Pages

13 June, 2016

#Day8 Kenangan

#Day8 Kenangan

Pernah kudengar ungkapan "Kenangan jauh lebih abadi dari manusia itu sendiri."

Rasanya tepat sekali. Melalui benda-benda yang diwariskan atau foto yang merekam jejak kefanaan manusia. Hingga generasi jauh di bawah kita, yang mungkin tak pernah kita duga akan mencari sosok kita melalui kenangan yang kita tinggalkan. Seperti cucu, cicit, yang bahkan tak sempat bersua dengan kita sebab kita tiada lagi di dunia.

Seiring berlalunya waktu, kenangan tak lagi menjadi privasi dalam album foto keluarga yang teronggok di sudut lemari berdebu. Kenangan bisa kita sebar di dunia. Melalui media sosial. Bahkan berupa status kita, updatean kita sehari-hari di dunia virtual ini. Kenangan bagaimana yang kelak ingin kita bangkitkan? Baik atau burukkah? Pilih dan pilahlah sesuai konsekuensi yang kamu hendaki. Mau mengeluh terus silakan. Mau memotivasi kebaikan terus silakan. Semua terserah Anda. Tapi bersiaplah, itu akan menjadi bagian dari sejarah dan kenangan kita kelak.

Lalu, bagaimana kenangan kita akan ramadhan sebelumnya? Lalu, apa yang ingin kita spesialkan di ramadhan kali ini agar terkenang di ramadhan berikutnya dengan indah?

Ah... manusia, betapa fananya dirimu. Bahkan kau kalah dengan kenanganmu itu sendiri. Menulislah, agar kau abadi... dikenang melintasi jarak, waktu, dan dimensi.

Meta morfillah

12 June, 2016

#Day7 Pembiasaan

#Day7 Pembiasaan

Kapan kali pertama kamu memiliki mukena? Kapan kali pertama kamu shalat? Kapan kali pertama kamu masuk masjid? Kapan pembiasaan ibadahmu dimulai?

Bagaimana perasaanmu di kali pertama itu? Ingatkah?

Mungkin kita sudah tidak terlalu ingat lagi kapan kita memulai semua rutinitas itu. Pembiasaan orangtua kita dahulu dalam mengenalkan Allah pada kita. Tapi, saya yakin bahwa semua pembiasaan itu menimbulkan sebuah rasa senang di hati kita saat itu. Persis anak kecil ini. Ia baru memiliki mukena baru. Berkali ia meminta dipakaikan ulang mukenanya setelah ia lepas saat gerah. Pun saat diajak ke masjid. Ia begitu riang. Meski belum terlalu tertib mengikuti shalat, tapi ia bahagia. Serasa pulang ke rumah yang paling nyaman.

Bahagia... sebab ia diterima lingkungan yang sadar bahwa pembiasaan itu dimulai perlahan. Bahagia... sebab ia dimaklumi perkembangannya hingga nanti ia sadar harus bersikap seperti apa di tempat suci. Bahagia... sebab ia diizinkan berada bersama orang dewasa yang ia cintai, meski sulit ia mengerti mengapa banyak larangan di dunia orang dewasa itu.

Maka pembiasaan... butuh lingkungan yang kondusif. Semoga dengan bulan mulia ini, pembiasaan mengendalikan hawa nafsu kita berjalan lancar. Toleransi semakin dipraktikkan, tidak sekadar digaungkan tanpa penghormatan. Satu bulan pembiasaan menjadi orang yang lebih shalih semoga membuat kita terbiasa shalih di sebelas bulan berikutnya.

Meta morfillah

#Day6 Kekhawatiran dan Doa

#Day6 Kekhawatiran dan Doa

Kekhawatiran itu manusiawi. Seperti Rasulullah di Hari Badar. Saat beliau melihat betapa banyaknya musuh dan rapuhnya kaum muslim yang gentar melihat musuh 3 kali lipat lebih banyak dari mereka. Hingga meluncurlah doa dari bibir yang mulia itu:

"Ya Allah, jika golongan ini Engkau biarkan binasa, Engkau tak akan disembah lagi di muka bumi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah lagi selamanya setelah hari ini."

Khawatir yang disandarkan pada Allah. Ia untai ke langit, bukan rebah ke bumi. Menjelma doa nan didengar dan dikabulkan.

Yaa... seringkali kita terlalu khawatir hingga lupa berdoa dan menyampaikannya pada Sang Penyelesai Masalah yang Maha Kuasa. Meski tanpa kita beritahu, Allah adalah Maha Tahu... namun doa bukanlah untuk memberitahu, melainkan untuk berbincang, merayu dan berpasrah padaNya. Kita berdoa untuk menguatkan keyakinan kita, bahwa apa pun yang kita khawatirkan akan terlewati selama Allah menjadi sandaran kita.

Kadang... kita lupa, sesuatu itu kuat bergantung sandarannya. Mungkin, bila kekhawatiran yang manusiawi itu muncul lagi, kita harus mengingat bahwa sesungguhnya kita adalah orang asing di bumi ini. Surga tempat kita berasal, maka langitkan doa kita agar terlepas belenggu manusiawi di bumi ini. Yaa... pada Allah kita bersandar. Pada Allah kita kembali.

Meta morfillah

11 June, 2016

#Day5 Yang terlihat

#Day5 Yang terlihat

"Aku tak menyangka bahwa hidupmu pun cukup berat. Tapi kau tampak tak pernah punya beban. Selalu ceria, seperti tak pernah punya kesulitan dalam hal apa pun, baik finansial, sosial, dan lainnya. Kau selalu memperlihatkan hal menarik dan bahagia dalam hidupmu. Travelling ke beragam tempat, wisata kulineran dan foto-foto tersenyum."

Aku tersenyum simpul, "Untuk apa kuperlihatkan kesedihan dan kegelapan pada dunia, jika aku ingin membuat dunia ini berwarna? Apa yang kuposting di dunia maya ini, bebas bagi yang menafsirkan. Mereka akan menafsirkan semau mereka. Mereka hanya melihat apa yang terlihat. Mengenai apa yang sebenarnya terjadi di foto itu, mereka tak akan pernah mau tahu perjuangannya dan apa yang sebenarnya kulakukan. Untuk apa pula aku menerangkan susah payahnya?"

"Yaa... aku salah tentangmu. Kupikir hidupmu begitu bahagia hingga membuat iri."

"Kebahagiaan itu tidak akan pernah sempurna selama kita belum di surga. Tapi aku selalu percaya bahwa Allah tak akan pernah memberiku sebuah kesulitan tanpa dua kemudahan. Juga... sebab aku dikaruniai keluarga dan teman yang hebat. Jangan menilai orang dengan mudah dari apa yang terlihat, sebelum kamu menapaki dunia yang ia pijak."

Meta morfillah

09 June, 2016

#Day4 Bihun

#Day4 Bihun

Entah sejak kapan ini dimulai, saya pun lupa. Namun beberapa tahun belakangan setiap berbuka puasa ramadhan, saya akan uring-uringan bila belum menyantap bihun dengan sambal kacang. Meskipun saya ikut beragam acara bukber, tetap saja saat kembali ke rumah saya akan mencari penjual bihun bila mama atau kakak saya tidak membuatkan. Pernah pula saya hunting bihun dengan bersepeda di pukul 22.00 bersama sahabat saya, hingga hanya mendapatkan sisa bihun di seorang pedagang di RT yang jauh dari rumah saya. Rasanya ada yang kurang bila tidak menyantap bihun di bulan Ramadhan.

Di Jakarta, saya punya langganan beli bihun seharga Rp 3.000. Namun di Bogor, lagi-lagi saya belum beradaptasi sempurna menemukan penjual bihun yang cocok. Sambal di sini rasanya kalau tidak manis ya asin. Kurang cocok dengan lidah saya yang begitu suka pedas. Saya uring-uringan, tapi saya tahan. Logika saya mengatakan bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan sebab akan mengurangi rasa syukur saya pada makanan yang tersedia. Tapi, hati dan rasa saya tetap bermuram. Hingga kemarin, saya belum berbuka dengan bihun.

Pak ustad bilang di kajian tadi siang bahwa doa orang yang berpuasa itu diijabah. Saya dalam hati berdoa semoga ada bihun dengan sambal kacangnya di rumah. Lalu ketika pulang, mama berkata tetangga sebelah memberikan semangkuk bihun dan bakwan beserta sambal kacangnya. Waahh... doa saya didengar!

Bahagia itu sederhana. Sesederhana menginginkan bihun tanpa ekspektasi berlebih lalu dihadirkan. Mungkin, besok saya akan berdoa agar KAMU yang dihadirkan dalam hidup saya. Melengkapi Ramadhan dan hari selanjutnya. Boleh, kan, Allah?

Selamat menanti berbuka. Jangan lupa bersyukur. Jangan lupa Bahahahahagia!

Meta morfillah

Detik menuju pisah

"Bu, kenapa pulangnya cepat sih, setengah 12?"

"Loh, bukannya kalian malah bilang lama? Kalian kan suka bandingin sama teman kalian yang pulangnya jam 11, tapi kalian jam 2. Sekarang dipulangin cepat, malah pengen lama. Kumaha iyeu teh?"

"Jam 1 aja, Bu pulangnya. Bosan di rumah. Enakan di sekolah."

Saya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Lalu mereka berebutan memeluk saya. Seorang murid akhwat berkata pada saya, "Bu... Ibu ikut ke rumahku, yuk!"

"Ada acara apa di rumahmu?"

"Gak ada. Aku pengin ajak Ibu main aja ke rumahku. Aku gemeeeeeeeessss banget sama Ibu."

"Yee... memangnya Ibu boneka bikin gemas!?"

"Iyaa... Ibu tuh lucu. Ibu cepetan dong hamil, biar dedenya bisa main sama kita!"

"Ih mana bisa. Ibu Meta nikah aja belum," jelas murid ikhwan terpintar di kelas.

"Aah... Ayo dong Ibu nikah. Cepetan."

"Aduuh... memangnya nikah kayak mau jalan-jalan? Bisa langsung cepetan. Doakan saja yaa..."

"Aaamiiinn... kita selalu doain ibu kok. Semoga Ibu nikah sama Pak *****"

"ISTIGHFAAAARR!!"

"HAHAHAHAHA"

Lalu malah pipi saya dicubit-cubit dan diserbu pelukan mereka. Ah... tinggal beberapa hari lagi kebersamaan dengan mereka. Setelah itu mereka libur dan kami berpisah. Pasti... akan sangat merindukan mereka. Terpilih untuk masuk dalam kehidupan dan kebahagiaan masa kecil mereka yang giat belajar dan sholih adalah sebuah anugerah. Mungkin nanti, saya hanya akan menjadi salah satu nama yang lupa mereka ingat sebab hanya sekadar hadir 7 bulan dalam periode hidup mereka. Tapi bagi saya, mereka akan hidup selamanya dalam ingatan saya. Anak-anak saya yang hebat. Sebuah kisah klasik untuk masa depan.

Meta morfillah

#Day3 Jalan

#Day3 Jalan

"Bagaimana di kota hujan, Met? Enak ya jalanannya?"

"Enak banget. Tidak ada macet dan lampu merah. Dari aku berangkat sampai nyampe tempat kerja melihat gunung, kebun, dan hijau-hijau. Udaranya sejuk, adem, langit cerah, masyaa allah."

"Wah, enak banget. Pasti kamu betah di sana."

"Masih ada yang kurang. Tidak ada kalian yang kusayang di sana."

Ini adalah foto jalan yang tiap hari saya lalui dan saya sempatkan tadi untuk mengabadikannya.

Seindah apa pun jalan yang kita lalui tiap hari, tidak akan mampu menghibur bila tidak ada teman yang bisa kita ajak bersama ke jalan itu. Minimal untuk kita ceritakan tentang jalan itu. Kita tidak bisa menceritakan betapa birunya langit di sana, dingin dan segarnya udara, memanjakan mata pemandangan yang hijau dan gunung menjulangnya. Kita hanya bisa bercerita pada kesunyian.

Seperti itulah jalan Islam. Itulah sebabnya mengapa kita perlu menyeru (dakwah). Sebab surga terlalu luas untuk kita tempati sendirian. Terlalu indah untuk kita nikmati sendirian. Bukankah kita begitu ingin orang yang kita sayangi ada dan menikmati apa yang kita nikmati? Mungkin, seperti itulah yang dirasakan Sang Nabi hingga ia begitu sedih di akhir hayatnya dan hanya mampu berkata, "Ummati... ummatii..."

Sebab Nabi tahu betapa indahnya jalan Islam berdasarkan Al Quran dan hadits, namun umatnya tetap saja memilih berada di jalan yang semrawut, berpolusi, dan membuat sakit.

Meta morfillah

07 June, 2016

#Day2 Berkah

#Day2 Berkah

Ramadhan membuat banyak orang terlihat lebih sholih. Terbukti dengan barisan jamaah di masjid yang kian bertambah. Banyak pula yang memasang target seperti harus khatam Qur'an 1 kali, shalat berjamaah di masjid terus, rawatib tak lupa, dan lainnya. Memang atmosfer yang tercipta sungguh fastabiqul khairaat... berlomba-lomba dalam kebaikan. Beragam kajian dengan pemateri keren menghiasi layar tv, mimbar masjid dan kita pun berlomba menghadirinya.

Tapi... ada yang perlu dicermati dan diri ini harus sering berkaca. Itu semua adalah ibadah individu, ruhiyah kita sendiri. Lantas bagaimana dengan ibadah sosial kita, ruhiyah sekitar kita? Semoga kita tidak lantas berbangga diri dengan targetan itu hingga lupa bahwa kita menyalahi hak sesama. Misal, saking kita ngejar khatam qur'an, waktu istirahat kerja melewati batasnya karena asyik ngaji. Tarawih dan subuhan di masjid, waktu tidur berkurang, lalu di kantor jadi lemas dan tidak seenergik biasanya hingga banyak pekerjaan yang melewati deadline bahkan terbengkalai. Semoga, kuantitas ibadah yang meningkat tidak membuat kualitas performa diri kita merosot tajam. Menyedihkan, bila kita sibuk pada diri sendiri lalu abai pada sekitar.

Dan tentu saja, bagi yang sudah baik kuantitas dan kualitas ibadahnya, berhati-hatilah pada godaan sombong dan bangga pada diri sendiri. Harus ingat selalu, bahwa segala ibadah yang telah kita lakukan disebabkan ridha dan izin Allah yang memampukan dan menggerakkan hati kita menujuNya.

Cek lagi dan terus cek, berkahkah semua yang telah kita lakukan? Luruskan niat.

Barakah... adalah bertambahnya kebaikan dan manfaat. Semoga Ramadhan kali ini, keberkahannya makin terasa pada diri kita.

Meta morfillah

06 June, 2016

#Day1 Kangen

#Day1 Kangen

Kangen suara azan. Kangen salat tarawih di masjid. Kangen berjamaah di masjid. Kangen sahur mukul bedug. Kangen dengar marbot ngaji via speaker. Kangen jajanan menjelang berbuka.

Semua itu menimbulkan kangen, ketika yang biasanya ada atau dilakukan mesti sirna karena beda budaya dan pemahaman. Tidak ada azan di sini. Tidak ada speaker di masjid sini. Tidak ada jamaah wanita di masjid sini. Tidak ada rame-ramean bangunin orang sahur di sini. Yang ada hanya kesunyian. Mungkin, di sini tempatnya belajar tawadhu. Atau kepompong bagi gadis yang menjaga diri dengan berpuas hati beribadah di rumah sendiri.

Meta morfillah

05 June, 2016

Perpisahan kelas 6 angkatan I

Genap 7 bulan saya mengajar di sekolah ini. Sekolah yang membuat saya banyak belajar, dengan berbagai target hafalan dan pengetahuan umum lainnya. Suatu kebanggaan, saya terpilih sebagai salah satu panitia tim acara perpisahan kelas 6 angkatan pertama. Yaa... event pertama bagi sekolah ini, hingga belum ada rujukan acara harus bagaimana. Meskipun saya tergolong baru, entah apa dasar pertimbangannya atasan memilih saya. Jujur saja, kepanitiaan perpisahan ini cukup menguras tenaga, pikiran dan hati saya. Sebab koordinasi banyak ke luar. Ke komite, ekskul, dan anak-anak dari kelas 1-6. Waktu mengajar saya di kelas agak berkurang. Beruntung saya memiliki partner yang pengertian.

Lalu tepat Sabtu (4/6/2016) lalu acara terselesaikan dengan baik. Meskipun malam sebelumnya saya tak bisa tidur nyenyak dan banyak mengadu pada Allah untuk kelancaran acara, rasanya semua terbayar lunas saat acara berjalan sesuai harapan. Kendala kecil memang ada, namun tak begitu memengaruhi.

Finally... alhamdulillah thanks to Allah SWT.


Nb:

Paman datang (1=1,3,5; 2=1,4,6; 3=2,5,7)

1 2 1. 1 2 1

2 2 1 1 3 3 1 1. 2 2 1 1 3 3 1 1


Meta morfillah

Text Widget