Pages

28 March, 2013

Chocolate and me



Hello there..
Pagi ini mood boss lagi kurang baik, sebelum long weekend kayaknya beliau mau kasih wejangan panjang (red: omelan). Mungkin beliau kangen banget sama kami yaa… jadi agak gak rela gitu melepaskan kami tanpa wejangan panjangnya, hehehe. Yaah… beginilah suka duka jadi karyawan, pekerja yang belum merdeka. Masih mengikuti perintah orang lain. Makanya di era saat ini tuh penting banget bermental wirausaha. Namun saya belum dapat pencerahan. Mau usaha apa yaa?? Di Bogor... Hmm... (mikir keras ampe otaknya membatu #eeh)

Agak jadi down mengetahui boss kecewa. Karena saya tak suka mengcewakan orang lain. Sebisa mungkin dihindari. Untunglah… masih ada coklat dari David (Wang Liang Xie) –konduktor @ Wednesday Class in Britzone-.

 
Well... Benar looh, coklat itu membuat kita happy and relax. Dan juga bagus untuk menurunkan tekanan darah (what! langsung stop makan coklat. Kan tha tekanan darah rendah). Dan coklat juga mengandung antioksidan tapi kalau yang dark chocolate yaa. Oiya, dapat bocoran juga dari David, coklat yang bagus adalah yang sedikit komposisi cocoa butternya dibandingkan cocoa liquornya. Karena kalau banyak cocoa butternya (akan susah meleleh walaupun pada suhu 40 derajat Celcius. Jadi semakin susah meleleh, coklat itu berarti kurang bagus.) itu akan memicu kadar kolesterol (sisi jahat coklat).


Eh ada donat J-Co Tiramisu dari Mba Diah. Udah dulu ah postingnyaa....


Bye..
Enjoy Your Day Guys,

PeluKiss,
Meta Morfillah

27 March, 2013

Jangan Kesal 1 hari pun!!




 



Pada suatu hari aku telah memutuskan menyerah pada keputusanku; dan mau meninggalkan pekerjaanku, keluargaku, sanak saudaraku, hidup rohaniku, bahkan mau mati saja. Maka aku pergi menyendiri ke hutan dan berdoa untuk yang terakhir kalinya. “O Tuhan!” aku menjerit, “dapatkah Engkau memberikan satu alasan yang tepat bagiku ‘mengapa aku mesti hidup?” Tuhan menjawab, “Tengoklah sekelilingmu. Lihatlkah kamu, tumbuh-tumbuhan semak duri dan bambu?” “Ya, Tuhan,” sahutku. “Nah,” kata Tuhan, “Ketika Aku menanam biji-biji tumbuhan semak dan bambu, Aku memelihara mereka dengan baik. Aku menyinarinya dengan cahaya, menyirami dengan air. “Biji-biji semak tumbuh dengan cepat, berkembang subur dan memberi keindahan di ladang dengan bunganya. Tetapi biji bamboo belum tumbuh sama sekali. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun berikutnya tumbuhan semak makin tumbuh lebat, tetapi bamboo masih belum memunculkan tunasnya. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun ketiga pun, tunas bamboo masih belum kelihatan. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Demikian juga dalam tahun keempat, Aku belum melihat apa-apa dari tanaman bambu itu dan Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Akhirnya, pada tahun kelima, baru Aku melihat munculnya tunas-tunas kecil yang mau keluar dengan membuka tanah.” 

Setelah berkata demikian, Tuhan berdiam sejenak. Aku pun membisu. Lalu Tuhan mulai berbicara lagi. “Tunas kecil-kecil pada saat itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan tumbuhan semak yang besar dan lebat. Tetapi sesudah enam bulan berikutnya, tunas bamboo yang kecil itu bertumbuh pesat dan berdiri tegak setinggi 30 meter. Nampaknya selama lima tahun biji bamboo yang Kutanam menguatkan akar-akarnya untuk dapat hidup lama dan sudah barang tentu Aku tidak akan memaksa ciptaanKu untuk mengahadapi tantangan di luar kemampuannya.”

Kemudian Tuhan berkata lagi kepadaku: “Tahukah kamu, anakKu, bahwa selama kamu bergulat dengan dirimu sendiri, dengan hidupmu, sebenarnya kamu bertumbuh dan mengembangkan akar hidupmu seperti batang bambu itu. Sebagaimana Aku tidak pernah berputus asa tentang pertumbuhan dan perkembangan bambu itu, demikian pula Aku tidak akan kecewa dan berputus asa tentang dirimu juga. Maka janganlah membandingkan dirimu dengan orang lain. Tentu bambu itu mempunyai tujuan yang berbeda dengan semak. Demikian juga kamu dalam waktu di mana kamu akan bertumbuh tinggi.” Kemudian aku bertanya kepada Tuhan, “Seberapa tinggi, Tuhan?” Dan Tuhan menjawab, “Berapa tinggi kemampuan bambu itu?” Aku menyahut, “Setinggi menurut kemampuannya.” “Benar,” kata Tuhan, “Jadi muliakanlah Aku setinggi kemampuanmu dengan pertumbuhan hidupmu.” Kemudian aku meninggalkan hutan dan kembali mengenang kejadian itu.

Wahai kawan, aku berharap semoga kata-kata Tuhan yang di atas membantu Anda untuk menyadari bahwa Tuhan tidak pernah kecewa atau berputus asa denganmu dan tidak akan mencobai Anda di luar kemampuan yang Anda miliki. Maka, JANGAN KESAL SATU HARI PUN DALAM HIDUPMU. Hari yang baik membawa kebahagiaan, Hari yang kurang baik memberi pengalaman Dan dua-duanya essensial untuk hidup kita.

Teruskan perjuangan hidup Anda!

Kau yang TERINDAH

Kamu tahu rasanya mencintai dari kekurangan?
Mencintai dari ketaksempurnaan?
Dulu aku tak tahu. Hingga kini.

Aku belajar mencintai dari kota ini. Kota yang sebentar lagi akan aku tinggalkan. Tanahnya yang sejak lahir aku injak, jadikan tempat berpijak. Airnya yang kuminum, kupakai mencuci baju,tubuh dan hatiku. Lingkungannya yang sering dijuluki lingkungan keras dan berbagai label jelek. Prostitusi, narkoba, dan hal buruk lainnya yang bahkan jadi keseharian. Banjir tiap lima tahun, kemacetan tiap saat. Tapi dari sanalah aku mencinta. Karakterku terbentuk. Rasa syukur semakin hebat. Beruntung pula letak rumahku mendapat view yang cantik. Depannya berlukiskan pemandangan gedung-gedung pencakar langit (Sudirman-Bendungan Hilir) dan Kali Banjir Kanal, yang bila kau pintar melihatnya…. Itu adalah objek foto yang amat menarik. Kalah Manhattan!

Di belakangnya terdapat kebun pisang dan kandang ayamku. Aaah… membicarakannya selalu membangkitkan kesyukuran. Tanah Abang, pusat Jakarta. banyak sekali kekuranganmu. Tapi aku cinta. Aku suka. Meski rapuh, kau tetap hal yang terindah. Dan bila membicarakan kelebihan… tak usah ditanya. Sekejam apapun ibukota daripada ibu tiri, toh ia tetap mengundang minat yang luar biasa.
Baiklah… aku akui, aku sangat amat mencintaimu my brotherland. Saat yang lain memimpikan “pulang kampung”, aku memimpikan “pulang kota”.

Sekian.
Dari jiwa yang merindu amat sangat.
Menjelang pindahan.

Meta Morfillah

20 March, 2013

Cerpen : Sejumput Cinta Di Batas Waktu



Sejumput Cinta Di Batas Waktu
By : meta morfillah


Kamu tahu aku suka sama kamu
Aku tahu kamu suka sama aku
Tapi kita berdua sama-sama tahu
Waktu kita telah habis
Terlambat …
Kau terlalu takut menyatakan
Dan aku terlalu takut menanyakan
Karena tak selamanya kita membutuhkan
Sebuah jawaban …

Tari memandangi handphonenya yang menampakkan layar notes berisi puisi yang dibuatnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya menatap air mancur yang menari-nari di kolam depan Perpustakaan Nasional. Banyak sekali yang dipikirkannya. Banyak pula yang disesalinya. Tak terasa satu jam telah berlalu. Tari menghela napas panjang. Seolah-olah dengan cara itu masalahnya akan selesai dan dunia akan lebih baik padanya. Tiba-tiba handphonenya berbunyi dan menampilkan satu nama.

Cakra.

“Halo, Assalammu’alaikum.” Persis dering kedua Tari mengangkat teleponnya.
“Walaikumsalam. Kamu dimana Ri?”
Suara yang selalu menghantui pikiranku.
“Di Perpustakaan Nasional. Kenapa?” jawab Tari seraya menata hatinya yang dag dig dug.
“Habis ini ada acara lagi gak? Ada yang mau kubicarakan. Bisa?”
“Hmm.. bisa. Kebetulan hari ini gak ada rencana ke tempat lain.”
“Ok. Tunggu di sana yaa. I’m on the way. See you there.”
“Ok.”

Apa yang ingin dibicarakannya? Aneh sekali dia, jauh-jauh dari Tangerang hanya menemuiku untuk bicara.
Akhirnya Tari masuk ke dalam Perpustakaan Nasional yang agak ramai di hari Sabtu demi menunggu Cakra.

***
Di ruang baca fiksi Tari membolak-balik buku di hadapannya. Namun pikirannya melayang ke delapan tahun sebelumnya. Saat ia dan Cakra pertama kali berkenalan.

“Semua harus kenal depan, belakang dan kanan kirinya. Saya beri waktu satu menit. Dimulai dari sekarang.” Tari bersungut-sungut mendengarnya. Ia sebal sekali dengan tradisi OSPEK SMAnya ini. Menurutnya ini semua tidaklah penting.
“Hai.. namamu siapa? Aku Cakra.” Seorang laki-laki di samping kirinya mengulurkan tangan.
“Tari.” tukasnya sambil mengulurkan tangan.
Dan ternyata mereka satu kelas.
Entah siapa yang memulai atau bagaimana -Tari tidak ingat- tiba-tiba saja Tari dan Cakra menjadi sangat akrab. Dan mereka selalu satu kelas dari kelas satu sampai kelas tiga. Walaupun mereka tidak pernah duduk satu bangku. Dimana ada Tari, di situ pasti ada Cakra dan begitu pula sebaliknya. Sampai teman-teman sekelas mereka mencurigai bahwa mereka berpacaran. Namun hal itu tak digubris oleh Tari dan Cakra. Dan lama kelamaan gossip itu pun hilang dengan sendirinya.
Saat kelas tiga SMA awal semester, Tari memutuskan menggunakan hijab dan Cakra mendukungnya. Persahabatan mereka tetap sama. Cakra sering sekali mengajak Tari untuk ikut touring motor dengannya. Walau terkadang Tari risih karena ia satu-satunya wanita di kelompok touring tersebut. Tapi Tari tak bisa menolak permintaan Cakra dan dalam hatinya ia sangat senang sekali bepergian bersama Cakra. Karena Cakra sangat bertanggung jawab dan sudah dikenal baik oleh keluarganya. Semua terasa baik-baik saja. Saat itu.

Waktu kelulusan tiba. Tari dan Cakra pun terpisah. Karena perbedaan universitas yang mereka pilih. Tari memilih Universitas Negeri Jakarta di Rawamangun sedangkan Cakra memilih Universitas Bina Nusantara di Kebon Jeruk. Timur dan Barat. Walaupun terpisah jarak dan berkurangnya waktu bertemu, namun mereka tetap berhubungan baik. Hingga tahun kedua kuliah mereka, Cakra bertemu seorang wanita yang memikat hatinya. Dewi namanya. Dia lebih tua dua tahun dari Cakra. Setiap hari Cakra selalu membicarakan tentang Dewi di SMS dan percakapan telepon, hingga Tari pun merasa sangat mengenal Dewi. Awalnya Tari senang melihat Cakra jatuh cinta. Tapi kian lama, hatinya terusik. Cakra semakin menjauh dan asik dengan Dewi. Melupakan Tari, sahabatnya. Lama-lama frekuensi percakapan telepon dan SMS antara mereka berdua pun berkurang. Dan saat acara reuni SMA, mereka pun tidak saling menyapa. Seperti orang tidak kenal saja. Hingga membuat teman-teman terutama teman touring Cakra bingung.
“Tari,lo berantem sama Cakra?” Tanya Ridwan, teman sekelas Tari dan Cakra yang sering ikut touring.
“Hah? Enggak. Kenapa memangnya?”
“Kok kalian diem-dieman? Biasanya kan dateng bareng, pulang bareng. Udah kaya amplop sama perangko. Lengket. Hehehe”
“Gak selamanya seperti itu lah Wan. Cakra sudah punya pacar, masa iya aku gangguin terus.” Jawab Tari sembari tersenyum tipis.
Dan hingga acara berakhir, mereka berdua sama sekali tidak saling berbicara. Terasa ada lubang di hatinya, tapi Tari tak mengerti mengapa hatinya sakit. Tari merasa kehilangan Cakra.
***
Cakra memacu mobilnya dengan kencang. Lalu lintas Tangerang ke Jakarta lumayan lancar. Sembari mengemudi, pikirannya kembali ke tiga tahun silam. Saat ia berkenalan dengan Dewi.

Dewi adalah wanita dewasa dan pemberani yang pernah dikenal Cakra. Cakra mengenalnya dari Indra, teman kuliahnya yang tinggal di Karawang. Tidak sengaja bertemu dengan Dewi, ketika Cakra dan teman-temannya touring motor ke rumah Indra di Karawang. Dewi adalah tetangga Indra. Wajahnya manis dengan rambut ikal sebahu. Lebih tua dua tahun dari Cakra. Sudah bekerja sebagai Sales Promotion Girl di Jakarta. Kebetulan saat itu Dewi sedang liburan di rumah orangtuanya di Karawang. Dan Dewi melihat kedatangan Indra dan teman-temannya.
“Indra!” panggil Dewi.
“Eh Dewi. Apa kabar? Lagi pulang?”
“Iya. Kangen Karawang. Sama siapa aja nih Ndra? Kenalin dong.” Kata Dewi seraya melihat Cakra.
“Oh iya.. ini teman-teman kuliah gw Dew. Kenalin ini Cakra sama Deri.”
“Hai.. aku Dewi” sapa Dewi sembari menjulurkan tangannya pada Cakra.
“Cakra.” Jawab Cakra tersenyum tipis.
“Gw Deri.” Ujar Deri seraya menjulurkan tangannya pada Dewi.
“Dewi.” Balas Dewi seraya tersenyum.
“Rencana sampai kapan di Karawang Ndra?” Tanya Dewi.
“Besok pagi balik ke Jakarta Dew. Ada kuliah hari Senin pagi.”
“Ooh.. malam mingguan di sini dong yaa. Hehe”
“Iya Dew.” Balas Indra tersenyum.
“Ya sudah, aku balik dulu yaa. Have fun yaa.”
“Iyaa..” Jawab Indra, Cakra dan Deri sembari tersenyum.
“Dewi itu tetangga gw. Dulu sebelum Dewi kerja di Jakarta, gw sering main bareng dia. Cewek paling asik di sini. Walau tuaan dia daripada gw, tapi jiwanya muda. Cantik lagi. Hahaa” Jelas Indra sembari tertawa.
“Dasar lo! Gak boleh liat cewek cakep dikit.” Ujar Cakra menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ah elo sok alim Cak. Kenal sama Dewi, pasti lo bakal suka. Terus lupa dah sama HTS-an lo si Tari.”
“Sembarangan kalo ngomong. Tari itu sahabat gw. Bukan Hubungan Tanpa Status.” Jawab Cakra sembari menoyor kepala Indra.
“Ah.. lo berdua sama-sama bego atau muna. Jelas-jelas saling suka.”
“Udah deh, jangan jelekin gw sama Tari.”
“Oke..oke.. Maaf bos.”

Keesokan harinya, saat Cakra, Indra dan Deri bersiap untuk pulang ke Jakarta, Dewi datang menghampiri mereka.
“Halo Indra, Cakra, Deri..” sapa Dewi.
“Hai.” Jawab Cakra, Indra dan Deri bersamaan.
“Mau balik ke Jakarta ya? Ehm.. aku boleh nebeng gak?”
“Gw sih gak masalah Dew. Tapi gak tau si Cakra noh. Mau gak dia boncengin lo. Soalnya gw udah boncengin Deri. Gimana Cak?” ujar Indra seraya memandang Cakra, meminta persetujuan.
Cakra terkesiap dan nampak agak bingung. Karena ia tak terbiasa memboncengi wanita selain Tari dan ibunya. Rasanya aneh. Namun pada akhirnya, dia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sepanjang perjalanan Dewi mendekap pinggang Cakra dengan erat. Dan tak berhenti berbicara. Memang benar kata Indra, Dewi adalah orang yang asyik. Dan Cakra pun senang berbicara dengannya. Setibanya di Jakarta, Dewi meminta nomor handphone Cakra. Dan hubungan itu terus berlanjut bahkan semakin dekat.

Dewi sering mengajaknya jalan di akhir pekan. Hingga Cakra sering membatalkan janjinya dengan Tari. Bersama Dewi, ia merasa dimanja dan diperlakukan sebagai seseorang yang khusus. Dan tiap berkomunikasi dengan Tari pun, Cakra tak luput membahas tentang kedekatannya dengan Dewi. Dua bulan berkenalan kemudian Dewi “menembak” Cakra.
Cakra kaget mendengar pengakuan Dewi, tapi hatinya pun terasa senang. Karena pada dasarnya Cakra sulit mengungkapkan perasaannya terhadap wanita. Dia terlalu pemalu dan hanya dapat menunjukkan melalui sikapnya saja. Dia pun menerima Dewi. Dan resmilah mereka berpacaran. Tari tahu mereka berpacaran, namun tak tahu bahwa Dewilah yang “menembak” Cakra.

Sudah dua bulan Cakra dan Dewi berpacaran. Hari ini mereka berkencan di Kafe Strawberry Blok M. Dewi ingin sekali mencoba kafe yang memiliki kue dan minuman serba strawberry ini.  Suasana kafe tersebut agak ramai di hari Sabtu.
“Di lantai dua aja yuk, Beb.” Ujar Cakra sembari menggandeng tangan Dewi.
Dewi mengangguk.
Setelah memesan, mereka bermain permainan balok pintar yang disediakan kafe tersebut.
“Hahaa..kamu kalah lagi beb.” Ujar Cakra.
“Iyaa..kamu jago banget sih beb.” Jawab Dewi sembari tersenyum manis.
“Iyaa dong. Cakra gitu looh. Tari juga sering kalah kalau main balok ini sama aku beb. Dia sering gak mau main permainan ini, tapi selalu aku paksa. Hahaha..”
Mendengar nama Tari disebut, wajah Dewi langsung berubah masam dan cemberut. Cakra heran melihat wajah Dewi yang tiba-tiba cemberut.
“Kamu kenapa beb? Kok cemberut?” tanya Cakra.
“Kamu tuh nyebelin. Bisa gak sehari aja gak usah ngomongin atau nyebut nama Tari?” jawab Dewi kesal.
“Tari kan sahabat aku beb. Masak kamu cemburu sih.” ujar Cakra sembari tersenyum.
“Aku tahu. Tapi aku gak suka. Setiap kita lagi jalan kenapa kamu selalu ingatnya Tari terus. Padahal kamu kan lagi sama aku, bukan Tari.”
“Soalnya aku kan sering jalan sama Tari dulunya beb. Jadi yaa, tiap tempat yang pernah kita datangi aku ingat dia beb.”
“Oh gitu. Okee.. sekarang gini aja ya Cak. Kamu pilih jalan sama aku atau sama Tari?”
“Loh kok gitu beb?”
“Udah cepet putusin. Kalau kamu pilih aku, kamu harus putusin semua hubungan kamu sama Tari. Aku gak mau dengar kamu sebut-sebut nama dia lagi. Buktiin kalau kamu serius sama aku!”
Cakra berpikir sejenak, dirinya tak suka pertengkaran maka ia pun menjawab “Oke.. aku pilih kamu beb.”
Dewi pun tersenyum lebar.
Cakra ikut tersenyum dan tak menyadari keputusan yang akan membuatnya menyesal nanti.

Diiinn…!! Diin…!!
Cakra tersentak dari lamunannya. Lampu lalu lintas telah hijau.

Semoga aku tidak membuatnya menunggu lama.
***

Text Widget