Bismillaahirrahmaanirrahiim,,
Masih hangat dalam ingatan saya saat awal masuk di acara masa pengenalan akademik (MPA), seorang kakak kelas mengajukan pertanyaan kepada saya dan juga beberapa teman lainnya, “Kalian mau menjadi mahasiswa seperti apa?” ujarnya kala itu. Pertanyaan itu sangat membingungkan bagi saya. Dan saat itu saya sendiri tidak paham apa yang dimaksud oleh kakak kelas tersebut. Karena di benak saya hanya ada keinginan menjadi sebaik-baiknya mahasiswa. Dan sebaik-baik mahasiswa yang saya tahu pada saat itu adalah mahasiswa yang ber-IPK tinggi, lulus dalam jangka waktu cepat, kemudian mendapat pekerjaan yang sesuai bidangnya.
Namun seiring berjalannya waktu, saat saya sudah menjalani kehidupan kampus dalam keseharian, saya pun mulai mengerti maksud kakak kelas tersebut. Karena saya merasakan sendiri bahwa ada beberapa tipe mahasiswa di kampus tercinta ini (dan mungkin hampir di seluruh universitas di negeri ini). Sedikitnya saya menganalisis ada empat kelompok besar tipikal mahasiswa. Pertama, adalah kelompok mahasiswa yang mementingkan prestasi akademik dan nilai IPK tinggi di atas segalanya. Paradigma mereka sama seperti paradigma awal saya, yaitu menjadi mahasiswa berprestasi dengan IPK tinggi (min. 3,00) sehingga dapat mengambil jatah SKS lebih banyak dan mempercepat waktu kelulusan. Sebutan kerennya adalah mahasiswa KUPER (Kuliah-Perpus-Rumah) dikarenakan memang seputar tiga daerah itu saja mereka berkutat dan aktifitasnya selalu belajar, belajar dan belajar. Motivasi belajar mereka memang sangat bagus dan patut dicontoh. Namun bila dilihat lebih mendalam, efek belajar terus-menerus tanpa ada selingan kegiatan di luar akademik untuk membangun hubungan pertemanan sangatlah tidak baik bagi diri mereka sendiri. Karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial (zoon politicon) yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Dan dalam dunia kerja hubungan komunikasi itu akan sangat berpengaruh terutama dalam hal kerja tim.
Kedua, adalah kelompok mahasiswa yang lebih mementingkan kegiatan di luar akademik. Paradigma mereka adalah membangun jaringan seluas-luasnya (networking) agar lebih berkembang. Mereka lebih dikenal sebagai aktivis. Julukan yang sering terlontar bagi mereka adalah KURA-KURA (Kuliah Rapat-Kuliah Rapat) atau MANSYUR S.(Manusia Syuro Selalu). Membangun relasi serta interaksi dalam sebuah tim (dalam hal ini organisasi) memang sangat bagus. Hanya saja tipikal mahasiswa ini dominan melalaikan kewajiban utamanya sebagai mahasiswa dikarenakan terlalu larut dan keasyikan dalam aktifitasnya. Sehingga masa kuliah mereka relatif lebih lama dibanding teman-temannya yang lain. Dan itu akan berdampak pada keluarga mereka yang menanti mereka untuk segera mengenakan toga dan mendapat title sarjana di belakang nama mereka.
