Pages

13 May, 2014

[Review Buku] Tales of terror and mystery

Judul: Tales of terror and mystery
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penerbit: Bukune
ISBN: 602-220-067-9
Dimensi: 340 hlm; 14 x 20 cm

Terdapat 12 cerita pendek yang dimuat dalam buku ini. Kisah-kisah tersebut dibagi menjadi dua bagian.

Kisah-kisah Teror
1. Corong kulit
Menceritakan alat penyiksaan berupa corong berbahan kulit, yang mampu merekonstruksi peristiwa kejam zaman dulu.

2. Ruang bawah tanah baru
Kematian Mr. Kennedy di dalam ruang bawah tanah yang baru ditemukan oleh sahabatnya, Dr. Julius Burger.

3. Kasus Lady Sannox
Sang wanita penggoda yang tiba-tiba memutuskan menjadi biarawati.

4. Teror Blue John Gap
Misteri mengenai makhluk yang mendiami Blue John Gap dan menjadi penyebab hilangnya domba-domba di kawasan desa sekitarnya.

5. Kucing Brazil
Sepupu jauh yang tiba-tiba mengundangnya ke rumah, dan memiliki kucing Brazil.

6. Teror di ketinggian
Upaya penerbang ahli dalam mengungkap adanya hutan-hutan angkasa dan keberadaannya yang misterius, tiba-tiba menghilang.

Kisah-kisah misteri
1. Hilangnya kereta khusus
Bagaimana bisa, sebuah kereta khusus menghilang hanya dalam hitungan menit?

2. Si pemburu kumbang
Lamaran pekerjaan yang mencantumkan persyaratan aneh.

3. Lelaki dengan banyak jam
Misteri kematian lelaki dengan banyak jam di sebuah kereta penumpang.

4. Misteri kotak berhias
Suara wanita yang sering kali terdengar di malam hari, padahal tak pernah ada wujudnya di menara selatan.

5. Dokter berkulit hitam
Terbunuhnya Dr. Aloysius Lana yang menyebabkan saudara laki-laki mantan calon istrinya menjadi tersangka.

6. Pelat dada yahudi
Kisah 12 permata urim dan thummim yang berada di bawah penjagaan museum inggris.

Dari segi tampilan, kurang kuat pencitraan misterinya. Walau sudah diusahakan dengan adanya setangkai mawar merah dan kelopaknya yang berhamburan ditambah sebuah kotak hias. Kurang menarik, kalau saja saya tidak melihat nama penulisnya! Hahaha...

Dari segi isi, ada beberapa bagian yang membosankan di awal (entah karena pengaruh novel terjemahan, atau memang gaya menulis Doyle yang seperti ini?), tapi Doyle selalu berhasil membuat saya tercengang untuk twistnya. Masih ada beberapa kesalahan penulisan, seperti tidak ada spasi di sebuah baris kalimat dan typo. Tapi itu tidak mengurangi esensi cerita ini.

PoV yang digunakan untuk setiap cerita berbeda-beda. Ada yang poV 1, ada yang pov 3, ada pula yang campuran.

Kelebihan: deskripsi tokoh, setting, alur dan argumentasinya yang detil dan kuat menjadi ciri khas Doyle dalam menuliskan sebuah kasus.

Kekurangan: ada beberapa penggambaran yang agak sulit saya imajinasikan.

Bintang: 4,5 dari 5.

Meta morfillah

Beda

Langit tidak perlu bercerita atau mengumbar bahwa dirinya tinggi.

Sama seperti halnya manusia. Tidak perlu mulutmu berbusa-busa menjelaskan siapa dirimu. Sebab, mereka akan mampu menilai apa yang sudah kamu perbuat, bukan apa yang kamu rencanakan. Karena hidupmu adalah apa yang sedang terjadi padamu saat ini, di saat kamu sibuk merencanakan masa depan.

Tapi ada kalanya, mereka tidak mampu melihat sebenarnya dirimu. Seperti lazuardi yang jelas biru, namun terlihat merah di matanya. Mengapa? Sebab ia memakai kaca mata berlensa merah. Apa kamu masih akan ngotot menjelaskan warna lazuardi sebenarnya, selama ia memakai kaca mata itu? Bila iya, maka kamu akan sia-sia. Bodoh, namanya. Buang-buang energi. Lebih baik diamkan, berdoa semoga kaca matanya rusak, sehingga ia bisa mengganti yang lebih baik. Atau berdoa agar ada orang baik hati yang memberikan kaca mata berlensa jernih untuknya.

Kalau sudah begitu lebih baik kamu berkata, "Aku adalah sebagaimana prasangkamu."
Selesai urusan.

Mengapa? Sebab, terkadang lebih mudah menjadi apa yang diprasangkakan mereka, dibanding mengeluarkan energi lebih untuk meyakinkan bahwa kita tidak sesuai prasangka tersebut. Toh, seperti kalimat pembuka tadi, bahwa kita tidak perlu berkata apa adanya tentang diri kita, bila memang itulah kenyataannya. Mereka hanya sedang memakai kaca mata yang salah. Itu saja.

Tak perlu pusing memaksakan kehendak, atau pendapat. Teruslah berfokus pada perbaikan dan peninggian derajatmu. Teruslah mengejar ilmu, melangitkan pikiran dan membumikan hatimu. Dan ragam bisik-bisik yang melintas, abaikan saja. Suara-suara itu akan semakin membesar, mencari perhatianmu. Dan bila kamu sempat menoleh sedikit saja, ia akan meruntuhkan sepenggal keyakinanmu, bahkan mungkin seluruh harimu. Jadi... Abaikan saja.

Beda, antara kritik dan cacian. Antara nasihat dan niat menjatuhkan karena kecemburuan. Beda. Perbedaan itu terletak pada CARA MENYAMPAIKANnya. Sebab, segala hal baik yang bila disampaikan dengan cara yang tidak baik, hanya akan menghasilkan hal yang tidak baik. Bedakan.


Meta morfillah

[Review Buku] Bidadari yang mengembara

Judul: Bidadari yang Mengembara
Penulis: A. S. Laksana
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-699-5
Dimensi: iv + 160 hlm; 13 x 19 cm

Merupakan kumpulan cerpen yang terdiri dari dua belas karya A. S. Laksana. Bergenre surealis.

Saya akan menuliskan inti tiap cerpen:
1. Menggambar Ayah
Bercerita tentang seorang aku yang berusaha mencari ayahnya dari kecil hingga dewasa. Lalu ia mulai menciptakan imajinasi dengan menggambar ayah.

2. Bidadari yang mengembara
Bercerita tentang Alit dan tukang urut, yang dikira bidadari.

3. Seorang ibu yang menunggu atau Sangkuriang
Bercerita tentang anak yang dipenuhi rasa ingin tahu tentang "Dari mana bayi keluar?" dan seorang ibu yang kesulitan menjelaskannya.

4. Burung di langit dan sekaleng lem
Bercerita tentang "aku", yang hidup dan menahan lapar dari sekaleng lem.

5. Seekor ular di dalam kepala
Bercerita tentang suami istri, Rob dan Lin. Lin mendapati seekor ular di dalam kepalanya dan upaya Rob mengeluarkan ular tersebut.

6. Telepon dari Ibu
Bercerita tentang Yun yang sedang hamil dan ibunya yang sudah pikun.

7. Buldoser
Bercerita tentang ayahnya Alit, yang selama hidup hingga matinya selalu dikejar buldoser.

8. Seto menjadi kupu-kupu
Bercerita tentang Seto yang melahap beragam jenis buku demi memikat seorang wanita. Lalu ia berubah menjadi kupu-kupu.

9. Bangkai anjing
Bercerita tentang ayah yang ditinggalkan istri dan ketiga anak lelakinya. Dan salah satu anaknya menempuh jalan hidup sebagai banci.

10. Rumah unggas
Bercerita tentang Seto yang mengganti air embun pagi ayahnya dengan air kakus. Dan Jono (ayah seto) yang gemar mengawinsilangkan unggas-unggas

11. Peristiwa pagi hari
Bercerita tentang Alit yang mengharap ayahnya memahami dirinya sebagai seorang lelaki, di setiap pagi hari.

12. Cerita tentang ibu yang dikerat
Bercerita tentang "Aku" (kakak Alit) yang memiliki ingatan terbatas tentang keluarganya. Tanpa sadar, bahwa ia yang telah menghancurkan keluarganya.

Secara cover: saya kurang suka, karena dipenuhi dengan tulisan full halaman. Berlatar pink. Seperti buku yang membosankan.

Secara isi: saya amat menyukai ide-ide Sulak yang sebenarnya sehari-hari, namun dia berhasil mengemasnya dengan apik. Alurnya lincah, sudut pandangnya menarik. Ciri khas Sulak adalah pada pergantian PoV (sudut pandang) yang begitu halus. Tanpa sadar memainkan logika kita, dari tokoh "aku" ke Alit, lalu balik lagi ke "aku" sebagai pencerita si Alit. Campurannya pas! Bahkan banyak sekali cerpennya yang bercerita "aku" tanpa pernah diterangkan siapa "aku" di sini. Pun penokohannya. Yang menjadi ciri khas Sulak adalah Alit dan Seto. Terutama Alit, ia menggunakannya di beberapa cerpen, tanpa ada keterkaitan. Alit yang diceritakan di cerpen satu tidak sama dengan Alit di cerpen dua. Surealis sekali, tapi berhasil meyakinkan saya bahwa kesemua itu logis. Dan mungkin terjadi.

Ditambah nukilan-nukilan dari kitab suci, dan beragam tulisan lainnya yang disertakan sebagai foot note. Terasa tidak mengganggu, dan membuat saya agak tercengang, mendapati Sulak memaknai sebuah peristiwa dalam ayat suci. "Wow... Gila!" Itu ekspresi saya tiap kali tersadar apa yang ia maksud.

Kelebihan: saya sangat suka penokohan dan sudut pandang yang digunakan. Judul yang dibuat pun, seringkali membuat saya bertanya di awal dan memunculkan ketertarikan. Sulak selalu menyampaikan secara implisit keterkaitan judul dengan isi cerpennya.

Kekurangan: hanya pada segi tampilan tadi.

Bintang: 5 dari 5.

Meta morfillah

[Review Buku] Tahta Mahameru


Judul: Tahta Mahameru
Penulis: Azzura Dayana
Penerbit: Republika
ISBN: 978-602-7595-002
Dimensi: viii + 380 halaman; 13,5 x 20,5 cm

Novel ini merupakan novel peraih penghargaan terbaik kedua "Lomba Novel Republika 2011". Juri yang terlibat adalah Asma Nadia, Salman Aristo dan Priyantono Oemar.
Menceritakan tentang 3 tokoh utama. Faras, gadis kutu buku asal desa Ranu Pane. Raja Ikhsan, pendaki gunung asal Jakarta yang memiliki dendam membara di dalam dadanya. Mareta, adik tiri Ikhsan, sang lone traveler yang berasal dari keluarga mapan di Jakarta.

Novel ini dibuka dengan pencarian Faras terhadap Ikhsan, sahabatnya yang menghilang tiga tahun tanpa kabar. Lalu tiba-tiba mengirimkan email berupa foto dan secarik kalimat yang membuatnya resah. Faras merasa harus menemukan Ikhsan, untuk menjawab tiga pertanyaan yang belum dijawab olehnya. Untuk menenangkan dan mencegah Ikhsan berbuat hal yang kemudian hari akan disesalinya.

Perjalanan lintas pulau, dari Jawa hingga Sulawesi ia lakoni. Hingga takdir memainkan perannya, ia bertemu dengan Mareta, adik tiri Ikhsan.

Dari ide cerita, menurut saya novel ini sangat biasa. Namun penulis mampu membuat saya bertahan dan terus melanjutkan membaca, disebabkan alur yang lincah. Ia berhasil membuat saya kepo. Pembukaan, twist, serta alur maju mundurnya cukup lihai. Hanya saja, agak disayangkan masih ada beberapa kesalahan penulisan. Semacam, tidak ada spasi di sebuah kalimat percakapan halaman 68. Dan untuk tokoh Faras, saya merasa terlalu absurd. Terlalu malaikat. Apa iya, ada tokoh seperti itu? Puas dengan pertemanan yang hanya bertemu tiga kali. Apa iya, langsung merasa dekat? Tidakkah ia terlalu keGRan? Penasaran ya? Baca aja bukunya.. Hehe

Untuk bumbu cinta, hmm.. Gimana ya. Agak datar sih. Untuk ending, saya agak kesal.. Sebenarnya Faras menikah dengan siapa? Penulisnya PHP-in saya #eeh.

Secara pengemasan, segi cover cukup memikat. Font dan ukurannya pas.

Kelebihan: bahasa yang digunakan cukup santun dan puitis. Novel ini sangat kuat di setting. Beberapa daerah dijelaskan dengan detail beserta sedikit penjelasan sejarahnya. Bahkan, daerah-daerah yang sangat ingin saya jelajahi disebut di dalamnya. Beserta deskripsi sensasinya. Agak menyebalkan untuk saya, membuat saya semakin ingin mengunjungi daerah tersebut. Ahahhaa..

Kekurangan: bisa dibilang, penulisnya adalah jama'ah Kahlil Gibran lovers. Melalui tokoh Faras, ada banyak kutipan Kahlil Gibran. Agak membuat jenuh dan terkesan menggurui sebenarnya.

Bintang: 3,5 dari 5

Meta morfillah

Risiko menjadi baik

Gambar diambil dari sini
Bunda bilang, selama empat hari Bunda menemaniku tidur, aku selalu mengigau dan menahan tangis. Suhu badanku memanas dan tidurku tak tenang. Tapi itu semua hanya terjadi ketika aku tertidur. Saat mataku terbuka, yang mereka lihat adalah aku yang sehat. Ceria dan tidak mengalami kendala apa pun. Kalau pun sedang drop fisikku, mereka hanya tahu aku sedang terserang flu. Bunda bilang, aku pemain teater yang hebat. Hingga bisa menipu banyak orang seperti itu. Apa iya?

Sebenarnya, apa yang kuimpikan? Mimpi burukkah? Aku bahkan tak dapat mengingatnya lagi. Tapi, seorang kawan baikku yang merupakan psikolog berkata, bahwa sebaiknya aku memaki sesekali. Marah meledak-ledak sesekali. Tidak perlu menahan. Sebab, apa yang terjadi adalah akumulasi atas apa yang kubilang "mencoba baik dan tidak apa-apa". Kawanku bilang, stigma "aku rapopo" itu racun. Bisa membuat gila. Sebab, tidak semua orang bisa berempati pada si "aku rapopo" bila ia tak mengatakan dengan lugas dan tegas bahwa dirinya tersakiti. Tidak semua orang bisa mengambil pelajaran dari hal lembut. Terkadang mereka harus dilempari batu untuk tahu. Dunia ini semakin individualis dan berkedok humanis. Nyatanya... Mereka semua adalah makhluk pragmatis.

Apakah menjadi baik, selalu menyakiti hatimu sendiri? Seperti saat dia mengingkari janjinya, membuatmu menunggu dalam hening dan dingin yang menusuk tulang di bawah salju yang merintik. Lalu seenaknya bilang, tidak dapat datang. Tanpa tahu, bahwa hidungmu memerah, telingamu berdenging, tulangmu gigil. Hampir pingsan. Lalu kamu hanya dapat menarik nafas panjang. Ini bukan kali pertamanya. Sudah seharusnya kamu sadar, bahwa ia selalu memulai sebuah harapan untuk kemudian dihancurkannya lagi. Keesokan harinya, kamu hanya mampu menjawab "Aku tidak apa-apa" sambil tersenyum. Diam. Malas bicara. Tapi itu tidak bertahan lama, karena kamu tak tega. Walau maaf pun tidak terucap dari mulutnya.

Pun dengan perkataan-perkataan lain, yang berasal dari mereka yang merasa berhak mencampuri hidupmu. Pernah suatu ketika, kamu berkata, "Berhenti. Aku tak suka dengan pembicaraan ini." Tapi mereka tetap melanjutkan. Sampai akhirnya kamu benar-benar diam, dan tak menganggap keberadaan mereka. Akhirnya mereka diam. Apa harus selalu diam, untuk membungkam?

Bunda memaksamu ke dokter. Tapi kamu tak mau. Alih-alih menyembuhkan, dokter hanya semakin menambah daftar panjang racun yang harus kamu minum. Kamu sendiri yang mengetahui sakitmu. Sakit fisik ini, berasal dari seonggok daging yang begitu rentan. Dilukai bukan oleh pedang, melainkan kata-kata. Bunda tak tahu. Tak perlu tahu. Selamanya, kamu adalah anak Bunda yang tegar, kuat dan tak pernah--boleh--mengeluh. Sebab, Bunda yang mengajarkan begitu. Bahkan, memaki pun kamu tak mampu.

Begitulah, risiko menjadi baik.

Meta morfillah

Anugerah atau kutukan LED merah?

Gambar diambil dari sini
"Cling"

Kupilih mode silent untuk meredam bunyi berisik itu. Tapi lampu LED berwarna merah yang berkedip-kedip beberapa detik, nampak seperti tangan yang melambai. Memaksamu mendatanginya. Menyebalkan! Seperti raja sekali dia!

Bukan hanya sekali. Ini sudah berkali-kali dan semakin menjadi. Bahkan semakin ramai menjelang tengah malam. Bahkan memilih untuk menonaktifkannya, tetap saja tak membuat mati lampu itu. Ketika kuaktifkan kembali ponselku, serbuan pesan, informasi di beragam media sosial itu seperti hujan yang tiba-tiba dan begitu deras. Gila!

Komunikasi memang semakin mudah. Tanpa perlu harus sinkronisasi waktu yang sama. Ribuan pesan itu dapat dibaca kapan saja. Tapi yang menyebalkan adalah, ketika kamu butuh ketenangan. Ponsel--yang katanya--pintar ini malah seperti kutukan. Kalau kumatikan jaringan mobilenya, ia akan menjadi seonggok benda rongsokan tak berguna. Tak lagi menjelma fitrahnya sebagai alat komunikasi. Kalau kuhidupkan, aku yang menjadi seonggok kemanusiaan yang terkapar di tengah derasnya arus informasi. Terasa sekali ragam informasi yang bila tidak bijak kamu pilah dan pilih, akan membunuhmu perlahan.

Parahnya lagi, manusia lain merasa wajar saja menghubungimu kapan saja. Tidak ada batasan jam. Tidak ada toleransi jam tidur, waktu libur, mereka tetap gencar menghubungimu hingga mendapatkan apa yang mereka mau. Sadis! Tega! *segala judul lagu Afgan keluar*

Saat kamu beribadah pun, lampu LED berwarna merah tersebut tetap menyala-nyala. Tak ada matinya. Rasanya, kedamaian dunia sudah tak ada lagi. Semua orang merasa berhak mencampuri yang bukan urusannya. Membuat yang jauh terasa dekat, padahal bertemu muka pun tidak. Semua palsu. Topeng belaka. Yang dekat menjadi jauh, sebab tahu bahwa itu semua topeng. Lalu semua lebih asyik memakai topengnya, hingga lupa kembali ke dunia nyata.

Hingga aku bermimpi, dunia dipenuhi lampu LED yang berwarna merah. Berkedip-kedip. Menyesaki semesta. Dunia yang luas, kini semakin kecil terasa. Ini anugerah, atau kutukan?


Meta morfillah

Ada anak kecil di dalam diriku

Gambar diambil dari sini
Ada anak kecil di dalam diriku.

Apa kamu bisa menerimanya?

Bila aku sedang tertawa, ia memekik riang. Mengajakku melonjak-lonjak bersama. Sampai aku lupa, bahwa aku adalah pribadi dewasa. Akan nampak kurang elegan bila terlalu ekspresif. Tapi.. Dia lebih hebat mempengaruhiku. Aku memilih dia daripada perkataan teman-temanku.

Bila aku sedang bersedih, ia menghiburku. Dengan nyanyian-nyanyian khas anaknya. Mendorongku untuk terus percaya, bahwa badai pasti berlalu, walau mungkin memorak-morandakan hidupku.

Aku senang sekali berbincang dengannya. Temanku bilang, kadang aku agak aneh. Sering berbicara sendiri. Padahal, tidak. Anak kecil itu nyata. Selalu bersamaku. Terutama saat aku disakiti. Ia adalah pembelaku yang pertama. Ia ingin sekali marah, namun aku menahannya. Mengalihkan perhatiannya dengan cerita atau mainan lain. Hingga reda amarahnya, lalu ia lupa.

Tapi, pernah.. Beberapa kali. Kala aku sudah tak kuasa menahan rasa sakit itu. Aku menuruti nasihatnya untuk menunjukkan kemarahanku. Walau hanya dengan mendiamkan, kecuali ada yg memfitnah atau mengatakan yang tidak-tidak tentang diriku tanpa dasar yang kuat, aku berani mengajaknya bertengkar. Sampai mati kalau perlu. Berani karena benar, takut karena salah. Itu prinsip yang diajarkan keluargaku.

Lalu bila aku lelah, ia akan lebih sensitif. Hanya dua kemungkinan, tetap tinggal di tempat yang nyaman, atau pergi sejauh mungkin, hingga bahkan takkan kembali. Ini yang berbahaya.

Apa kamu mampu menahan dirimu untuk anak kecil itu? Memberinya kenyamanan di saat ia begitu menyebalkan? Atau mungkin kamu akan melepaskannya, lalu ia hilang?

Hei.. Tunggu... Apakah hanya aku saja yang memiliki anak kecil di dalam diriku?

Mungkin saja kamu juga.
Barangkali, anak kecil di dalam diri kita bisa berkawan baik bukan?


Meta morfillah

[Cerpen] Punggung

Ini adalah kisah tentang punggung seseorang.
Gambar diambil dari siini


Seseorang yang kuimani sebagai masa depanku. Tanpa tahu, apakah dia mengimaniku sebagai masa depannya juga atau tidak. Bukankah iman tanpa pamrih? Demikian saja percaya, satu arah? Maka begitulah kusebut rasa ini, iman.

Jika kalian memulai mencintai seseorang dari wajahnya, suaranya, senyumnya, humornya, atau lainnya, tidak demikian halnya yang terjadi padaku. Aku mulai mencintainya dari punggung. Ya... Punggungnya. Ia selalu berada tepat di depanku. Persis seperti seorang imam. Walau aku hanya melihat punggungnya saja, tapi aku merasakan nyaman dan yakin bahwa ia mampu mengayomi, melindungi dan memberikan rasa aman, nyaman serta tenang padaku.

Aku jarang mengamati wajahnya. Selalu aku terpaku pada punggungnya, dan suaranya yang menjadi latar. Kami sering bertukar cerita dengan duduk berdampingan. Posisi yang kusukai. Sebab, ia akan duduk menatap lurus ke depan sembari bercerita. Dan aku akan memutar tubuhku sembilah puluh derajat ke arah jam sembilan. Tidak menatap wajahnya, tapi puas memandangi punggungnya, merekam bulat-bulat tanpa ia tahu. Ia mengira, aku melihat kejauhan, sesuatu di balik punggungnya. Dari mana aku tahu hal itu? Sebab, ia pernah menanyakan langsung padaku.

Kalian pasti bingung, mengapa aku begitu puas menatap punggungnya saja?

Sebab, saat ia bertemu denganku, sebuah cincin emas melingkari jari manis tangan kanannya. Yaa.. Ia sudah menjadi milik wanita lain.

Lantas, mengapa aku masih berani mengimaninya sebagai jodohku?

Sebab, sedikit pun tak kurasakan cinta pada nada suara, mimik wajah dan perilakunya saat menceritakan wanita itu. Ia hanya bertahan memakai cincin itu, sebagai konsekuensi atas keputusannya untuk tidak akan pernah menceraikan, kecuali istrinya menggugat cerai--yang menurutnya begitu bodoh. Lalu wanita itu--istrinya--juga tak berani menggugat. Sehingga hubungan mereka mendingin. Status quo. Masing-masing tak berani melangkah. Menyedihkan. Dan lebih menyedihkan adalah diriku, yang terpaku pada sosok punggung di hadapanku ini.

Tapi itu dulu. Tidak akan lagi ada aku yang bodoh setelah hari ini. Aku telah memutuskan, semua harus dicukupkan sampai sini saja. Aku akan kembali tanpa pernah menatap punggung itu lagi.


*NB: Adegan melepas kepergian di bandara itu memang klise. Tapi, untuk saat ini, aku sangat menginginkan hal klise itu terjadi padaku. Nyatanya, masih saja aku berharap di antara punggung-punggung yang berlalu lalang di bandara ini, ada satu punggung yang kuhafal lekat di luar kepalaku. Punggungnya.


Meta morfillah

08 May, 2014

[Cerpen] Dunia di Kepala Kakek


Meta morfillah


Gadis menatap keliling restoran cepat saji yang penuh dengan orang-orang asing—yang tak dikenalnya—dengan antusias. Mengamati perilaku manusia selalu menarik baginya. Bahkan dalam satu ruangan dengan tujuan yang sama, tidak pernah ada perilaku yang sama dari seorang individu. Ia merekam semua itu dalam kepalanya, agak gemas ketika mendapati ia lupa membawa notes yang biasa dibawanya. Pun gadget yang biasa digunakan untuk menuliskan ide-ide, malah mati di saat yang tidak tepat. Ya… ia senang menulis. Menulis gumaman-gumaman yang lebih merupakan pertanyaan daripada pernyataan. Namun ia tak pernah mengharapkan jawabannya. Karena ia tahu tidak semua hal membutuhkan jawaban. Ada hal-hal yang hanya perlu kaunikmati. Semacam iman. Percaya saja.
Segelas air jeruk di samping kirinya menanti kecupan bibirnya yang penuh. Mungkin bila sang gelas dapat berbicara, ia akan memprotes Gadis. Bayangkan saja, sudah setengah jam gelas itu hanya diam bertengger serupa pajangan di meja makan. Sejak diambil dari kawanan gelas lainnya, sang gadis belum berniat untuk menyentuhnya sedikit pun—tampaknya. Sayangnya, gelas itu tak berwajah sehingga tak dapat menampakkan wajah cemberutnya karena diabaikan.
Kembali pada sang gadis, posisinya masih sama. Hanya wajahnya yang berubah-ubah—seperti bunglon. Kadang tersenyum, kadang alisnya mengerut serius, kadang bibirnya mengerucut bingung—tiap menitnya. Hei, matanya menatap pada satu titik. Kalian lihat titik itu? Ya, pada kakek berkulit putih yang tengah memakan burger dan kentang di meja arah pukul satu. Alis Gadis mengernyit. Heran, mengamati tangan kiri sang kakek yang masih berlumuran oli. Di restoran yang demikian bersih, di negara yang demikian modern seperti ini, masih saja ada orang jorok. Apa tidak bisa cuci tangan dahulu? Eh, mengapa aku jadi ikut campur masalah pribadi orang? Gadis menahan senyumnya yang terbit karena pikiran bodohnya barusan.
Perhatian Gadis kembali terpusat pada kakek berkulit putih itu. Kakek itu begitu menarik. Seperti anomali di antara banyaknya pengunjung restoran cepat saji tersebut. Dengan rambutnya yang panjang, diikat walau agak terurai di keningnya, bergaya seperti cowboy dengan topi yang begitu khas dan jaket jeans yang kebesaran. Koran di sebelah kirinya tak dibaca, namun digelar sedemikian rupa. Apa sebenarnya yang ada dalam pemikiran kakek itu? Gadis membayangkan dunia yang ada di dalam kepala kakek. Berapa usianya? Enam puluh? Tujuh puluh? Mengapa ia duduk sendirian? Apa saja yang telah dilewatinya? Apakah ia lebih sering memiliki takdir pada pertemuan? Ataukah perpisahan?
Melihat raut wajahnya yang kurang ramah, Gadis menyimpulkan dengan sok tahu bahwa hidup kakek itu demikian berat. Hingga tersenyum pun nampak sulit baginya. Mungkin lengkungan setengah lingkaran tersebut tak cocok pada wajah lonjong persegi kakek tersebut. Kali ini Gadis tertawa kecil sehingga badannya sedikit berguncang, tanpa melepaskan tatapannya pada sang kakek. Tersadar dirinya diperhatikan, kakek tersebut tiba-tiba mengangkat pandangan matanya menuju mata Gadis. Lurus. Tepat sasaran. Tajam. Membuat Gadis cepat-cepat membuang pandangannya ke arah jendela di sebelah kanannya. Hatinya berdebar. Takut. Dari ekor matanya yang sebelah kiri, Gadis mengunci tatapannya pada sang kakek. Bersiap untuk kabur bila ada pergerakan di sana. Satu… dua… tiga.. Selama tiga puluh detik yang menegangkan, kakek tersebut akhirnya memandang kembali pada kentang di hadapannya. Fyuuhh… tidak lucu bila di negeri orang yang begitu asing ini, aku diomeli dengan bahasa yang bahkan tak kukuasai! batin Gadis. Untunglah, tak lama kedua temannya kembali dari berbelanja dan duduk pada dua kursi di hadapannya. Memperhatikan perilaku manusia, selalu menarik bagi Gadis. Hingga ia lupa waktu yang terbunuh karenanya.

**Iseng ikut permainan cerita gambar dari Mas Yayan

06 May, 2014

Guru Terbaik

Apakah Anda ingat akan guru terbaik anda pada masa sekolah, guru yang memberi inspirasi bagi anda untuk belajar dan mengerjakan yang terbaik?

Guru tersebut memberi tantangan bagi anda untuk maju, lebih dari guru-guru lain. Awalnya, mungkin tantangan ekstra itu terasa tidak adil, atau malah kejam. Tetapi sekarang anda seakan memandang berbeda. Anda memandangnya dengan rasa hormat dan percaya, bahwa karena tantangan itulah anda bisa maju.

Saat ini ada guru hebat yang masih mengajar anda. Ia adalah “kehidupan”.

Kehidupan adalah guru yang terbaik. Tapi pelajarannya sering terasa keras, tajam, dan kadang kejam. Di sana ada kekecewaan, kesedihan, kebingungan, kesendirian, dan frustasi dalam setiap pengajarannya.

Pelajaran dari kehidupan adalah keras, tetapi karenanya kita memperoleh pelajaran dan pertumbuhan terbesar. Kehidupan menantang kita dan mendorong kita lebih tinggi. Ia membantu menyingkapkan karakter sejati kita, dan dengan cara itu mendorong kita membangun karakter yang lebih kuat.

Di luar segala pelajaran itu, renungkanlah. Guru yang paling mencintai dan memelihara kita itu telah membangun yang terbaik dari diri kita. Mungkin kita sekarang tidak menghargainya, tetapi akan tiba harinya anda akan bersyukur. Sama seperti kita bersyukur atas guru sekolah kita terdahulu.

Text Widget