Pages

31 July, 2016

EKSPEDISI PENDAKIAN GUNUNG GEDE (Hari kedua)

EKSPEDISI PENDAKIAN GUNUNG GEDE

Hari kedua, 30 Juli 2016

Kami terbangun pukul 03.00, sebab rencana mendaki ke puncak pukul 03.00 dengan estimasi waktu perjalanan 2 jam sehingga target kami pukul 05.00 sudah di puncak dan kami mendapatkan sunrise. Namun ternyata kelompok lain banyak yang begitu lelah dan staminanya belum pulih. Sehingga ada revisi pendakian akan dimulai setelah subuh. Kami pun melanjutkan tidur kami. Pukul 04.30 kami bangun dan menyiapkan sarapan. Saya mengambil air untuk memasak ke sumber air terdekat sekaligus berwudhu. Selesai salat subuh jama'ah di tenda dengan posisi duduk, kami pun keluar. Makanan berupa mie campur--sebab mie soto, mie kari ayam, dan mie goreng dicampur jadi satu bumbu dan diberi kuah--4 telor rebus, dan sarden habis kami lahap. Minuman hangat susu jahe pun tandas, meski tak berapa lama berubah menjadi es jahe.

Tak lama kami--para guru akhwat--melakukan pemanasan sekitar pukul 06.00. Ternyata guru ikhwan belum memasak dan makan. Sehingga kami menunggu mereka dan asyik bercengkerama di luar tenda sembari berfoto ria serta membuat video. Akhirnya kami kesiangan dan tidak mendapat sunrise sebab kami berangkat pukul 08.00. Jalur dari kandang badak ke puncak rupanya cukup terjal dan melewati tanjakan setan. Tanjakan dengan arah 85 derajat ini dilalui dengan tali webing dan carabiner. Alhamdulillah kami semua selamat, meski tebingnya begitu curam dan mengerikan bila kami sampai salah pijak dan jatuh. Semakin ke puncak, nafas semakin sulit sebab perbedaan tekanan udara. Sedapat mungkin saya berusaha bernafas melalui hidung, bukan mulut. Namun dada saya semakin sakit, sehingga sedikit-sedikit saya terpaksa berhenti. Beruntunglah saya ditemani oleh tim yang hebat, utamanya Pak Yusup selaku kepsek SMP dan Pak Aris selaku kepsek SD. Mereka memberikan saya madu kurma dan air untuk menambah stamina sebab muka saya terlihat begitu pucat. Bahkan tas serta jaket dan syal saya dibawakan hingga puncak oleh Pak Aris. Hatur nuhun pisan para bapak!

Perlahan tapi pasti saya mencapai kawah. Di sana saya sempat membuat puisi untuk Mama. Begitu banyak yang ingin saya ucapkan dan saya sebut, tapi perjalanan ini membuat saya semakin yakin bahwa satu-satunya orang yang pantas menerima persembahan saya adalah Mama. Begitu kuat wajah Mama terbayang di sana hingga membuat saya lupa siapa saja yang ingin saya sebut dalam doa dan tulisan saya--maaf--seperti ada kekuatan doa mama yang menuntun saya sejauh ini. Saya yang berkali ingin menyerah ke puncak tapi selalu disemangati rasanya begitu luar biasa. Persis seperti Mama yang selalu bijak menyikapi keluhan saya akan permasalahan yang saya hadapi. I really love you because Allah, Mom!

Sesampainya di kawah matahari sedang semangatnya memamerkan cahaya serta panasnya. Kira-kira itu pukul 10.30. Ternyata itu belum puncak. Kami masih harus berjalan lagi untuk menuju puncak. Jalanannya doninasi batu kerikil yang agak licin, dan tidak ada pohon yang menaungi. Hanya ada 2 pohon yang tumbuh, edelweis dan satunya lagi saya tidak tahu. Edelweisnya pun sedikit, banyaknya ada di alun-alun suryakencana (surken), sekitar 2 km dari puncak turun ke bawah. Awalnya saya pikir bisa mengunjungi surken dan berfoto di hamparan edelweis. Nyatanya saya tidak setangguh itu. Bahkan saat di kawah tadinya saya tidak mau ikut ke puncak. Sebab saya sudah tak kuat melangkah. Tapi, lagi-lagi saya disemangati oleh para bapak, "Sayang Bu Meta, sudah sejauh ini tidak sampai puncak. Perlahan ayo berjalan. See you on top!"

Maka, saya pun berjalan seperti zombie. Menyeret langkah perlahan, satu per satu, dan alhamdulillah sampai juga di tugu puncak 2958 mdpl. Di sana saya dapati ada tenda yang berisi orang jualan nasi uduk, minuman hangat, serta pop mie. Woooww... luar biasa di ketinggian seperti itu ada yang jualan!

Di puncak kami makan nasi timbel yang dibakar dengan abon. Rasanya sungguh nikmat karena kebersamaan. Biasanya mah, mana mau saya makan nasi sama abon! Lalu kami mengabadikan kenangan di puncak dengan spanduk dan bendera Sekolah Islam Ibnh HAjar. Tapi tak semua guru yang ikut ke puncak. Beberapa menunggu di kawah sebab staminanya terkuras dan ada yang phobia ketinggian.

Setelahnya, bagi saya perjalanan turun terasa jauuuuuh lebih mudah dan cepat. Kami tiba di kandang badak pukul 13.00. Kami pun bersiap memasak makan siang, salat, packing dan membereskan tenda. Kira-kira pukul 14.00 kami bersiap turun. Target kami pukul 18.00 kami sudah sampai di mandalawangi, tempat mobil jemputan menunggu kami untuk kembali ke Bogor. Sayangnya, beberapa kawan keseleo kakinya, bahkan ada yang bengkak dan sepatu/sandalnya putus. Hingga kami terpisah cukup jauh dan terbagi tiga kelompok. Saya adalah kelompok paling depan dan pertama yang berhasil sampai di bawah pukul 20.00. Itu pun diselingi beberapa kali perhentian, sebab ada yang tak kuat melangkah dan harus dibagi beban bawaan serta pakai tongkat, juga harus berganti sandal seperti saya, sebab karet sepatunya lepas saat melewati tebing mancur air panas. Udara malam yang semakin dingin disertai kegelapan yang perlahan menyelimuti menambah berat perjalanan kami. Senter pun mulai dinyalakan. Seram sekali perjalanan turun malam hari dibanding mendaki. Sebab kalau sampai salah pijak, kami bisa jatuh tergelincir. Melewati jembatan rawa, kami membaca bahwa masih ada beberapa macan tutul yang hidup di sekitarnya, sehingga kami memburu langkah saat melewatinya. Sepanjang jalan kunang-kunang bertebaran dan suara jangkrik semakin kencang. Hingga tiba di tempat sampah dekat kantor administrasi, kami dikejutkan oleh babi sebesar kambing dan gemuk seperti sapi berwarna abu-abu putih. Babi itu awalnya saya kira patung, tapi tiba-tiba dia menolehkan moncongnya ke arah kiri dan mulai berisik mengacak-acak tempat sampah. Saya dan tim bersegera menepi dan berjalan cepat agar tidak menarik perhatian babi hutan itu. Dari jauh saya senteri babi itu, memantau pergerakannya dan memberitahu pada pendaki yang naik atau turun untuk berhati-hati. Cukup lama babi itu berada di sana. Tapi alhamdulillah yang kami khawatirkan tidak terjadi. Malam kian larut, sinyal baru pada masuk, mobil jemputan ternyata sudah menunggu dari pukul 11.00 siang. Sementara kelompok terakhir belum sampai dan sulit dihubungi melalui HT dan HP. Akhirnya diambil kebijakan bahwa yang sudah sampai harus segera dipulangkan, terutama yang akhwat. Sebab kondisi hari itu adalah malam minggu, pasti ada arus buka tutup jalan di puncak. Maka tim ikhwan mengurus perizinan dan membagi tugas untuk sebagian ikut kembali ke Bogor mendampingi akhwat dan sebagian menunggu tim yang di belakang. Pukul 21.00 kami pulang dan terjebak arus tutup jalan. Sehingga pukul 23.40 kami baru tiba di sekolah. Dalam perjalanan pulang saya agak mengigau karena mual oleh pergantian udara dan angin malam. Saya menahan rasa ingin muntah dan mencoba tertidur setelah dibaluri minyak kayu putih dan meminum you c 1000. Untunglah teman-teman memahami, dan mereka memijati pundak serta punggung saya hingga saya bisa terlelap sebentar dan berhasil tidak muntah di mobil. Alhamdulillah, dengan sisa tenaga yang ada, kami berhasil pulang dengan selamat.

Hikmah ekspedisi naik gunung gede:

1. If you wanna go fast, go alone.
If you wanna go far, go together.

Pepatah itu amat benar. Terlihat sekali siapa yang ingin menang sendiri dan duluan menuju puncak tanpa memikirkan timnya di belakang. Juga terlihat sekali betapa empati dan sabarnya mereka yang sebenarnya bisa saja jauh lebih cepat sampai, tapi menjaga kami yang kelelahan, tertinggal, dan butuh motivasi hingga sampai puncak bersama. Terlihat juga siapa yang mementingkan dirinya sendiri dan benar-benar peduli pada sekitarnya. Saya sendiri merasa kadang agak egois ketika saya sudah tidak kuat, padahal yang lain pun saya yakin juga tidak kuat, tapi berusaha menguatkan. Maafkan bila tanpa saya sadari saya seperti itu ya kawan.

2. Filosofi mendaki gunung itu sungguh seperti menafakuri jalan hidup kita. Bahwa semua begitu panjang dan kita merasa sangat jauh untuk mencapainya serta tidak kuat bila membayangkannya. Yang harus kita lakukan adalah terus saja melangkah dan menjaga hubungan. Sebab mereka yang bahkan tak kita kenal pun melintas mendatangkan semangat bagi hati dan kaki yang telah lelah. Berkali saya mendapat kalimat dari pendaki yang turun berpapasan di jalan, "Semangat, Mbak! Kamu pasti bisa. Sedikit lagi, kok." Meskipun saya tahu bahwa masih jauh, tapi itu membantu saya mendapatkan energi positif.

3. Kekuatan cinta dan dukungan orang terdekat adalah modal utama dalam menapaki jalan panjang beserta segala kesulitannya ini. Saya merasakan bahwa saya harus sampai atas untuk mempersembahkan sebuah puisi untuk mama saya. Jika gagal, rasanya sia-sia mama telah memberikan izinnya yang sulit bagi saya untuk naik gunung.

Ah pokoknya banyak banget kesan dan pembelajaran yang saya dapat dalam dua hari lalu. Alhamdulillah, masyaa allah, subhanallah, allahu akbar rasanya semua puja dan puji tak henti membanjiri hati dan pikiran saya akan maha kuasanya Allah. Terima kasih Allah atas hidup ini, dan orang-orang yang pernah dan masih hadir dalam hidup saya. Saya sayang kalian semua!

Meta morfillah

EKSPEDISI PENDAKIAN GUNUNG GEDE (Hari pertama)

EKSPEDISI PENDAKIAN GUNUNG GEDE

Hari pertama, 29 Juli 2016

Setelah 2 minggu materi dan latihan fisik selepas mengajar, inilah hari di mana kami akan mengaplikasikan materi yang telah didapat. Pukul 06.00 saya telah sampai di sekolah. Target berangkat adalah pukul 06.30. Kenyataannya sebab satu dan lain hal, kami baru berangkat pukul 08.00 dengan 3 mobil. Dalam perjalanan, mobil saya dan tim menyaksikan kecelakaan dengan korban ibu hamil dan bibirnya sobek berdarah karena terjatuh ke aspal. Sementara yang menabrak anak SMA pingsan. Dua orang kawan turun membantu sang ibu, sementara saya tetap diam di mobil, tak kuat melihat darah. Langsung terbayang dan mendadak pusing, darah rendah saya kumat. Kami yang menunggu di mobil berdoa untuk keselamatan korban, penabrak, orang sekitar, dan kami. Sebab menyaksikan hal kurang baik seperti sebuah firasat buruk. Maka kami gunakan senjata orang mukmin, yaitu berdoa.

Sampai di mandalawangi/kebun raya cibodas sekitar pukul 11. Kami makan siang dan mulai mengurus administrasi. Lalu kami memulai perjalanan. Target mencapai kandang badak untuk kemah adalah pukul 5 sore. Kenyataannya, 22 orang jumlah kami dan dominan pengalaman pertama naik gunung/pemula membuat langkah kami terseok. Saya salah satu yang cukup lama dan berada di tengah sebab banyak berhenti. Kaki rasanya ingin berhenti berjalan, namun teman-teman selalu menyemangati bahwa saya bisa. Perhentian-perhentian pun terlewati seperti air terjun cibeureum, telaga biru, rawa denok 1, rawa denok 2, batu kukus 1, batu kukus 2, air panas, kandang batu--tempat kami berjamaah takhir qasar salat zuhur ashar--, hingga sampai di kandang badak kira-kira pukul 21.00.

Ada enam tenda, namun begitu sampai hanya 2 tenda yang didirikan sebab 4 tenda lainnya ada pada carier teman saya dan tim swiper di belakang. Alhasil saya dan teman lain menunggu dalam dingin, tepatnya beku. Sebab sore itu hujan dan suhu bertambah dingin, sampai di kerudung membentuk butiran es. Saat berbicara pun mengeluarkan asap udara panas. Kami membagi tugas untuk mendirikan tenda dan memasak air untuk menghangatkan tubuh. Setiap kawan sering mengecek kawan lainnya, untuk memastikan tidak ada yang terkena hipotermia. Saya salah satu yang tak kuat bergerak banyak sebab sudah membeku dan diam menunggu tenda tim saya datang. Hingga tenda datang, saya membantu mendirikan dan berbenah posisi carier dan posisi tidur. Saya segera berganti pakaian dan kaus kaki yang basah, tayamum, salat jamak qasar maghrib isya, lalu menunggu air matang dan meminumnya sedikit. Setelahnya saya izin tidur sebab sudah tak kuat dingin. Ternyata sleeping bag saya agak basah dan tas beserta isinya juga menjadi dingin. Tapi tetap saja saya usahakan pejamkan mata meski tak begitu nyenyak sebab dingin begitu menggigit. Tenda kami berada pada posisi turunan, jadi tanpa sadar saat tidur kami merosot-merosot. Tengah malam hujan dan tembus ke tenda hingga sleeping bag dan menambah dingin. Tapi saya tetap memejamkan mata dan tak bergerak agar kami berlima muat. Menurut teman setim, saya paling cool tidurnya. Padahal mah karena sudah tak ada daya dan membeku. Kalau tidur di rumah mah, posisinya bisa beda pas bangun hahaha.

Berlanjut ke hari kedua...

Meta morfillah

24 July, 2016

#tipsnulismeta1

"Met, bagaimana caranya biar bisa menulis?"

Sebenarnya aku sendiri belum jadi penulis bila indikatornya menerbitkan buku di penerbit mayor apalagi best seller. Tapi berbagi pengalaman aja yaa...

Hal yang harus dilakukan untuk jadi penulis:
1. Baca, baca, baca
Baca apa saja. Baca kamus dan tesaurus apalagi. Untuk memperbanyak kosakatamu. Baca terjemahan Al quran lebih oke, sebab metafora dan analoginya bisa melahirkan banyak ide.
2. Tulis, tulis, tulis
Memang ada banyak tingkatan penulis. Tapi untuk pemula baiknya perbanyak kuantitas, sembari perlahan memperbaiki kualitas. Aku sendiri masih memasang target #1hari1tulisan minimal 1 kalimat dengan update di medsos. Dari 2009-2016 ini perkembangannya cukuplah, meski harusnya sih udah jadi beberapa novel

Apa saja hal yang menarik dan mudah untuk ditulis:
1. Hal menarik yang kamu alami dalam keseharian
2. Hal yang membuatmu gelisah/takut dan ingin dicurhatkan
3. Hal yang tidak berani kamu ungkapkan secara lisan
4. Hal yang amat kamu dambakan

Paling penting adalah semua diawali NIAT, KONSISTENSI, dan DISIPLIN. Bagusnya lagi kamu sudah temukan mau menjadi penulis yang seperti apa. Jangan kayak aku, masih galau. Mau menulis islami, metropop, satir, inspirasi, tapi ilmunya belum meyakinkan. Tenang saja, semua penulis memiliki proses kreatif  dan waktu yang berbeda. Insyaa Allah kamu akan temukan sendiri proses kreatifmu selama kamu menjalani dengan disiplin. Yang penting tetap SEMANGAT MENULIS, MENULISKAN SEMANGAT.

*Dari gambar ini, coba latihan buat tulisan minimal 3 kalimat! #tantanganmeta

Meta morfillah

[Kajian] URGENSI TAFSIR AYAT-AYAT POLITIK

URGENSI TAFSIR AYAT-AYAT POLITIK

Dr. Atabik Luthfi, Lc, MA
Masjid Alumni IPB
Minggu, 24 Juli 2016

Kesalahan fatal umat Islam di era modern adalah menjauhkan politik dalam kehidupan beragama. Ini adalah kesalahan KONSEP, dan jauh lebih berbahaya ketimbang kesalahan aksi/praktik. Misalnya konsep belajar, niatkan untuk beribadah pada Allah, menjadi pemimpin dan penegak agama Allah, maka praktik/aksinya akan mengikuti konsep, bukan niat untuk pintar saja atau duniawi lainnya. Menganggap Islam tidak berhubungan dengan dunia politik menjadikan umat berpotensk termarginalkan/terpinggirkan.

Inilah ayat-ayat yang perlu ditadabburi bahwa Allah pun menyuruh kita berpolitik:
1. Q. S. Al baqarah [2] : 208
"...masuklah ke dalam Islam secara  KESELURUHAN..."
Konsep KAFFAH dalam ayat ini semakin dikuatkan dalam doa kebaikan dunia dan akhirat yang tiap hari kita lafalkan sehabis salat. Bahwa untuk mencapai akhirat yang hasanah, pun dunia juga harus hasanah. Dunia yang hasanah artinya bekerja, berkuasa, dan ilmu lainnya. Tidak sekadar ibadah mahdah.
Pembicara pernah mendapat pertanyaan saat seminar di Amerika, "Why you should doing pray, fast, and hajj when you can be better without it all?"
Dan dijawab, "All you have done is a part of Islam. All we have done is a part of Islam. When we are together, that is ISLAM."

Bagi mereka buat apa puasa, salat, dan haji jika ternyata negara kita paling korup. Mereka yang tidak beriman justru tidak korupsi. Mereka hanya melihat satu sisi. Padahal Islam bukan sekadar puasa, salat, dan haji. Islam adalah semua hal dalam hidup kita. Orang jadi PNS, Islam. Orang berpolitik, Islam. Orang melakukan kegiatan sosial itu juga Islam. Semua yang kita lakukan adalah Islam bila sesuai syariatNya. Jangan malah saling menyalahkan.

2. Q. S. An Naml [27] : 44
Konsep nabi sulaiman yang ingin mengislamkan negeri Saba' melalui keislaman Ratunya, Balqis.
Terkadang kita harus bertanding sesuai lawan. Seperti ratu balqis yang harus ditandingkan dengan raja sulaiman, sebab mereka sama-sama berkuasa. Inilah mengapa Islam harus memiliki kekuasaan untuk melawan kekuatan yang zalim. Sebab terkadang ada yang harus didakwahi dengan kemewahan dan kekuasaan seperti Ratu Balqis, ada pula yang harus didakwahi dengan kezuhudan.

3. Q. S. An Naml [27] : 15
Konsep bahwa ILMU adalah prinsip dasar dalam Islam.
Untuk memiliki kekuasaan, kita harus punya ilmunya. Kebanyakan kita mempelajari sesuatu hanya dari satu sisi dan tidak menyeluruh. Contoh apa yang kita ingat saat disebut khalifah Umar bin abdul aziz? Kebanyakan hanya tahu tentang kezuhudannya. Padahal ia memiliki ambisi yang besar dimulai dari ambisi menikahi putri khalifah, menjadi gubernur, hingga akhirnya ambisi akhirat dengan kezuhudannya saat ia sedang memimpin. Ujian bagi pemimpin adalah zuhud (menjauhi dunia). Berbeda dengan orang miskin yang bukan zuhud tapi memang kesehariannya begitu. Inilah beda konsep.

Memang tidak ada kata "siyasah/politik" dalam Al Quran, tapi bukan berarti tidak Islami dan tidak perlu dipelajari. Coba kalian cari kata "aqidah" dalam Al Quran! Tidak ada juga, tapi apakah kita tidak beraqidah?

Berprestasi dengan keilmuan adalah salah satu siyasah dakwah. Seperti Dr. Arif yang menekuni bidang kecil dari multimedia namun diakui dan dipampang fotonya di luar negeri sana. Dia satu-satunya orang Indonesia dan Islam yang dihargai karena ilmunya. Maka, bukan berarti multimedia tidak islami. Tetap pelajari semua ilmu! Mengilmui sesuatu haruslah dari dua sisi, baik dan buruknya. Jangan setengah-setengah.

4. Q. S. An Nisa [4] : 54
Konsep kerajaan sebagai idiom untuk kekuasaan/politik

5. Q. S. Al baqarah [2] : 251
Konsep kepemimpinan/kekuasaan pasti akan bergilir dan harus diteruskan/regenerasi/kaderisasi dan berdampingan antara yang adil dan zalim. Maka untuk melawan yang zalim, harus diperjuangkan kandidat yang adil. Kita harus mengimbangi.

6. Q. S. Yusuf [12] : 56
Konsep jabatan pada kisah Yusuf. Bahwa kita harus berani menerima jabatan untuk membuka jalan lain. Itu adalah peluang kebaikan lebih besar dari Allah.

7. Q. S. An Nur [24] : 55
Konsep janji Allah tentang pergantian kekuasaan. Kita harus memiliki strategi untuk menjaga keadilan dengan mempersiapkan pengganti melalui kaderisasi.

8. Q. S. Al Maidah [5] : 50
Tentang hukum Allah yang kembali pada dalil ayat pertama. Bahwa Islam mengatur urusan kita secara KAFFAH.

*catatan sepemahaman penulis

Meta morfillah

Ketika amanah diberikan untuk menjagamu

Ketika amanah diberikan untuk menjagamu

Pernah tidak ketika kita memilih seseorang untuk sebuah posisi bukan karena ia paling kompeten, tapi karena ia harus diajar tanggung jawab dan rasanya mendapatkan posisi itu? Misal temanmu sering terlambat, lalu kamu memilih dia sebagai ketua kelas. Sehingga saat dia tak hadir, guru langsung tahu dan bisa jadi dia dihukum. Akhirnya mau tak mau, dia pasti berusaha agar tidak terlambat dan dihukum. Bukan pula berarti kita ingin menghukum dia, melainkan agar dia menjadi manusia yang lebih baik.

Yaa... mungkin saat ini diri kita yang seperti ilustrasi di atas. Jangan terlalu berbangga diri dengan amanah/jabatan tinggi. Boleh jadi itu adalah cara Allah dan sekelilingmu menjagamu dari hal negatif.

Atau mungkin menghukummu... hehe *lalu ngaca sendiri*

Meta morfillah

Ekspedisi gunung gede

18 Juli 2016

-Latihan fisik 1 set = 5
-materi pengetahuan medan: kami akan menempuh rute cibodas-gunung gede dengan waktu tempuh sekitar 8 jam.
Materi hipotermia: ada 2 tipe yaitu diam atau ceracau. Tipe diam sangat berbahaya. Sedangkan untuk tipe ceracau, bila terjadi harus diantisipasi dengan mengunyah coklat, pakai jaket saat malam saja dan sebelum mendaki sebaiknya tak usah dipakai agar saat dipakai nanti tidak dingin terkena embun malam. Cara mengatasinya harus dipeluk, diganti bajunya dengan yang kering dan minum air hangat.
Materi manajemen perjalanan: di grup kecil posisi depan adalah yang butuh perhatian dan belakang yang paham medan. Grup besar posisi depan adalah yang paham medan dan butuh perhatian, belakang yang paham medan.

19 Juli
- Latihan fisik 1 set=7
-Materi istinja: pakai batu dengan jumlah ganjil minimal 3. Pakai daun, cari yang tidak berduri dan berbulu. Untuk lokasi jangan di rute jalan, agak jauh dan digali dulu tanahnya, tutup pakai sarung, dan timbun jika sudah selesai.
Tayamum: memakai debu atau tanah. Caranya niat, tepukkan kedua telapak tangan ke debu/tanah, lalu tiup sekali, usap muka lalu usap punggung tangan baru telapak tangan, selesai.

21 juli
-Latihan fisik 1 set 7
-Materi packing: Prinsipnya yang jarang dipakai di bawah, yang sering dipakai di atas. Paling bawah menuju atas urutannya sleeping bag, lalu baju ganti, alat masak (dalam mistingnya masukkan beras), air, terpal/trash bag, dan matras. Posisi tas nagian bawahnya harus di atas bokong. Wajib membuat peta carier untuk memudahkan temannya memberi pertolongan jika kita terkena musibah.

22 juli
-Latihan fisik 1 set=8
-Materi memasak: siapkan kaleng bekas pocari/susu, dibelah dua dengan ukuran lebih pendek lalu disatukan dan dibolongi tengah serta pinggirnya, lalu diberi spirtus. Kalau tidak mau ribet, belah satu terus dialingi 3 kaleng lain agar api tak terkena angin. Lebih bagusnya lagi gali tanah sedikit, jadi menghalangi angin. Lalu taruh panci di atasnya dan siap memasak!

Meta morfillah

23 July, 2016

Hari anak nasional

Saat saya gabung jumsih di SD sebagai perwakilan SMP, anak-anak menghampiri dan memeluk saya sembari berkata,

"Bu Meta... kangen."

"Iya, Bu... kangen. Mau main sama Ibu lagi."

"Yaudah, nanti main sama Ibu habis jumsih ya. Kakak kelas 1 SMPnya olahraga, jadi ibu tidak mengajar di kelas."

"Lagi kenapa atuh Ibu ngajar kelas 1 SMP? Loncatnya jauh amat dari kelas 2 SD."

"Ibu pintar banget ya? Makanya Bu pura-pura gak pintar aja, biar ibu ngajar kita di kelas 3."

"Laah... Ibu gak pintar kok. Hafalannya aja masih hebatan kalian."

Lalu waktu jumsih selesai, anak-anak harus masuk kelas.

"Ibu, kita pisah dulu ya. Nanti aku samper Ibu main cing jongkok ya. Aku kangen Ibu."

"Iyaa..."

Dan sejam kemudian saya menunaikan janji itu. Hampir satu kelas yang saya ajar ikut bermain hingga waktu istirahat habis. Kami merasa waktu berlalu begitu cepat. Rindu ini belum luruh sepenuhnya. Kelas baru masih terasa asing bagi saya dan anak-anak.

"Ibu, aku kemarin gak nyadar tahu-tahu udah di depan kelas 2 khalid. Aku lupa kalau aku udah kelas 3 dan gurunya beda. Aku kangen banget sama Ibu."

Apalagi Ibu, Nak... percayalah, ini juga berat bagi Ibu.

"Yaudah, tiap jumat kita main ya, Bu. Pas snack time, kan kakak kelas 1 SMPnya olahraga jadi Ibu enggak ngajar."

"Insyaa Allah."

Hari ini adalah Hari Anak Nasional, 23 Juli. Sungguh saya begitu merindu dunia anak-anak. Meski saya belum punya anak, anak didik bagaikan anak saya sendiri. Ada porsi dan ruang dalam hati mereka yang disediakan untuk gurunya. Sayangilah anak-anak, meski meletihkan saat ini, nanti kalian akan merindui saat-saat ketika mereka menggelendotimu dan mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Percayalah selalu bahwa setiap anak itu hebat meskipun nilai rapor mereka anjlok semua. Mereka pasti punya nilai lebih dalam hal selain pelajaran. Kesalihan mereka adalah buah doa dan didikan kita.

Seyogyanya saya berdoa untuk semua yang pernah saya ajari, "Rabbi habli minasshaalihiin."

Meta morfillah

19 July, 2016

Dokter cinta belajar

Kupikir tak akan ada lagi yang semenantang skripsi. Nyatanya, ada! Setelah skripsi, menjadi wali kelas yang membuat silabus, rpp  subtema satu dan merancang aktivitas kelas dari minus di sekolah yang baru buka serta kurikulum berbeda adalah tantangan yang bikin aku tak bisa tidur nyenyak tiga hari belakangan. Mata sampai berkantung, badan sakit-sakit (ditambah efek latihan persiapan fisik tiap hari di sekolah h-9 naik gunung gede), kerjaan rumah agak terbengkalai, pikiran bercabang dan belum juga siap peralatan tempur mengajar hari pertama di 7 SMP terkendala buku yang dicari tak ketemu! Hampir semua gramedia dan toko buku di Bogor didatangi namun stok buku yang dicari kosong. Browsing tak juga ketemu. Sedihnya lagi berhalangan, jadi tak bisa curhat sambil nangis-nangis di sepertiga malam. Tapi senjata orang mukmin adalah doa. Maka berdoa terus dan meminta doa yang makbul, doa mama. Meminta maaf atas segala kekurangan sebelum dan ke depannya pada pintu surga tengahku sebab agenda akan semakin bertambah padat.

Alhamdulillah... berhasil menghasilkan RPP untuk besok. Meski jauh dari sempurna yang diharapkan, setidaknya siap lah. Sebab menjadi guru bukan sekadar cari uang. Pekerjaan ini membebani bila aku tak berhasil menjadi DOKTER CINTA BELAJAR. Yaa... bahwa aku lulusan kurikulum dan teknologi pendidikan UNJ mengemban amanah itu. Dosen pembimbingku dan dosen lainnya menitipkan harapan agar kami menjadi dokter yang mampu mengobati penyakit malas belajar peserta didik, hingga menjadi cinta belajar. Jadi, idealismeku akan selalu hadir dan membuat pekerjaan membuat RPP sedikit lebih lama karena aku memandang holistik, tak sekadar materi nyampe, experiental, tapi juga fun! Oh my Allah... aku harus belajar lagi mengenai karakter, psikologi, dan perkembangan remaja saat ini ditambah integrasi STIFIn saat alpha zone, dan pelaksanan pembelajaran.

Well... kalibrasi Feeling adalah curhat. Dan curhat melalui tulisan adalah diriku. Jadi, tulisan ini adalah ngalor ngidulnya orang Feeling yang butuh penyegaran. Main, olahraga, travelling, bahkan terjun langsung ke sawah dan sungai katulampa bareng murid yang hanya 9 orang nampaknya belum tuntas menyegarkan kalau belum dibuat cerita.

Bersyukurlah... meski kabut tengah menyelimuti pikiranmu.
Berbahagialah... sebab ada cinta yang mau mengerti kamu di mana-mana jika kamu tetap berpikiran terbuka.

Alhamdulillah ala kulli hal

Meta morfillah

17 July, 2016

Connecting the dots

CONNECTING THE DOTS

Steve Jobs pernah berkata tentang menghubungkan titik-titik tentang apa yang dipelajari di masa lalu--yang pada saat dahulu terlihat tidak ada satu pun yang dipelajari sepertinya akan bermanfaat dalam kehidupan kita nanti--ternyata akan terhubung dan membentuk masa depan kita.

Sepertinya saya sedang merasakan itu sekarang. Akumulasi ilmu perkuliahan saya, pengalaman mengajar di homeschooling dan menghadapi anak berkebutuhan khusus, pengalaman bekerja hampir dua tahun di lembaga konsultansi, project membuat storyboard untuk modul e-learning, menjadi admin di beberapa akun medsos, kegilaan saya membaca beragam buku terutama saat sedang menganggur lalu membuat reviewnya dan membantu usaha kuliner seorang kawan. Sekilas itu semua terpisah dan tampak serabutan, tak akan terhubung. Nyatanya hari ini, amanah baru saya membuat saya recalling memory untuk membuat sebuah produk dan kegiatan yang belum ada benchmarknya. Setelah saya korek-korek ingatan saya, ternyata ada beberapa bagian di masa lalu saya yang membantu saya merefleksikan masa depan saya. Sedikit memberi gambaran akan apa yang hendak saya buat.

Seringkali perjalanan hidup kita seperti titik tak beraturan, tak bertujuan, padahal setelah kita melihat dari jarak jauh di atas sana, hidup kita sebenarnya sedang membuat pola yang indah. Itulah keteraturan dalam ketidakteraturan, dengan Allah sebagai grand desainernya.

Meta morfillah

13 July, 2016

Mission: TEGAL Explorer

"Dalam rangka apa ke Tegal?"

"Ada siapa di Tegal?"

"Mau ngapain ke Tegal?"

Dan beragam pertanyaan serupa.

Yaa... mungkin pada bingung kali yaa, untuk apa kita--tiga akhwat kece--berkumpul di Tegal. Hanya sehari pula. Tepatnya hanya lima jam mengeksplor Tegalnya--seharusnya tujuh jam, tapi menunggu teman ambil kendaraan hingga dua jam di stasiun.

Sebenarnya sih enggak usah bingung. Kita kumpul di Tegal sebab itu kota tengah di antara Cirebon, Kediri, dan Pekalongan. Serta ada seorang teman yang menetap di sana. Kita mau silahturrahim saja. Kumpul sama yang dari tiga daerah tersebut, terutama yang habis nikah dari Pekalongan.

Loh, kan bisa kumpul di Jakarta?
Iyaaa... memang ujungnya semua di Jakarta. Balik lagi ke Jakarta. Tapiiiii... bosan juga kaliii di Jakarta muluk. Dan tha mikir, kenapa banget gitu harus orang Jakarta terus yang didatangi orang daerah? Kenapa enggak orang Jakartanya aja yang datang ke daerah sesekali? Yaa... kayak mudik gitu. Tapi tingkatan saudara seiman, belum jadi keluarga #eeh. Hahaha intinya sih jangan su'udzan dengan perjalanan kami ke Tegal. Kami cuma numpang lunch doang, dinner enggak sempat. Bahkan lamaan jalan baliknya dibanding main di Tegalnya. Sembilan jam boooo!

Kali lain kalau mau ke Tegal mending nginep sih. Bawa baju ganti. Wisata alamnya kebanyakan main air, sebab Tegal adalah Kota Bahari. Juga jarak wisatanya cukup jauh dari stasiun. Kulinerannya kemarin masih banyak yang belum buka. Kita cuma sempat makan sate batibul (kambing muda-bayi tiga bulan), dan tahu gejrot di Taman Rakyat Kabupaten Tegal. Terus oleh-olehnya yang khas cuma tahu pletok--tahu kuning bentuk segitiga dikasih aci atasnya.

Memang belum puas. Tapi, perjalanan akan terasa asyik bila bertemu kawan perjalanan yang tepat. Nah, semoga kita semua dipertemukan dan disandingkan dengan teman hidup yang tepat yaaa. Sebab hidup ini jauh lebih lama dan panjang jalannya dibanding travelling.

Salam lonetraveller,

Meta morfillah

Text Widget