Pages

20 May, 2015

[Review buku] Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur

Judul: Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur!
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: MELIBAS
Dimensi: 249 hlm, cetakan 2 november 2003
ISBN: 979 96336 14 9

"Dengan berat hati kukatakan: Aku tak punya alasan untuk mengabdi kepadaMu. Aku tidak punya alasan untuk sebuah penyerahan yang absurd." Nidah Kirani

Nidah Kirani, atau yang lebih dikenal dengan nana Kiran, awalnya adalah seorang muslimah yang taat. Berhijab dan berjubah besar, beribadah begitu khusyu', rajin salat, membaca Al Quran, berzikir dan berpuasa. Mendalami amalan sufi dan begitu ingin zuhud. Ia begitu ingin menjadi muslimah yang beragama secara kaffah.

Sayangnya, di tengah perjalanannya ia bertemu sesuatu yang salah. Ia yang lugu, terjerat masuk ke dalam jemaah sebuah organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam dengan mendirikan negara islam di indonesia. Bukannya mengantarkan ia berislam secara kaffah, organisasi itu justru merampas nalar kritis dan imannya. Mengenalkan ia pada rasa kecewa yang begitu dahsyat. Berkali ia menggugat para pimpinan organisasi itu, namun seperti ada hal yang ditutupi. Hingga puncaknya ia melarikan diri dengan teror bahwa jemaah yang keluar dari organisasi haruslah dibunuh. Dalam keadaan itu, ia mulai menggugat Tuhan. Mengapa saat ia begitu total ingin menyembahNya, Tuhan malah seperti tidak peduli dan lari dari tanggung jawab terhadap hidupnya.

Sayang seribu sayang, ia lari pada hal yang salah. Kekecewaan itu ia larikan dalam obat-obatan dan free sex. Ia mencari perhatian tuhan dengan menantangnya. Setiap kali usai bercinta dengan beragam lelaki, tanpa sedikit pun sesal, dia berkata pada Tuhan "Aku hanya ingin Tuhan melihatku. Lihat aku, Tuhan, kan kutuntaskan pemberontakanku padaMu!" Dari petualangan seksnya, ia menganggap bahwa semua manusia bertopeng, dan khususnya lelaki baik dari aktivis kiri hingga kanan (islam) yang selama ini berteriak garang tentang moralitas, begitu dangkal dan tunduk dalam pelukannya. Ia menganggap pernikahan hanyalah pengungkungan. Beragam cobaan juga sempat membuat ia melakukan percobaan bunuh diri, sebagai tantangan pada tuhan bahwa ialah yang memutuskan hidup dan matinya sendiri. Dan saat ia memutuskan menjadi pelacur, tanpa disangka orang yang bersedia membuka jalan dan bertindak sebagai germonya adalah dosennya yang begitu berwibawa, anggota DPRD dari fraksi islam yang sudah tua dan menikah.

Dahsyat sekali pengalaman atau memoar luka muslimah bernama Nidah Kirani ini. Beragam isu seperti feminisme, filsafat, agama, hingga moralitas dipertanyakan. Satu hal yang saya petik, teruslah meminta keselamatan imanmu hingga akhir hayat. Sebab tak ada yang tahu hingga kapan kita akan beriman. Bila iman sudah tercabut, ke mana lagi hati bisa berlabuh dengan tenang?

Menurut penulis, ini adalah kisah nyata temannya yang dituturkan langsung. Melalui 13 pengakuan yang terangkum dalam 13 bab, saya salut sekali bahwa wanita ino berani mengungkapkan apa yang ia alami, pikirkan dan pertanggungjawabannya.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

18 May, 2015

[Review buku] Man Shabara Zhafira

Judul: Man Shabara Zhafira
Penulis: Ahmad Rifa'i Rif'an
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Dimensi: xxiv + 283 hlm, cetakan I 2011
ISBN: 978 602 00 1619 1

Menasihati orang lain untuk sabar, tentu sangat mudah ketimbang mengalaminya sendiri. Tapi, nasihat apalagi yang lebih bijak selain nasihat untuk bersabar? Kesabaran adalah modal dasar pemenang. Sebagaimana sub judul dalam buku ini "Success in life with persistence".

Buku ini terdiri dari 6 bab yaitu dream, action, beautiful life, love, pray and wisdom. Di bab 1, penulis menjabarkan bagaimana memetakan impian hingga rinci dan terukur, disesuaikan kemampuan, dan dituliskan. Lalu di bab 2, penulis menjabarkan tentang memulai aksi dengan berani mencoba, disiplin, dan memperbaiki penampilan. Di bab 3, penulis menjabarkan tentang kebahagiaan dan bagaimana menikmati hidup agar menjadi bahagia. Di bab 4, penulis menjabarkan tentang energi cinta kepada sesama, bahwa hidup jangan hanya sekadar sukses untuk diri dan keluarga sendiri. Di bab 5, penulis menjabarkan tentang konsep doa dan ibadah yang harus dilakukan seiring ikhtiar yang sudah maksimal. Di bab ini, ada 2 puisi yang diselipkan penulis. Terakhir, penulis menjabarkan tentang kebijakan menerima segala keadaan dan situasi hidup kita saat ini, baik itu kehilangan, kesulitan, hingga kematian.

Konsep buku ini dalam tiap sub babnya dimulai dengan cerita, lalu dikaitkan dengan judul dan diakhiri dengan kesimpulan. Beragam contoh cerita ada yang dari buku bacaan, internet, cerita islami, hingga pengalaman yang dialami penulis sendiri. Beberapa cerita ada yang sudah sering saya baca di internet dan buku sejenis yang saya baca terlebih dahulu, bahkan ada yang saya arsipkan di blog saya sebagai motivasi. Yaa.. isi buku sejenis ini (motivasi, pengembangan diri) entah mengapa sebagian besar sudah tertebak, hampir sama, namun tetap laku di pasaran. Mungkin karena memang banyak orang berupaya mencari penguatan untuk mencapai kebahagiaan hidupnya melalui kata-kata positif.

Secara keseluruhan, saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Saya mengutip kutipan di halaman 64 buku ini, yang paling saya suka.

From book "Dare to try"

We were born to try,
Try to walk,
Try to talk,
Try to read,
Try to graduate from school,
Try to achieve great career,
Try to build a business,
Try to love someone,
Try to build a family,
Try to make a better life,
Try to survive.
We'll never stop trying, unless we have died.
All things that have happened to us are the result of our trial.

Meta morfillah

[Review buku] Jangan jadi muslimah nyebelin

Judul: Jangan jadi muslimah nyebelin
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House
Dimensi: 220 hlm, 20.5 cm, cetakan ketujuh februari 2007
ISBN: 979 3651 65 2

Muslimah nyebelin? Kayak gimana tuh? Atau bahkan kamu sering menemukannya, hanya saja mau menegur tapi enggan, gak enak?

Buku ini mengupas tentang beragam hal hingga sikap yang membuat seorang muslimah menjadi nyebelin. Mulai dari fisik, hal remeh yang mengganggu seperti keringat, bau mulut, kebersihan rambut dan tangan hingga aneka rasa bau lainnya. Juga secara penampilan seperti kebersihan wajah, yang seringkali kurang terawat sehingga membuat mata yang melihat jadi jengah, serta penampilan seperti pemilihan warna, ukuran baju, dan style yang berlebihan. Selain itu dari pemilihan kata-kata yang biasanya nyelekit sehingga merusak kegembiraan teman, mencela atau menghina, biang gosip, gak mau kalah, gak lihat sikon, hingga gak bisa menahan komentarnya untuk tidak berkomentar. Terakhir, juga yang paling utama adalah nyebelin secara perilaku. Contohnya suka ikut campur, lelet, jorok, tukang dandan, eksklusif, ratu ngeluh, cepat bilang gak bisa, kuper, gak pela, penggoda, mental gratisan, kaku, miss judge, dan perkataan gak sesuai perbuatan (pacaran).

Membaca buku ini, seperti mengajak saya berkaca lagi. Menimbang, menilai dan mencoba mencari tahu apakah di antara hal-hal tersebut saya pernah atau bahkan sering melakukannya. Mungkin buku ini bisa membuatmu marah, sekaligus tertawa. Tersindir, minimalnya lah. Sebab apa yang diungkapkan memang keseharian dan sering kita temukan dalam keseharian. Meski sebenarnya manusiawi, tapi ketika yang melakukannya adalah seorang muslimah, hal itu menjadi lain. Menjadi semacam tolok ukur bahwa jilbab atau bahkan agamanya kurang bagus, hanya karena kekhilafan pengikutnya.

Saya suka dengan ide cerita yang menyadarkan ini, benar-benar membuat kami para muslimah aware dan seperti mengikuti sebuah salon kepribadian. Gaya bahasanya pun ringan, santai, meski agak provokatif. Tak butuh waktu lama mencernanya. Cukup dua jam saja.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

[Review buku] My stupid boss

Judul: My stupid boss
Penulis: Chaos@work
Penerbit: Gradien Mediatama
Dimensi: 200 hlm, 13 x 19 cm, cetakan kesembilan 2010
ISBN: 978 602 8260 20 6

Pernah ngalamin bos yang suka kena amnesia attack dengan omongannya sendiri? Sedikit-sedikit ancamannya potong gaji? Sok berani dan ngomel-ngomel di belakang, tapi pas berhadapan langsung dengan klien langsung kuncup, bahkan tak jarang nyalahin staffnya?

Jadi karyawan, pasti selalu menarik ngomongin bos. Apalagi kalau bosnya benar-benar gokil kayak di buku ini. Rule 21 yakni pasal 1 'bos tidak pernah salah' dan pasal 2 'kalau bos salah, lihat kembali pasal 1' terasa sekali dalam karakter bos di buku ini.

Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang diawali di blognya, hingga lahir dan diterbitkan dalam format buku ini begitu kocak, konyol dan menghibur. Selain tingkah bos yang ajaib, saya juga belajar tentang sedikit bahasa dan budaya kerja dengan orang asing dan di negeri asing. Ya, penulisnya memang orang indonesia, tapi pengalaman bekerjanya ini adalah saat ia di Malaysia dengan bos yang sebenarnya orang indonesia juga. Membaca buku ini membuat saya berpikir dua hal seperti yang diharapkan penulisnya untuk pembacanya:

You: yo are not the poorest worker in the world.
Your boss: he is not the worst boss in the world.

Meski menurut pengakuan penulisnya ada beberapa nama dan tempat kejadian yang ia ubah untuk menjaga privasi, juga nama bos aslinya tak ia paparkan, tak membuat cerita ini menjadi aneh.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

15 May, 2015

[Review buku] Membaca watak wanita dari caranya dandan, bicara, parfum, dan buah kesukaannya

Judul: Membaca watak wanita dari caranya dandan, bicara, parfum, dan buah kesukaannya
Penulis: Imam Wahyu Winaris
Penerbit: Najah
Dimensi: 182 hlm, cetakan I november 2011
ISBN: 978 602 978 931 7

Tidak seperti tes-tes kepribadian yang butuh waktu lama, trik dalam buku ini memberikan pedoman super cepat tentang cara melihat seorang wanita, baik melalui cara berdandan, berjalan, berbicara, parfum yang digunakan, dan bentuk bibirnya. Meskipun analisisnya belum baku, namun cara tersebut lebih efektif karena dapat dilakukan langsung.

Itu kalimat yang tercantum di belakang buku untuk menarik minat pembeli. Setelah membaca, saya setuju bahwa buku ini belum baku. Mengapa? Sebab yang saya dapatkan adalah seperti copasan blog-blog orang lain yang disatukan. Di bagian akhir pun daftar pustakanya 100% dari internet, sebagian besar pun blog orang lain dengan domain blogspot dan wordpress yang tidak begitu dikenal. Bagaimana mempertanggungjawabkan teorinya? Padahal di halaman pembuka, penulis menjelaskan empat kepribadian teori hipocrates yakni sanguinis, plegmatis, melankolis, dan koleris. Di halaman 20, kelebihan wanita sanguinis dengan kelebihan wanita melankolis di halaman 23. Besar kecurigaan saya, itu adalah copas yang terulang. Dikatakan wanita sanguinis dan melankolis bersifat " sensitif kepada orang lain, berteman dengan hati-hati, puas berada di belakang layar, menghindari perhatian, suka keteraturan, terjadwal, hati-hati, rapi dalam perencanaan, hemat, suka dengan fakta-fakta, data-data, serta angka-angka."

Sejauh yang saya ketahui itu adalah sifat yang identik dengan wanita melankolis, bukan sanguinis. Teori yang saya pernah baca di buku  kuliah dan saat menerima materi training, wanita sangunis justru mencari dan senang dengan perhatian. Sangat bertolak belakang dengan hal yang dinyatakan di buku ini.

Lalu di halaman 38 dan 39, mengenal karakter dari warna. Beda antara penyuka warna merah muda dengan merah jambu. Loh, bukannya merah muda = merah jambu??

Lalu di halaman 53, lucu sekali... mengenal wanita dari cara berpakaian. Penulis membaginya menjadi 27 jenis pakaian, dan tidak semuanya diberi contoh gambar. Sehingga ada mispersepsi di benak saya. Beberapa hal terasa pengulangan. Lalu mulai poin 8 di halaman 53, penulis menjudge gaya berpakaian ini adalah style wanita berzodiak anu. Saya kaget laah... kenapa tiba-tiba ada judgement seperti itu? Padahal di awal-awal tidak disebutkan kaitan astrologi dengan gaya berpakaian. Cukup banyak ketidakkonsistenan dalam buku ini.

Saya apresiasi 2 dari 5 bintang.

Meta morfillah

13 May, 2015

Ini pengalaman pertama berhijabku. Kalau kamu?

Kapan kamu mulai berhijab?
Mengapa kamu mau berhijab? Apa alasannya yang membuatmu yakin untuk berhijab?


Well, pertanyaan macam itu biasanya akan terus ada saat teman-teman mengetahui perubahan kita dari yang belum berhijab, menjadi berhijab. Setiap orang pun akan menceritakan beragam pengalaman pertamanya hingga memutuskan berhijab. Sebagian besar mungkin ada kemiripan cerita, sebagian ada yang begitu mudah dan sebagian pun ada yang begitu sulit. Saya pun masih penasaran dengan sebagian teman-teman yang memutuskan berhijab. Terlebih bila mereka dahulunya “The most wanted girl” di sekolahnya, atau begitu populer dan eksis. Dari keingintahuan itu, saya mendapatkan sebagian cerita. Berikut ceritanya:


Siti Pandan

Aku berhijab untuk pertama kalinya ketika memasuki tingkat dua. Itu pun sebenarnya juga karena terpaksa. Terpaksa karena sudah terlanjur berjanji dengan seorang teman.
Sebenarnya waktu berumur 9 tahun, aku sudah pernah berhijab. Tetapi mungkin kondisinya pada saat itu karena masih kecil dan belum mengerti apa-apa, jadi ketika berumur 12 tahun (atau lebih tepatnya lulus SD) aku melepas hijab, karena memang masih iri dengan teman-teman yang lain. Waktu jaman itu, kadang aku suka iri dengan teman-teman yang rambutnya bisa dikuncir, dikepang atau hanya sekedar diberi penghias jepitan.
Kembali ke jaman sekolah tingkat dua, aku berhijab pun juga awalnya karena pada saat itu ada seorang teman perempuan (seorang aktivis keputrian) yang tiba-tiba memberikan aku sebuah hijab (jilbab). Bukan hanya itu saja, ada juga seorang aktivis rohis (seorang lelaki atau ikhwan) yang tiba-tiba juga memberikan aku sebuah buku kecil yang judulnya “1001 alasan mengapa harus berjilbab”. Dari situ aku mulai berpikir, apa mereka sengaja melakukan ini semua? Mengapa bisa secara bersamaan mereka memberikan aku sebuah hadiah itu? Dan mungkin karena masih muda, emosi masih suka labil, timbul pro kontra dalam diri aku (antara ingin berhijab dan tidak berhijbab).
Sebelumnya aku pun meminta ijin dengan kedua orangtua ku, boleh atau tidak aku berhijab. Dan alhamdulillah, ijin dari bapak sudah kudapatkan tetapi ketika meminta ijin ke ibu, beliau membuatku agak sedikit ragu. Sekali lagi ibu meyakinkanku apakah aku sudah mantap dengan keputusanku saat itu, karena ibu tidak ingin aku seperti dulu yang sudah berhijab tetapi aku lepas lagi. Tetapi setelah aku berpikir dan yakin dengan keputusan kusaat itu, mulai lah aku berhijab.
Kondisi pada saat setelah berhijab membuatku menjadi nyaman karena pada saat itu sudah jarang lelaki (lebih sering kakak kelas yang lelaki) yang terlihat menggoda atau sekedar menyapa. Dan aku pun kemudian diberikan amanah dari sekolah untuk membantu teman-teman keputrian dalam hal kepengurusan musholla di sekolah.

Dari situlah awalnya aku belajar tentang islam. Aku jadi sering ikut liqo dan ta’lim. Dan bahkan pernah ikut demo membela Palestina sewaktu sedang gencar-gencar perang melawan Israel. Pokoknya aku belajar tentang banyak hal.
Tetapi setelah lulus sekolah dan memasuki dunia kerja, semua hal yang aku pelajari itu seakan hilang begitu saja. Aku mulai dekat dengan beberapa orang lelaki dan bahkan berpacaran dengan salah satu dari mereka. Dan aku pun jadi mulai sering gonta-ganti pacar. Putus dengan yang ini, jadian dengan yang itu. Tidak hanya itu saja, aku jadi lebih suka jalan ke mall atau bahkan sekedar nongkrong di kafe hingga larut malam dengan teman-teman. Padahal jika dipikir-pikir, tiada guna melakukan itu semua. 

Perlahan-lahan aku pun mulai memperbaiki cara berhijab dan berpakaianku. Dulu mungkin karena awalnya aku agak terpaksa memakai hijab tersebut, antara tidak tulus dan tidak ikhlas juga, jadi mungkin terkesan agak asal-asalan. Tetapi sekarang setelah mengerti dan memahaminya, insyaAllah semua bermulai dari hati dan semata-mata karena untuk Allah.
Tapi dari situ di mulailah beberapa ujian serta tantangannya. Orang-orang yang dulu pernah mencoba untuk mendekati dan bahkan sudah menjauh, tiba-tiba mulai berdatangan lagi dan meminta untuk menjalin hubungan seperti yang dulu. Atau bahkan yang sekedar ingin bermain-main dengan perasaan ini.
Dan sekali lagi, hampir saja hati ini sempat tergoyah dan jatuh untuk ke sekian kalinya, tetapi ternyata Allah masih sayang padaku. Satu persatu mereka mulai menjauh karena setelah tau apa alasanku untuk tidak mau berpacaran.


Shanti Nur Oktavia

21 Oktober 2008, yang bertepatan juga dengan ulang tahunku. Saat itu aku kelas dua SMA. Aku memutuskan memberi hadiah yang terbaik untuk diriku sendiri yaitu dengan berhijab.Hari itu pun bertepatan dengan adanya acara keluarga. Aku memberi tahu ke keluarga bahwa aku mau seterusnya berhijab.
memutuskan berhijab tentu ada pertentangan hati, ditambah di keluargaku belum ada satu pun yang berhijab. Mamaku pun belum. Akhirnya, aku pun tidak begitu peduli dengan keadaan seperti itu. Aku tetap meneguhkan hati untuk memakai hijab. Hijab yang pertama kupakai, yang penting menutupi dada, karena buat apa memakai hijab kalau misalnya enggak langsung sesuai syariatnya. Yaa… meski pun enggak lebar, yang penting menutup dada.

Kadang malu juga kalau lagi jalan sama keluarga, cuma aku yang berhijab. Aku belum berhasil mengajak serta mama atau kedua kakakku untuk berhijab. Aku berharap lambat laun mereka mau menggunakan hijab juga.
Alhamdulillah… saat ini mama mau memakai hijab kalau keluar rumah yang jauh, tapi kalau di sekitar rumah mama masih belum rapi berhijab. Soon… semoga perlahan mau berhijab lebih rapi lagi.


Nah, itu cerita dari dua teman yang mau membagi kisahnya di blog ini.

Terus, kalau ceritamu mana, Met?

Baiklah, saya akan membagi cerita saya.

Kapan kamu mulai berhijab?
20 April 2006, saat kelas dua SMK menjelang kenaikan kelas. 


Mengapa kamu mau berhijab? Ap
a alasannya yang membuatmu yakin untuk berhijab?
Karena perintah Allah, sama aja kayak perintah salat, puasa ramadhan, dll.

Lengkapnya adalah…

Keinginan berhijab sudah ada sejak saya kelas 6 SD. Sebab saya aktif mengaji dan berprestasi.

Loh, gak ada hubungannya, Met!

Eh… ada… jangan salaaahh… soalnya karena saya aktif mengaji dan berprestasi itu, saya merasa hidup saya begitu sempurna. Saya ingin kenal sang pencipta saya. Maka tahulah saya bahwa Allah yang begitu sayang sama saya memerintahkan wanita untuk berhijab. Tapi, saat saya mengutarakan hal itu pada mama, beliau dengan tegas menolaknya. TIDAK!!
Wuidiiihh… saya mengkeret. Takut juga melihat ketegasan mama saya dan kecepatan menjawabnya. Namun setelah cooling down, ternyata alasan mama cukup rasional (Yaiyalah, mama saya kan waras, ya rasional lah!). Mama tidak mau saya memakai hijab lalu nanti bosan, lalu melepas lagi. Mama bilang, berhijablah kalau kamu sudah yakin untuk selamanya. Sebab itu perintah Allah yang tidak main-main. Saat itu di keluarga saya pun belum ada yang berhijab (Mama dan kakak perempuan saya. Kalau Bapak sama Uda saya yaaa memang enggak boleh berhijab hehe). Maka keinginan itu pun menguap dengan cepat seperti spirtus.

Lalu di tanggal 20 April 2006, tepatnya seusai salat subuh, tiba-tiba saya memutuskan ingin berhijab. Entahlah… tak ada alasan pastinya. Tiba-tiba saja saya begitu yakin ingin mengenakan hijab, seperti begitu yakinnya seorang anak kecil menginginkan es krim dan akan ngambek bila tak dituruti. Saat itu, saya bertugas mencuci baju sebelum berangkat sekolah. Nah, tempat nyuci bajunya itu bukan di dalam rumah atau di dalam kamar mandi, melainkan di teras rumah yang belum berpagar. Dan rumah saya terletak di pinggir jalan, sehingga terlihat jelaslah oleh orang yang berlalu-lalang jika saya sedang mencuci. Kendala pertama pun muncul, saya tidak memiliki baju berlengan panjang dan kerudung. Untungnya ada manset, maka saya pakailah manset itu, padahal lengan baju saya begitu pendek, jadi ada area yang belum tertutup manset dan memperlihatkan sedikit kulit serta ketiak saya. Lalu, saya ambil kerudung mama yang biasa dipakai buat acara melayat di rumah. Kerudungnya begitu pendek, macam ciput ninja kalau sekarang mah. Harganya lima ribu di Tanah Abang. Banyak banget itu di pasar Tasik tiap Senin Kamis. Eehh… kok saya malah promosi Tanah Abang!?

Lalu pergilah saya mencuci baju keluar teras. Jalanan masih sepi, belum banyak orang yang bangun di subuh hari. Tak lama, mama saya keluar mau membuang sampah dapur. Beliau keheranan melihat ada orang berkerudung mencuci di depan rumahnya. Beliau pun meneriaki saya, “Hei, siapa itu?” Lalu saya menjawab, “Meta, Maa…” Mama saya diam. Sepertinya beliau shock beberapa detik. Lalu langsung memanggil saya masuk ke dalam rumah. Saya pun disidang. Setelah persidangan panas itu, akhirnya mama mengalah pada saya dengan sedikit mengancam “Awas yaa.. kalau di tengah jalan kamu buka kerudung!” Saya pun berjanji pasti, bilang tidak akan. Namun setelah itu, mama langsung kebingungan mengenai seragam sekolah yang akan saya kenakan di hari itu. Saya menenangkan mama, bilang padanya bahwa saya punya manset putih, saya hanya meminjam kerudung putih mama saja. Alhasil, rasanya hari itu hari terjelek saya ke sekolah. Seragam maksa banget, pakai manset, kerudung model ciput ninja pendek, rok pun minjam sama saudara. Tiba di sekolah, semua teman saya yang kebanyakan lelaki (saya perawan di sarang penyamun, SMK TELKOM SPJ) mengerubungi saya. Berasa lalat banget yaa… tapi saya cuek banget, tebar senyum dan merasa hari itu saya cantik banget. HAHAHAHAH! Lalu tak lama saya disidang lagi sama guru-guru. Keputusan akhir adalah, saya harus menjahit seragam ulang, kecuali seragam olahraga. Ya, di SMK TELKOM SPJ kami semua menjahit sendiri seragam. Saat kali pertama masuk, kami diukur dan dibuatkan seragam yang insyaa allah akan muat hingga 3 tahum ke depan, paling cuma kusam atau dekil doang.
Well.. itulah pengalaman pertama saya berhijab. Kautahu? Itu tidak ada apa-apanya dengan pengalaman setelah berhijab. Bahkan saya pernah bersitegang sama kakak perempuan saya dan meninggalkan rumah (kabur) karena prinsip berhijab saya belum dihargai dengan serius. Belum lagi beragam ujian dari sisi asrama eh asmara #aseek. Hingga saya membuat mama saya sakit, dan saya merasa sangat durhaka. 

Tapi, akan sangat panjang bila diceritakan di sini. Intinya… memulai sesuatu yang baik itu memang tidak mudah. Tapi selalu ada langkah pertama, bukan? Dan dengan berhijab, bukan berarti kamu menjadi bidadari atau malaikat seketika. Justru, dengannya kamu akan semakin banyak belajar dan banyak yang harus dipertanggungjawabkan. Juga, kamu harus siap kaya. Karena semenjak berhijab, saya menjadi eksklusif! Harus ke salon muslimah, kolam renang muslimah (walau kadang saya suka ke kolam renang umum hingga sekarang), beli peralatan muslimah… beuuhh ini semua membutuhkan biaya yang mahal. Jadi saya enggak setuju banget kalau dibilang, muslimah itu kuno, kampungan. Yee… mereka gak tahu aja, justru jadi muslimah itu eksklusif. Hanya untuk orang-orang keren, mampu dan mau hahaa…

Begitulah pengalaman pertama berhijab. Tulisan ini apresiasi untuk diri saya sendiri atas perayaan 9 tahun berhijab. Semoga Allah mengistiqamahkan hati kita yang sudah berhijab hingga maut menjemput. Dengan berhijab, kita belajar sepanjang hayat (longlife learning), karena akan ada banyak yang mengingatkan kita bila kita khilaf, bila pun tidak ada, kita tentunya akan malu pada hijab kita sendiri. Itulah mengapa Allah menjaga kita—wanita—dengan  berhijab, sebab ada risiko iman, moral, dll di dalamnya.


Meta morfillah

Perihal ditinggalkan atau meninggalkan?

Perihal meninggalkan atau ditinggalkan?

Tha akhirnya menyadari sesuatu. Kemiripan mengapa tha memutuskan berhenti mengajar dan resign dari kantor hijau kuning. Selain perkara pemicu, sebenarnya keduanya karena akumulasi ditinggalkan. Mengajar kelas 9, dua kali tha ditinggalkan murid yang tha sayang serempak setiap kelulusan. Bekerja bareng orang yang dianggap keluarga, dalam waktu kurang dari 2 tahun, ditinggalkan tiga kali.

Pantas, saat ada tiga tawaran pekerjaan di sekolah sebagai pengajar sekarang, tha agak trauma. Karena harus siap ditinggal lagi. Mungkin, karena itu tha memutuskan agar tha yang meninggalkan. Haha... jadi akar penyebabnya di sana.

I know it, now...
That i don't like "ditinggalkan", I feel so enough for that.

Thanks santi

[Review buku] Antologi puisi penulis lepas

Judul: Antologi puisi penulis lepas
Penulis: komunitas penulis lepas, komunitas apresiasi puisi, dan komunitas puisi FLP
Penerbit: Pustaka Jamil
Dimensi: x + 148 hlm, 14 x 21 cm, cetakan I Januari 2011
ISBN: 989 979 15088 5 8

Buku ini dihadiahkan Mas Epri Tsaqib pada saya saat menjadi panitia Pesta Literasi Jakarta 2013. Baru saja saya buka plastiknya tadi pagi, di antara tumpukan buku yang belum saya baca. Tipis, ringan, tapi sampulnya kurang menarik minat membaca saya. Setelah saya baca isinya, yang terbagi menjadi dua kelompok. Yakni tahap I berisi 71 puisi, dan tahap II berisi 20 puisi pilihan dari 3 editor yaitu Misbach, Epri Tsaqib, dan Ahmad Sekhu.

Secara keseluruhan, tema yang diambil campuran. Ada tentang cinta, kegundahan akan negeri, pertanyaan akan Tuhan, dlsb. Keindahan diksi pun berbeda-beda. Ada yang bagus dan mudah dipahami, ada yang kurang bagus serta tak mudah ditangkap maknanya serta ada yang seperti kumpulan quote, tak berkaitan. Ada yang begitu panjang sampai tiga lembar, ada yang begitu pendek hanya empat baris. Tapi editannya masih banyak yang typo, juga kesalahan teknis yaitu perbedaan font size dan font type di beberapa puisi. Bahkan di tahap II, ada pengulangan puisi di halaman 114 dan 128, itu adalah puisi yang sama milil Lubis Gafura. Jadi sebenarnya, hanya 19 karya yang lolos di tahap 2.

Dari semuanya, tidak ada yang begitu mengena di hati saya, atau menjadi unggulan. Kesan yang saya dapatkan adalah buku ini diterbitkan untuk kebahagiaan komunitas itu saja. Sebagai penghargaan pada para penulisnya. Bukan untuk konsumsi umum. "Yang penting terbit" Tapi, itu sih sekadar opini saya saja.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

12 May, 2015

[Review buku] Bertengkarlah dengan indah

Judul: Bertengkarlah dengan indah
Penulis: Naylil Moena
Penerbit: Flashbooks
Dimensi: 176 hlm, cetakan I April 2011
ISBN: 978 602 978 590 6

Dalam kehidupan rumah tangga atau pasangan kekasih, pertengkaran tidak bisa dielakkan. Banyak sekali faktor pemicunya. Namun, apakah bertengkar adalah wujud tidak sehatnya sebuah hubungan atau keluarga? Benarkah bertengkar adalah hal negatif yang selalu berpengaruh buruk? Apakah benar, sebuah hubungan atau rumah tangga yang di dalamnya terjadi pertengkaran akan berujung dengan kehancuran? Buku ini mengatakan TIDAK. Tak selamanya pertengkaran berakibat negatif dan berujung kehancuran. Bertengkar seringkali mampu menjadi "energi" keharmonisan. Karenanya, rumah tangga yang tanpa pertengkaran adalah rumah tangga yang "tidak sehat" dan "dingin".

Diawali dengan bab 1 berjudul "Realitas Kehidupan Rumah Tangga" penulis mengajak para pembaca untuk menyadari bahwa tidak ada pernikahan yang sempurna serta perbedaan dasar antara suami dan istri. Masuk ke bab 2, penulis menyampaikan gagasan mengenai "Mengantisipasi Terjadinya Pertengkaran". Hal itu bisa dilakukan dengan peka terhadap perubahan pasangan, menghindari adu mulut, aksi diam dan adu fisik, serta memberitahu cela pasangan tanpa menyakiti. Di bab 3, penulis membahas "Sumber Pertengkaran" yang umum memicu, di antaranya masalah keuangan, pasangan hidup sakit, nasib apes, jarak yang jauh, pembagian peran yang tidak seimbang, pola pengasuhan anak, tidak cocok dengan keluarga pasangan, selingkuh, dan masalah seksualitas. Pada bab 4, penulis menyampaikan seni "Mengelola Pertengkaran" di antaranya dengan mengendalikan luapan emosi, menyimpan masalah dari orang lain, menahan amarah di depan anak, rayuan maut, curhat pada orang yang dipercaya, mengelola kecemburuan, menjadikan marah tidak berlarut-larut, bicara empat mata, dan berbesar hati memaafkan serta meminta maaf. Bab 5 berisi tentang "Point of Finally" di antaranya bertutur lebih mesra, memanjakan pasangan, komunikasi dua arah, kemesraan seksual, saling memberi motivasi, dan membuat new strategic plan. Terakhir, bab 6 tentang memetik hikmah dari pertengkaran.

Bahasa yang digunakan cukup sederhana dan menampilkan banyak sumber dari pakar-pakar serta buku terkait. Secara keseluruhan cukup bermanfaat dan dekat dalam keseharian contoh-contoh yang disajikan.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

11 May, 2015

[Review buku] Ways to live forever

Judul: Ways to live forever - setelah aku pergi
Penulis: Sally Nichols
Penerbit: Gramedia
Dimensi: 216 hlm, 20 cm, cetakan ketiga Desember 2008
ISBN: 978 979 22 3653 8

Novel ini menceritakan semua hal tentang Sam, anak lelaki berusia sebelas tahun yang terkena penyakit Leukimia. Dia begitu menyukai fakta-fakta dan memiliki rasa pengetahuan yang tinggi. Terutama tentang kematian. Sam membutuhkan jawaban atas pertanyaannya yang enggan dijawab orang-orang.

Dengan format buku harian yang unik dan menarik, Sam mulai menulis buku ini pada tanggal 7 Januari dan berakhir di tanggal 12 April. Sebab Sam meninggal di tanggal 14 Aprilnya, dengan begitu tenang. Ada banyak daftar, cerita, gambar, pertanyaan, dan fakta-fakta.

Saya membayangkan posisi anak berusia sebelas tahun yang sadar bahwa hidupnya hanya dalam hitungan bulan. Betapa Sam sangat siap, terbukti dengan 11 daftar dan 8 pertanyaan yang tak terjawab.

Daftar:
1. Lima fakta tentang aku
2. Lima fakta tentang penampilanku
3. Hal-hal yang ingin kulakukan
4. Hal-hal favorit
5. Kiat-kiat hidup abadi
6. Yang mesti dilakukan waktu orang meninggal
7. Lima fakta tentang Dad
8. Fakta-fakta fantastis tentang balon zeppelin
9. Hal-hal paling asyik
10. Ke mana orang pergi sesudah mati?
11. Hal-hal yang kuinginkan setelah aku pergi

Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab:
1. Bagaimana kita tahu kita sudah mati?
2. Kenapa Tuhan membuat anak-anak jatuh sakit?
3. Bagaimana kalau ada orang yang sebenarnya belum mati, tapi dikira sudah mati oleh orang-orang lain? Apakah dia akan dikubur hidup-hidup?
4. Sakitkah kalau mati?
5. Seperti apakah kelihatannya orang yang mati? Atau apa rasanya?
6. Kenapa sih orang mesti mati?
7. Ke mana orang pergi setelah mati?
8. Apakah dunia ini masih ada setelah aku tiada?

Pertanyaan-pertanyaan itu begitu polos, khas anak-anak, namun begitu sulit dijawab. Bahkan saya pun penasaran akan 8 pertanyaan itu. Begitu haru buku ini menceritakan bagaimana keadaan keluarga inti, terutama orang tua yang memiliki anak penderita kanker. Seolah semuanya begitu melelahkan, berbagai upaya dicoba, meski sudah tahu hasilnya. Tak jarang keluarga tersebut kehilangan keharmonisannya, mereka jadi sering bertengkar. Itu semua karena mereka frustasi dan sayang. Belum lago sensitifitas sang penderita kanker itu sendiri. Itulah beberapa kejadian nyata yang saya lihat di keluarga teman yang memiliki anak penderita kanker. Tak jarang keluarganya jadi hancur, broken home bagi saudara anak yang menderita kanker.

Menarik sekali, kemasan buku ini yang dilengkapi sketsa, gambar dan foto khas buku harian. Juga gaya bahasanya terasa benar-benar seperti membaca buku harian anak kecil penderita kanker. Mengingatkan saya ke film My sister's keepers di saat-saat terakhirnya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Text Widget