Pages

28 March, 2013

Dear Bapak



Rintihan di pertiga malam yang sunyi
Mengharap ampunanNya dan upaya kirimkan salam
Geletar rindu membuncah
Bertanya dapatkah kita bertemu?
Sedang apakah kau di sana?
Jauhkah jarak itu?
Selamatkah kau di sana?
Jadi bebankah diriku?
Dapatkah kau lihat aku beranjak dewasa?
Dapat merangkai kata
Tidak lagi seorang bocah
Hingga lelah bibir ini mengucap
Dan semua tertahan di hati saja

Meta morfillah
25 Mei 2010
8 : 55 PM
 
 






Duck Can Fly


Alkisah, ada sekelompok bebek yang sedang berjalan beriringan. Di tengah perjalanan mereka melihat seekor elang terbang dengan anggunnya. Mereka pun ingin bisa terbang seperti elang tersebut. Lalu mereka memanggil elang tersebut, dan minta diajari oleh elang agar bisa terbang. Elang pun bersedia. Karena bebek-bebek tersebut sangat tekun mempelajari ilmu terbang, maka dalam waktu singkat pun akhirnya mereka pun berhasil. Menganggap tugasnya telah selesai, sang elang pun pergi, kembali menjalani kehidupannya seperti biasa.
Lalu,,bagaimana dengan para bebek-bebek itu?
Ternyata, walaupun mereka sudah bisa terbang, mereka tetap kembali ke rutinitas mereka. Berjalan beriringan seperti biasanya. 

Adakah pelajaran yg kalian dapatkan dari kisah tersebut??

Bagiku ada,,

PELAJARAN MORALNYA adalah seringkali kita berupaya untuk bisa melakukan suatu hal, namun setelah mendapatkan ilmunya atau telah berhasil , kita lupa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Sehingga ilmu yg telah kita pelajari pun hilang, menguap begitu saja. Padahal ilmu akan bermanfaat apabila ia digunakan, lebih baik lagi apabila ia disharekan ke yg lainnya.

Semoga setelah mengikuti sebuah acara yg menambah ilmu anda, seperti pelatihan,seminar ataupun mentoring, ilmu tersebut tidak hanya sekedar ‘numpang lewat’ atau “masuk kuping kanan keluar kuping kiri”. Tapi coba kita terapkan dalam amalan hidup kita, agar ilmu tersebut tidak menjadi SIA-SIA...



Meta Morfillah.




Chocolate and me



Hello there..
Pagi ini mood boss lagi kurang baik, sebelum long weekend kayaknya beliau mau kasih wejangan panjang (red: omelan). Mungkin beliau kangen banget sama kami yaa… jadi agak gak rela gitu melepaskan kami tanpa wejangan panjangnya, hehehe. Yaah… beginilah suka duka jadi karyawan, pekerja yang belum merdeka. Masih mengikuti perintah orang lain. Makanya di era saat ini tuh penting banget bermental wirausaha. Namun saya belum dapat pencerahan. Mau usaha apa yaa?? Di Bogor... Hmm... (mikir keras ampe otaknya membatu #eeh)

Agak jadi down mengetahui boss kecewa. Karena saya tak suka mengcewakan orang lain. Sebisa mungkin dihindari. Untunglah… masih ada coklat dari David (Wang Liang Xie) –konduktor @ Wednesday Class in Britzone-.

 
Well... Benar looh, coklat itu membuat kita happy and relax. Dan juga bagus untuk menurunkan tekanan darah (what! langsung stop makan coklat. Kan tha tekanan darah rendah). Dan coklat juga mengandung antioksidan tapi kalau yang dark chocolate yaa. Oiya, dapat bocoran juga dari David, coklat yang bagus adalah yang sedikit komposisi cocoa butternya dibandingkan cocoa liquornya. Karena kalau banyak cocoa butternya (akan susah meleleh walaupun pada suhu 40 derajat Celcius. Jadi semakin susah meleleh, coklat itu berarti kurang bagus.) itu akan memicu kadar kolesterol (sisi jahat coklat).


Eh ada donat J-Co Tiramisu dari Mba Diah. Udah dulu ah postingnyaa....


Bye..
Enjoy Your Day Guys,

PeluKiss,
Meta Morfillah

27 March, 2013

Jangan Kesal 1 hari pun!!




 



Pada suatu hari aku telah memutuskan menyerah pada keputusanku; dan mau meninggalkan pekerjaanku, keluargaku, sanak saudaraku, hidup rohaniku, bahkan mau mati saja. Maka aku pergi menyendiri ke hutan dan berdoa untuk yang terakhir kalinya. “O Tuhan!” aku menjerit, “dapatkah Engkau memberikan satu alasan yang tepat bagiku ‘mengapa aku mesti hidup?” Tuhan menjawab, “Tengoklah sekelilingmu. Lihatlkah kamu, tumbuh-tumbuhan semak duri dan bambu?” “Ya, Tuhan,” sahutku. “Nah,” kata Tuhan, “Ketika Aku menanam biji-biji tumbuhan semak dan bambu, Aku memelihara mereka dengan baik. Aku menyinarinya dengan cahaya, menyirami dengan air. “Biji-biji semak tumbuh dengan cepat, berkembang subur dan memberi keindahan di ladang dengan bunganya. Tetapi biji bamboo belum tumbuh sama sekali. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun berikutnya tumbuhan semak makin tumbuh lebat, tetapi bamboo masih belum memunculkan tunasnya. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun ketiga pun, tunas bamboo masih belum kelihatan. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Demikian juga dalam tahun keempat, Aku belum melihat apa-apa dari tanaman bambu itu dan Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Akhirnya, pada tahun kelima, baru Aku melihat munculnya tunas-tunas kecil yang mau keluar dengan membuka tanah.” 

Setelah berkata demikian, Tuhan berdiam sejenak. Aku pun membisu. Lalu Tuhan mulai berbicara lagi. “Tunas kecil-kecil pada saat itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan tumbuhan semak yang besar dan lebat. Tetapi sesudah enam bulan berikutnya, tunas bamboo yang kecil itu bertumbuh pesat dan berdiri tegak setinggi 30 meter. Nampaknya selama lima tahun biji bamboo yang Kutanam menguatkan akar-akarnya untuk dapat hidup lama dan sudah barang tentu Aku tidak akan memaksa ciptaanKu untuk mengahadapi tantangan di luar kemampuannya.”

Kemudian Tuhan berkata lagi kepadaku: “Tahukah kamu, anakKu, bahwa selama kamu bergulat dengan dirimu sendiri, dengan hidupmu, sebenarnya kamu bertumbuh dan mengembangkan akar hidupmu seperti batang bambu itu. Sebagaimana Aku tidak pernah berputus asa tentang pertumbuhan dan perkembangan bambu itu, demikian pula Aku tidak akan kecewa dan berputus asa tentang dirimu juga. Maka janganlah membandingkan dirimu dengan orang lain. Tentu bambu itu mempunyai tujuan yang berbeda dengan semak. Demikian juga kamu dalam waktu di mana kamu akan bertumbuh tinggi.” Kemudian aku bertanya kepada Tuhan, “Seberapa tinggi, Tuhan?” Dan Tuhan menjawab, “Berapa tinggi kemampuan bambu itu?” Aku menyahut, “Setinggi menurut kemampuannya.” “Benar,” kata Tuhan, “Jadi muliakanlah Aku setinggi kemampuanmu dengan pertumbuhan hidupmu.” Kemudian aku meninggalkan hutan dan kembali mengenang kejadian itu.

Wahai kawan, aku berharap semoga kata-kata Tuhan yang di atas membantu Anda untuk menyadari bahwa Tuhan tidak pernah kecewa atau berputus asa denganmu dan tidak akan mencobai Anda di luar kemampuan yang Anda miliki. Maka, JANGAN KESAL SATU HARI PUN DALAM HIDUPMU. Hari yang baik membawa kebahagiaan, Hari yang kurang baik memberi pengalaman Dan dua-duanya essensial untuk hidup kita.

Teruskan perjuangan hidup Anda!

Kau yang TERINDAH

Kamu tahu rasanya mencintai dari kekurangan?
Mencintai dari ketaksempurnaan?
Dulu aku tak tahu. Hingga kini.

Aku belajar mencintai dari kota ini. Kota yang sebentar lagi akan aku tinggalkan. Tanahnya yang sejak lahir aku injak, jadikan tempat berpijak. Airnya yang kuminum, kupakai mencuci baju,tubuh dan hatiku. Lingkungannya yang sering dijuluki lingkungan keras dan berbagai label jelek. Prostitusi, narkoba, dan hal buruk lainnya yang bahkan jadi keseharian. Banjir tiap lima tahun, kemacetan tiap saat. Tapi dari sanalah aku mencinta. Karakterku terbentuk. Rasa syukur semakin hebat. Beruntung pula letak rumahku mendapat view yang cantik. Depannya berlukiskan pemandangan gedung-gedung pencakar langit (Sudirman-Bendungan Hilir) dan Kali Banjir Kanal, yang bila kau pintar melihatnya…. Itu adalah objek foto yang amat menarik. Kalah Manhattan!

Di belakangnya terdapat kebun pisang dan kandang ayamku. Aaah… membicarakannya selalu membangkitkan kesyukuran. Tanah Abang, pusat Jakarta. banyak sekali kekuranganmu. Tapi aku cinta. Aku suka. Meski rapuh, kau tetap hal yang terindah. Dan bila membicarakan kelebihan… tak usah ditanya. Sekejam apapun ibukota daripada ibu tiri, toh ia tetap mengundang minat yang luar biasa.
Baiklah… aku akui, aku sangat amat mencintaimu my brotherland. Saat yang lain memimpikan “pulang kampung”, aku memimpikan “pulang kota”.

Sekian.
Dari jiwa yang merindu amat sangat.
Menjelang pindahan.

Meta Morfillah

Text Widget