Pages

03 April, 2013

Berprestasi akademik dan berorganisasi



Oleh : Iska Meta Furi


Bismillaahirrahmaanirrahiim,,

Masih hangat dalam ingatan saya saat awal masuk di acara masa pengenalan akademik (MPA), seorang kakak kelas mengajukan pertanyaan kepada saya dan juga beberapa teman lainnya, “Kalian mau menjadi mahasiswa seperti apa?” ujarnya kala itu. Pertanyaan itu sangat membingungkan bagi saya. Dan saat itu saya sendiri tidak paham apa yang dimaksud oleh kakak kelas tersebut. Karena di benak saya hanya ada keinginan menjadi sebaik-baiknya mahasiswa. Dan sebaik-baik mahasiswa yang saya tahu pada saat itu adalah mahasiswa yang ber-IPK tinggi, lulus dalam jangka waktu cepat, kemudian mendapat pekerjaan yang sesuai bidangnya.

Namun seiring berjalannya waktu, saat saya sudah menjalani kehidupan kampus dalam keseharian, saya pun mulai mengerti maksud kakak kelas tersebut. Karena saya merasakan sendiri bahwa ada beberapa tipe mahasiswa di kampus tercinta ini (dan mungkin hampir di seluruh universitas di negeri ini). Sedikitnya saya menganalisis ada empat kelompok besar tipikal mahasiswa. Pertama, adalah kelompok mahasiswa yang mementingkan prestasi akademik dan nilai IPK tinggi di atas segalanya. Paradigma mereka sama seperti paradigma awal saya, yaitu menjadi mahasiswa berprestasi dengan IPK tinggi (min. 3,00) sehingga dapat mengambil jatah SKS lebih banyak dan mempercepat waktu kelulusan. Sebutan kerennya adalah mahasiswa KUPER (Kuliah-Perpus-Rumah) dikarenakan memang seputar tiga daerah itu saja mereka berkutat dan aktifitasnya selalu belajar, belajar dan belajar. Motivasi belajar mereka memang sangat bagus dan patut dicontoh. Namun bila dilihat lebih mendalam, efek belajar terus-menerus tanpa ada selingan kegiatan di luar akademik untuk membangun hubungan pertemanan sangatlah tidak baik bagi diri mereka sendiri. Karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial (zoon politicon) yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Dan dalam dunia kerja hubungan komunikasi itu akan sangat berpengaruh terutama dalam hal kerja tim.

Kedua, adalah kelompok mahasiswa yang lebih mementingkan kegiatan di luar akademik. Paradigma mereka adalah membangun jaringan seluas-luasnya (networking) agar lebih berkembang. Mereka lebih dikenal sebagai aktivis. Julukan yang sering terlontar bagi mereka adalah KURA-KURA (Kuliah Rapat-Kuliah Rapat) atau MANSYUR S.(Manusia Syuro Selalu). Membangun relasi serta interaksi dalam sebuah tim (dalam hal ini organisasi) memang sangat bagus. Hanya saja tipikal mahasiswa ini dominan melalaikan kewajiban utamanya sebagai mahasiswa dikarenakan terlalu larut dan keasyikan dalam aktifitasnya. Sehingga masa kuliah mereka relatif lebih lama dibanding teman-temannya yang lain. Dan itu akan berdampak pada keluarga mereka yang menanti mereka untuk segera mengenakan toga dan mendapat title sarjana di belakang nama mereka.

01 April, 2013

Kadang


http://www.wherecoolthingshappen.com/the-rain-room/

Kadang aku merasa paling menyedihkan di dunia…
Kadang aku merasa ingin menyalahkan keadaan..
Kadang aku ingin mengatasnamakan kesalahan pada seseorang..
Kadang aku merasa ingin lebur dalam tetes hujan dan luruh ke tanah, menghilang…
Tapi itu semua…
KADANG.

Tentang Prioritas



Seorang dosen berdiri di depan kelas dengan batu-batu dalam berbagai ukuran di atas mejanya. Saat memulai kuliahnya, sang dosen mengambil sebuah ember plastik kosong dengan diameter 20 cm dan tinggi 20 cm. Lalu mengisi dengan batu yg hampir bulat dengan diameter 18 cm. Dan bertanya pada mahasiswanya, apakah ember ini sudah terisi penuh? Hampir serentak mahasiswanya menjawab bahwa ember sudah penuh.

Kemudian sang dosen mengambil batu-batu kerikil dan memasukkan ke dalam ember dan menggoyang-goyangkan ember tersebut, sehingga kerikil tadi mengisi sela-sela yg kosong dalam ember. Mahasiswanya tertawa.

“Apakah sekarang embernya sudah penuh?”, tanya sang dosen. Mahasiswanya setuju bahwa sekarang ember sudah penuh.

Dosen mengambil pasir dan memasukkan ke dalam ember dan mengoyang-goyangkannya hingga pasir itu mengisi sela-sela yang kosong dalam ember.

“Sekarang”, kata sang dosen, “Ini adalah gambaran kehidupan kita”.

“Ember ini bagaikan ruang dalam kehidupan, batu besar ini adalah hal-hal utama dalam kehidupan kita seperti keluarga, pasangan, kesehatan, atau apapun yang ketika kita kehilangan hal itu kita merasa ada yang hilang dari dalam diri kita.”

 “Kerikil-kerikil ini adalah hal-hal penting yang menunjang faktor utama dalam kehidupan. Misalnya, pekerjaan, rumah, mobil atau yang lainnya.”

“Pasir adalah hal-hal kecil dalam hidup dimana ketika kita tidak mendapatkannya, hidup kita tetap bisa berjalan normal. Misalnya, kesenangan dan lain-lain.”

“Ketika kita mengisi ember ini dengan kerikil dan pasir lebih dulu, maka tidak lagi tempat untuk batu yang besar. Sama dengan kehidupan ini, ketika kita mengisi hidup ini dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu maka tidak ada lagi ruang dalam kehidupan kita untuk hal-hal yang sangat penting.”

“Jadi, tentukan prioritas dalam hidup Anda. Buatlah hal-hal utama dalam hidup Anda sebagai prioritas yang pertama. Dan gunakan lebih banyak waktu dan tenaga Anda untuk mengejar prioritas pertama ini. Sisanya adalah untuk mengerjakan hal-hal kecil.”

Inilah mimpi..

Kawan,,
begitu banyak hutang
tak terbayar dalam kehidupan
begitu banyak cerita
tak terurai lewat kata
begitu sering ku terantuk karang
menahan pedih yang tak tertahan
bisaku hanya menahan
berpuas lewat tulisan
dalam bayangan sang bulan
dalam jubah pekat dunia
kubasuh jeritan di gelapnya malam

dikatakan oleh seorang pribadi,,
“Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggung
jawab? Bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya,
semua atau sebagiannya”


Walau dingin menusuk nadi
Biarkanlah aku di sini
Membangun kerajaan mimpi
Dengan tekad baja
Laksana pribadi di sana




Monday, 07 June 2010 at 22:02

Text Widget