Pages

13 February, 2016

Perjalanan tangan

PERJALANAN TANGAN

Tuhan tidak bisa berada di semua tempat sekaligus, karena itulah Dia menciptakan para ibu. (Pepatah Yahudi)

Seorang ibu muda sedang menidurkan bayi perempuannya yang sakit flu di malam yang gulita. Hanya ada mereka berdua di rumah. Hanya ada suara detak jantung keduanya dan detik jam yang menggema di keheningan. Setelah berjam-jam akhirnya bayi itu tertidur juga, meski nafasnya berbunyi. Tangannya menggenggam baju ibunya, tepat di bagian dada. Tangan yang mungil, bersih, putih, halus, lembut, belum tersentuh kerasnya dunia. Sang ibu mengelus tangan itu dengan sayang. Pikirannya membelukar ke waktu-waktu mendatang.

Tangan mungil itu, akan mulai mengenal tantangan saat kakinya mulai menjejak bumi. Tangan yang mungkin akan sering tergores atau terluka saat belajar merangkak, berjalan dan memenuhi rasa ingin tahunya. Tangan itu akan lebih sering memegang pensil saat ia mulai belajar menulis. Tangan itu akan banyak membuka pintu saat remajanya, mungkin juga tangan itu akan menghapus banyak air mata atau menjadi penyebab air mata ibunya. Perlahan tangan itu akan mengepak kopernya sendiri. Tangan itu akan sering membuka pintu rumah untuk meninggalkannya, bekerja, bermain, atau bepergian. Lalu tangan itu akan sering pula menutup pintu yang dia tinggalkan, untuk kembali. Mungkin tangan itu akan jarang menyentuh barang-barang di rumah lagi. Sang ibu berharap agar tangan itu mampu membuka lebar dan memeluknya sesering mungkin di hari senjanya kelak. Tangan itu pula yang kelak membantunya berjalan saat kakinya sering nyeri dan ngilu kedinginan. Semoga saja tangan itu paham mana yang prioritas. Sang ibu pun amat berharap agar tangan itu lebih sering terkatup untuk berdoa, lebih sering terulur untuk menolong dan berbagi dengan sesama. Hingga suatu hari tangan itu akan diberi cincin di jari manisnya dan akan ada tangan kokoh yang menggenggam tangan halusnya. Lalu tangan itu melahirkan tangan mungil lainnya. Di suatu malam nanti, tangan itu akan mengelus tangan mungil bayinya dan membayangkan seperti apa tangan mungil itu kelak. Persis seperti dirinya saat ini.

Meta morfillah

12 February, 2016

Saat bahagiaku

"Ibu Meta sekarang agak gemukan ya, dibanding kali pertama mengajar. Terlihat dari pipinya." Komentar seorang rekan guru.

Saya senyum saja. Bagaimana tidak makin berisi, bila tiap hari saya harus makan catering nasi dengan lauk pauk empat sempurna dan harus habis di depan anak-anak. Padahal porsi nasinya saja bukan porsi saya, terlalu banyak. Belum lagi semingguan ini, saya diberikan snack dari bekal anak-anak yang kebanyakan coklat dan manis. Lalu snack itu mereka hias-hias dan bentuk dengan permen, dan saya harus memakannya di depan mereka. Setelahnya saya harus memberi nilai, seperti acara masterchef. Ditambah, saya banyak tertawa karena ulah mereka tiap hari. Seperti hari ini, seorang anak akhwat membuatkan saya gambar shizuka yang tersenyum di alam kubur. Kata anak tersebut, ibu meta seperti ustadzah oki saat bercerita tentang kisah umar bin khattab. Anak itu ingin menggambar ustadzah oki tapi tidak bisa, jadi dia menggambar shizuka saja. Lalu mengapa di alam kubur dan tersenyum? Sebab orang baik tersenyum saat masuk alam kubur. Dari alam kubur baru masuk surga.

Yaa... semoga saja, salah satu dari mereka akan menarik saya ke dalam surga kelak. Aaamiiin...

Meta morfillah

10 February, 2016

Apa cita-cita ibu?

"Ibu Meta, ini snack time dari kita."

"Kita kumpulin masing-masing, Bu. Coba dimakan, Bu!"

Mereka menyodorkan sebuah roti tawar yang dihias dengan yupi sebagai telinga, caca kacang sebagai hidung dan pipi merah, biskuit dipotong setengah sebagai mulut yang tersenyum, dan mata dari dua roti unyil rasa abon.

"Waah... jazakumullah khair. Sini ibu foto dulu, ceritanya kalian chef handal di masa depan."

Cekrek!

***

"Ibu Meta, cita-citanya dulu apa?"

"Jadi guru ya, Bu?"

"Bukan. Cita-cita ibu mau jadi ibu nomor satu."

"Lah ibu, itu mah bukan cita-cita! Ibu kan memang sudah jadi ibu. Ibu Meta dipanggilnya."

"Hehe... bukan. Itu mah panggilan. Yang ibu maksud, ibu ingin punya anak dan membesarkan anak ibu dengan baik. Paham?"

"Oohh... gitu. Ibu udah nikah belum?"

"Belum."

"Asyiiikk... ibu nikah sama pak ***** aja, Bu! Pasti bahagia!"

"Tahu dari mana kamu ibu bakal bahagia sama pak *****?" Aku terbahak. Anak-anak ini kadang merasa lebih tahu melebihi usianya.

"Kan bapak itu baik. Kita aja semua suka, Bu!"

"Oh iya, ibu mau berapa punya anaknya?"

"Mau sebanyaknya yang Allah kasih."

"50, Bu?"

"Yaa kalau dikasih sama Allah segitu boleeh..."

"Waah banyak banget, Bu! Bisa penuh satu masjid sama anak ibu doang."

"Haha... iya. Ini aja ibu udah punya 23 anak (Sambil menunjuk masing-masing murid. Mereka pun tersenyum dan berceloteh bangga dibilang anak Bu Meta). Apalagi kalau ikhwannya 40, salat jumat ga usah ke masjid deh. Di rumah aja sama saudara-saudaranya. Kan batas minimal salat jumat 40 orang, ya?"

"Iya, Bu! Waah rumah ibu harus gede. Biar anak ibu muat. Semoga Bu Meta kaya. Aaamiiin."

"Aaamiin."

"Ibu, sini tangannya. Dua-duanya."

Lalu pergelangan tanganku dibalik. Mereka menghitung jumlah urat nadi yang tampak.

"Wah, ibu anaknya enam. Nih ibu hitung deh yang hijau sama ungu!"

"Kalau aku cuma satu, Bu!"

"Kalau aku delapan, Bu!"

Hahaha... teori baru. Ada-ada saja! Begitulah kulewati hari-hari bersama mereka. Kawan sekaligus guru kecilku.

Meta morfillah

[Review buku] He 2+ & Balon udara

Judul: He 2+ & balon udara
Penulis: Rosa Amanda Salim
Penerbit: FoUmediapublisher
Dimensi: 292 hlm, september 2009
ISBN: 978 602 95540 0 7

Novel ini berkisah tentang Helena Dustine Cakrawala, putri seorang pengusaha yang berusaha melarikan diri dari masa lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa kakak lelakinya membuat ia tak sanggup berada di Jakarta, terutama bersekolah dan bertemu dengan kedua sahabatnya, Nabila dan Sarah. Akhirnya Helena tinggal di Paris dan menjadi model yang amat sukses. Namun kepergiannya ke Paris harus dibayar dengan kebebasannya, sebab ia harus menerima menjadi tunangan Max, rekan kerja ayahnya yang workaholic. Melalui teori helium dan balon udara, penulis berusaha menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

"Balon udara tak akan dapat terbang tanpa helium. Aku adalah balon udara dan kamu heliumnya." (Hlm. 6)

"Balon udara berisi helium yang dipanaskan, supaya dia bisa terbang. Anggaplah kamu sebagai balon udara, helium sebagai teman-teman dan masa lalumu. Kamu bisa terbang karena masa lalumu itu, walaupun pahit. Mungkin kamu enggak sadar sama semua itu. Helium adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Sama kayak teman-temanmu yang mau kamu lupakan itu. Kamu enggak sadar kalau mereka yang menerbangkan kamu sampai seperti sekarang." (Hlm. 185)

Secara pengemasan, saya kurang suka. Kertasnya tipis, jenis font, jarak, dan layoutnya seperti buku bajakan. Covernya aja menurut saya enggak nyambung. Mengapa gelas dan air? Itu mah H2O. Kalau He 2+, harusnya gambar balon berisi udara.

Secara isi, apalagi... dari awal saya baca sudah begitu ketebak isinya. Namun alur/logika berpikirnya menurut saya begitu absurd. Banyak yang tidak pas, malah membuat bingung karena ada pemaksaan konflik. Semacam lebay. Hal kecil yang selalu dijadikan konflik utama, flashback mengenai kematian kakaknya terlalu dibesar-besarkan. Dan penyikapannya menurut saya seperti memukul nyamuk pakai wajan. Menyebalkannya lagi, hal itu diungkit-ungkit terus dan diulang sampai membosankan. Beragam tokoh pembantu pun hilir mudik tidak jelas, sekadar meramaikan tanpa ada kepentingan. Terkesan asal membuat tebal sehingga memenuhi syarat menjadi novel. Seperti tokoh Gina, untuk apa dimunculkan kalau tidak berguna? Aduuh... benar-benar saya tak habis pikir kok karya seperti ini bisa lolos diterbitkan ya?

Jika saja saya tak konsisten dengan janji saya pribadi untuk menyelesaikan membaca buku apa pun dan membuat review ala saya agar saya ingat kembali cerita buku yang telah saya baca, ingin sekali saya berhenti dan tak melanjutkan membaca di halaman pertama.

Saya apresiasi 1 dari 5 bintang.

Meta morfillah

09 February, 2016

Belajar dari Maryam demi ridhaNya

Di beranda facebook kutemukan gambar dan tulisan yang cukup menohok. Begini kira-kira bunyinya, "Fenomena akhir zaman, wanita sibuk memikirkan perihal jodoh tapi lalai/jahil terhadap Al Quran."

Saya pun berkaca pada diri pribadi. Yaa... tak dipungkiri, dari lucu-lucuan hingga kadang kepikiran kapan bahkan kepikiran terus tentang jawaban kesendirian ini, tapi saya sering lupa sejauh mana ibadah saya, hafalan quran, baca quran dan pengamalannya. Malu... malu sekali rasanya. Beragam tulisan yang saya hasilkan rasanya menampar wajah saya sendiri. Meminta validasi lisan dengan bukti amal perbuatan.

Menjaga izzah (kehormatan diri) wanita yang istiqomah menjomblo sampai dihalalkan seharusnya seperti Maryam. Ya, maryam binti imran yang namanya termaktub dalam Al quran surat kesembilan belas. Wanita yang dimuliakan Allah hingga diberi penghargaan abadi menjadi nama surat dalam al quran tersebut. Wanita yang dilebihkan dari empat wanita yang dipastikan menjadi penghuni surga: Asiyah, Khadijah, Aisyah, dan tentunya Maryam. Mengapa Maryam begitu istimewa?

Sebab Maryam menjaga kehormatannya dengan takwa. Kesendiriannya menjadi ladang amal yang besar. Meski kisahnya yang hamil tanppa adanya suami tidaklah akan terjadi lagi dan tentu berbeda dengan fenomena masa kini. Di mana banyak wanita yang sudah dicabut rasa malunya hingga hamil di luar nikah menjadi hal biasa. Memiliki anak tanpa pernikahan yang sah, tanpa diketahui siapa ayah dari bayinya menjadi berita keseharian. Bahkan rasa sakit saat melahirkan pun Allah cabut, hingga tiada lagi rasa kesyukuran, perjuangan hidup dan mati, pahala saat melahirkan, dan kasih sayang terhadap anak yang dilahirkan, membuat para wanita tersebut dengan mudah membiarkan anaknya mati, aborsi, atau dibesarkan seadanya dan kembali melakukan zina itu lagi. Bahkan keledai pun tak akan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali. Naudzubillah...

Maka, berkaca pada Maryam... dalam kesendiriannya ia tetap menyibukkan diri dan memenuhi kewajiban dan tujuan ia dicipta: beribadah. Begitu sayangnya Allah pada kita, hingga tersedia beragam kisah dan contoh untuk setiap keadaan dengan sirah sahabat atau sahabiyah, serta para salafus salih. Tinggal kita yang mempelajari dan meneladaninya, mau seperti apa?

Semoga saya, dan para muslimah lainnya yang belum dipertemukan dengan jodohnya mampu meneladani Maryam. Bahwa surga bisa kita raih, meskipun mungkin kita belum menggenapi agama ini dengan menikah. Tentunya tanpa berputus asa bahwa setiap hal ada pasangannya. Asal Allah ridha, segala perkara selesai.

Meta morfillah

06 February, 2016

Keteraturan dalam ketidakberaturan

KETERATURAN DALAM KETIDAKBERATURAN

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponsel saya melalui aplikasi whatsapp. Ternyata pesan dari sahabat masa kecil saya, yang sempat terputus komunikasi selama beberapa tahun belakangan. Dulu, kami sering dibilang kembar dan tak terpisahkan. Bahkan dia amat menginginkan saya dan dia bersekolah di sekolah yang sama. Terbayang akan melewati indahnya masa sekolah dengan sahabat yang sudah begitu klop. Namun ternyata Allah menakdirkan lain. Kami mengikuti sebuah seleksi ketat sebuah SMK yang bahkan tak pernah saya ketahui keberadaannya kalau bukan dari dia. Kami duduk sebangku saat mengerjakan soal. Soal kami berbeda kode. Bahkan saya membantunya mengerjakan soal diam-diam, saking kami ingin berhasil masuk sekolah ini. Namun,  takdir Allah benar-benar jauh dari harapan. Saya lolos, sementara dia tidak. Parahnya lagi, keluarga saya begitu menginginkan saya bersekolah di SMK tersebut, sementara saya tidak menginginkannya. Saya ikut tes sekolah itu, hanya karena ingin bersama sahabat saya. Jika tak berhasil, maka saya sudah memiliki SMA pilihan yang memang jadi incaran di jakarta. Saya begitu ingin mengikuti program pertukaran pelajar di SMA tersebut. Nyatanya Allah membuat skenario hidup untuk saya, yang tidak sesuai dengan keinginan saya.

Dari ketidakberhasilan itu, meski kami berusaha mencari sela untuk tetap kompak bersama. Seperti memaksakan berangkat sekolah bareng, kadang lewat rute saya, kadang lewat rute dia, dengan konsekuensi kami telat atau kepagian. Bahkan sampai kadang kami saling menyelundupkan diri ke dalam sekolah masing-masing demi mengenalkan dunia sekolah kami pada satu dan lainnya. Kami pun saling tahu siapa saja teman dekat kami di sekolah, siapa saja lelaki yang menyukai kami. Bahkan di setiap tanggal 14 Februari, saat orang-orang merayakan hari kasih sayang, kami menciptakan hari persahabatan. Itulah hari di mana kami saling memberi hadiah dan surat yang berisi pujian tentang sahabat. Haha... sungguh kebodohan yang lugu.

Lalu, dari pesan yang menerbitkan kenangan lama yang tak lekang itu, dia mengabarkan pada saya bahwa bulan depan ia akan menikah. Seperti janji masa kecil kami, saya adalah orang pertama yang akan diberitahu dan diundang. Lalu, ia pun melontarkan pertanyaan yang berisi harapan dan doa agar bisa bersama merayakan momen penting dalam hidup kami.

"Kamu kapan, Met?"

"Doakan terus yaa..."

"Coba kita bisa barengan ya nikahnya. Double date, double wedding. Semoga kamu cepat nyusul ya, Met!"

"Untuk yang kali ini, kita tidak bisa memaksanya seperti mendaftar sekolah dulu. Jadi, aku akan mengikuti skenarioNya dengan baik dan menjadi pemain yang profesional saja."

Pada akhirnya, segala usaha kita akan terbentur pada kehendakNya. Terkadang, kita merasa hidup kita begitu ruwet, tak linier, dan kusut tak saling menyambung menjalin kisah yang indah. Tapi, dari penglihatan Allah di atas arsy sana, hidup kita mungkin merupakan sulaman indah yang membentuk sebuah pola indah. Semacam jahitan kristik. Semacam keteraturan dalam ketidakberaturan.

Meta morfillah

31 January, 2016

Doa ketetapan hati

Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'ala dinik

Yaa Allah, yang maha membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami atas agamamu.

Kira-kira seperti itu bunyi dan terjemahan doanya. Doa yang membuat saya meresapi suatu hal yang besar. Bahwa manusia bahkan tidak berkuasa akan hatinya sendiri. Bahwa kontrol hati, khususnya keimanan adalah mutlak milik pemilik dan pencipta hati itu sendiri... Allah SWT.

Bukankah itu doa yang sangat hebat? Bahwa kita, manusia pada akhirnya mengakui kelemahan terbesar kita... tentang hati. Bahwa dalam doa tersebut ada kepasrahan total mengenai status diri kita sebagai hamba. Bahwa iman yang istiqomah hingga akhir adalah sebuah karunia... nikmat. Kesadaran bahwa segala kemampuan kita dalam beribadah, hingga level menikmati ibadah, adalah berkah dari Allah. Allah yang memampukan seseorang melakukan berbagai amalan. Allah yang meridhai hati seseorang untuk terus berIslam secara kaffah hingga sempurna. Maka saat kita sedang merasa amalan kita terbaik, terbanyak, istigfarlah... seharusnya kita banyak meminta ampun, memuji Allah dan bersyukur bahwa kita dipilih Allah untuk masuk ke dalam barisanNya. Jika amalan dan iman kita sedang lemah, maka janganlah berputus asa. Pinta terus padaNya agar kita dimampukan mengejar ketertinggalan kita, agar kita diridhai untuk tetap berada di jalanNya.

Doa yang baru saya sadari... bahwa kita tidak bisa memaksa iman (hati) bila Allah tak mengingini. Contoh kecilnya, secara logika seharusnya bila kita rajin mengulang murajaah dan sangat hebat dalam hafalan, tidak lantas membuat kita mampu menghafal qur'an (hafiz). Mengapa? Sebab Allah tidak menginginkan kita menjadi hafiz. Maka mintalah ridhaNya dahulu, dan jaga adabnya. Perkara iman, adalah hak prerogatif Allah. Tak bisa diukur dengan ukuran manusia yang pasti seperti 1 + 1= 2.

Meta morfillah

28 January, 2016

[Review buku] Kutinggalkan dia karena DIA

Judul: Kutinggalkan dia karena DIA
Penulis: @duniajilbab dan @ummu_rumaisha81
Penerbit: Wahyu Qalbu
Dimensi: xii + 248 hlm, 12.7 x 19 cm, cetakan kesembilan september 2015
ISBN: 979 795 958 9

Dikemas dalam balutan warna dominan hijau di tiap kertasnya, dengan font berwarna hijau tua dan ukuran normal dengan tipe yang santai membuat buku ini cocok sebagai teman perjalanan. Tidak membuat mual saat harus dibaca di dalam mobil. Bahasanya pun keseharian dan ringan.

Inti yang ingin disampaikan dari buku ini adalah agar generasi muda menghindari bahkan tidak menjadikan pacaran sebagai lifestyle. Bahwa lebih banyak mudaharat dibandingkan manfaat yang didapat dari pacaran.

Diawali dari bab pertama yang berjudul goresan cinta penulis mengajak pembaca memaknai cinta, tidak menjadi muslimah murah dan seruan menjadi pribadi hebat berdasarkan contoh salafus salih. Di bab dua, ada beberapa petunjuk untuk para jomblowan dan jomblowati. And the poin is in bab tiga... yang terdiri dari 19 kisah true story dari para followers akun @duniajilbab.

Beragam kisah tersebut, mulai dari yang backstreet, pacaran dengan yang sama sekali berbeda tipe, penderita bipolar, berbeda keyakinan, hingga yang terpaksa aborsi sebab 'kebablasan'. Sungguh miris mengetahui kejadian tersebut nyata dan ada di sekitar kita. Bahkan mereka berasal dari keluarga yang agamis. Innalillahi...

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

27 January, 2016

Ruang tunggu

Menunggu mungkin terasa begitu membosankan. Terutama bila kamu berfokus pada kedatangan yang ditunggu. Entah itu sosok ataukah benda. Tapi bila dalam menunggu kamu fokus pada prosesnya, ada banyak hal yang bisa dinikmati. Hal-hal yang terjadi di saat kamu menunggu di ruang tunggu.

Saat kamu menunggu, sehelai daun mengakhiri masa hidupnya dan gugur bersama angin.
Saat kamu menunggu, seekor ikan beranjak besar.
Saat kamu menunggu, pepohonan mulai merekah dan menampakkan tasbihnya bersama-sama. Bergoyang ke sana kemari.

Banyak keajaiban yang terjadi saat kamu menunggu. Apakah kamu akan melewatkan itu semua begitu saja dan berfokus pada apa yang kamu tunggu tanpa menikmati prosesnya?

Sebab sesungguhnya kita semua sedang menunggu... menunggu kematian menjemput kita. Sementara dunia ini hanyalah sebuah ruang tunggu.

Meta morfillah

24 January, 2016

[Tastqif] ILTIZAM BIL MANHAJ (KOMITMEN TERHADAP PEDOMAN HIDUP)

ILTIZAM BIL MANHAJ (KOMITMEN TERHADAP PEDOMAN HIDUP)

Minggu, 24 Januari 2016
Ustad Taufiq Khulaimi

Sebelum masuk ke materi, ada beberapa hal menarik dari film SANG MURABBI yang diputar selagi menunggu jamaah berdatangan.

"Saat terbersit keinginan untuk berhenti di jalan dakwah, Allah ingatkan dengan mendatangkan orang yang ingin mendekat pada Allah melalui kita. Ingat, bahwa orang datang bukan mencari kita, tapi mencari Allah. Maka kembalilah."

"Sebenarnya kita yang membutuhkan dakwah ini untuk tetap eksis di hadapan Allah. Bukan dakwah yang membutuhkan kita, karena usia dakwah akan jauh lebih panjang dari usia kita."

Oke... sekarang masuk materi!

Ketika kita merasakan nikmatnya tarbiyah, maka jangan merasa "Cukup kita saja yang merasakan", tapi buatlah banyak orang, terutama yang kita sayangi merasakannya juga.

Berpolitik adalah jalan ke surga. Itu adalah sunnah Rasul yang dipahami Abu Bakar setelah wafatnya Rasul. Itulah mengapa Rasul wafat di hari senin, tapi baru dimakamkan rabu. Sebab umat islam harus berkuasa, dan harus ada pemimpin pengganti sebelum rasul dimakamkan.

Sungguh lucu menghadapi fenomena banyak ikhwah yang lama liqo, lebih dari 5 tahun, tapi masih gak yakin dengan manhajnya. Bahkan masih berpikir manhaj lain jauh lebih baik. Padahal fikrah kita begitu jelas. Telah diuji dengan banyaknya fitnah dan ulama yang dipenjara. Bukankah selalu seperti itu saat memperjuangkan kebenaran? Akan membuat musuh tidak suka dan gelombang fitnah serta penjara menjadi keseharian. Itu sudah sunnatullah. Pertanyaan besar malah, jika saat berjuang musuh suka, bahkan membiayai. Apakah itu benar?

Bukan hanya sunnah berpakaian yang harus kita teladani dari Rasul. Tapi juga sunnah perjuangan, sunnah politik, serta ujian yang dihadapi Rasul.

Timbul pemikiran saya bahwa agar sulit mengetahui Islam yang benar, maka dibentuklah jamaah-jamaah. Perhatikan fikrah lain, siapa yang membiayai di baliknya? Mengapa hanya fikrah kita yang terus diserang melalui media dan segala cara, difitnah dan dipenjara? Sebab musuh takut dan tahu bahwa inilah fikrah yang benar. Seperti gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipimpin Imam syahid Hasan Al Banna dengan 20 prinsipnya. Menariknya lagi, saat diteliti dan ditinjau kedua puluh prinsip itu dari ushul fiqih, sama sekali tidak ada yang bertentangan. Berarti ajarannya benar, namun tetap saja banyak yang memusuhi, memfitnah, memenjara, bahkan imamnya harus syahid.

Seharusnya perbedaan fikrah disikapi dengan mengoptimalkan PERSAMAAN agar bisa dibangun kerjasama yang baik dal menghadapi berbagai permasalahan. Sebab sudah diterangkan bahwa Rasul menekankan jamaah dan katsir (banyak) agar Islam tegak di dunia. Yaa... mayoritaslah yang akan menentuka. Seperti pemegang kebijakan di parlemen. Perhatikan seberapa banyak kursi yang tersedia untuk partai islam? Betapa berat mengupayakan aspirasi di antara mayoritas partai sekuler, liberal, dll. Tidak bisa tidak, kita harus terjun berpolitik, tidak hanya tarbiyah saja.

Bahkan terkadang kepentingan dakwah didahulukan di atas hal haram. Contohnya Erdogan pernah berkata "Kalau salam dengan akhwat membuat rakyat Turki memilih saya senagai Presiden, saya akan salaman." Ada kepentingan dakwah lebih besar saat penguasa muslim yang berkuasa.

Lebih baik mengambil pendapat lemah tapi umat bersatu, daripada pendapat yang kuat tapi umat bercerai.

Mengapa kita maulidan? Masalahnya kita perlu SEBAB untuk sebuah akibat. Untuk mengajak umat kembali memperingati dan mempelajari sirah nabawiyah. Sahabat tidak merayakan maulid sebab mereka masih lekat dan ingat akan sirah karena mereka membersamai rasul.

"Tidak akan pernah baik akhir umat ini, kecuali seperti hal yang membuat baik generasi umat pertama." (Imam Malik)

Berlakulah kita dengan dasar manhaj seperti rasul belum menang. 13 tahun di mekkah, berhala tidak dihancurkan bahkan hanya 70 orang yang berislam. Berhala baru dihancurkan pada 8H. Ada strategi, sebelum dan sesudah menang. Maka... perbanyaklah sabar kita seperti rasul saat belum menang. Berkaca pada sirah nabawiyah, ayat Q. S. 11 [Hud]: 112-113 turun di titik terlemah rasul. Situasi ketika ayat tsb turun adalah:
1. Abu thalib sebagai pelindung dan Khadijah sang istri yang menenangkan wafat
2. Rasul dilempari batu di Thaif
3. Rasul takut pulang ke Mekah karena khawatir akan dibunuh
4. Kaum Quraisy semakin berani menghina

Jibril pun menawarkan Rasul untuk membalikkan kota Mekah dengan sayapnya. Tapi apa yang dikatakan Rasul? Rasul menolak dan berharap kelak dari tulang sulbi dan rahim mereka akan lahir penerus Islam yang kuat.

Itulah bukti bahwa dakwah mengahak ke surga, bukan menggiring ke neraka. Sabar kita harus diperluas. Seberat apa pun jalan dakwah, tidak pernah memakai kekerasan, kecuali mereka menyerang dan mengajak perang duluan.

*catatan sepemahaman penulis

Meta morfillah

Text Widget