Pages

26 June, 2014

Cinta adalah sahabat, yang mirip?

"Cinta adalah persahabatan"

Quote ini menghiasai banyak sekali film, buku, lagu, puisi. Kalian pasti pernah mendengarnya di manalah, bukan?

Tapi sebenarnya, menurut hemat saya, poin quote ini bukan: maka cinta sejati kalian kadang adalah sahabat sendiri, silahkan cek sahabat-sahabatnya. Bukan itu.

Melainkan ketika kita tiba di level paling tinggi sebuah hubungan cinta, maka cinta itu berubah mengkristal menjadi persahabatan. Seperti orang tua kita, seperti kakek-nenek kita. Seperti orang-orang  tua di sekitar kita. Cinta mereka menjelma menjadi persahabatan abadi. Bahkan mereka terlihat mirip satu sama lain, wajahnya, cara bicaranya, cara berjalannya. Seperti dua sahabat karib yang begitu dekat--karena, oleh dan untuk cinta.

--Tere Liye

Pemikiran di atas cukup menarik. Sahabat jadi cinta, atau  cinta jadi sahabat ya? Whatever, menurut saya pribadi, semua itu adalah bentuk cinta. Karena cinta serupa energi, memiliki hukum kekekalannya sendiri. Cinta tidak pernah hilang, hanya berganti bentuk. Awalnya kekasih, lama-lama menjadi sahabat, teman hidup dan partner in crime too.

Lalu, bagaimana dengan mitos bahwa pasangan yang mempunyai wajah mirip antara satu sama lain berarti jodoh? Namun, benarkah lawan jenis yang berwajah mirip berarti dia berjodoh dengan kamu? Jawabannya, tidak juga. Sebab jodoh adalah rahasia Tuhan.

Mereka yang memiliki kemiripan wajah, berjodoh, merupakan penegas bahwa manusia cenderung menyukai orang yang memiliki kemiripan dengannya. Entah itu kemiripan dalam hobby, minat dan bakat bahkan kemiripan fisik. Karena tanpa mereka sadari bahwa mereka menyukai refleksi dari diri mereka sendiri. Saat saya searching, ternyata ada penelitiannya. Berikut paparannya, (saya ambil dari sini)


Orang-orang yang berkumpul karena cinta pasti akan melihat kesamaan di antara dirinya dan pasangannya. Maka tak heran kita sering melihat orang yang memiliki kesamaan wajah akhirnya menikah. Seorang psikolog pun melakukan percobaan untuk menguji fenomena ini. Ia menganalisis foto-foto dari banyak pasangan yang diambil ketika mereka masih pengantin baru dan foto-foto dari pasangan yang sama 25 tahun kemudian.


Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pasangan suami-istri itu telah berkembang menjadi mirip satu sama lain dari waktu ke waktu. Dan apabila pasangan itu hidup bahagia dan tetap saling mencintai, maka semakin besar kemungkinan memiliki peningkatan kesamaan fisik.


Peneliti tersebut menduga pasangan yang makin tua tampak makin mirip itu karena mereka mempunyai kontak dekat dan meniru ekspresi wajah pasangannya masing-masing.


Contohnya, jika pasangan tersebut memiliki selera humor yang baik dan banyak tertawa, mungkin dia akan mengembangkan garis tawa di sekitar mulutnya dan begitu juga pasangannya. Jadi kemiripan antara Anda dan pasangan biasanya tidak akan terlalu terlihat ketika Anda dan pasangan baru saja menjalin hubungan dan menghabiskan waktu bersama dalam waktu yang singkat.


Karena biasanya kemiripan terjadi ketika kalian sering berbagi segalanya dalam waktu yang lama dan berproses.


Namun, kesamaan wajah tersebut tidak mutlak menjadi tanda bahwa orang yang mirip wajahnya dengan Anda berarti jodoh dan yang tidak mirip sama sekali berarti bukan jodoh. Karena mungkin Anda dan pasangan tidak memiliki kesamaan fisik, namun pastilah terdapat kesamaan- kesamaan lain yang membuat Anda dan kekasih bisa saling jatuh cinta. Karena, dalam kehidupan sehari-hari, pasangan yang memiliki minat, kepribadian atau sifat yang sama lebih banyak kita temui daripada yang memiliki kemiripan wajah.


Jika Anda adalah seorang yang gemar membaca buku dan memiliki pengetahuan yang luas contohnya, Anda akan cinderung menyukai laki-laki yang gemar membaca buku juga.


Pasalnya, Anda dan laki-laki tersebut akan mempunyai pemikiran yang sama dan bisa saling mengimbangi satu sama lain. Jadi, kemiripan wajah tetap bukan jaminan mutlak bahwa dia adalah jodoh Anda.


Bagaimana? Masih mencari-cari orang yang memiliki kesamaan wajah dengan kamu? Menerka-nerka jodohmu? Mencari-cari jodohmu di antara sahabatmu? Dunia ini begitu luas. Perbaiki dirimu, perbanyaklah teman, dan teruslah meminta padaNya, jodoh terbaik menurut pilihanNya. Semoga kita semua diberikan jodoh yang mampu menjadi sahabat kita hingga akhirat kelak. Aamiin

Meta morfillah

24 June, 2014

Foto Dalam Dompet



"3...,2...,1...,"
Naga datang. Lalu menaruh tasnya pada meja yang bersebelahan dengan meja Dara.
"Setelah menaruh tas, lalu Naga akan duduk dan membuka tumblernya,"
Naga duduk dan membuka tumblernya. Meneguk dengan cepat. Sangat haus.
"Setelahnya, Naga akan menyapaku,"
"Halo Dara, Semangaat!" Seru Naga seraya memamerkan senyumnya yang membuat Dara meleleh.
Semua sama seumpama yang Dara bayangkan dalam benaknya. Dara sangat hafal gaya Naga—teman yang bersebelahan meja dengannya. Tentu saja, telah mudah kauterka, Dara menghafalnya karena Dara memeram sebuah rasa khusus pada Naga. Naga adalah cowok yang Dara suka. Sejak mereka duduk bersebelahan meja karena satu departemen. Wajah Naga memang enggak ganteng banget, berbeda jauh rupanya dengan cowok-cowok yang berusaha memenangkan perasaan Dara. Namun, lama-kelamaan Dara melewatkan waktunya bersama Naga, mengenalnya, sungguh menyenangkan. Naga lucu, ramah, supel dan acuh padanya. Sekadar ucapan "Halo Dara, Semangaat!" yang baru saja Naga lontarkan, terasa khusus untuk Dara. Menyebabkan debar-debar pada jantungnya, seumpama orang yang tersengat. Tambahan pula, senyumnya. Walau Naga mengucapkan halo ke semua teman kantornya saat berpapasan, tetap saja Dara merasa khusus, karena Dara adalah orang pertama yang selalu mendapatkan ucapan tersebut.
“Semoga kaurasa apa yang kurasa,”
***
Naga tercangak-cangak saat rapat bulanan.
"Gunakan punyaku dulu," ujar Dara seraya menyodorkan pulpen pada Naga.
"Wah, Thanks Dara. Tahu aja aku butuh pulpen, hehe...," ujar Naga dengan senyum lebar khasnya.
"Ya tahulah, kamu kan suka butuh pulpen namun lupa bawa terus," jawab Dara "makanya aku taruh banyak pulpen dalam tasku," lanjut Dara dalam gumamnya.
"Memang kamu teman sebelah meja yang T.O.P B.G.T. Dar!" Naga mengacungkan dua jempol tangannya.
Dara hanya tersenyum.
"Duh, Naga... Nyadar kek! Aku suka sama kamu. Jangankan pulpen, perasaanku juga rela aku curahkan ke kamu," gumam Dara dengan suara pelan, agar tak terdengar oleh Naga.
***
"Buat kamu, Dar!" Naga menyodorkan kue bolu rasa cokelat ke hadapan Dara.
"Wah, Thanks yaa...," Dara tersenyum lebar.
"Anggap aja bayar sewa pulpenmu, hehehe. Sengaja kubawakan kue bolu rasa cokelat, soalnya kamu enggak suka keju, kan?"
"Hah, kok kamu tahu?" Dara terkejut.
"Kan, kamu pernah ngomong enggak doyan keju, waktu Evan bawakan kamu oleh-oleh keju sepulang jalan-jalan ke luar,"
"Oh, ya? Hehee...,"
Memang benar, Evan—cowok yang menyatakan rasa sukanya pada Dara, lalu Dara tolak—beberapa waktu lalu membawakannya oleh-oleh keju. Sayangnya, Dara menolak. Bukan saja karena Dara enggak suka keju, namun Dara juga enggak suka Evan. Dara enggak suka memperoleh sesuatu karena cowok yang jelas-jelas memendam rasa padanya, namun Dara tak mampu membalasnya. Dara enggak sembarangan. Takut ada omongan orang-orang yang mencapnya penebar harapan palsu, atau parahnya cewek matre!
Tahu bahwa Naga mencatat kata-katanya, Dara tambah tersenyum lebar.
"Aah..., Naga. Kamu so sweet bangeeet," gumam Dara seraya menatap punggung Naga yang menjauh ke arah luar kantor.
***
Aku suka kamu dalam  tenang
Kucoba mendekatkan rasaku pada rasamu
Adakah kamu merasakannya?

Naga mendapat maklumat atasan untuk segera ke kantor cabang Yogyakarta, karena ada masalah. Selama dua pekan yang akan datang, meja sebelah Dara akan kosong. Ketakberadaan Naga membuat semangat Dara melemah.

Kalau kausenang hanya karena yang kausuka ada dalam jarak pandangmu, dan tak tenang, resah saat kau tak menemukannya, tandanya kau benar-benar menempatkannya dalam rasamu yang terdalam.

Aah, Dara merasakan ketakwarasan pada otaknya. Dara takut akan kangen akut selama dua pekan. Resahnya terbaca oleh Bunga, teman Dara yang berbeda departemen. Tanpa tahu apa yang sedang melanda Dara, Bunga mengajaknya lunch bareng. Saat akan membayar, dompet Bunga terjatuh dan terbuka. Tanpa sengaja, Dara menemukan foto Naga berdua Bunga, berpose mesra dalam dompet Bunga. Ternyata, Naga telah berpacaran dengan Bunga selama enam bulan. Kecewa yang amat sangat menohok Dara. Untunglah, ada jeda dua pekan. Jarak dan waktu menegaskan perasaan Dara. Dua pekan, membukakan mata dan rasanya, bahwa Naga hanya menganggapnya sahabat. "Kalau boleh aku berdoa, agar kausuka padaku, Naga. Semua akan terasa…" keluh Dara tanpa sanggup melanjutkannya. 
***

Menunggu dan kehilangan

Sampai kapan aku akan menunggu?

Mungkin pertanyaan itu kerap kali kita lontarkan dalam hati. Untuk segala hal, kepastian dari seseorang, penyelesaian akan suatu hal, atau akhir dari segalanya.

Apakah mudah menunggu itu? Menyenangkankah? Atau malah menyebalkan?

Semua tergantung pada apa, siapa dan seberapa siap kita dalam menunggu. Bila yang ditunggu adalah kepastian dari seseorang yang kita cintai, bisa jadi hal itu menyebalkan. Sebab, hanya dia yang tahu berapa lama lagi kamu harus menunggu. Kamu menjadi si pasif, yang pasrah diombang-ambing nasib yang ia kendalikan. Bila yang ditunggu adalah akhir dari segalanya, seperti kematian, bisa jadi itu menyenangkan. Kamu akan menunggu penyelesaian hidupmu dengan penuh kesadaran, dan akan selalu mengupayakan yang terbaik dari dirimu agar penyelesaian atas hidupmu berakhir indah.

Sebab hidup adalah perihal menunggu. Menunggu kapan waktu kita tidak menunggu lagi. Sadarkah kamu akan hidup kita yang pada dasarnya selalu menunggu?

Begitu pun kehilangan. Kita menunggu, kapan kita akan kehilangan sesuatu. Kehilangan orang-orang yang kita cintai, kehilangan sebuah benda yang kita sayangi, dan kehilangan lainnya. Semua hanya permainan waktu. Lagi-lagi kita hanya menunggu. Sebab, kehilangan adalah niscaya. Hanya satu kehilangan yang amat sangat ingin kita hindari. Kehilangan iman. Mampukah kamu bayangkan, bila esok hari saat kamu terbangun, tiba-tiba kamu sudah tak beriman?

Mana lebih menyakitkan? Kehilangan prinsip hidupmu (iman), ataukah kehilangan pasangan hidup?

Ah, sebenarnya apa yang sedang kubicarakan? Menunggu dan kehilangan... Ini hanyalah tulisan pengalih perhatianku, saat menunggu kapan tiba di rumah, melihat kemacetan Jakarta yang semakin parah. Dan tentang kehilangan waktu bersama keluarga, yang diambil paksa melalui kemacetan ini. Aaah...


Meta morfillah

19 June, 2014

Tentang keimanan

Aku mau ngomong sama kamu. Kutunggu di restoran biasa sepulang kerja.

Katari membaca BBM Nugi dengan hela nafas yang panjang. Untuknya, hal ini sudah dapat diprediksi. Ketika seorang lelaki mengatakan “Aku mau ngomong sama kamu” biasanya akan ada hal serius yang dibicarakan. Katari paham, apa yang hendak disampaikan oleh Nugi. Perasaan itu kembali datang menghantuinya, seperti sebelum-sebelumnya. Kalau saja boleh, ia ingin menghindarinya. Ia tak mau  membayangkan hasil pertemuan itu. Tapi ini Nugi, sahabatnya. Demi persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak lama, ia harus menemui Nugi.
***
“Bisakah kita lanjutkan hubungan ini, lebih dari sekadar persahabatan?”

Katari memutar-mutar cincin emas di jari manis kirinya, menghindari tatapan Nugi yang terasa begitu menusuk ke dirinya.

“Ri…”

Helaan nafas panjang. Tentu saja, helaan itu berasal dari Katari.

“Gi…”

“Kenapa? Apa salah kalau aku meminta lebih?”

“Enggak. Kamu enggak salah. Aku yang anomali.”

“Aku tahu prinsip kamu. Aku belum bisa mengabulkannya saat ini. Tapi aku benar-benar serius sama kamu. Aku sudah bicara sama mamamu. Please, Ri…”

“Gi…”

Mata Katari berkabut. Ada banyak kalimat yang ingin ia lontarkan, tapi semua tersangkut di tenggorokan. Ia tercekat. Tak mampu. Ini Nugi, bukan lelaki-lelaki sebelumnya yang dengan mudah dapat ia tolak perasaannya, tanpa berpikir dua kali. Nugi, lelaki yang ia harapkan menjadi pendampingnya kelak. Sayangnya, Nugi tetaplah lelaki. Meminta hal yang sama seperti lelaki-lelaki sebelumnya. Hal yang tak mungkin ia kabulkan.

“Kurasa aku enggak perlu menjelaskan panjang lebar, Gi. Kamu tahu jawabannya,” ada yang menyeruak di dalam dada Katari saat mengatakan ini. Seakan ada yang membuat lubang menganga di hatinya. Sakit. “Aku pulang duluan, Gi.”

Bahkan makanan yang ia pesan belum sempat tersentuh, Katari sudah berlari meninggalkan Nugi yang terdiam. Sepanjang perjalanan menuju rumah, ia menahan kabut di matanya agar tak menjadi hujan. Hatinya menggugat Tuhan. Tapi, apa daya. Ia hanyalah ia. Seorang hamba yang lemah, tiada daya upaya.
***

Bagaimana rasanya? Menolak orang yang selama ini kamu harapkan menjadi pendampingmu, hanya karena caranya tak sesuai dengan prinsipmu? Adakah yang lebih sakit? Bagi Katari, itu adalah pukulan terhebatnya.

“Bagaimana mungkin kamu mengaku beriman, sedang kamu belum diuji?”

Kita tidak akan pernah diuji dengan hal yang kita kuasai. Pastilah Tuhan menguji kita berdasarkan kelemahan yang kita miliki. Seseorang yang lemah terhadap wanita, tapi kuat terhadap tahta dan harta, tentulah akan diberikan ujian berupa wanita. Sama seperti Katari—muslimah yang berusaha lurus, mematuhi perintah Tuhannya, menghindari pacaran—yang lemah perasaannya akan cinta, juga lemah untuk berkata “Tidak”. Maka berulang kali, ia dihadapkan pada situasi yang penuh cinta. Walau ia bukan primadona, tapi tidak sedikit lelaki yang mengejarnya, menyatakan cinta dan ingin mengajaknya pacaran. Kali pertama, ia terjerat. Saking susahnya berkata “Tidak”, ia terima lelaki itu menjadi pacarnya. Namun itu hanya bertahan 22 hari. Selalu ada rasa menyesal setiap habis bertemu sang lelaki. Menyadari bahwa itu adalah suara hatinya yang mengenali dosa, maka ia menghentikan hubungan itu. walau sang lelaki menangis memohon agar ia kembali padanya. Lalu ia belajar untuk tegas berkata “Tidak”. Hingga saat ini, sejauh ini, ia berhasil.

Tapi saat Nugi yang menyatakannya, sahabat sekaligus lelaki yang—awalnya—ia impikan menjadi pasangannya kelak. Lelaki yang ia pikir, dapat memperjuangkan dirinya dengan cara Tuhannya, yang telah ia terangkan. Ternyata tidak. Ia tetaplah lelaki yang sama seperti lelaki-lelaki sebelumnya yang telah Katari tolak.

Ada kekecewaan yang amat sangat. Kecewa terhadap sikap Nugi yang tak sesuai ekspektasinya. Kecewa terhadap dirinya, yang menjadi anomali di zamannya, karena memilih prinsip ini. Ingin rasanya menggugat Tuhan. Mengapa saat ia tak mengharap cinta semu, dihadirkannya banyak cinta semu nan menggoda hati? Mengapa hal sederhana yang ia panjatkan, menjadi begitu rumit bagi sebagian orang yang menghargai prinsipnya? Apakah tak ada lagi, lelaki yang berani? Bukan keberanian membunuh naga, atau melawan penyihir jahat, melainkan hanya keberanian meminta dirinya pada walinya.

Lantas, apakah karena kekecewaan itu, Katari melepaskan prinsipnya? Inilah pergulatan batin terhebat di tiap diri manusia. Mana kala harus memilih antara sesuatu hal yang amat disayanginya, dibandingkan apa yang disenangi tuhannya. Itulah ujian sebenarnya, tentang keimanan. Bukan berarti rajin salat, puasa, dan amalan lainnya menandakan kamu begitu taat. Melainkan, saat kamu diuji, memilih dan berdamai atas kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan. Itulah keimanan yang sesungguhnya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi, kamu menyukai sesuatu, tapi sesungguhnya itu tidak baik bagimu.”

Meta morfillah

18 June, 2014

Bercengkerama tentang bahagia, bersama sepi

Jangan biarkan sepi merasuk, sebab akan datang kawannya yang lain: kantuk & suntuk!

Lantai satu terlihat begitu lengang seperti biasa. Menjadi orang pertama yang menyapa meja-meja tak berpenghuni, menyentuh saklar lampu, kipas angin, dan AC adalah keterbiasaanku. Kalau boleh jujur, aku membenci sepi yang seperti ini. Sepi di tempat yang seharusnya ramai. Tapi sudahlah, tak usah kita bahas mengapa kantor ini selalu sepi meski jam menunjukkan pukul 08.30. Khususnya di lantai satu ini. Dengan sepi itu, aku bermain tiap harinya, tapi tak mau begitu akrab. Menyetel musik dengan volume yang cukup kencang adalah upayaku mengusir sepi. Sebab, bila dibiarkan sepi meraja, tak lama kantuk dan suntuk pun datang menyambangi. Sayang, aku tak digaji untuk mengantuk atau mudah suntuk.

Saat sepi seperti ini, benakku malah merimbun. Banyak kata yang berseliweran minta dituangkan. Banyak kata yang berusaha muncul berkali-kali, menggoda, menarik perhatianku untuk melakukan sesuatu. Salah satunya, adalah kata BAHAGIA.

Ya, kata BAHAGIA beberapa waktu terakhir berulang kali timbul tenggelam dalam kepalaku yang seperti hutan kata-kata. Membenak, membelukar. Jadi, bagaimana bila kita bahas tentang bahagia?

BAHAGIA.

Bukankah kata itu begitu magis?
Membuat banyak orang memburunya. Begitu merinduinya. Seperti pesakitan merindu obat. Semua orang begitu mengharapkannya. Tapi, kebahagiaan begitu tega. Semakin dipikirkan, semakin ia melipir. Semakin dicari, semakin ia lari. Semakin diburu, semakin ia tak tentu. Semakin ditangkap, semakin ia melesat. Semakin dihadang, semakin ia hilang. (Paragraf ini dimodifikasi dari prolog buku “lapis-lapis keberkahan” ustad Salim A. Fillah)

Dalam mata kita, kebahagiaan selalu tampak seperti pelangi. Hanya terlihat di atas kepala orang lain. Tak pernah di kepala kita. Kehidupan orang lain selalu terlihat lebih cerah, terdengar lebih ceria, dan lebih bercahaya. Penderitaan kita terasa berlipat-lipat, bila dibandingkan dengan orang lain.

Pertanyaannya adalah, apakah mungkin selama kita hidup dan bernafas di muka bumi, kita bisa mencapai suatu kebahagiaan yang total, sempurna, dan final tanpa ada kesulitan lain?

Seberapa pun sukses hidup kita menurut pandangan dunia saat ini, sukses dari segi finansial, pengakuan diri, nama baik, keluarga yang sempurna, tetap kita tidak dapat mencapai suatu situasi bahagia yang final. Kita mungkin merasa bahagia jam ini, namun jam berikutnya kita sudah menemukan kesulitan yang dapat membuat rasa bahagia kita terusik. Manusiawi…

Betapa sayangnya jika hidup kita setiap hari, detik demi detik dihabiskan untuk berusaha mencapai bahagia sejati.

Namun jika hidup kita bukan untuk mencapai bahagia, untuk apakah hidup kita?

Mungkin ini tentang kesadaran kita. Kesadaran bahwa bahagia bukanlah tujuan. Sebab, bila bahagia dijadikan tujuan utama dalam hidup, kita akan luput untuk menikmati proses meraih kebahagiaan itu. bila bahagia dijadikan cita-cita, kita akan kehilangan gelora. Sebab, bila bahagia sudah tercapai, apa lagi yang akan kita upayakan? Kehilangan visi, rasa dan makna akan kehidupan itu sendiri. Sebab, bila bahagia dijadikan tema utama kehidupan, kita akan kehilangan ia setelah kematian.

Bagaimana? Apakah kamu setuju dengan apa yang aku tuliskan di atas? Atau kamu memiliki pendapat lain?

meta morfillah

17 June, 2014

Surat untuk Tuhan

Dear Tuhan,

Apa kabarmu hari ini?
Hahaa... Pertanyaan retoris! Tentunya kau akan selalu baik-baik saja, meski tanpa diriku. Tidak sepertiku, yang tidak akan pernah baik-baik saja tanpamu.

Tuhan, kutuliskan surat ini karena aku begitu ingin menyampaikan rasaku hari ini. Tadi, sepulang kerja, aku minta ditemani makan oleh teman-teman sekantor. Sebab, bila tak begitu, aku akan malas mencari makan setiba di kamar kosan. Menghabiskan waktu bersama mereka, adalah salah satu nikmat yang selalu kusyukuri. Membantuku melupakan sejenak rinduku pada mama nun jauh di sana. Di tengah cengkerama, terceletuk sebuah kesadaran, betapa hidupku terlihat indah di mata mereka. Padahal bagiku, hidupku sangat biasa. Ibarat aktris, mungkin hanya sebatas pemeran figuran. Tidak menarik. Tapi tidak bagi mereka. Bahkan untuk segala masalah yang kuhadapi, tetaplah indah di mata mereka. Hingga aku berpikir bahwa sering kali kita sibuk memimpikan kehidupan orang lain, tanpa sadar bahwa hidup kita adalah hidup yang diimpikan oleh orang lain. Masalahku masih seputar pekerjaan, kebimbangan, pasangan, dan hanya itu-itu saja. Bukankah Engkau telah begitu baik, tidak menambah porsi masalahku sampai kau merasa aku mampu? Berkali-kali aku harus melihat ke sekeliling bila hal negatif mulai menyerang dan berusaha merajai hati. Berulang kali aku harus mengingatkan diriku untuk bersyukur. Kesadaran itu membuatku tersenyum sepanjang perjalanan pulang.

Setiba di kamar, migrain menguasai kepalaku. Membuatku serba salah, mau tidur kepala sakit, tidak tidur tapi aku lelah. Akhirnya kubuka HP, memerhatikan setiap picture di gallery. Yaaa, itu adalah salah satu penghiburanku kala sendiri. Melalui foto-foto, aku merecall segala ingatan. Senang mau pun sedih. Dan ada banyak hal yang kembali menginspirasi. Beragam capture-an chat. Aku dan dia, dia, dia. Salah satu hobiku, mengcapture chat-chat unik. Kebanyakan gombalan, kata-kata bijak, sharing di grup dan janji-janji. Ada tawa menyeruak seketika saat membaca ragam gombalan dari lelaki yang berbeda. Ada perih mengiris saat membaca puisi yang khusus dibuatkan untukku. Juga lagu yang dia nyanyikan dan ciptakan untukku. Ada luka yang menganga dari rekatnya yang belum pulih, saat membaca janji-janji masa depannya. Kini semua hanya kenangan. Lelaki yang pernah mencintaiku dengan puisinya, kini memilih perempuan lain dengan puisinya. Menyesal? Tidak. Sakit sebentar, tapi aku senang. Sebab, kesakitan adalah modalku menulis. Kesakitan selalu menginspirasi cerita dan memantik kesyukuranku padamu, Tuhan. Bahkan, saking seringnya aku mengalami kesakitan itu, secara fisik aku telah lupa rasanya sakit. Mungkin, bila mereka melihat diriku, aku hanyalah orang sok kuat, sok tegar, sok prima, sok sehat, sebab aku sangat menghindari sakit. Bahkan ketika sakit, aku sangat enggan menjadikannya alasan, tak suka menjadi manja, terkecuali aku memang tak tahan akan rasa sakit itu.

Melalui surat ini, aku ngalor ngidul hanya ingin memberitahumu, Tuhan... Bahwa aku amat berterima kasih untuk hidupku. Betapa berwarnanya hidupku, kauberikan aku kesempatan mencecap manisnya iman yang didapatkan melalui perjalan panjang, pencarian seorang diri. Kauizinkan aku melakukan beragam kesalahan, lalu ditegur secara keras melalui hambamu yang lain, hingga aku tahu kebenaran dan rasanya, sehingga aku lebih toleran. Setiap harinya, aku belajar untuk mencintaimu semakin dalam dan semakin baik. Walau mungkin aku tak dapat melakukan apa yang kucintai, tapi aku berusaha mencintai apa yang dapat kulakukan. Bila tak mungkin menjadi jalan besar untuk umat ini, maka izinkan aku menjadi jalan setapak baginya. Hidupku saat ini begitu indah, walau belum lengkap sempurna dengan setengah bagian yang lain. Kamu mengajarkanku membagi cinta pada porsinya. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.


Meta morfillah

16 June, 2014

Suatu hari yang hujan di bulan Juni

Suatu hari di bulan Juni milik Sapardi
Di mana hujan merahasiakan rintik rindunya pada pepohonan bunga itu
Aku pun ingin memiliki sebuah hari yang hujan di bulan Juni
Di mana aku merahasiakan cinta darinya
Seperti salju yang jatuh tanpa menimbulkan bunyi
Sebab ia begitu lembut
Sebuah keniscayaan, bila sesuatu yang lembut jatuh ke sesuatu yang sama lembutnya maka tiada getaran bunyi
Tapi siapa pun yang melihatnya seolah terusik pendengarannya
Resonansi rasa yang kupendam dalam diam
Ternyata bergema dalam perilakuku yang terlihat

Betapa pun upayaku menyembunyikan rasa pada sebuah nama
Persis seperti menyelipkan sepotong senja di rembang petang
Saru, namun tetap terlihat walau tipis
Semakin gigantis dan nyata seiring bertambahnya detik

Bersama angin muson barat yang meniupkan titik-titik air menjelma hujan di tanah ini
Maka Juni pelengkap rasa kedua setelah hujan
Bukan maksudku ingin menyaingi keromantisan Sapardi
Hanya saja, hujan di bulan Juni memiliki daya magis tersendiri
Memanggil kembali kenangan yang membelukar di dalam hutan pikiran
Seperti kenangan masa kecilku yang penuh riang tawa
Namun ini sendu
Hujan selalu penawar bagi hati yang sendu
Dibasahinya kekeringan rindu yang lama tak bersua temu
Diingatkannya lagi hijau cinta dan kemungkinannya untuk tumbuh kembali

Hujan bulan Juni,
Selalu membawa pengharapan akan sebuah kisah yang baru


Meta morfillah

Seolah aku bukan diriku

"Bagaimana caramu mempertahankan prinsip untuk tidak berpacaran? Setelah kamu pernah merasakan pacaran yang indah, yang lalu kamu putuskan dengan sebaik-baiknya hanya karena takut dosa?"

"Sebab aku telah mengalaminya. Aku tahu nikmat semu dari pacaran. Semakin ke sini, aku semakin yakin atas pengamatanku terhadap hubungan pacaran," katanya sembari menatap tajam tepat di kedua bola mataku, "Selama pacaran, mereka berpikir sedang berusaha saling memahami..."

"Tapi bukan itu yang terjadi!" tegasnya. "Kenyataannya ialah mereka berusaha untuk tampil lebih baik dari yang sebenarnya. Sehingga setiap kali berbicara, sebenarnya mereka sedang menyembunyikan diri masing-masing. Mereka sedang membuat iklan untuk menggoda pembeli. Karena takut bila pelanggan tidak puas, akhirnya ia akan ditinggalkan. Bukankah hal itu amat sangat munafik?"

"Tapi tidak semua orang berpacaran seperti itu. Ada yang apa adanya."

"Mari kita jujur. Apa iya 100% yang kita tampilkan padanya tentang diri kita itu benar? Tidak kan. Jujur saja, kayaknya kita beda deh waktu di dekat dia dengan saat kita sendiri di rumah. Ini berbahaya untuk perkembangan kepribadian kita. Kita berlatih jadi orang yang hipokrit, bahkan bermuka banyak. Ya, enggak?"

"Tapi, saat kita jatuh cinta, bukankah hal yang wajar? Lalu timbul rasa ingin memiliki, itu pun hal yang wajar? Sebab cinta adalah fitrah, kan?"

"Kamu pernah makan sayur lodeh, yang bumbunya dimakan duluan? Pacaran itu seperti menghabiskan bumbu sayur lodeh tersebut, sebelum sayurnya matang. Lantas ketika sayur matang, rasanya sudah tidak enak. Hambar, tak ada bumbu. Seperti itulah pacaran, tergesa-gesa menikmati sisi-sisi indah dalam hubungan dua insan sebelum ia dihalalkan. Tak hanya berakibat dosa yang menjanjikan siksa akhirat. Tapi terkadang Allah menyegerakan rasa pedih dan perih dalam jiwa saat kita masih di dunia. Ketika pacaran, mereka sudah merasai semua bumbu yang seharusnya digunakan untuk menyedapkan kehidupan rumah tangga. Saling mencurahkan perasaan, berbagi, sentuhan mesra, sandaran, pergi berdua, semuanya sudah. Sungguh, jiwa begitu mudah bosan. Kalau semuanya sudah dilakukan, saat menikah nanti mau apa lagi? Kalau Anda menikah dan pernah pacaran, Anda akan membandingkan pacaran dengan pernikahan. Dan pasti pacaran lebih indah, karena pacaran memang hanya mencari rasa yang indah. Lalu, jadilah kenangan pacaran sebagai penyesalan dalam hidup rumah tangga. Atau, kalau Anda membandingkan pasangan Anda dengan pacar Anda, pasti pacar Anda dahulu lebih sempurna. Ya, karena selama pacaran, hanya sifat baiknya saja yang ditunjukkan pada Anda."

"Lantas, bila tidak pacaran, dari mana kita dapat mengenal pasangan kita?"

"Cara untuk belajar terbaik menjadi istri terbaik hanyalah melalui suami. Cara untuk menjadi suami terbaik hanyalah melalui istri. TIDAK BISA MELALUI PACARAN. Pacaran hanya mengajarkan bagaimana menjadi pacar terbaik, bukan suami atau istri terbaik."

"Lalu bagaimana bila kita terlanjur jatuh hati pada sebuah nama?"

"Ibnu Mas'ud sudah memberitahukan caranya dalam sebuah hadits. Bunyinya 'Apabila kamu merasa kagum dengan seseorang, ingatlah kejelekan-kejelekannya.' Itu adalah salah satu cara menetralisir hati yang mulai terkontaminasi pada sebuah nama. Bukan bermaksud su'udzan (berburuk sangka) atau pun tajassus (mencari-cari aib), melainkan lebih kepada pengembalian objektivitas yang manusiawi. Juga untuk memutus salah satu rantai tazyin (menghias-hias) yang dilakukan syaithan: yang buruk tampak baik, yang busuk tercium wangi, yang nista terdengar mulia. Bukan orangnya yang kemudian harus kita sikapi sebagai 'orang yang banyak kekurangan'. Tetapi lebih agar interaksi yang kita lakukan benar-benat proporsional. Tidakkah terpikir bahwa yang harus dicintai karena Allah banyak jumlahnya? Tak hanya dia, tapi keadilan yang melekati cinta menuntut perhatian besar kita pada masalah-masalah besar umat ini."

"Jadi intinya, tidak ada pacaran sebelum pernikahan?"

"Ya! Keinginan untuk berpacaran dalam diri kita adalah manifestasi kepengecutan yang bertahta dalam sanubari. Kita pengecut, masih takut-takut untuk menanggung beban dalam hidup berumahtangga. Dan di baliknya, kita begitu licik untuk bersegera menikmati sisi-sisi indah dalam hubungan dua insan. Benar-benar pengecut. Belajar dari ahli puasa. Ada dua kebahagiaan baginya, saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Maka menjaga diri dari tidak berpacaran adalah puasa panjang syahwatmu. Kekuatan ada pada menahan. Dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan. Coba saja, kalau Allah yang menghalalkan, setitis cicipan surga akan menjadi shadaqah berpahala. Nikmatnya pacaran setelah pernikahan."



*Modifikasi dari buku "Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan" karya Salim A. Fillah


Meta morfillah

Text Widget