Pages

09 July, 2016

[Review buku] Melukis pelangi

Judul: Melukis Pelangi
Penulis: Oki Setiana Dewi
Penerbit: Mizania
Dimensi: 347 hlm, cetakan X november 2012
ISBN: 978 602 8236 89 8

Sejujurnya saya tak pernah menyangka kisah hidup OSD begitu berwarna seperti ini. Buku ini ibarat diarynya yang dipublikasikan, menceritakan memoar hidupnya. Memang, saya sendiri baru 'ngeh' setelah film KCB dan saat ia menjadi pengisi harian acara ceramah pagi di sebuah stasiun TV. Yah, kebanyakan orang hanya tahu enaknya saja ketika kita berhasil menjadi someone from no one. Buku inilah yang menceritakan kisah perjuangan OSD menggapai mimpinya. Titik balik itu terjadi ketika ibunya sakit. Lalu dari sana konflik kehidupan semakin kompleks dan menggiringnya menemukan Allah. Dengan gaya bahasa yang bertutur, buku ini membuat saya larut selama dua jam untuk menamatkannya.

Ada sedikit kekurangan tentang typo dan cover yang tak saya suka dengan memajang foto penulisnya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Life starts from nothing to something, then becoming someone & finally to be no one because the only one is Allah SWT." (H. 30)

"Jilbabku juga pelindungku. Ia melindungiku dari masuknya makanan haram ke tubuh ini, ia melindungiku dari pekerjaaan yang berisiko untukku, ia melindungiku dari pelecehan, tatapan mata lelaki yang membahayakan, dan objek khayalan."(H. 138)

"'Jika kita memiliki kualitas, orang akan membutuhkan kita. Mereka akan mengejar kita dan mengikuti apa permintaan kita." (H. 182)

"IP memang bukan satu-satunya indikator kecerdasan seseorang. Namun dengan IP tinggi, bisa membuktikan bahwa ia bersungguh-sungguh dengan studinya. Juga membuka peluang untuk mendapatkan beasiswa." (H. 249)

Meta morfillah

Menyelam atau tenggelam

Menyelam atau tenggelam?

Hari ini saya didaulat menjadi driver serta baywatch para ponakan yang ingin berenang. Ya, ini salah satu spesialisasi saya sepertinya. Sayang, saya sedang shaum dan tak bisa menemani mereka di dalam air. Jadilah saya hanya mengamati betapa ramainya liburan di kolam renang umum kota hujan ini. Sejujurnya, saya ingin membenamkan diri dengan laptop mengerjakan banyak tugas yang harus diselesaikan sebelum tanggal 14. Namun sejak saya libur, momen itu belum berhasil saya dapatkan. Tenaga saya sudah terkuras habis dan waktu saya benar-benar untuk keluarga. Jadi pikiran saya setengahnya selalu kepada tugas. Meski saya berusaha menikmati semuanya, tapi tugas menawan tawa lepas saya.

Itulah amanah baru yang memberati pundak saya. Amanah akan sekolah baru SMP, konsep yang belum saya pahami. Sebab mengapa saya belum jua mengerjakan silabus dan RPP satu tema dengan basis STIFIn yang akan dipakai minggu depan. Kelemahan saya apabila sudah lelah dan belum menemukan solusi adalah menduga-duga sebab atau apa alasan orang yang menempatkan saya di posisi tersebut. Berharap saya bisa bernegosiasi untuk memikirkan ulang penempatan itu. Posisi di luar comfort zone saya. Dan itu yang sedang saya lakukan. Saya bertanya-tanya mengapa saya? Apa alasannya? Apa potensi saya yang mereka lihat padahal demikian banyak kekurangan saya? Saya begitu tidak percaya diri.

Saya belum menemukan jawabannya. Kepala saya pusing. I need take a breath... Lalu saya layangkan pandangan sejenak ke kolam 1-3 meter. Kolam yang dihindari ponakan saya bila saya tak bisa menemani mereka di dalam air. Kolam 1 meter cukup ramai. Tapi di kolam 1,5 meter sampai 3 meter hanya ada beberapa orang dan selebihnya kosong. Pemandangan itu memunculkan sebuah suara yang menjawab pertanyaan saya sekaligus menyindir diri ini.

"Lihat kolam renang itu, semakin dalam semakin sedikit yang berani mencoba. Dibutuhkan keahlian berenang untuk mengarunginya. Memakai pelampung pun tak menjadi jaminan. Tapi keahlian itu bisa dipelajari jika kamu mau. Dari 1 meter bisa sampai berpuluh meter jika kamu tidak menyerah. Seperti itulah dirimu saat ini. Perenang yang sudah lumayan di 1 meter dicemplungkan ke kolam 2 meter. Awalnya mungkin kamu akan gelagapan, tak tahu harus bersikap seperti apa. Tapi dengan kemampuan dasarmu, kamu hanya perlu mengenali, mengamati, lalu perlahan belajar seperti di kolam 1 meter. Hingga kamu bisa menguasainya... lalu bersiaplah untuk dicemplungkan kembali ke kolam 3 meter dan seterusnya. Kamu akan selalu diberikan posisi sesuai tingkatan kemampuanmu. Pilihanmu adalah menyelam atau tenggelam? Kamu mau melanjutkan di jalan sepi yang menjanjikan kesuksesan itu atau jalan ramai yang standar biasa saja?"

Suara itu terus bergaung dalam kepala saya. MENYELAM ATAU TENGGELAM? Membuktikan diri bisa mengemban sebuah amanah atau malah mundur dan tenggelam sebab tak sanggup mengemban amanah?

Meta morfillah

[Review buku] Berjalan di atas cahaya

Judul: Berjalan di atas cahaya
Penulis: Hanum Salsabiela Rais, dkk
Penerbit: Gramedia
Dimensi: xii + 210 hlm, cetakan keempat Juli 2013
ISBN: 978 979 22 9359 3

20 kisah inspiratif yang ditulis oleh tiga penulis wanita berdasarkan pengalamannya di benua biru, Eropa. Di benua biru itu, Islam adalah minoritas. Maka menjadi muslim adalah agen Islam yang mencitrakan agama ini. Ketiga penulis bercerita bagaimana para agen muslim yang mereka temui berusaha yang terbaik dalam menyiarkan agama Islam. Ada  banyak cara berdakwah kreatif untuk menarik hati dan mengubah perspektif penghuni benua biru tersebut. Di antaranya ada muslimah yang ngerap, bermain pencak silat ala minangkabau, menjadi satu-satunya karyawati berjilbab di perusahaan pembuat jam dunia, berusaha mendirikan masjid,  semua untuk berdakwah. Mereka terua berusaha berjalan di atas cahaya dengan segala keterbatasannya. Semua dilakukan dengan indah, sabar, berilmu dan beradab, bukan dengan perdebatan apalagi perseteruan.

Dari tiga penulis memang gaya menulis hanum lebih unggul dan mengalir dibanding dua penulis lainnya. Terutama jika dibandingkan dengan tulisan wardatul ula yang menurut saya tidak jelas apa yang ingin disampaikan dan kurang asyik.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Jangan pernah menganggap satu manusia--yang kauanggap gak penting--yang kita temui dalam hidup, takkan pernah kita jumpai lagi. Setiap mereka adalah jalan keluar." (H. xi)

"Perusahaan yang masih mempermasalahkan penampilan berjilbab karyawannya tentulah perusahaan yang tidak kredibel. Pada masa yang akan datang, perusahaan ini lambat laun akan menerapkan kebijakan yang kurang prokaryawan." (H. 27)

"Keluarga saya adalah keluarga yang utuh dalam Islam dan bermunajat untuk satu keyakinan yang sama. Itu adalah harta yang kadang terlupakan." (H. 49)

"Sesungguhnya manusia yang semakin tua semakin kembali ke titik nol awal kehidupannya." (H. 193)

Meta morfillah

05 July, 2016

[Review buku] 99 cahaya di langit eropa

Judul: 99 cahaya di langit eropa
Penulis: Hanum salsabiela rais & Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 412 hlm, cetakan ketujuh belas september 2014
ISBN: 978 979 22 7274 1

Novel ini berdasarkan kisah nyata perjalanan penulisnya di benua Eropa. Menjelaskan tentang keterkaitan dan sejarah Islam di Wina, Paris, Cordoba/Konstantinopel, Granada, dan Istanbul. Dengan bahasa yang ringan, mengalir, serta runut novel ini tidak terasa seperti novel perjalanan serta sejarah umumnya. Tinggal di kawasan minoritas Islam, justru menimbulkan rasa jatuh hati yang mendalam pada agama Islam dengan membuka hati dan pikiran melalui perantara kalam (pengetahuan).

Islam ternyata pernah berada di sana, meski jejaknya kini telah digerus hingga tak nampak. Tapi, siapa sangka bahwa Islam pernah begitu bercahaya bahkan menjadi salah satu peradaban acuan di dunia. Lalu apa yang membuatnya hancur seperti sekarang? Sebab nafsu dan kemalasan pemeluknya yang tidak lagi sesuai wahyuNya: baca dan mau berpikir.

Siapa sangka bahwa di lukisan bunda maria dalam museum Louvre terdapat kalimat tauhid dalam tulisan arab kufic di pinggiran hijabnya. Siapa sangka bahwa pembangunan Arc du Triomphe du Carrousel dan Arc du Triomphe de l'Etoile dalam garis Axe Historique di kota Paris mengarah pada satu tujuan: Kiblat di Mekkah. Juga siapa sangka pernah ada masa indah di Cordoba bahwa Islam bisa berdampingan dengan beragam agama lainnya. Terbukti dari sisa peninggalan Hagia Sophia dan Blue Mosque.

Hanya saja ada sedikit yang mengganggu saya terkait sirah saat Haji Wada di halaman 388. Di novel ini tertulis Umar bin Khattab yang menangis saat Rasul membacakan Q. S. An Nashr. Padahal selama ini saya mempelajari sirah, yang menangis adalah Abu Bakar sebab ia mengerti bahwa maut mendekati Rasul dan itu adalah wahyu terakhir.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"...keteladanan berbicara lebih keras daripada kata-kata." H. 63

"Agama dan ilmu harus membentuk keseimbangan yang tak bisa dibentur-benturkan. Keduanya tak boleh mengkafiri yang lainnya. Baik agama dan ilmu pengetahuan harus membuka diri satu sama lain. Kalau tidak, keseimbangan itu akan runtuh." H. 156

"Kau tidak akan bisa melarang orang, ini haram dan itu halal, jika perut orang yang kauceramahi itu keroncongan." H. 250

"Pergilaj, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup; niscaya jalan apa pun yang kaupilih akan mengantarkanmu menuju titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kautemukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan.
Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apa pun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal." H. 372

Meta morfillah

04 July, 2016

#Day30 Jarak

#Day30 Jarak

Bagi orang yang memiliki ruang terdalam di hati kita dan memang mencintai kita, jarak hanyalah barisan angka. Sementara teknologi membuatnya seakan tak bersekat. Kita tetap dekat.

Bagi orang yang hanya menganggap arti hadir kita sekadarnya, mungkin jarak akan menjadi begitu jauh. Teknologi tak begitu membantu. Kita tak akan pernah menyatu.

Tapi, jarak terjauh bukanlah tentang berapa kilometer kita terpisah. Melainkan seberapa dinginnya silahturrahim kita, pautan antara hati kita dan jarangnya lisan kita mengucap namanya saat berdoa.

Satu hal yang baik dengan adanya jarak, kita bisa mengukur mana orang yang pantas kita perjuangkan, kita cintai, dan kita doakan. Serta mana yang seharusnya kita relakan, hanya menjadi sebuah fragmen dalam masa lalu kita. Dengan jarak, kita bisa lihat apakah rasa suka kita semakin memudar atau membesar...

Meta morfillah

#Day29 Waktu

#Day29 Waktu

"Bagi orangtua waktu berlalu begitu cepat."

Aku mendengarkan sembari tetap menjaga fokus mengemudi.

"Tidak terasa Ramadhan sudah mau habis. Tak terasa bulan sudah berganti Juli. Tak terasa sudah memiliki cucu. Tak terasa usiamu sudah melebihi usia Ibu saat menikah."

Aku berusaha mendengar meski angin agak menyamarkan suaranya.

"Terutama bagi yang hanya menunggu waktu dari pagi sampai sore. Tapi... tetap saja rasanya masih banyak yang harus disiapkan. Masih banyak yang harus dilakukan sementara sepertinya belum ada hal yang kita lakukan. Seperti menikahkan kamu."

Aku menghela nafas. Waktu sebanyak apa pun, seakan tak pernah membuatku siap bila berbicara pernikahan dan kematian.

Meta morfillah

#Day28 Yang dirindukan

#Day28 Yang dirindukan

Saat matahari perlahan terbit, saat matahari tepat di atas kepala, saat matahari berada condong ke barat, saat matahari perlahan tenggelam dan saat matahari benar-benar hilang diganti rembulan. Saat di mana biasanya indera pendengarku dimanjakan dengan lantunan panggilanNya, alat gerakku menuju rumahNya, namun semua itu tidak lagi ada sebab pindah. Sesuatu yang seakan sudah menjadi keharusan dan biasa selama seperempat abad lebih hidupmu, kini menghilang. Bagaimana rasanya?

Hal-hal keseharian, kecil yang begitu banyak hilang, perlahan akan begitu kita rindukan. Mendapatinya kembali menjadi sebuah kekayaan batin yang luar biasa. Mampu menghidupkanmu kembali. Seperti azan yang terdengar lantang, diperbolehkannya wanita salat di masjid berjamaah... itu semua adalah kebahagiaan sederhana yang sedang kurindukan. Aku belum sampai di eropa, ini masih di Indonesia, tapi rasanya begitu berbeda dan jauh. Menggejalakan rindu yang amat sangat terhadap tanah lahir, utamanya saat ramadhan seperti ini.

Lalu ramadhan akan bergegas pergi. Akankah ia menjadi salah satu hal yang akan kita rindukan?

Meta morfillah

[Review buku] Sekolahnya manusia

Judul: Sekolahnya manusia
Penulis: Munif Chatib
Penerbit: Kaifa
Dimensi: xxiv + 188 hlm, 23.5 cm, cetakan XI november 2011
ISBN: 978 979 1284 28 8

Buku ini terdiri dari 5 bab:
1. Bukan mereka yang bermasalah
Berisi tentang beragam special moments yang didapat dari usaha guru yang menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar sang murid melalui metode MIR (Multiple Intelligence Research).

2. Persoalan pendidikan di Indonesia
Berisi paradigma pendidikan di Indonesia yang masih menitikberatkan pada kecerdasan kognitif/logis matematis. Penulis meredefinisi kecerdasan agar pendidikan menjadi lebih manusiawi berdasarkan teori MI Howard Gardner.

3. Solusi pendidikan di Indonesia: Multiple Intelligences
Menjelaskan bahwa sekolah unggul bukanlah sekolah yang hanya "The best input" melainkan "The best process" serta bagaimana MIR dikaitkan dengan gaya belajar dan bakat anak.

4. Strategi pembelajaran MI
Mengungkap beragam kesalahan penerapan MI di sekolah, pelurusan bahwa MI adalah strategi belajar bukan bidnag studi apalagi kurikulum. Beragam contoh lesson plan berbasis MI dan "penyakit" guru: teacher talking time (guru kebanyakan ceramah), task analysis (guru tidak menjelaskan kemanfaatan ilmu di awal pembelajaran, langsung masuk materi saja), dan tracking (memisahkan kelas pintar dan kurang pintar, serta strategi akselerasi di sistem paket, padahal seharusnya di sistem SKS).

5. Penilaian autentik
Menjelaskan konsep dasar penilaian berdasarkan proses, taksonomi bloom (pengetahuan, pengertian, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi) dan konsep ipsative (sebelum dan sesudah anak mendapat materi). Serta tiga alat penilaian autentik: penilaian kognitif, psikomotorik, dan afektif.

Sebenarnya bukan konsep baru yang dituangkan dalam buku ini. Namun gaya bahasa penulis yang menjadikan buku ini menarik dan seakan mudah diaplikasikan saat mengajar. Meski saya tahu, tetap saja tidak mudah menerapkan sebuah konsep pada manusia yang begitu banyak memiliki variabel serta dinamis. Pengalaman penulis sebagai konsultan pendidikan di sekolah yang ingin menerapkan strategi MI di buku ini cukup mencerahkan.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Menjadi guru profesional berarti menjadi guru yang tidak pernah berhenti belajar." (H. 148)

"Informasi jadi memori jangka panjang di otak:
1. Terkait dengan keselamatan hidup
2. Memiliki muatan emosi yang kuat terhadap seseorang
3. Memberikan penghargaan terhadap eksistensi diri
4. Mempunyai frekuensi yang tinggi (selalu diulang-ulang)" (h. 145)

Meta morfillah

02 July, 2016

#Day27 Langit-langit

#Day27 Langit-langit

Kalau saya bilang ini langit-langit, percaya gak? Terlihatnya seperti tangga turun ya, difoto dari ketinggian tertentu dan ianya berada di bawah. Padahal saya mengabadikannya sambil rebahan. Beda kan perspektifnya?

Lalu saya teringat cuplikan kalimat di sebuah buku, "Kamu bilang Allah itu dekat dan ada dalam diri kita, tapi tiap berdoa kamu selalu mendongakkan kepala ke atas, bukannya menunduk menatap diri sendiri, seakan Allah itu jauh."

Lagi-lagi perspektif... Allah ada dalam diri kita, tepatnya dalam hati kita, begitu dekat sebagaimana urat leher kita. Tapi kita mengasosiasikan Allah Maha Besar, jauh lebih besar dari ciptaanNya, alam semesta ini. Bahkan jauh lebih besar dari langit yang mampu kita tatap dengan terbatas. Perspektif bisa dilihat dari sudut mana pun. Mutlak dan absolutkah sebuah perspektif? Salahkah bila perspektif kita berbeda?

Seperti langit-langit yang terlihat bagai lantai. Lalu kita saling berdebat tentang pembenaran pendapat kita. Lalu kita saling menyalahkan. Lalu apa yang kita dapatkan dari perdebatan?

"Janganlah kamu berdebat. Akan dijanjikan surga bagi yang menghindari perdebatan meski kamu berada di pihak yang benar."

Meta morfillah

01 July, 2016

#Day26 Bebek

#Day26 Bebek

Tiga kali dalam seminggu ini, sekalinya saya buka bersama, entah mengapa di tempat bebek terus. Senin di bebek slamet bogor, kamis di bebek pak ndut bogor, dan jumat ini di kem's duck jakarta. Sama-sama bebek, tapi masing-masing memiliki cita rasa yang berbeda. Terutama sambalnya. Dipikir-pikir... bebek ya bebek, berkaki dua, tapi kok bisa beda?

Sama seperti manusia, sama anggota tubuhnya tapi bisa beda hasil pemikirannya. Beda lingkungan, beda perilaku. Mungkin lingkungan atau teman ibarat sambalnya di bebek. Semakin dipikir, saya enggak mau jadi manusia yang seperti bebek. Cuma mengekor dan kwek kwek kwek. Nurut tanpa pernah bertanya mengapa jalan ini yang dipakai? Apa dasarnya? Dan mengapa tak bisa berbeda serta memilih jalan/pendapat yang antimainstream.

Manusia tidak sama seperti bebek, tapi saya banyak menemukan manusia yang terkena sindrom bebek. Tak berani berkata benar demi menyelamatkan comfort zone. Iya-iya dengan cepat lalu mendumel di belakang. Atau saya termasuk salah satu di dalamnya?

Aah... saya ngomong apa sih? Kok jadi enggak jelas... kayaknya overdosis bebek nih!

Meta morfillah

Text Widget