Pages

08 November, 2016

[Review buku] Menyemai impian meraih sukses mulia

Judul: Menyemai impian meraih sukses mulia
Penulis: Jamil Azzaini
Penerbit: Gramedia
Dimensi: xxv + 202 hlm, cetakan kedua edisi revisi september 2009
ISBN: 978 979 22 5052 7

Buku ini terdiri dari 7 bab yang berisi beberapa kisah pendek penulis. Kontemplasi dari apa yang dibaca, dialami, dan diamati. Bab pertama "Anak desa menjemput impian hidup" berisi tentang perjuangan penulis hingga menjadi sukses seperti sekarang. Bab kedua "Penghambat sukses" berisi tentang beragam hambatan kesuksesan. Bab ketiga "Belajarlah dari siapa pun" berisi sosok inspiratif menurut penulis. Bab keempat "Cinta dan keluarga" berisi tentang pentingnya keluarga dan bagaimana harus bersikap pada keluarga. Bab kelima "Meraih sukses mulia" menjabarkan tentang kesuksesan sejati yang diiringi kebermanfaatan bagi semesta hingga menjadi mulia. Bab keenam "Yang ditanam itulah yang dituai" berisi kisah bahwa segala hal yang kita lakukan akan dibalas sesuai, positif atau negatif. Bab terakhir "Menjaga hasil yang dituai" berkisah tentang apa yang harus dilakukan setelah kita sukses, hingga kemuliaan tercapai.

Beberapa sudah sering saya dengar dan baca, juga kisahnya ada yang diulang-ulang. Sehingga saya cukup bosan dan tak menemukan hal baru di dalamnya.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini memang terjadi dua kali, dalam pikiran dan dalam kenyataan." (H. 6)

"Kita boleh miskin harta tapi tidak boleh miskin ilmu. Karena kalau nanti hanya punya harta kita akan sibuk menjaga harta itu. Tapi kalau kita punya ilmu, ilmulah yang menjaga kehidupan kita." (H. 74)

"Untuk menemukan hakikat hidup sesungguhnya kita harus mampu menjawab tiga pertanyaan mendasar. Dari mana kita? Untuk apa kita hidup? Dan mau ke mana setelah kehidupan ini?" (H.176)

"Terkadang kita merasa mampu membuat berbagai prestasi tanpa campur tangan Tuhan. Padahal sesungguhnya we are nothing!" (H. 181)

"Bangsa kita adalah bangsa paternalistis. Perilaku pejabat akan dicontoh oleh banyak orang. Memilih pejabat yang tak bisa dijadikan teladan akan semakin memperburuk perilaku masyarakat." (H. 184)

Meta morfillah

07 November, 2016

Sesungguhnya siapa yang belajar, Nak?

Sesungguhnya, siapa yang belajar, Nak?

Aku hanya membaca ulang beberapa rumus utama dan mudah menyampaikannya. Sekadar kalian mengetahui atau mencatat. Tapi, Nak, untuk membuat kalian menyimak dan meresapi ilmu yang kualirkan, itu tidaklah mudah.

Aku belajar bagaimana bahasa yang mudah kalian mengerti. Aku belajar bagaimana menarik perhatian kalian agar kalian ridha atas waktu kalian untuk belajar. Aku belajar bagaimana membuat kalian senang setelah lelah mendapatkan informasi seharian. Aku belajar banyak, Nak. Jauh lebih banyak dari apa yang kuajarkan.

Aku bagai mengeja alif ba ta dari awal. Seperti baru kali pertama aku memahami ayat-ayatNya tentang kesabaran, bolak-baliknya hati manusia, keturunan yang shalih dan banyak lagi. Aku belajar bahwa sehebat apa pun seorang guru, sesungguhnya ia harus semakin dekat pada pencipta. Ia harus senantiasa memohon pertolongan Allah untuk melancarkan lisannya menyampaikan ilmu Allah--tidak sekadar ilmu agama, eksak bahkan sosial.

Pahamlah aku, apa yang dimaksud mengajar dengan hati. Mengajar dengan cinta. Mengajar harus ikhlas. Serta beragam kalimat pembesar hati yang tertuju untuk guru. Kalimat yang ringan dan indah diucap, namun berat dan sulit dijalankan.

Membuatku yakin, semua guru hebat itu adalah mereka yang senantiasa mengakui kelemahan dirinya dan meminta pertolongan Allah. Energi yang mereka miliki bersumber dari langit yang tak akan pernah habis untuk ditebar di muka bumi. Energi dakwah. Energi cintaNya. Sebab kita semua adalah da'i.

Siapa yang sepatutnya berterimakasih, Nak? Aku atau kamu?

Kukira adalah aku yang bodoh ini. Yang jauh lebih banyak belajar melalui dirimu, Nak.

Meta morfillah

#gambar games ular tangga di pelajaran IPA kelas 7 semester 1, kimia, berdasarkan kelompok STIFIn (Sensing, Feeling, Intuiting)

06 November, 2016

Wanita itu

Mungkin setiap yang melihat gambaran seperti ini akan bergumam, "Kasihan sekali wanita itu, sendirian. Alangkah baiknya jika ada pasangan."

Atau berprasangka begini, "Pasti wanita itu sedih belum memiliki pasangan yang bahunya bisa menjadi sandaran, lengannya bisa menghangatkan."

Terlebih bila mengetahui usia wanita tersebut sudah lewat seperempat abad. Semakin banyak gumaman, prasangka dan ucapan 'duka cita' menghampiri. Seringkali hal tersebut berasal dari orang terdekat. Yang amat sangat menyayanginya. Hingga beragam cara dilakukan agar wanita itu tak lagi nampak sendiri.

Perkenalan-perkenalan, promosi-promosi, pengajuan-pengajuan, hingga yang begitu vulgar adalah perjodohan-perjodohan. Berulang kali. Wanita itu hanya menampiknya dengan tawa dan gurauan. Seakan tak pernah serius dengan hidupnya. Hal itu membuat yang menyayanginya semakin mengkhawatirkannya. Maka hal di atas pun diulangi lebih intens dan gencar. Reaksi wanita itu tetap sama. Tertawa dan abai. Meski demi kesopanan, ia tetap hadir saat dikenalkan, dipertemukan, bahkan dijodohkan. Bukan karena ia tak berdaya menolak, tapi ia tahu semua itu upaya orang yang mencintainya dan ia juga cintai. Ridha seseorang yang menentukan surganya sekarang.

Sejauh ini, tak masalah. Hanya saja... pernahkah orang lain yang melihat gambaran wanita sendiri itu berusaha memastikan langsung pada wanita itu apakah ia kesepian, tak baik-baik saja? Padahal mungkin, ia mencintai ketenangan. Wajahnya mungkin begitu berbahagia meski sendiri. Bukan berarti ia menampik kehadiran orang lain di sampingnya untuk menyempurnakan gambaran. Tapi ia menyukai hal yang tenang, tak tergesa tapi pasti. Menggunakan waktunya sebaik mungkin hingga seseorang yang berani melangkah menghampirinya dengan niat yang kuat, bukan karena dorongan orang lain sekadar memuaskan prasangka majemuk.

Apakah pernah ada yang memastikan apa sebenarnya yang sungguh-sungguh dipikirkan wanita itu? Apakah melulu perkara pendamping? Bagaimana kalau ternyata ada skenario di kepalanya yang tak pernah bisa kalian mengerti? Sebab hidupnya tak sama dengan hidup kalian. Dan cukuplah kalian tak usah membebaninya dengan ratapan kalian yang sesungguhnya tak ia butuhkan.

Bagaimana?

Meta morfillah

[Review buku] Hujan

Judul: Hujan
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 320 hlm, 20 cm, cetakan kedua puluh Agustus 2016
ISBN: 978 602 03 2478 4

Jika kamu dihadapkan pada pilihan mengingat kenangan buruk yang acap kali membuatmu tersiksa atau memilih membuang semua ingatan itu seakan tak pernah terjadi melalui modifikasi ingatan, mana yang akan kamu pilih?

Adalah Lail, gadis berusia 20 tahun yang hidup di tahun 2050, dengan segala prestasi dan kebaikan hatinya, meski takdir melenyapkan hampir seluruh kebahagiaannya, memutuskan untuk melakukan modifikasi ingatan. Sebuah teknologi maju mengenai saraf otak yang bisa memilih menghapus memori menyakitkan--berwarna merah--secara tetap. Memori berwarna merah pada otak Lail adalah memori tentang Esok--Soke Bahtera--anak lelaki yang tujuh tahun lalu menyelamatkannya dari bencana besar yang mengubah dunia. Anak lelaki yang begitu cerdas di usia muda yang hanya terpaut dua tahun di atas Lail. Anak lelaki yang telah berubah menjadi ilmuwan terkenal yang hanya mampu ditemuinya setahun sekali namun pertemuan itu juga mampu menerbitkan senyum Lail selama setahun ke depan.

Benarkah Lail mampu menghapus segala kenangannya bersama Esok sebelum ia mendengar penjelasan langsung dari Esok mengenai perasaan Esok terhadapnya?

Novel berlatar waktu masa depan dengan segala isu lingkungan, khayalan kecanggihan, dan kebaikan hati manusia ini pada dasarnya tetap menceritakan tema klasik dari zaman purba: tentang perasaan laki-laki dan wanita yang lazim kita sebut itu cinta. Didukung dengan kisah persahabatan Lail dan Maryam, dan tentu saja Hujan, fenomena alam yang sarat kenangan dan romantisme. Alurnya maju mundur, tapi lebih banyak flashback saat menceritakan kronologi sebelum proses penghapusan ingatan dimulai.

Ide tentang mesin modifikasi ingatan ini sungguh menarik. Juga tentang pemilihan judul dan awalan mengapa hujan yang jadi tema berhasil membuat saya penasaran. Tapi selebihnya biasa saja dan mudah ditebak.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa." (H.63)

"Membalas kejamnya takdir dengan membantu orang lain. Mengobati kesedihan dengan berbuat baik." (H.137)

"Sengaja tidak memberitahu siapa pun, karena begitulah sejatinya relawan. Bekerja dalam lengang." (H.187)

"Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu." (H.200)

"Kamu tahu kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun? Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya." (H.201)

"Tidak ada kabar adalah kabat, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian. Hidup ini juga tentang menunggu. Menunggu kita menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu." (H.228)

"Hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, menangis, marah, tapi pada akhirnya tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri." (H.298)

"Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan." (H.308)

"Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat semua hal menyakitkan yang mereka alami." (H.317)

Meta morfillah

[Review buku] Milea: Suara dari Dilan

Judul: Milea (Suara dari Dilan)
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel books
Dimensi: 360 hlm, 20.5 cm, cetakan III september 2016
ISBN: 978 602 0851 56 3

Ini adalah buku ketiga seri kisah cinta Dilan, juga buku pertama dan terakhir yang berkisah dari sudut pandang Dilan. Memberitahukan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dialami seorang Dilan. Juga pandangannya tentang Milea. Apa yang membuatnya menjadi Dilan, dengan semua pesona kekonyolan serta gombalan yang khas Dilan.

Juga beragam hal yang menyebabkan kandasnya hubungan mereka, perasaan mereka masing-masing yang sebenarnya masih menginginkan. Sayangnya yang pria gengsi dan termakan praduga tak valid, sang wanita hanya menunggu dan tak berani memulai, malu. Sangat alamiah. Tak banyak detail baru, juga tak banyak hal lucu seperti buku sebelumnya. Khas cowok yang tak detail dan berusaha terkesan maskulin.

Terasa agak bertele di awal mengenai cerita Dilan akan Pidi Baiq. Tapi juga jujur tentang bercerita mengenai seseorang melalui tulisan jauh lebih leluasa, nyaman, dan jujur dibanding bertemu dan bicara langsung.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Hal yang normal kalau ada orang cinta ke kami, dia hanya akan melihat sisi baikmu." (H. 15)

"Kurasa banyak sekali cara dan kita pasti punya kapasitas untuk bisa berbuat baik dan menyenangkan orang lain, apakah kita punya tampang atau tidak, punya uang atau tidak. Hal paling penting dari semuanya adalah kita masih punya nyawa." (H. 127)

"Orang yang kita sukai biasanya akan tersentuh oleh hal yang mengejutkan dan sekaligus menyenangkan sehingga sebuah hadiah bukan semata-mata soal hadiah, tetapi lebih jauh dari itu mampu menunjukkan adanya usaha sebagai bentuk perhatian yang sungguh-sungguh." (H.135)

"Di mana pun kampusmu, itu adalah kampusmu, tetap yang terbaik, orang-orang harus tahu, semuanya adalah romantisme, sisanya adalah perjuangan. Bukan nama kampusnya yang harus dijunjung tetapi ilmu pengetahuannya yang harus disebarkan. Ini bukan tentang apa yang kaumiliki, tetapi tentang apa yang kaulakukan, di mana pun kau berada!" (H. 268)

"Masa lalu tak usah dihindari atau ditolak. Masa lalu akan menjadi penasihat yang baik. Tidak ada gunanya kausesali. Biarlah itu hadir sebagai aliran yang membawamu pergi ke tujuan yang lebih baik." (H. 318)

"Aku tidak merasa harus lebih baik dari orang lain, aku hanya berusaha untuk lebih baik dari diriku yang kemarin." (H. 352)

Meta morfillah

02 November, 2016

[Review buku] Tentang kamu

Judul: Tentang kamu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Dimensi: vi + 524 hlm, 13.5 x 20.5 cm, cetakan pertama oktober 2016
ISBN: 978 602 0822 341

Buku dengan kisah yang spesial dari orang spesial untuk momen spesial. Jazakillah khair ka ulya untuk hadiah milad ke 27 nya. Pemberiannya pun spesial, sangat kuhargai perjuangannya.

Tere liye, lagi-lagi membuktikan semakin derasnya haters tidak mematahkan semangatnya melahirkan buku yang kian kaya riset dan detail. Buku terbarunya ini mulai berani mengambil setting tempat di luar negeri yang tidak hanya tempelan. Tapi dijelaskan dan ditelusuri. Juga berani mengambil setting waktu dengan poin penting dari tahun 1940-2016 baik di sejarah Indonesia maupun dunia. Dan juga, berani mengambil alur maju mundur, yang lebih seringnya flashback dengan gaya detektif. Menelusuri jejak masa lalu sang tokoh utama. Persis roman, dari ia lahir hingga ia meninggal.

Tokoh itu adalah Sri Ningsih. Perempuan pendek, hitam, gempal kelahiran Pulau Bungin, Sumbawa, yang memiliki hati sejernih air, otak cerdas, kedayatahanmalangan mengagumkan serta kemauan belajar tinggi. Anak pelaut tangguh yang didoakan orangtuanya akan menjadi besar dan menjelajah dunia. Namun meninggal dengan damai dalam kesendirian di panti jompo Prancis, tapi tidak kesepian. Meninggalkan warisan harta yang sangat besar.

Berbekal sepucuk surat, Zaman Zulkarnaen pengacara muda Indonesia dari Thompson & Co, London menelusuri jejak kehidupan Sri Ningsih. Mencari tahu siapa pemilik waris yang sah. Sayangnya, hanya buku diary berisi lima tulisan dan beberapa lembar foto saja yang ia dapatkan. Tenggat waktu memaksa Zaman berpikir keras dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menggali masa lalu dan menemukan benang merah.

Banyak nama dan kota yang ia telusuri demi Sri Ningsih. Ada Ode di Pulau Bungin, Nur'aini di Surakarta, Cathy di Jakarta, Rajendra dan keluarganya di London, dan Aimee di Paris. Berhasilkah? Silakan baca sendiri buku ini. Buku yang memaksa saya tetap membacanya meski migrain dan flu menyerang. Sayangnya rasa penasaran saya dan alur yang dinamis begitu menggoda hingga 4 jam setelah maghrib barulah saya bisa bernafas lega menamatkannya. Meski terasa ada bagian yang terlalu 'kebetulan' dan 'always happy ending' khas tere liye, tapi tidak mengurangi keasyikannya. Bahkan sekarang saya tidak merasa aneh dengan kebetulan itu. Sebab hal paling fiksi dari fiksi adalah kehidupan itu sendiri, bukan? Hehe...

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

"Setiap janji, sesederhana apapun itu, memiliki kehormatan." (H.45)

"Pertanyaan terpentingnya bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, dan lagi setelah gagal tersebut?" (H.210)

"Bahkan sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya." (H.257)

"Tidak ada yang benar-benar bisa kita lupakan, karena saat kita lupa, masih ada sisi atau orang lain yang mengingatnya." (H.270)

"Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugrah terbesar hidupku. Nasihat lama itu benar, cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita. Terima kasih. Aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian." (H.286)

"Daripada kita sibuk bertanya kapan seorang gadis menikah, hanya membuatnya sedih, lebih baik bantu dia agar segera mendapatkan jodohnya. Itu lebih bermanfaat." (357)

"Apa yang membuat pernikahan orangtua dulu langgeng berpuluh tahun? Karena mereka jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Maka kesedihan dan ujian seberat apapun bisa dilewati dengan baik." (H.385)

"Dia tetaplah wanita biasa. Saat orang lain melihatmya tegar menghadapi apapun, orang lain tidak tahu seberapa besar perjuangannya untuk membujuk dirinya sendiri sabar, melepaskan, melupakan, dan semuah hal yang ringan dikatakan, tapi berat dilakukan. Karena bila bicara tentang penerimaan yang tulus, hanya yang bersangkutanlah yang tahu seberapa ikhlas dia telah berdamai dengan sesuatu." (H. 406)

"Hati manusia persis seperti lautan, penuh misteri. Kita tidak pernah tahu kejadian menyakitkan apa yang telah dilewati oleh seseorang." (H.415)

"Lihat! Baca! Biar kepalamu yang dipenuhi kebencian tercerahkan." (H. 505)

Meta morfillah

30 October, 2016

[Mentoring] Manfaat silahturrahim

MANFAAT SILAHTURRAHIM

Minggu, 30 Okt 2016
Bu efi

Manajemen waktu untuk silahturrahim memenuhi hak-hak keluarga dan kewajiban hadir liqo haruslah seimbang. Pintar-pintar menjaga perasaan, jangan sampai kita menjadi pemutus silahturrahim hanya karena harus liqo. Pun sebaliknya. Maka perbanyak komunikasi dan pengertian agar sekitar kita paham dengan agenda kita. Memang itu butuh waktu dan proses yang tidak mudah.

يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَآءً  ۚ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ   ؕ  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
(QS. An-Nisa: Ayat 1)

Keutamaan menjalin silahturrahim:
1. Bisa saling mengenal satu dan lainnya, sehingga muncul rasa kasih sayang. Tak kenal maka ta'aruf.

2. Ukhuwah islamiyah dapat dibangun. Bisa memupuk solidaritas.
Rasulullah SAW bersabda, "Tangan Allah berada di atas tangan jamaah."
Di riwayat lain, "Berjamaah itu rahmat, perpecahan itu azab."
Allah akan selalu membantu hambanya yang bersatu dan menjauhi perpecahan.
Sekeruh-keruhnya jamaah, masih lebih baik dibanding jernih dalam kesendirian.

3. Berbagai persoalan (baik pribadi atau horizontal) yang ada di masyarakat, akan mudah diatasi. Seperti masalah ekonomi, pendidikan, dll.

4. Berbagai ide brilian bisa diwujudkan.

5. Menjadi media menumbuhkan wawasan dan pengetahuan.

Semoga dengan penjelasan itu, tidak membuat kita menjadi pemutus silahturrahim.

Meta morfillah

[Kajian] Oleh-oleh haji

OLEH-OLEH HAJI

Ustad Salim A. Fillah
Minggu, 30 okt 2016
Masjid Bank Indonesia

Ibrahim adalah sosok yg paling banyak berdoa untuk keluarga, keturunan, dan masyarakat. Periksa saja doa ibrahim di Al Quran. Dialah lelaki penuh cinta. Yang saat diangkat jadi pemimpin masyarakat/nabi, ia pun memohon untuk dijadikan qawwam anak cucunya.

Tugas keimanan ibrahim adalah menggiring manusia untuk menyadari kebesaran Allah dan melihat beragam kemanfaatan ibadah untuk manusia.

Seorang sahabat memiliki kebiasaan tercela, lalu ia meminta pendapat rasul, "Ya Rasul, aku memiliki kebiasaan yang dalam islam itu adalah sifat tercela. Bagaimana menurutmu, apakah aku harus masuk islam sementara aku masih suka melakukan kebiasaan itu, atau aku harus menghilangkan kebiasaan buruk itu dulu baru masuk islam?"

"Masuk islamlah, dan janjikan aku satu hal: Jujur."

Sebab mukmin tidak akan pernah berdusta. Kejujuran adalah keharusan bagi mukmin. Sekali mukmin berdusta, ia termasuk munafik. Perlahan bila kita jujur, Allah akan timbulkan rasa malu dan iman dalam hati kita.

Ibrahim pernah melakukan 3 dusta, dan ia merasa amat malu meskipun itu dimaklumi untuk dakwah. Inilah dusta Ibrahim yang cerdas:

1. Saat kaumnya merayakan festival berhala. Ibrahim mengatakan, "Sesungguhnya aku sakit." dalam bahasa arab yang bila ditinjau dari segi bahasa sebenarnya itu bukanlah dusta. Sebab makna sakit dengan bahasa arab yang digunakan ibrahim adalah sakit yang memang niscaya. Bahwa kita semua memang sakit di dunia ini.

2. Saat menghancurkan berhala dan menyisakan satu berhala paling besar serta menggantungkan kapak di berhala itu. Ketika ditangkap dan ditanya, "Apakah kamu yang melakukan ini pada berhala kami?"
"Yang melakukannya adalah berhala besar itu."
Sesuatu yang sangat tidak logis dan semua sadar bahwa itu khayali.  Perkataan ibrahim itulah yang menjadi dasar bahwa dongeng, novel, fiksi, dll yang mengandung pelajaran/hikmah dimaklumi dan dibolehkan dalam Islam.

3. Ketika menghindari kezaliman penguasa, lalu kaumnya berhijrah ke Mesir yang dipimpin oleh raja cabul. Raja cabul itu selalu ingin memiliki wanita yang cantik. Istri ibrahim, siti sarah adalah wanita cantik (kalau sebagian ketampanan diberikan pada Yusuf, maka sebagian kecantikan diberikan kepada Sarah. Sarah adalah nenek buyut Yusuf).

Ibrahim berkata pada Sarah,
"Di Mesir ini tidak ada orang yang beriman kecuali aku dan engkau. Maka aku akan mengaku bahwa kita adalah saudara."
Dalam makna saudara seiman. Sebab sosiologi Mesir saat itu, kedudukan istri jauh lebih lemah dibandingkan saudara. Maka Ibrahim melindungi Sarah sebagai saudara seimannya. Betapa cerdasnya!

Dari riwayat itu, hadirlah Hajar dan Ismail. Di sana Sarah mulai cemburu, sebab perhatian Ibrahim tercurah pada Ismail. Maka penting dalam pendidikan untuk memberikan makna positif saat ada anggota keluarga lain hadir. Misalnya saat akan punya adik, maka siapkan hadiah. Saat adik lahir, berikan hadiah itu pada kakaknya lalu bilang "Ini hadiah dari adik." Sehingga kakak akan senang menerima kehadiran adik yang mencuri perhatian orangtuanya.

Saat cemburu, Sarah bersumpah "Akan kupotong tiga bagian tubuh Hajar!"
Apa yang dilakukan Ibrahim? Ia tidak marah. Tetap tenang. Inilah kaidah penting: JANGAN MARAH PADA ORANG YANG BERSALAH KARENA CINTA.
Sarah marah pada Hajar karena cintanya pada Ibrahim. Itu lumrah. Sumpah Sarah itulah yang menjadi dasar adanya khitan dan tindikan kedua telinga bagi wanita.

Kecemburuan Sarah pada Hajar mengantar kita pada peristiwa awal Haji. Setiap kalimat akan diuji. Maka tibalah ujian bagi Hajar yang begitu yakin bahwa Allah tidak akan menyiakan dia dan bayinya. Hingga kekeringan dan kesulitan ia rasakan, ia memulai berlari mencari air, dasar awal sa'i dan air zam-zam.

Maka oleh-oleh haji:

1. Tirulah zuhudnya Hajar dengan bekerja hingga keajaiban datang. Lelahnya sa'i diganjar zam-zam, meski bukan hasil langsung ikhtiar Hajar, tapi lewat hentakan kaki kecil Ismail.

2. Kesungguhan di dalam menempuh jalan ikhtiar demi ridha Allah. Yakin bahwa Allah akan memberi yang terbaik bila ikhtiar kita sesuai syariatNya. Seperti perintah berqurban bagi Ibrahim.

3. Azzamkan untuk naik haji. Ikhtiarkan dengan daftar, nabung, pantaskan diri dengan menjaga ibadah. Sehingga meskipun qadarullah tidak sempat haji, tapi saat nyawa kita dicabut, maka kita sudah mabrur. Saking menjaga dirinya dengan ibadah dan amalan menyerupai haji. Sebab banyak yang sudah haji tapi tidak mabrur.

*catatan sepemahaman penulis

Meta morfillah

25 October, 2016

Sepiring mie penuh ketulusan

Tahu gak, Sarapan pakai mie instan itu enggak sehat!

Tahu.

Bisa memicu migrainmu.

Iya.

Terus mengapa kamu sarapan itu?

Soalnya dibuatkan sama mama.

Saya kira, mama saya paham sekali akan hal itu. Beliau tahu kalau beberapa kali memakan mie instan atau mecin, migrain saya akan kambuh. Beliau pensiunan perawat, paham sekali bidang kesehatan. Tapi kadang, ada masa di mana kita tidak bisa menyajikan yang terbaik dan terideal bukan?

Kita hanya bisa memberikan terbaik dari pilihan terburuk yang ada. Lebih baik sarapan mie instan pakai telur daripada saya berangkat dengan perut kosong, sedang meriang, habis dingin dan terkuras tenaga sehabis mencuci baju pula.

Maka, mie instan ini jauh lebih baik dibanding saya tidak sarapan. Terutama masaknya pakai segenap kasih sayang seorang ibu. Angka gizi saya rasa bisa diabaikan sesekali. Inilah makanan terenak di dunia. Makanan yang dimakan saat lapar melanda dahsyat, di udara dingin, dibuat oleh kesayangan yang tulus menyajikan. Bukan makanan mahal.

Jadi, cobalah hargai setiap hal kecil yang telah kamu, dia, mereka lakukan. Mungkin memang tidak terbaik dan terideal, tapi terminim risiko dari yang terburuk.

Cherish the love and the life you live.

*Hari ini saya mendengar kabar kematian tiga orang yang terkait dalam lingkaran hidup saya. Hanya dalam kurun waktu 4 jam. Rasanya, saya patut bersyukur masih ada di dunia ini untuk memperbaiki ibadah saya.
Jangan lupa duha!

Meta morfillah

22 October, 2016

Welcome, 27 years old!

Alhamdulillah…

Sampai juga di usia 27 tahun, dalam keadaan sehat wal ‘afiat, produktif, masih bisa bermanfaat, masih diberi keluarga yang hangat, masih di tanah air yang damai, masih bisa isengin teman-teman dengan minta diucapin lewat japri (enggak mau nerima copas di grup, meskipun kalau diucapin copas juga tetap bahagia… hahahaha), masih bisa candain ponakan dengan minta dibelikan hadiah yang sudah ditentukan, dan masih bisa tersenyum meski amanah dan ujian kian berat.

Alhamdulillah…

Entah sampai usia keberapa, saya masih diizinkan untuk menuliskan segenap perasaan di hari lahir saya dan mempostingnya di blog disertai foto beragam ucapan milad yang saya dapat. Kebiasaan ini akan terus saya lakukan untuk mengenang dan menghormati mereka yang pernah hadir dan masih tetap hadir serta meluangkan waktunya untuk membahagiakan saya dengan ucapannya. Meski kadang mereka sebenarnya tak ingat persis tanggal milad saya, tapi terbantu oleh media social khususnya facebook, saya tetap bahagia dan berterima kasih. Meskipun 1346 teman di facebook tahu saya milad, toh tidak 1346 ucapan yang saya dapat. Saya kira, itu cukup membuat saya paham siapa yang kiranya benar-benar teman di dunia maya tersebut… hehe. Kuantitas pertemanan tak bisa mengalahkan kualitas pertemanan itu sendiri. Pada akhirnya, hanya sedikit dan makin sedikit orang yang akan mengucapkan selamat milad seiring pertambahan usia kita. Jangan sedih yaa…

Doa paling berkesan adalah dari Mama, yang diucapkan secara langsung tanpa kue ultah, saat saya terburu-buru ke kamar mandi untuk setoran pagi. Di sela itu, sembari saya kebelet, Mama menyodorkan tangannya untuk saya cium dan mencium pipi kanan-kiri saya, seraya berkata “Selamat ulang tahun yaa… semoga rezekinya lancar dan kamu selalu sehat. Aamiin “ Lalu dilepaslah tangan saya dan dibiarkannya saya pergi menunaikan hajat ke kamar mandi.

Alhamdulillah… mama gak minta mantu!

Bogor, 22 Oktober 2016

Meta morfillah





Ini isi VNnya Ikri

Assalammu’alaikum Kak Meta..
Selamat ulang tahun ya, Kak. Semoga kakak semakin soleha, dan bisa terus istiqomah dalam kebaikan. Semoga kakak sehat terus, sukses, bahagia terus…hmm… dilindungi Allah dari… hal yang buruk-buruk. Pokoknya kakak semoga selalu dalam keberkahan Allah. Mudah-mudahan kakak tetap menjadi kak meta yang sekarang, yang spontan, apa adanya. Pokoknya kak meta banget deh! Hmm… aku iri sih sebenarnya sama kak meta bisa seperti itu. Aku juga doain kakak mudah-mudahan kakak cepat ketemu nng… apa ya namanya…ketemu calonnya yang bisa membuat kakak lebih dekat lagi sama Allah. Bisa membimbing kakak. Lelaki soleha yang bertanggung jawab , baik hati, soleh lagi! Mudah-mudahan ya kak. Semoga cepat disegerakan, eh, udah cepet, disegerakan ya? Pokoknya gitu deh, pokoknya aku doain yang terbaik aja buat kak meta. Sekali lagi selamat ulang tahun ya kak.

Sampai ketemuu…

















Grup Komunitas yang sudah bertahun ditinggalkan dan masih mengucapkan milad padahal tha udah gada di grup itu... Haha






Text Widget