Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Sumber : http://kotasantri.com/
Cinta adalah garam, sungguh banyak sekali garam yang ada di dunia ini, begitu pula cinta. Setiap hari kita dihadapkan dengan cinta. Film, sinetron, majalah, radio, semua bicara tentang cinta. Tengok kanan kiri Anda, ada buku, catatan, lagu, gambar, semua tentang cinta. Cinta termanifestasi dalam banyak hal, ada tindakan, perilaku, perasaan, ingatan, yang termotivasi cinta.
Saking banyaknya, kita jadi melihat cinta seperti garam, sesuatu yang sama-sama sangat banyak jumlahnya di dunia ini. Makan apa pun di sana, pasti ada garam, nasi goreng, sate, gudeg, rendang, tak ada masakan yang tak pakai garam. Resep daerah, resep nusantara, resep mancanegara, semua pakai garam. Bahkan saat memasak roti, ibu saya membubuhkan garam pada adonannya. Garam ibarat menjadi komponen wajib dalam setiap masakan.
Walau begitu, komposisi garam pada tiap masakan adalah yang perlu diperhatikan. Kekurangan garam, masakan akan terasa hambar. Kelebihan garam, akan terlalu asin. Komposisi garam pada masakan tentu juga bergantung pada apa yang mau dimasak. Memasak sup, maka garam yang dibubuhkan adalah satu sendok teh. Memasak bolu, maka tidak perlu banyak-banyak garam, hanya sedikit untuk memantapkan rasa aslinya yang manis.
Seperti itu pula cinta. Kadang kita harus membubuhkan cinta pada satu adonan hidup kita, sehingga ia menjadi lebih indah, lebih berasa, dan tidak hambar. Saat menghadapi rutinitas pekerjaan yang menyiksa, seorang suami akan selalu membutuhkan cinta tulus sang istri, yang menyejukkan dan membuat rutinitas itu terasa ringan. Saat melahirkan bayi, seorang ibu mempertaruhkan seluruh hidupnya karena cinta yang teramat besar. Cinta membayar semua kesulitan hidupnya, bahkan ketika mengantarkan sang anak menuju dewasa.
Sumber : http://kotasantri.com/
Cinta adalah garam, sungguh banyak sekali garam yang ada di dunia ini, begitu pula cinta. Setiap hari kita dihadapkan dengan cinta. Film, sinetron, majalah, radio, semua bicara tentang cinta. Tengok kanan kiri Anda, ada buku, catatan, lagu, gambar, semua tentang cinta. Cinta termanifestasi dalam banyak hal, ada tindakan, perilaku, perasaan, ingatan, yang termotivasi cinta.
Saking banyaknya, kita jadi melihat cinta seperti garam, sesuatu yang sama-sama sangat banyak jumlahnya di dunia ini. Makan apa pun di sana, pasti ada garam, nasi goreng, sate, gudeg, rendang, tak ada masakan yang tak pakai garam. Resep daerah, resep nusantara, resep mancanegara, semua pakai garam. Bahkan saat memasak roti, ibu saya membubuhkan garam pada adonannya. Garam ibarat menjadi komponen wajib dalam setiap masakan.
Walau begitu, komposisi garam pada tiap masakan adalah yang perlu diperhatikan. Kekurangan garam, masakan akan terasa hambar. Kelebihan garam, akan terlalu asin. Komposisi garam pada masakan tentu juga bergantung pada apa yang mau dimasak. Memasak sup, maka garam yang dibubuhkan adalah satu sendok teh. Memasak bolu, maka tidak perlu banyak-banyak garam, hanya sedikit untuk memantapkan rasa aslinya yang manis.
Seperti itu pula cinta. Kadang kita harus membubuhkan cinta pada satu adonan hidup kita, sehingga ia menjadi lebih indah, lebih berasa, dan tidak hambar. Saat menghadapi rutinitas pekerjaan yang menyiksa, seorang suami akan selalu membutuhkan cinta tulus sang istri, yang menyejukkan dan membuat rutinitas itu terasa ringan. Saat melahirkan bayi, seorang ibu mempertaruhkan seluruh hidupnya karena cinta yang teramat besar. Cinta membayar semua kesulitan hidupnya, bahkan ketika mengantarkan sang anak menuju dewasa.