Pages

18 July, 2012

Cinta dan Garam


Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Sumber : http://kotasantri.com/


Cinta adalah garam, sungguh banyak sekali garam yang ada di dunia ini, begitu pula cinta. Setiap hari kita dihadapkan dengan cinta. Film, sinetron, majalah, radio, semua bicara tentang cinta. Tengok kanan kiri Anda, ada buku, catatan, lagu, gambar, semua tentang cinta. Cinta termanifestasi dalam banyak hal, ada tindakan, perilaku, perasaan, ingatan, yang termotivasi cinta.

Saking banyaknya, kita jadi melihat cinta seperti garam, sesuatu yang sama-sama sangat banyak jumlahnya di dunia ini. Makan apa pun di sana, pasti ada garam, nasi goreng, sate, gudeg, rendang, tak ada masakan yang tak pakai garam. Resep daerah, resep nusantara, resep mancanegara, semua pakai garam. Bahkan saat memasak roti, ibu saya membubuhkan garam pada adonannya. Garam ibarat menjadi komponen wajib dalam setiap masakan.

Walau begitu, komposisi garam pada tiap masakan adalah yang perlu diperhatikan. Kekurangan garam, masakan akan terasa hambar. Kelebihan garam, akan terlalu asin. Komposisi garam pada masakan tentu juga bergantung pada apa yang mau dimasak. Memasak sup, maka garam yang dibubuhkan adalah satu sendok teh. Memasak bolu, maka tidak perlu banyak-banyak garam, hanya sedikit untuk memantapkan rasa aslinya yang manis.

Seperti itu pula cinta. Kadang kita harus membubuhkan cinta pada satu adonan hidup kita, sehingga ia menjadi lebih indah, lebih berasa, dan tidak hambar. Saat menghadapi rutinitas pekerjaan yang menyiksa, seorang suami akan selalu membutuhkan cinta tulus sang istri, yang menyejukkan dan membuat rutinitas itu terasa ringan. Saat melahirkan bayi, seorang ibu mempertaruhkan seluruh hidupnya karena cinta yang teramat besar. Cinta membayar semua kesulitan hidupnya, bahkan ketika mengantarkan sang anak menuju dewasa.

Dua jenis ilmu


Sesungguhnya ilmu hanyalah terdiri dari 2 jenis, yaitu ilmu yg diturunkan dan ilmu yang diamati.

ilmu yang diturunkan, segala pengetahuan dan ilmu yg berasal langsung dari Tuhan, seperti keesaannya, dan itu terdapat dalam kitab-Nya yang tidak dapat kita ubah.

sedangkan ilmu yang diamati, berasal dari segala hal yang ada di sekitar kita, dan ilmu tersebut dapat kita serap dengan mengamati, seperti mengapa setrika perlu diberi gagang, karena kita mengamati bahwa jika kulit kita langsung memegang elemennya, maka kulit kita akan terluka karena panasnya.

sadarkah kalian itu berarti segala ilmu yg ada hampir dapat kita serap apabila kita MAU membaca( mengamati segala keadaan, mempelajarinya kemudian menyimpulkan)..

so,,come on guys,, read,,read,,and read,,for learn..

~~LEARNING BY READING,,,COME ON!!~~

Perempuan berhati ringkih


Perempuan itu berwajah muram. Ia berjalan dengan kepala tertunduk, menahan dengan sangat agar butiran itu tak keluar dari matanya. Hal sepele bagi teman-temannya, tapi berbekas dalam bagi perempuan itu. Yah,,hatinya terlalu ringkih. Baik kita sebut ia perempuan berhati ringkih. Ia sedang sial saja, berturut-turut berada pada kondisi yang salah menurut temannya. Tapi tidak menurutnya. Ia mengakui kepengecutan dan kelemahan dirinya. Ia sedang belajar menelan tanpa kunyah keputusan yang ia ambil semata karena ia tak ingin merasakan betapa pahitnya keputusan itu. Ingin bercerita dengan orang terdekatnya pun ia enggan. Karena ia takut mendengar bahwa hal itu terlalu sepele, terlalu didramatisir saja olehnya. Di awal perkenalan tak kuduga ia begitu ringkih. Karena ia pribadi yang menyenangkan dan riang. Namun seiring berjalannya waktu yang ia bilang “untuk proses belajar & manajemen stress”,senyumnya kian berkurang kualitasnya. Hanya sekedar menarik garis lengkung(itupun sudah tidak 2cm lagi). Gaung suara tawanya sudah menghilang. Yang ada hanya cicit lemah penuh keraguan dan kerapuhan. Hingga ia memilih belajar menjadi perempuan bisu. Ditambah lagi rasa hatinya akan kaum adam. Semakin kuat untuk tidak bergantung pada kaum adam, karena hatinya yang telah sering dikecewakan. Dan hanya satu tempat ternyamannya, berbagi kisah dan meratapi diri. Hanya dengan Tuhannya ia dapatkan kedamaian itu.


“ah,,aku bingung dengan karaktermu. Sepertinya kau tak bisa dijadikan tokoh utamaku. Kita skip saja ceritamu, mungkin di lain kesempatan kau bisa kujadikan tokoh utama dalam ceritaku, ok.”

“Ppffhh,,,kau
sama saja dengan kaum adam itu. Selalu menjadikanku cadangan dalam situasimu. Ditambah di saat dibutuhkan tak pernah ada. Menyebalkan!”




Meta morfillah
9 april 2010
8:00 PM

Paradoks untuk sebuah "nama"


Keluh,,keluh,,dan keluh. 

Ia ingin mengeluh tapi tak bisa. Ia telan saja makna “mendahulukan kepentingan umat dibanding kepentingan pribadi”. Ia tertawa sangat hambar. Ia bersedih dengan muka datar. Di sebagian dielukan, di sebagian dijadikan bulanan. Ia tetap belajar (harus!) tegar. Ia cari sendiri celah untuk bersyukur di tengah deraan himpitan nafas yang kian sesak. Diburu waktu. Penguasa yang tak kenal nurani, tak dapat digugat, tak mampu disuap, terlebih dibeli. Dan ia lupa batasan zalim itu. Sudahkah ia zalim pada dirinya sendiri? Terutama zalim pada keluarganya, orangtuanya yang sangat disayanginya? Bobrok ia rasa di dalam, megah terasa di luar. Ah,, ia sungguh paradox yang nyata. Representatif manusia seutuhnya.

15 July, 2012

Sekelebat pikiranku


Monday, 05 April 2010 at 21:32

Ketika kau tahu segalanya, justru kau adalah orang yang tidak tahu apa-apa..

Filsafat itu tepat menurutku, karena semakin kurasai aku tahu tentang suatu hal, semakin pula aku merasa bahwa aku tidak tahu apa-apa, karena begitu banyak pertanyaan yg tidak dapat kujawab. Dan bijaklah ilmu padi itu. Karena ia sungguh menggambarkan keadaan itu. Lihatlah bulir padi yang ‘berisi’, ia semakin merunduk dan merendahkan diri.. Begitulah perumpamaan seorang yang berilmu, semakin ia paham sesuatu, semakin merendahlah ia, bersahaja. Jangan seperti asap yang tak tahu malu, mengangkat diri tinggi di langit padahal dirinya rendah-hina.

Yesterday is gone. Today is here. Tomorrow is an illusion. So that’s why we live here. (wimar witoelar)
Yesterday is history. Tomorrow is a mistery. Today is a gift, so that’s why it’s called PRESENT.


And I agree with that. Karena dengan bangun pagi sudah merupakan hadiah dari Allah, bahwa kita masih bernafas. HIDUP. 

Mencari Tuhan


Mencari Tuhan
Tak semudah membalik telapak tangan
Cari tanpa henti..
Di tengah kerumunan
Kala kesepian
Di sela adzan
Hingga kucapai kesimpulan
Berhenti mencari dan raih ketenangan
Tuhan ada di sana, di dalam hati yang tenang
Disertai iman.

Meta morfillah
04042010
5 : 00 pm

Text Widget