti ada apa-apa, sampai kamu ke sini padahal besok masih kerja. Tapi ya sudahlah, istirahat saja. Kamu memang butuh istirahat, terlalu banyak kegiatan akhir-akhir ini yang mama lihat.”

Lalu mama pergi meninggalkanku. Tidak memarahiku ketika mendapati aku masih terjaga hingga pukul 01.00 pagi. Tidak menceramahiku untuk salat malam, mengaji dan hal lainnya yang biasa mama lakukan.

Yaa... mama adalah makhluk tercerewet di muka bumi ini—bagiku. Kadang aku terlalu “gerah” untuk mendengarkan ceramahnya, sering mengabaikan. Sering protes karena ceramah mama tidak sesuai dengan gejolak darah mudaku yang sedang mencari makna kehidupan. Tak jarang kami sering berdebat, beradu argumentasi. Mama terlalu “lurus” menurutku, hingga sering kali aku mencoba mematahkannya. Mencoba mendebatnya dengan alasan jaman kami yang berbeda, perkembangan IPTEK dan berbagai inovasi yang membentangkan jarak manusia konvensional dan manusia modern. Tapi semua selalu berakhir dengan kepalaku yang mengangguk-angguk seperti patung selamat datang di restoran Jepang yang terkenal itu. Itulah mamaku, wanita yang hanya mengenal dunia “putih”. Walau Tuhan menempanya dalam cara yang abu-abu bahkan kadang hitam.

Mama benar-benar memahami bahwa aku membutuhkan kesendirian—privasi. Hal ini terbukti, ketika subuh ia membangunkanku dengan lembut untuk salat subuh. Padahal itu pukul 05.15 pagi—waktu yang sudah sangat siang baginya untuk salat subuh—tapi mama tidak berteriak atau menyiramiku dengan air yang dingin kali ini. Setelah salat pun, aku tidur lagi. Puas. Terbangun pukul 07.30 tanpa dibangunkan oleh mama. Padahal di hari biasa, boro-boro boleh tidur lagi abis subuh. Bisa-bisa aku diceramahi sepanjang hari.

“Anak gadis gak baik tidur terus. Nanti aja puasin tidurnya pas mati.”

“Mau jadi istri sama ibu macam apa kalau kamu bangunnya siang? Tar yang nyiapin sarapan siapa? Kamu ini pemalas sekali!”

“Rejeki itu datang berlimpah di pagi hari. Udara masih segar, sana bebenah!”

“Jangan kebanyakan ngeluh. Manusia hidup ya memang capek. Orang mati aja capek, tidur terus!”

Yaah... semacam itulah bunyi nasehat yang sering digaungkannya padaku. Membuat telingaku panas, tapi memang semuanya benar sehingga kembali aku diam dan mengangguk-angguk. Ah... mama itu tak pernah salah. Karena ia telah merasakan semua yang dikatakannya. Ia berkata dan mencontohkan. Memaksaku meneladaninya secara tersirat atau pun tersurat dalam kesehariannya. Mama adalah kompetitor sejatiku. Bagaimana nanti aku akan mengalahkannya dalam cara mendidik generasiku nanti. Akankah aku seberhasil dia hingga menghasilkan diriku yang seperti sekarang? Akankah aku mampu memiliki kepekaan, pengorbanan dan cinta kasih sebesar dirinya? Ia memperlihatkannya dalam menjamu tamu, berbagi dengan orang lain dalam keterbatasannya. Walau kadang hatinya tersakiti karena ditipu, dimanfaatkan atau pun dibodoh-bodohi, tetap saja ia terus melakukannya. Sampai kami anak-anaknya kadang jera dan gemas dengan kebaikannya.

“Lebih sering mengurusi orang lain dan melupakan anak-anaknya. Dibiarkan lapar, yang penting berbagi. Dan tidak boleh kelihatan sedang kesusahan.”

Itu yang sering kami keluhkan dulu. Tapi sekarang aku mulai mengerti keindahan semacam itu. Mama sedang memanen hasilnya saat ini. Bukan untuknya, tapi untuk kami—anak dan cucunya. Mama seperti menanam kebaikan dan membiarkan kami yang menuai. Ia hanya tersenyum tanpa berharap menikmati. Ah, mama! Menyebalkan sekali membicarakan tentangmu. Tak akan cukup air laut bila kujadikan tinta untuk menggambarkan sosokmu (okesip, ini hiperbola. Tapi suka-suka aku lah. Ini kan ceritaku dan mama. *subjektif penulis*)

Ah… mama… mama… mama… menuliskan kisah keseharian kita bahkan menjadi obat mujarab bagiku. Aku menikmati kepulanganku kali ini. Terima kasih, Ma… telah memilihku untuk menjadi titipan yang harus kau jaga hingga akhir hayatmu. You’re really my paradise, my guardian angel, my life.


With love,
Meta morfillah

14 November, 2013

Itu Pilihanmu, nikmatilah!

Sepi di tengah keramaian


Ada yang menyebalkan dari dalam diri ini. Fisik memang lelah, namun hati lebih lelah. Kamu tahu? Sepertinya ada yang jauh lebih kubenci daripada menunggu, yaitu ditinggalkan. Aku lelah berteriak “Jangan tinggalkan aku,”
Aku lelah dengan ini semua. Tapi kepada siapa aku mengadu? Tuhan mungkin sudah terlalu bosan. Aku tak mau mengusiknya terus dengan keluhanku yang menggunung.
Aku sakit. Tapi hatikulah yang paling sakit. Walau ragaku sehat, kalau hatiku sakit apa yang dapat kulakukan? Sehat sejak dalam pikiran saja sulit.

Ini terlalu kekanakan. Aku tahu. Aku sadar. Tapi ini kekuranganku yang utama. Dan aku hanya bisa terdiam.

Aku ingin marah, melampiaskan kekesalanku agar semua orang tahu bahwa aku sedang marah. Tapi aku sendiri di sini. Aku harus tahu diri.

Mau menyalahkan boss? Memang kamu siapa, Met? Seberapa pantas kau mendapatkan perlakuan khusus? Seberapa penting kehadiranmu di sini? Bahkan sangat mudah menggantikan arti hadirmu, Met!

Mau menyalahkan mereka yang meninggalkanmu? Hei.. kamu tahu apa tentang hidup, Met? Mereka pun jiwa yang sudah lelah, tersakiti dan ingin bebas. Berhakkah kamu menghalang-halangi? Kamu tidak pernah cukup pantas untuk menghalaunya. Bahkan kamu bukan siapa-siapa mereka. Adik? Bukan. Teman? Bukan. Rekan yang sangat baik? Bukan. Apa nilai lebihmu?

Mau menyalahkan siapa?

Ya cuma bisa salahkan diri sendiri toh! Salahmu sendiri datang di waktu yang tidak tepat. NASIB Met, NASIB! Maka tanggunglah kekesalanmu sendiri saja. Nikmati bahwa kamu akan kembali terasing. Sendiri. Karena itu hakikat sejati tentang hidup ini. Kamu akan SELALU ditinggalkan. Karena kamu tidak pernah tega meninggalkan. Maka kamu harus menerima pilihan itu.

Ah, C’est la vie, Met.

Menangis saja… walau tidak akan pernah menyelesaikan masalahmu.

Pergilah. Menghilang sajalah (lagi)! Bukankah itu keahlianmu? Lari dari masalah. Lalu kembali dengan wajah tak berdosa, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Memorimu akan otomatis mengapus kenangan jelek tersebut. Itu kelebihan—atau kelemahan?—utamamu bukan? Lalu perlahan kau akan dijauhkan. Kredibilitasmu akan hancur. Yaa… nikmati saja, Met. Itu pilihanmu.


Meta morfillah

Agonia bocah

Seorang anak kecil berteriak kesepian
"Aku gak kuat Tuhan! Aku gak sanggup. Aku lelah. Aku mau pulang saja. Aku gak sehebat yang mereka bilang."
Lalu ia menangis, matanya bengkak seperti putri yang diceritakan dalam lagu Sarinande.
Namun, betapa pun keras ia berteriak, ia menangis, ia mengeluh, semua tetap menganggap itu hanya sandiwaranya saja.
Mereka tetap yakin, anak itu bisa...
Siapa yang mau disalahkan?
Ekspektasi yang terlalu tinggi?
Waktu yang belum tepat?
Jiwa sang anak yang begitu pengecut?

Anak itu mencari kamera di tengah ruangan.
Ia ingin melambaikan sapu tangan putih, agar tuhan melihat dan mengeluarkannya dari drama kehidupan ini.
Namun tak jua ia temukan kamera itu.
Pilihannya hanya satu, ia tetap berperan seperti biasanya. Memenuhi harapan-harapan yang kian menghancurkan hatinya.
Kian bertopeng dan berjarak pribadi sebenarnya yang ingin ia tampilkan.
Hatinya perlahan membeku.
Hingga sebuah pelukan hangat yang tulus begitu langka baginya.
Itulah agonia anak kecil yang tiada pernah dewasa
dalam kepalaku.

With love,
Meta morfillah

13 November, 2013

Sejentik gumam



Senyum tak lepas dari bibirnya | tapi jangan kau tertipu | kala hujan mencumbu | meledak deras air matanya | "wanita" by : meta

Wanita, seringkah kamu merasakan apa yang kutuliskan di atas?
Mengakulah… :)

Menjadi diriku ini tidak mudah. Maka aku akan lebih berkasih-sayang dan menghormati diriku sendiri -MTGW-

Mungkin inilah alasan utama bagi diri saya (khususnya) mencintai proses menulis. Tanpa mempedulikan apakah tulisan saya bagus atau tidak di mata orang lain, bahkan kadang tak berpikir juga apakah akan bermanfaat atau tidak. Karena bagi saya, menulis adalah mendengarkan. Mendengarkan bisikan halus diri saya yang sering tertelan riuh curahan hati-hati lainnya. Kejujuran akan apa adanya diri ini dalam balutan kisah yang kadang saya samarkan. Semacam kode yang hanya saya dan Tuhan yang tahu. Seringkali banyak orang menduga-duga apakah yang saya tuliskan tentang diri saya, kisah nyata, atau bukan? Saya sangat menikmatinya. Beragam perspektif dan praduga, yang kadang menyakitkan juga bagi saya. Beberapa di antaranya dengan tegas dan sok tahu menilai diri saya seperti apa yang saya tuliskan. Mereka mana tahu itu murni curhat atau bukan. Tapi tak apa. Saya tak melakukannya untuk mereka.

Saya menulis, hanya untuk menyayangi dan menghormati diri saya yang begitu kaya akan cinta dan kenangan yang patut dimuseumkan. Jangan sampai ada yang tercecer hilang. Bahkan dalam kepayahan, saya masih dapat tersenyum, menangis, dan terinspirasi ketika membaca tulisan saya yang telah lalu. Di saat berbagai orang mencoba membuat saya tertawa, hanya satu kalimat mampu menciptakan berjuta rasa di dada saya. Mampu mengubah perilaku saya. 

Ah… entah pembuktian apa yang ingin saya dapatkan dari tulisan ini. Diri saya hanya sedang ingin didengar saat ini. Sebuah doa dan pelukan. Itu saja.
Sejentik gumam,
Meta morfillah

Text Widget