Pages

13 June, 2014

Talkshow with Jonru - Klub Buku

- Jalan cerita tidak penting bagi penulis, melainkan: Karakter dan Tema.
- Important: Making believe your reader, with plot!
Untuk membuat making believe, jangan hal yang biasa/wajar.
Contoh:
Ibu sayang sama anak --> tidak perlu Making Believe.
Ibu membunuh anak --> perlu penekanan dengan making believe.

  1. Langkah 1: Tentukan karakter tokoh dan masalah utama.
  2. Langkah 2: Ciptakan konflik. Konflik antar tokoh (dua orang rebutan satu cowok), konflik internal (batin), konflik dengan eksternal (Jurassic Park).
  3. Langkah 3: Eksplorasi konflik. Mulai--Klimaks--Antiklimaks--Peleraian/ending.
  4. Langkah 4: Ending = Kesimpulan (Apa yang hendak saya sampaikan lewat cerita ini?)
3 langkah jitu pintar menulis: Rajin menulis, rajin membaca, dan pelajari ilmunya.

Jangan lupa tentukan segmen pembaca: lelaki/perempuan, usia, domisili, agama, hobi, status, dll.)

*Materi Minggu, 17 Maret 2013

Meta morfillah

Urgensi Tarbiyah Muslimah

A. Kenapa harus liqo?
  1. Karena terkontrol. Kalau tarbiyah dzatiyah (belajar mandiri) sulit mengontrol diri sendiri/tidak ada feedback.
  2. Manusia makhluk berkelompok. Kebutuhan komunikasi dengan sesama yang tinggi.
  3. Manusia itu lemah. "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah." Q.S. 4: 28
  4. Manusia itu bodoh. "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh." Q.S. 33: 72
B. Tarbiyah penting, karena....
  1. Memperluas ilmu/wawasan. Iman ada setelah ilmu. Tahu dulu, baru percaya!
  2. Mendukung suami dalam dakwah.
  3. Sukses mendidik anak. "Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya." Q.S. 52: 21
  4. Eksis di tengah masyarakat dan membuat masyarakat islami/madani. "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." Q.S. 8: 25
ADA TUJUAN LEBIH BESAR DIBANDING KEPENTINGAN DIRI SENDIRI ---> UMAT!

KITA BUKAN ORANG BIASA, AKAN DAPAT ORANG & KELUARGA LUAR BIASA!

*Materi Ngaji Kamis, 21 Februari 2013


Meta Morfillah

Cinta yang tak sempat terjadi

Terima kasih.
Mungkin itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan semua rasaku untuk kalian. Yaa... Kalian yang pernah hadir dan singgah di hati. Walau pada akhirnya cinta kita tak sempat terjadi. Pada awalnya, aku selalu menyalahkan cinta. Mengapa cinta tak pernah datang tepat waktu? Hingga kedatanganmu dengan cintamu yang besar, tak pernah selaras dengan kesiapan dan keadaanku. Namun kini, pada akhirnya aku memahami sesuatu. Bahwa cinta tak pernah salah. Tidak pernah ada kata terlambat, untuk cinta yang selalu tepat waktu.

Cinta kita yang tak sempat terjadi, adalah arena untuk kita saling membenahi hati dan diri. Darinya, kita terlatih merasakan jatuh cinta dalam diam, patah hati dalam diam, dan pulih dari luka karena cinta dalam diam. Tanpa perlu ada yang tahu. Cukup kita dan Tuhan yang menjaga hati kita, hingga seperti saat ini. Bahkan, hingga detik saat kutuliskan tulisan ini...

Ada kelelahan yang amat sangat, namun tak terlihat secara kasat. Ada pertanyaan yang tak habis dan selalu menuntut muara jawaban. Ada gugatan yang lantang bersuara dalam nurani. Namun perlahan semua menyusut. Ketika pilihan yang tersisa hanyalah mengusut hingga kusut dan berdamai lalu menerima, maka aku memilih yang kedua. Sebab, ada kalanya kita akan lebih bijak tanpa mengungkit dan mengusut, lalu membuat hati semakin perih. Bisa saja itu dilakukan. Tapi, nanti. Saat kita telah kuat dan berlapang dada atas segala keputusan.

Tidak pernah ada kata terlambat, untuk cinta yang selalu tepat waktu. Dari air mata, kita banyak belajar. Aku yakin akan satu hal, bila tiba saatnya, maka dia yang akan berbagi hidupnya denganku, adalah yang terbaik di waktu yang tepat. Dipertemukan pada saat yang begitu tepat, ketika sebagian diriku telah menyadari makna dari beberapa sisi tentang hidup bersama. Sebab, cinta adalah energi, maka cinta tidak akan pernah hilang. Ia hanya berubah bentuk dan tujuan. Walau hanya satu muara pada akhirnya. Pada sang pemilik cinta.

Maka, mencintaiMU adalah semacam usaha yang tak pernah selesai. Setiap hari terbangun, aku selalu berkata pada diriku bahwa aku ingin belajar mencintaiMU lebih baik lagi.

Meta morfillah

09 June, 2014

Risiko menjadi bawahan

Lelah! Capek! Mumet! Sebal! Kesal! Bete!

And many else complain about our work. It's normal. That's a life. Problem always there.

Ketika positive thinking, badan sehat, semua masalah--seberat apa pun--mampu kita cerna dan selesaikan menggunakan sudut pandang yang tepat (paradigma, reframing, dl). Dengan mudah kita dapat menyelesaikan, atau setidaknya menangani dengan baik. Mengapa? Sebab saat kita berpikiran positif, hormon endorfin kita akan meningkat. Hormon endorfin adalah hormon kebahagiaan yang menghasilkan daya tahan tubuh. Itulah sebabnya, orang-orang yang ikhlas, tenang, damai dan selalu tersenyum (baik senyum palsu, ala kadarnya atau pun memaksa senyum), jauh lebih sehat dan panjang umur. Mereka membuat diri mereka awet muda, tanpa disadari.

Saat berpikir positif, kita bisa melihat permasalahan dari segala sisi. Tidak hanya sisi kita sebagai bawahan, tetapi juga sebagai atasan, customer eksternal dan internal, serta segala pihak lain yang berhubungan. Kita tidak menjadi egois, mencoba memahami dari sisi mereka, menggali win-win solution.

Tapi bagaimana bila kondisi sedang kurang sehat, terlalu banyak masalah yang menumpuk, sehingga kita jadi berpikiran negatif? Terutama untuk wanita--bukan berarti saya main gender. Sebab, ada suatu periode di mana wanita bahkan kurang dapat mengontrol dirinya sendiri ketika sedang dalam periode tersebut. Ya, periode itu adalah PMS. Kita mengenalnya sebagai Pre Menstruation Syndrome. Tapi beberapa teman wanita saya memplesetkannya menjadi Pas Menstruasi Syndrome, Pasca Mentruasi Syndrome, Pengen Marah Selalu, Pengen Manja Sesekali, dan lainnya. Hahah... Kesannya egois, ya? Wanita ingin selalu dimengerti. Tapi, jika kalian para pria merasakan sedikit saja apa yang kami alami, niscaya kalian akan sedikit berempati. Selogis apa pun wanita yang kalian kenal, bila terkena PMS, dia pun seperti tak mengenali dirinya sendiri. Tiba-tiba saja kelenjar air mata seperti membesar, sehingga mudah menangis. Sensitifitas naik, amarah mudah terpancing, ditambah secara fisik, kadang sampai pingsan, migrain, vertigo, dan lainnya. Kalau ada yang nanya, "Maumu apa, sih?"
Rasanya pengen terjunin tuh orang dari tebing. Sebab, kita sendiri coba mengendalikan lewat logika, tapi tetap aja hormon sedang tidak stabil. Makanya Tuhan membebaskan kewajiban beribadah saat wanita sedang haid. Sebab, itu dianggap sebagai sebuah penyakit.

Nah, kalau lagi kayak gitu, sering banget logika jadi tumpul. Wanita mengedepankan perasaan. Atasan--lelaki-- yang tak peduli, datang dan marah-marah. Menyalahkan bahkan tidak menghargai hasil kerja yang sudah kita kerjakan dengan versi terbaik diri kita. Rasanya pengen teriak "Hellooo.. I did my best! Can't you see it?"
Atau pengen nangis lalu pergi jauh-jauh dari orang yang sudah menyakiti perasaan kita. Timbullah berbagai macam pikiran negatif yang beranak-pinak.

"Gw pengen resign. Udah gak kuat! Capek."

"Lo gak tahu apa, gw datang pagi-pagi. Berusaha mengerjakan dan menyelesaikan tumpukan pekerjaan ini, dan lo bilang gw gak ngapa-ngapain!? Go to hell!"

"Badan gw udah gak enak, gw maksain kerja, dan ini yang gw terima!? Lo nyalahin kerjaan gw, yang setengah mati gw kerjain tanpa ada petunjuk jelas dari orang terkait. Gw yang malah lo omeli? Kayaknya gw salah muluk di mata lo? Emang siapa lo di mata gw? BELEK!"

Dan umpatan-umpatan lain yang berkecamuk. Kaki rasanya ingin lari menjauh dan tak ingin kembali ke kantor. Kalau keesokan harinya masih seperti itu, sebaiknya kita ajukan cuti. Take a breath. Exhale, inhale. Lalu kembali ke rutinitas. Kembali ke problema-problema harian. Kembali mendengar omelan, cacian, kata-kata pedas, dan kita tak kuat menerimanya. Maka resignlah. Karena diomeli, kurang dihargai dan disalahkan adalah bagian dari gaji yang kita terima. Selama kita jadi bawahan, hal itu niscaya. Hanya persoalan waktu. Kalau kita enggak kuat, ya resign saja. Tandanya kita enggak cocok jadi bawahan. Lalu ketika kita mendirikan perusahaan sendiri, coba ingat-ingat lagi rasanya ketika menjadi bawahan. Semoga kita tidak menjelma atasan terdahulu kita. Seharusnya pengalaman membuat kita lebih bijak belajar dari kesalahan, kegagalan dan kepahitan.


Meta morfillah

Pillow Talks

Kalian tahu apa itu pillow talks? Atau jangan-jangan kalian sering melakukannya, namun tidak tahu namanya?

Pillow talks adalah aktivitas ngobrol sebelum tidur dengan pasangan. Makanya dinamakan pillow, karena biasanya saat kita sudah merebahkan tubuh di atas kasur dan memakai bantal--bersiap untuk tidur. Berdasarkan penelitian, pillow talks ini sangat dianjurkan, karena di sanalah saat memperbaiki komunikasi yang mungkin kurang intens atau kuantitas untuk quality timenya kurang. Menurut saya pribadi, pillow talks ini tidak hanya berlaku untuk pasangan, tapi untuk siapa pun yang dekat dan tidur bareng Anda. Bisa saja dengan ibu, kakak, adik, atau sahabat kosan.

Saya sendiri baru menyadari, bahwa ternyata saya sering melakukannya dengan mama. Ya, saya tidur bersama mama jika mama sedang berada di Jakarta. Bahkan, dari jam tidur normal kami yang biasanya jam sembilan atau sepuluh malam, bisa mundur menjadi jam dua pagi karena pillow talks ini. Seperti halnya kemarin.

Awal pembicaraan selalu dipancing oleh pertanyaan mama saya mengenai apa yang saya lalui hari ini, terutama mengenai aktivitas di kantor. Lalu merembet ke arah perihal ibadah harian saya, lalu ke usia, lalu ke jodoh, lalu ke teman laki-laki saya, lalu ke keluarga inti kami, lalu rencana-rencana masa depan, lalu evaluasi dan selalu ditutup dengan ceramah mama tentang wanita yang harus kuat, tidak pengeluh dan selalu menuntut saya lebih rajin--sebab di mata beliau, saya tetaplah bungsunya yang selalu menjadi anak kecil, teledor, dan pemalas. Urutan tengah, selain topik awal dan akhir, bisa berubah-ubah, namun selalu seputar itu-itu saja. Terutama jodoh dan usia. Hampir tiap saat, mama selalu menyindir dan membahas isu ini pada saya. Mungkin karena sebentar lagi saya mau menginjak usia 25 tahun. Usia di mana mama saya menikah dengan bapak saya dahulu, dan beliau merasakan sendiri itu sudah telat. Ketika memiliki anak, kakak saya menikah di usia 22 tahun, sementara saya? Sampai detik ini, saya tak pernah mengenalkan "Ini pacar saya, Ma" yang mungkin akan membuat beliau lebih tenang. Yaa, saya memilih jalan yang berbeda, dan pertama ada di keluarga inti, bahkan keluarga besar saya, baik dari pihak keluarga bapak atau pun mama. Saya berusaha untuk ta'aruf, tak mau menambah dosa dengan berpacaran. Saya cukup tahu diri, dosa saya sudah banyak.

Namun, saya pun bukan orang yang close-minded. Saya tetap berteman dengan lelaki, bahkan karena saya berasal dari SMK, yang notabene lebih banyak lelaki--hingga kami, siswi SMK itu diliput sebuah majalah kota yang terkenal, dan mendapat julukan 'Anak perawan di sarang penyamun--membuat teman lelaki saya jauh lebih banyak dibandingkan wanita. Setiap hari, setiap malam minggu, teman lelaki saya bergantian datang, main ke rumah. Seakan saya gonta-ganti cowok, padahal tidak. Itu jauh lebih aman, sebab keluarga saya mengenal semua teman lelaki saya. Tidak ada yang saya tutupi. Semua hal yang saya coba lakukan terbaik, tetap saja dikomentari pro dan kontra, negatif dan positif. Hingga terkadang, saat pillow talks saya meminta nasihat pada mama, apa yang harus saya lakukan. Sebab, seringkali saya merasa sunyi di jalan yang telah saya pilih ini. Tapi, saya pun tak mau kembali ke jalan lalu yang ramai. Pangkalnya jauh, ujungnya belum tiba.

Pada saat pillow talks ini pula, saya selalu mendiskusikan dan memberi pengertian mengenai prinsip hidup saya. Apa saja keputusan yang akan saya ambil dan latar belakang saya memilih keputusan itu. Dulu, amat berat rasanya, memberitahu pilihan-pilihan hidup yang ingin saya jalani. Tapi waktu menunjukkan kuasanya. Perlahan, saya melihat setelah beratus pillow talks saya lewati dengan mama, beliau akhirnya dapat mengerti apa yang saya inginkan dan butuhkan dari dia sebagai support. Pada akhirnya kepercayaan beliau adalah sumbu utama kepercayaan diri saya, bahwa saya mampu mencapai jalan menujuNya, walau jalan itu sunyi. Walau saya merasa terkadang begitu hampa, sepi dan basi.

Orang tua, tidak akan bisa sekali kita beri penjelasan maka langsung menerima hingga mengiyakan. Mereka melihat niat dan konsistensi perilaku kita. Maka, kita pun harus sabar, dan terus menerus memberikan pengertian pada mereka. Melalui pillow talks salah satunya. Cobalah, komunikasi yang kurang intens karena waktu sibuk Anda untuk bekerja begitu padat, ditebus dengan konsistensi pillow talks barang sepuluh hingga dua puluh menit per harinya.

Lalu, rasakan keajaibannya.



Meta morfillah

04 June, 2014

Akhir Pencarian

Tak ada yang lebih indah selain dua orang yang bertemu karena saling menemukan, sama-sama berhenti karena telah selesai mencari. Tak ada yang akan pergi, sebab tahu bagaimana sulitnya mencari.


Pernahkah kamu memiliki pemikiran yang sama denganku, Sayang?

Mengapa kita dipertemukan pada usia yang tidak lagi muda, tapi juga tidak terlalu tua. Di saat kawan-kawan kita sudah membangun keluarga dan beranak-pinak, sementara kita masih berkutat dalam pencarian.

Masa lalumu yang kudengar sebagai cassanova, penebar jerat cinta. Semua wanita kamu dekati, hampir tak ada yang luput. Tapi semua hanya permainan. Siklusmu selalu sama, setelah enam bulan kamu akan bosan dan mencari pengalih perhatian lainnya. Tentu saja, wanita lain maksudku. Padahal, kamu merasakan kekosongan itu. Sempat kamu terbentur pada seseorang. Mencoba serius dan melamarnya, tapi dia belum siap. Lalu kamu kecewa, dan kembali tidak serius pada wanita. Semua kamu anggap permainan kembali. Semacam uji nyali, undian, dan mengumpulkan piala, yaitu mantan-mantanmu.

Sementara, masa laluku pun diwarnai lelaki yang datang dan pergi silih berganti. Hingga aku lelah menanggapi. Mengapa? Nyatanya, mereka terlalu memujaku, namun takut memilikiku. Bukankah itu pengecut nomor satu, Sayang? Ketika kamu sangat menginginkan sesuatu, namun memperjuangkannya pun kamu enggan. Aku menjadi paradoks. Memercayai cinta, tapi sulit jatuh cinta. Hatiku kukerangkeng dalam ragam kesibukan lain. Menaikkan level diriku, tangga demi tangga ujian kutapaki. Bahkan, aku melupakan cinta. Tapi, cinta sama seperti uang dan dunia. Semakin ditolak, mereka semakin mendekat. Mungkin, mereka tak pernah menerima penolakan, Sayang. Semakin aku acuh, semakin bertambah kumbang penggoda. Dari yang diam-diam, hingga yang terang-terangan. Aku kembali lelah, Sayang.

Hingga tiba masa kita bertemu. Dua orang di puncak kelelahan. Berkutat pada pencarian. Kamu dengan gaya pencarianmu. Aku dengan gaya pencarianku. Kita berbincang. Bertemu. Berbincang lagi. Dan menjelma menjadi janji-janji temu selanjutnya. Seperti menemukan sebuah pelengkap. Kawan bercerita yang pas. Hingga di pertemuan kesekian, kita--lebih tepatnya kamu, Sayang--melakukan hal gila.

"Kita nikah, yuk!" Katamu di sela bahakku.

"Hahaa.. Yuk! Nikah kan tinggal nikah. Ke KUA. Biaya nikah, tuh, enggak mahal, yang mahal biaya gengsinya!" Aku menanggapi dengan lebih gilanya.

Tiba-tiba raut mukamu serius. Aku berhenti dari bahak. Intuisiku mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sering kualami ketika "ditembak" lelaki. Perutku tiba-tiba terasa dikocok-kocok, jantungku berdebar tak karuan. Semoga saja, tidak! Harap cemasku. Di satu sisi aku takut. Di sisi lain, aku terlanjur nyaman denganmu.

"Aku serius."

Damn! Hal yang kutakutkan terjadi.

"Mengapa diam? Kita sudah saling mengenal. Luka dan penderitaan kita sama. Kita sudah lelah mencari. Mengapa tidak kita saja yang saling mengisi satu sama lain? Banyak persamaan yang mampu merekatkanku dan dirimu. Aku nyaman denganmu."

Ada kesungguhan dalam nada suara dan matamu. Membuatku tercekat, tapi di dasar perutku seakan ada yang meledak. Rongga dadaku terasa mengembang, seakan ingin membuncah.

"Baiklah. Kapan kamu akan ke waliku meminta restu?"

"Besok."

Tiba-tiba saja, segala hal dilancarkan. Tidak ada kendala berarti hingga terselenggaranya pernikahan kita. Benarkah ini yang namanya jodoh, Sayang? Kamu bahkan tak pernah masuk dalam daftar lelaki yang ingin kumiliki. Sebab, aku tahu masa lalumu. Detilnya. Pun aku, tak pernah masuk dalam daftar wanita yang ingin kamu pacari. Sebab, aku tak secantik mantan-mantanmu. Tapi, 20 tahun kita bersama, hingga hari ini, barulah aku yakin bahwa kita memang berjodoh, Sayang.

Kamu tak pernah pergi meninggalkanku. Pun aku. Kita hanya akan terpisah dimensi ruang dan waktu. Aku percaya, kita akan tetap saling menjaga, Sayang. Aku melepaskanmu dalam perjalanan damaimu, melalui kecupan terakhirku pada jasadmu yang terbujur kaku dan dingin.

Terima kasih, Sayang. Kamu telah memberikanku 20 tahun kebahagiaan dalam pernikahan. Aku mencintaimu. Selalu.


Meta morfillah

03 June, 2014

Hubungan berjarak

Ini tentang sahabat SMA gw. Sebut aja nama wanitanya Bunga dan lelakinya Kumbang.

Awal pacaran, kita--terutama gw, yang notabene sahabat dari keduanya--sampai gumoh lihat kemesraan mereka. Benar-benar kayak gw numpang lewat, kagak pake ngontrak lagi di dunia. Asyik masyuk berdua. Sampai risih lihat show off kemesraan mereka. Sebagai sahabat, gw sudah memperingatkan mereka, bahwa ulahnya bisa menimbulkan kecemburuan sosial. Terutama bagi yang jomblo. Eh, tapi gw mah kagak ngaruh, ye.

Singkat cerita, show off kemesraan itu hanya bertahan tiga bulan. Perlahan mereka mulai merenggang. Mungkin bosan juga, karena hampir tiap menit ketemu muka yang sama, pasangannya. Gaya pacarannya pun sudah stuck, kagak sevariatif dulu. Sudah semua dicoba kali, ya.

Lalu, di bulan keenam, mereka mulai berjauhan. Lebih tepatnya sahabat gw yang cowok, mulai menjauh dan asyik sama teman-temannya--termasuk gw. Sahabat gw yang cewek mulai bete. Sering menyetel lagu Maudy Ayunda yang judulnya 'Pilih Aku atau temanmu'. Mellow. Lalu kenalah gw, sebagai sahabatnya yang selalu dicurhatin. Jadi tong sampahnya. Sebagai sahabat yang baik, gw coba ngomong juga sama sahabat cowok gw. Dia iya-iyain aja, dan gantian curhat. Dan itu mulai menjemukan bagi gw. Gw terjebak di antara hubungan mereka. Hampir tiap hari sahabat cewek gw bbm, curhat tentang perubahan cowoknya. Sedang sahabat cowok gw, makin malas dihubungi ceweknya. Gw, serasa operator. Perkara yang bikin gumoh dan gak penting menurut gw, membuat gw nekat ngumpulin keduanya tanpa sepengetahuan mereka.

Gw atur janji barengan mereka berdua, di sebuah kafe bilangan grogol. Saat keduanya datang, yang cewek keliatan senang banget ngeliat cowoknya. Sedang yang cowok, langsung pasang muka bete.

Gw yang menjadi korban telinga panas dari hubungan mereka berdua, membuka pembicaraan,
"Kumbang, Bunga, gw capek. Kalian kalau ada masalah coba diselesaikan berdua. Jangan melibatkan gw di tengah. Lo kata, gw operator hubungan lo!"

Mereka diam. Gw melanjutkan dengan emosi yang meletup.

"Kumbang, lo tuh kenapa sih susah banget dihubungi Bunga? Kalau emang lo laki, udah bosan, bilang! Jangan gantungin cewek kayak gitu. Gentle dong, berani memulai, berani memutuskan."

Tampak mata Bunga mulai berkabut. Sementara Kumbang melirik malas ke arah gw.

"Pokoknya, sekarang kalian berdua harus selesaikan masalah kalian berdua di sini! Kalau kagak, gw malas berteman sama kalian berdua lagi!"

Melihat mereka yang masih terdiam, gw melanjutkan,
"Gw percaya, dalam hubungan itu jarak bukan dihitung dari seberapa jauh pasangan berada, tapi dilihat dari seberapa gede niat ketemunya. Jadi, dalam hubungan sekota pun, kalo nggak pernah ada niat buat ketemu, artinya itu hubungan yang berjarak. Lo berdua padahal kagak LDRan, tapi lebih jauh jaraknya dibanding pasangan LDR lain yang gw kenal."

Lalu gw pergi meninggalkan mereka berdua. Whatever lah! Gw paling malas dilibatkan sama hubungan absurd macam itu. Bikin emosi jiwa. Too childish. Mendingan gw mikirin kegiatan sosial lain. Isshh...

***

Keesokan harinya, sahabat cewek gw datang ke rumah. Dia curhat (lagi).

"Gw udah putus sama Kumbang."

"Baguslah. Daripada lo terus sakit hati."

"Tapi gw masih sayang sama dia."

"Tenang aja, time heals the wound."

"Iya, tapi mungkin akan lama."

"Bunga, lo berdua udah beda keyakinan. Lo yakin, tapi dia ga yakin untuk tetap memperjuangkan hubungan. Kalau dia sendiri tidak yakin dengan pilihan memperjuangkan hubungan lo berdua, ya hubungan lo kagak akan bertahan lah!"

"Lo sadis banget, sih!"

"Sengaja. Biar lo buka mata. Mungkin dia teman baik lo, tapi belum tentu bisa jadi teman hidup lo!"

***


*terinspirasi dari salah 1 kalimat di buku #relationshit

Meta morfillah

02 June, 2014

[Review Buku] Metropolis

Judul: Metropolis
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Grasindo
ISBN: 978-602-251-287-5
Dimensi: vi+350 hlm;

Setiap kota punya sisi gelap dan di sana mereka--mafia--berpesta.

Empat pribadi dengan masa lalu, ambisi, serta cinta dan benci yang memiliki satu keterkaitan. Ialah Bram, polisi muda yang cerdas, anak seorang pecandu yang mati dibunuh pengedar. Miaa, perempuan misterius yang tidak pernah memiliki ayah. Johan, laki-laki yang lahir di kalangan mafia dan punya banyak piutang nyawa. Indira, perempuan berhati bersih, orang yang salah di tempat yang salah.

Cerita bermula seiring dibukanya sebuah kasus pembunuhan berantai yang menimpa sindikat 12--sindikat narkotika terbesar di Jakarta. Satu per satu kepala genk sindikat--yang terdiri dari 12 orang--meninggal dalam kurun waktu setahun. Bram, dengan intuisinya percaya bahwa ini adalah pembunuhan terencana dan rapi. Lika-liku kasus ini, membawanya kembali pada niat masa lalu--latar belakang mengapa ia menjadi polisi di reserse narkotika. Tak hanya Bram, tiga orang lain--Miaa, Johan, dan Indira--pun kembali mengorek luka masa lalu, membayar dosa-dosa yang telah dilakukan ayah mereka.

Secara keseluruhan, saya menganggap novel ini begitu menarik. Mengapa? Novel ini berhasil membuat saya begadang. Rasa penasaran yang kuat dan susah move on dari lembaran ceritanya mengalahkan rasa kantuk yang dahsyat. Bukankah novel itu menarik, jika membuat pembacanya tidak ingin lepas membaca sampai ending? Itulah yang saya alami.

Windry mengemas detail-detail cerita dengan apik, menampilkannya dalam beberapa ilustrasi gambar yang mempermudah imajinasi saya. Membuat saya merasa seperti sedang terlibat dalam serial Crime Scene Investigation (CSI) ala Indonesia. Benar-benar tak kalah keren dengan seri detektif asing.

Penokohan yang kuat, alur yang lincah dan twist di tiap bab yang memancing rasa ingin tahu, patut diacungi jempol. Saya tidak menemukan kekurangan atau cacat logika dalam cerita ini. Bahkan hingga ending, sepertinya masih bisa dibuat sekuel, untuk kelanjutan dalam sisi romance atau masa depan sindikat 12. Endingnya memberikan twist untuk pembaca menduga-duga dan menyayangkan apa yang akan dan telah terjadi.

Bintang: 5 dari 5.


Meta morfillah

Membunuh malas dengan konsistensi

"Met, kamu produktif sekali."

"Rajin banget lo, Met!"

"Bagaimana caranya biar gak malas sih, Met?"


And many else...

Menghadapi beragam komentar dan pertanyaan yang sama dari ragam orang yang berbeda, kadang bikin mati kutu. Konfirmasi aja, tha itu pemalas nomor sekian. Percayalah, ada dua orang yang akan menyetujui dengan cepat bahwa tha itu pemalas, mama dan kakak tha. Dari sisi kualitas ibadah, kerja dan ketelatenan rumah tangga mama nomor satu. Sedang kakak, dari sisi ketelitian, kerapian, dan masakan juara juga. Lah, meta? Entah, dari sisi mananya dibilang rajin. Tapi, saya hargai apresiasi mereka. Sebenarnya, saya sedang bertarung tiada henti dengan kemalasan. Ketika saya sedang terlihat rajin, berarti saya sedang menang, berkat satu senjata, namanya KONSISTENSI.

"Orang keren itu, orang yang enggak suka sesuatu, tapi dia tetap bertahan dan mencoba menyelesaikan sesuatu itu dengan baik. Contohnya, semua orang pada dasarnya enggak suka sekolah. Tapi, mereka tetap sekolah dan lulus dengan cara yang baik. Mereka itu keren!" Kata ayah Pidi Baiq di suatu sore, tepatnya di acara talk show Jakarta Book Fair 2014.

"Barang siapa bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah maha kaya, maha terpuji." (Al Qur'an surah Luqman ayat 12)

Dalam hal apa pun, baik ibadah, menulis, memasak, mencuci, perkara bebenah rumah tangga, pekerjaan kantoran, dan semua hal dalam hidup, formulanya saya rasa sama. Bercermin dari penulis-penulis sukses, yang mungkin sudah gumoh dengan pertanyaan "Bagaimana caranya menjadi penulis yang karyanya sukses? Apa kiat untuk menjadi penulis yang sukses"
 
Kebanyakan menjawab hal yang sama, walau diksinya berbeda. "Menulislah. Menulis, menulis, menulis, membaca. Disiplinkan diri, minimal satu jam sehari untuk menulis apa saja."
Intinya: LAKUKAN dan KONSISTENLAH!

Sebab, kamu tidak akan pernah dapat menemukan kesuksesan, bila tidak pernah melakukannya. Kejatuhan, stuck, demotivasi, mendapat ilham, dan sebagainya adalah proses kreatif menulis, yang terjadi hanya, DAN HANYA JIKA, kamu melakukannya dengan konsisten.

Begitu pula dalam hal ibadah. Manusia itu tempatnya lupa. Makanya, dikasih nama insan yang artinya tempatnya khilaf/lupa. Sudah dikatakan dalam kitab, bahwa kita harus saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Tuhan tahu, kita itu pelupa, makanya disuruh cari teman yang saling mengingatkan. Tuhan pun tahu, kita itu kebanyakan suka berkompetisi atau deadliners, maka dibilang dalam sebuah ayat, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Jangan pedulikan omongan orang lain, takut dicap riya', pamer, sok suci, dan sebagainya. Jalani saja dulu, rajin-rajin istighfar dan meluruskan niat setiap saat. Sebab siklus kita adalah dipaksa-terpaksa-biasa-budaya.

Memang membosankan, bertemu dengan orang yang banyak alasan untuk menuju kebaikan, keunggulan dirinya sendiri. Percuma diladeni, kalau sudah diberitahu rahasianya, masih saja asyik berkutat dengan masalah dirinya. Sampai mati, yang namanya MALAS itu enggak ada obatnya. Harus dilawan, diperangi.

Selalu ada ALASAN, di balik setiap KEMALASAN.

Pada akhirnya, ketika ada yang bertanya dan sudah dijelaskan, tapi tidak dipraktikkan seperti itu, saya ingin mengutip perkataan seorang mas yayan,
"Kalau memilih untuk malas, ya tanggunglah pahalanya. Kalau memilih giat, ya terimalah akibatnya."

Semoga tulisan ini, mampu memotivasi saya, ketika saya mulai mengeluh, demotivasi, dan terserang penyakit malas.

Meta morfillah

[Review Buku] Relationshit

Judul: Relationshit
Penulis: Alitt Susanto
Penerbit: Bukune
ISBN: 602-220-124-1
Dimensi: vi+230 hlm; 13 x 19 cm

Well, baca buku ketiga alitt ini--Setelah shitlicious (yang belum saya baca) dan skripshit--tetap sama gayanya. Kocak, menertawakan diri sendiri, tapi tetap memberi makna. Walau kadang terlalu lebay imajinasinya, tapi saya tetap salut terhadap Alitt. Mengapa dia bisa membuat ceritanya yang keseharian, menjadi novel personal literature dan laku? Hayoo.. Mengapa saya tidak? *keep smile*

Di buku ini, gak melulu ngomongin soal asmara, hanya karena judulnya relationshit. Pengertian relation itu gak sepicik yang kamu duga, just between man and woman. Ada beragam cerita, yang akan saya jabarkan dalam review ini disertai kalimat yang menurut saya quotable. Semoga gak spoiler banget ya, hehe...

1. How I met her mother Bercerita tentang pengalaman Alitt bertemu dengan ibunya Nina, yang notabene maksa dia untuk gabung ke bisnis MLM Madupolis.

"Saat kita berani berkomitmen untuk menerima seseorang, kita juga harus bisa menerima keluarganya juga." (Hal. 17)

2. Mencintai si Jeni Kisah Alitt dengan mobil pertamanya, yang diberi nama Jeni.

"Ya, kadang hal yang baru itu datang hanya untuk mengingatkan, betapa berharganya hal lama yang sudah kita tinggalkan." (Hal. 42)

3. Firasat Kisah Alitt dengan sahabat sekaligus tetangganya sedari kecil, Trisna.

"Ternyata di mana kita tinggal, nggak menentukan kita bakal jadi orang kayak apa. Yang menentukan adalah, dengan siapa kita bergaul di sana." (Hal. 50)

4. Adik gue, jagoan gue Kisah Alitt bersama adiknya, Andi.

"Gue nggak bisa selalu ada untuk menemani dan mendidiknya. Apa yang gue kasih itu cuma harta, dan harta itu kayak pistol. Kalo kita sembarang ngasih pistol ke orang, tanpa dibimbing cara pemakaiannya dengan bijak, benda itu bisa merugikan pemegang dan orang di sekitarnya." (Hal. 73)

5. Cinta tapi bungkam Kisah Supri, teman Alitt yang memilih jalan mencintai tapi bungkam, yess.. Secret admirer.

"Secret admirer itu, di mata gue, orang yang mau mencintai, tapi nggal berani mengambil resiko. Padahal yang namanya cinta itu emang nggak bisa selalu mulus dan harus ada perjuangannya. Pastiin juga, orang yang lagi diperjuangin itu ngerti. Biar apa? Biar si target nyadar kalo dia sangatlah berarti. Berkorban tanpa kenal lelah, tapi si target nggak pernah liat? Sama aja kayak PDKT sama dispenser." (Hal. 88)

6. Bukan cerita FTV Kisah Alitt dengan adik kelasnya di kampus, Harno yang merupakan generasi menunduk.

"Segala kemewahannya hanyalah penghasil tawa, bukan bahagia. Tawa bisa hilang dalam hitungan detik, sedangkan rasa bahagia bisa selalu diingat dan membuat hati hangat." (Hal. 115)

"Hidup tanpa punya apa-apa memang pedih, tapi lebih pedih lagi kalo hidup tanpa punya siapa-siapa." (Hal. 117)

7. Kalimat ajaib Gita Kisah Alitt dengan Gita, teman jalannya.

"Sebenarnya, partnership bisa dilihat dari sudut pandang sesimpel itu. Kalo kita ngerasa kehilangan saat partner kita nggak ada, artinya kita memang membutuhkan dia. Tapi, kalo saat dia nggak ada, kita ngerasa hidup kita berjalan seperti biasanya, artinya dia nggak sepenting itu buat kita. Nggak perlu kebanyakan drama." (Hal.137)

8. Gue adalah anak eyang Kisah Alitt dengan eyang kakungnya.

"Satunya keras, satunya lembut. Tapi, bukankah begitu konsep pasangan yang cocok? Kalo dua-duanya sama-sama keras, yang ada mereka akan selalu beradu kekuatan. Kalo dua-duanya sama-sama lembek, mereka bakal mudah dihancurkan oleh keadaan." (Hal. 144)

"Figur ayah itu tidak selalu orang yang menikahi ibu. Ayah adalah orang yang mau membimbing seorang anak dari kecil hingga dewasa. Ayah adalah orang yang mau melindungi anaknya dari ancaman-ancaman dunia. Ayah adalah orang yang bisa memberi teladan tentang bagaimana menjadi seorang figur yang bertanggung jawab.

9. Long distance lover Kisah Alitt dengan Wina.

"Gue percaya, dalam hubungan itu jarak bukan dihitung dari seberapa jauh pasangan berada, tapi dilihat dari seberapa gede niat ketemunya. Jadi, dalam hubungan sekota pun, kalo nggak pernah ada niat buat ketemu, artinya itu hubungan yang berjarak." (Hal. 170)

10. Long distance relain-ship Kisah Alitt dengan Wina, setelah jadian dan ngelamar.

"Mas, Masalah itu nggak ada. Masalah itu adalah istilah ciptaan manusia untuk pilihan terbaik dari Tuhan yang belum mampu mereka pahami." (Hal. 202)

11. (L)ove in (D)ifferent (R)eligion Kisah Alitt dengan Maria, yang berbeda keyakinan.

"Jadi, kalo ada pertanyaan, 'Katanya, jodoh itu di tangan Tuhan, tapi bagaimana jika keyakinan kita berbeda?' Jawaban gue adalah, 'Ini bukan tentang keyakinan antara manusia dan Tuhan. Ini adalah tentang keyakinan untuk tetap memperjuangkan hubungan atau tidak. Jadi, meski jodohnya sudah ditentukan Tuhan, kalo manusianya sendiri tidak yakin dengan pilihan itu, hubungan itu tidak akan bertahan." (Hal. 229)

Kelebihan: saya suka dengan tema yang diusung penulis. Membuka wawasan bahwa ada banyak jenis hubungan (relationship), yang gak melulu tentang cinta antara lawan jenis. Pengalaman hidup penulis yang dikemas dengan kocak, ringan, berisi namun tidak menggurui, terasa crunchy, renyah dan asyik untuk dibaca sebagai penyegaran.

Kekurangan: secara teknis, masih ada typo dan EyD yang kurang tepat. Dalam review saya tadi, sengaja saya ketikkan kalimat quotablenya dengan typo, tanpa saya perbaiki.

Bintang: 4 dari 5.


Meta morfillah

Text Widget