Pages

27 March, 2013

Jangan Kesal 1 hari pun!!




 



Pada suatu hari aku telah memutuskan menyerah pada keputusanku; dan mau meninggalkan pekerjaanku, keluargaku, sanak saudaraku, hidup rohaniku, bahkan mau mati saja. Maka aku pergi menyendiri ke hutan dan berdoa untuk yang terakhir kalinya. “O Tuhan!” aku menjerit, “dapatkah Engkau memberikan satu alasan yang tepat bagiku ‘mengapa aku mesti hidup?” Tuhan menjawab, “Tengoklah sekelilingmu. Lihatlkah kamu, tumbuh-tumbuhan semak duri dan bambu?” “Ya, Tuhan,” sahutku. “Nah,” kata Tuhan, “Ketika Aku menanam biji-biji tumbuhan semak dan bambu, Aku memelihara mereka dengan baik. Aku menyinarinya dengan cahaya, menyirami dengan air. “Biji-biji semak tumbuh dengan cepat, berkembang subur dan memberi keindahan di ladang dengan bunganya. Tetapi biji bamboo belum tumbuh sama sekali. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun berikutnya tumbuhan semak makin tumbuh lebat, tetapi bamboo masih belum memunculkan tunasnya. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Tahun ketiga pun, tunas bamboo masih belum kelihatan. Namun Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Demikian juga dalam tahun keempat, Aku belum melihat apa-apa dari tanaman bambu itu dan Aku tidak PUTUS ASA sama sekali. “Akhirnya, pada tahun kelima, baru Aku melihat munculnya tunas-tunas kecil yang mau keluar dengan membuka tanah.” 

Setelah berkata demikian, Tuhan berdiam sejenak. Aku pun membisu. Lalu Tuhan mulai berbicara lagi. “Tunas kecil-kecil pada saat itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan tumbuhan semak yang besar dan lebat. Tetapi sesudah enam bulan berikutnya, tunas bamboo yang kecil itu bertumbuh pesat dan berdiri tegak setinggi 30 meter. Nampaknya selama lima tahun biji bamboo yang Kutanam menguatkan akar-akarnya untuk dapat hidup lama dan sudah barang tentu Aku tidak akan memaksa ciptaanKu untuk mengahadapi tantangan di luar kemampuannya.”

Kemudian Tuhan berkata lagi kepadaku: “Tahukah kamu, anakKu, bahwa selama kamu bergulat dengan dirimu sendiri, dengan hidupmu, sebenarnya kamu bertumbuh dan mengembangkan akar hidupmu seperti batang bambu itu. Sebagaimana Aku tidak pernah berputus asa tentang pertumbuhan dan perkembangan bambu itu, demikian pula Aku tidak akan kecewa dan berputus asa tentang dirimu juga. Maka janganlah membandingkan dirimu dengan orang lain. Tentu bambu itu mempunyai tujuan yang berbeda dengan semak. Demikian juga kamu dalam waktu di mana kamu akan bertumbuh tinggi.” Kemudian aku bertanya kepada Tuhan, “Seberapa tinggi, Tuhan?” Dan Tuhan menjawab, “Berapa tinggi kemampuan bambu itu?” Aku menyahut, “Setinggi menurut kemampuannya.” “Benar,” kata Tuhan, “Jadi muliakanlah Aku setinggi kemampuanmu dengan pertumbuhan hidupmu.” Kemudian aku meninggalkan hutan dan kembali mengenang kejadian itu.

Wahai kawan, aku berharap semoga kata-kata Tuhan yang di atas membantu Anda untuk menyadari bahwa Tuhan tidak pernah kecewa atau berputus asa denganmu dan tidak akan mencobai Anda di luar kemampuan yang Anda miliki. Maka, JANGAN KESAL SATU HARI PUN DALAM HIDUPMU. Hari yang baik membawa kebahagiaan, Hari yang kurang baik memberi pengalaman Dan dua-duanya essensial untuk hidup kita.

Teruskan perjuangan hidup Anda!

Kau yang TERINDAH

Kamu tahu rasanya mencintai dari kekurangan?
Mencintai dari ketaksempurnaan?
Dulu aku tak tahu. Hingga kini.

Aku belajar mencintai dari kota ini. Kota yang sebentar lagi akan aku tinggalkan. Tanahnya yang sejak lahir aku injak, jadikan tempat berpijak. Airnya yang kuminum, kupakai mencuci baju,tubuh dan hatiku. Lingkungannya yang sering dijuluki lingkungan keras dan berbagai label jelek. Prostitusi, narkoba, dan hal buruk lainnya yang bahkan jadi keseharian. Banjir tiap lima tahun, kemacetan tiap saat. Tapi dari sanalah aku mencinta. Karakterku terbentuk. Rasa syukur semakin hebat. Beruntung pula letak rumahku mendapat view yang cantik. Depannya berlukiskan pemandangan gedung-gedung pencakar langit (Sudirman-Bendungan Hilir) dan Kali Banjir Kanal, yang bila kau pintar melihatnya…. Itu adalah objek foto yang amat menarik. Kalah Manhattan!

Di belakangnya terdapat kebun pisang dan kandang ayamku. Aaah… membicarakannya selalu membangkitkan kesyukuran. Tanah Abang, pusat Jakarta. banyak sekali kekuranganmu. Tapi aku cinta. Aku suka. Meski rapuh, kau tetap hal yang terindah. Dan bila membicarakan kelebihan… tak usah ditanya. Sekejam apapun ibukota daripada ibu tiri, toh ia tetap mengundang minat yang luar biasa.
Baiklah… aku akui, aku sangat amat mencintaimu my brotherland. Saat yang lain memimpikan “pulang kampung”, aku memimpikan “pulang kota”.

Sekian.
Dari jiwa yang merindu amat sangat.
Menjelang pindahan.

Meta Morfillah

20 March, 2013

Cerpen : Sejumput Cinta Di Batas Waktu



Sejumput Cinta Di Batas Waktu
By : meta morfillah


Kamu tahu aku suka sama kamu
Aku tahu kamu suka sama aku
Tapi kita berdua sama-sama tahu
Waktu kita telah habis
Terlambat …
Kau terlalu takut menyatakan
Dan aku terlalu takut menanyakan
Karena tak selamanya kita membutuhkan
Sebuah jawaban …

Tari memandangi handphonenya yang menampakkan layar notes berisi puisi yang dibuatnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya menatap air mancur yang menari-nari di kolam depan Perpustakaan Nasional. Banyak sekali yang dipikirkannya. Banyak pula yang disesalinya. Tak terasa satu jam telah berlalu. Tari menghela napas panjang. Seolah-olah dengan cara itu masalahnya akan selesai dan dunia akan lebih baik padanya. Tiba-tiba handphonenya berbunyi dan menampilkan satu nama.

Cakra.

“Halo, Assalammu’alaikum.” Persis dering kedua Tari mengangkat teleponnya.
“Walaikumsalam. Kamu dimana Ri?”
Suara yang selalu menghantui pikiranku.
“Di Perpustakaan Nasional. Kenapa?” jawab Tari seraya menata hatinya yang dag dig dug.
“Habis ini ada acara lagi gak? Ada yang mau kubicarakan. Bisa?”
“Hmm.. bisa. Kebetulan hari ini gak ada rencana ke tempat lain.”
“Ok. Tunggu di sana yaa. I’m on the way. See you there.”
“Ok.”

Apa yang ingin dibicarakannya? Aneh sekali dia, jauh-jauh dari Tangerang hanya menemuiku untuk bicara.
Akhirnya Tari masuk ke dalam Perpustakaan Nasional yang agak ramai di hari Sabtu demi menunggu Cakra.

***
Di ruang baca fiksi Tari membolak-balik buku di hadapannya. Namun pikirannya melayang ke delapan tahun sebelumnya. Saat ia dan Cakra pertama kali berkenalan.

“Semua harus kenal depan, belakang dan kanan kirinya. Saya beri waktu satu menit. Dimulai dari sekarang.” Tari bersungut-sungut mendengarnya. Ia sebal sekali dengan tradisi OSPEK SMAnya ini. Menurutnya ini semua tidaklah penting.
“Hai.. namamu siapa? Aku Cakra.” Seorang laki-laki di samping kirinya mengulurkan tangan.
“Tari.” tukasnya sambil mengulurkan tangan.
Dan ternyata mereka satu kelas.
Entah siapa yang memulai atau bagaimana -Tari tidak ingat- tiba-tiba saja Tari dan Cakra menjadi sangat akrab. Dan mereka selalu satu kelas dari kelas satu sampai kelas tiga. Walaupun mereka tidak pernah duduk satu bangku. Dimana ada Tari, di situ pasti ada Cakra dan begitu pula sebaliknya. Sampai teman-teman sekelas mereka mencurigai bahwa mereka berpacaran. Namun hal itu tak digubris oleh Tari dan Cakra. Dan lama kelamaan gossip itu pun hilang dengan sendirinya.
Saat kelas tiga SMA awal semester, Tari memutuskan menggunakan hijab dan Cakra mendukungnya. Persahabatan mereka tetap sama. Cakra sering sekali mengajak Tari untuk ikut touring motor dengannya. Walau terkadang Tari risih karena ia satu-satunya wanita di kelompok touring tersebut. Tapi Tari tak bisa menolak permintaan Cakra dan dalam hatinya ia sangat senang sekali bepergian bersama Cakra. Karena Cakra sangat bertanggung jawab dan sudah dikenal baik oleh keluarganya. Semua terasa baik-baik saja. Saat itu.

Waktu kelulusan tiba. Tari dan Cakra pun terpisah. Karena perbedaan universitas yang mereka pilih. Tari memilih Universitas Negeri Jakarta di Rawamangun sedangkan Cakra memilih Universitas Bina Nusantara di Kebon Jeruk. Timur dan Barat. Walaupun terpisah jarak dan berkurangnya waktu bertemu, namun mereka tetap berhubungan baik. Hingga tahun kedua kuliah mereka, Cakra bertemu seorang wanita yang memikat hatinya. Dewi namanya. Dia lebih tua dua tahun dari Cakra. Setiap hari Cakra selalu membicarakan tentang Dewi di SMS dan percakapan telepon, hingga Tari pun merasa sangat mengenal Dewi. Awalnya Tari senang melihat Cakra jatuh cinta. Tapi kian lama, hatinya terusik. Cakra semakin menjauh dan asik dengan Dewi. Melupakan Tari, sahabatnya. Lama-lama frekuensi percakapan telepon dan SMS antara mereka berdua pun berkurang. Dan saat acara reuni SMA, mereka pun tidak saling menyapa. Seperti orang tidak kenal saja. Hingga membuat teman-teman terutama teman touring Cakra bingung.
“Tari,lo berantem sama Cakra?” Tanya Ridwan, teman sekelas Tari dan Cakra yang sering ikut touring.
“Hah? Enggak. Kenapa memangnya?”
“Kok kalian diem-dieman? Biasanya kan dateng bareng, pulang bareng. Udah kaya amplop sama perangko. Lengket. Hehehe”
“Gak selamanya seperti itu lah Wan. Cakra sudah punya pacar, masa iya aku gangguin terus.” Jawab Tari sembari tersenyum tipis.
Dan hingga acara berakhir, mereka berdua sama sekali tidak saling berbicara. Terasa ada lubang di hatinya, tapi Tari tak mengerti mengapa hatinya sakit. Tari merasa kehilangan Cakra.
***
Cakra memacu mobilnya dengan kencang. Lalu lintas Tangerang ke Jakarta lumayan lancar. Sembari mengemudi, pikirannya kembali ke tiga tahun silam. Saat ia berkenalan dengan Dewi.

Dewi adalah wanita dewasa dan pemberani yang pernah dikenal Cakra. Cakra mengenalnya dari Indra, teman kuliahnya yang tinggal di Karawang. Tidak sengaja bertemu dengan Dewi, ketika Cakra dan teman-temannya touring motor ke rumah Indra di Karawang. Dewi adalah tetangga Indra. Wajahnya manis dengan rambut ikal sebahu. Lebih tua dua tahun dari Cakra. Sudah bekerja sebagai Sales Promotion Girl di Jakarta. Kebetulan saat itu Dewi sedang liburan di rumah orangtuanya di Karawang. Dan Dewi melihat kedatangan Indra dan teman-temannya.
“Indra!” panggil Dewi.
“Eh Dewi. Apa kabar? Lagi pulang?”
“Iya. Kangen Karawang. Sama siapa aja nih Ndra? Kenalin dong.” Kata Dewi seraya melihat Cakra.
“Oh iya.. ini teman-teman kuliah gw Dew. Kenalin ini Cakra sama Deri.”
“Hai.. aku Dewi” sapa Dewi sembari menjulurkan tangannya pada Cakra.
“Cakra.” Jawab Cakra tersenyum tipis.
“Gw Deri.” Ujar Deri seraya menjulurkan tangannya pada Dewi.
“Dewi.” Balas Dewi seraya tersenyum.
“Rencana sampai kapan di Karawang Ndra?” Tanya Dewi.
“Besok pagi balik ke Jakarta Dew. Ada kuliah hari Senin pagi.”
“Ooh.. malam mingguan di sini dong yaa. Hehe”
“Iya Dew.” Balas Indra tersenyum.
“Ya sudah, aku balik dulu yaa. Have fun yaa.”
“Iyaa..” Jawab Indra, Cakra dan Deri sembari tersenyum.
“Dewi itu tetangga gw. Dulu sebelum Dewi kerja di Jakarta, gw sering main bareng dia. Cewek paling asik di sini. Walau tuaan dia daripada gw, tapi jiwanya muda. Cantik lagi. Hahaa” Jelas Indra sembari tertawa.
“Dasar lo! Gak boleh liat cewek cakep dikit.” Ujar Cakra menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ah elo sok alim Cak. Kenal sama Dewi, pasti lo bakal suka. Terus lupa dah sama HTS-an lo si Tari.”
“Sembarangan kalo ngomong. Tari itu sahabat gw. Bukan Hubungan Tanpa Status.” Jawab Cakra sembari menoyor kepala Indra.
“Ah.. lo berdua sama-sama bego atau muna. Jelas-jelas saling suka.”
“Udah deh, jangan jelekin gw sama Tari.”
“Oke..oke.. Maaf bos.”

Keesokan harinya, saat Cakra, Indra dan Deri bersiap untuk pulang ke Jakarta, Dewi datang menghampiri mereka.
“Halo Indra, Cakra, Deri..” sapa Dewi.
“Hai.” Jawab Cakra, Indra dan Deri bersamaan.
“Mau balik ke Jakarta ya? Ehm.. aku boleh nebeng gak?”
“Gw sih gak masalah Dew. Tapi gak tau si Cakra noh. Mau gak dia boncengin lo. Soalnya gw udah boncengin Deri. Gimana Cak?” ujar Indra seraya memandang Cakra, meminta persetujuan.
Cakra terkesiap dan nampak agak bingung. Karena ia tak terbiasa memboncengi wanita selain Tari dan ibunya. Rasanya aneh. Namun pada akhirnya, dia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sepanjang perjalanan Dewi mendekap pinggang Cakra dengan erat. Dan tak berhenti berbicara. Memang benar kata Indra, Dewi adalah orang yang asyik. Dan Cakra pun senang berbicara dengannya. Setibanya di Jakarta, Dewi meminta nomor handphone Cakra. Dan hubungan itu terus berlanjut bahkan semakin dekat.

Dewi sering mengajaknya jalan di akhir pekan. Hingga Cakra sering membatalkan janjinya dengan Tari. Bersama Dewi, ia merasa dimanja dan diperlakukan sebagai seseorang yang khusus. Dan tiap berkomunikasi dengan Tari pun, Cakra tak luput membahas tentang kedekatannya dengan Dewi. Dua bulan berkenalan kemudian Dewi “menembak” Cakra.
Cakra kaget mendengar pengakuan Dewi, tapi hatinya pun terasa senang. Karena pada dasarnya Cakra sulit mengungkapkan perasaannya terhadap wanita. Dia terlalu pemalu dan hanya dapat menunjukkan melalui sikapnya saja. Dia pun menerima Dewi. Dan resmilah mereka berpacaran. Tari tahu mereka berpacaran, namun tak tahu bahwa Dewilah yang “menembak” Cakra.

Sudah dua bulan Cakra dan Dewi berpacaran. Hari ini mereka berkencan di Kafe Strawberry Blok M. Dewi ingin sekali mencoba kafe yang memiliki kue dan minuman serba strawberry ini.  Suasana kafe tersebut agak ramai di hari Sabtu.
“Di lantai dua aja yuk, Beb.” Ujar Cakra sembari menggandeng tangan Dewi.
Dewi mengangguk.
Setelah memesan, mereka bermain permainan balok pintar yang disediakan kafe tersebut.
“Hahaa..kamu kalah lagi beb.” Ujar Cakra.
“Iyaa..kamu jago banget sih beb.” Jawab Dewi sembari tersenyum manis.
“Iyaa dong. Cakra gitu looh. Tari juga sering kalah kalau main balok ini sama aku beb. Dia sering gak mau main permainan ini, tapi selalu aku paksa. Hahaha..”
Mendengar nama Tari disebut, wajah Dewi langsung berubah masam dan cemberut. Cakra heran melihat wajah Dewi yang tiba-tiba cemberut.
“Kamu kenapa beb? Kok cemberut?” tanya Cakra.
“Kamu tuh nyebelin. Bisa gak sehari aja gak usah ngomongin atau nyebut nama Tari?” jawab Dewi kesal.
“Tari kan sahabat aku beb. Masak kamu cemburu sih.” ujar Cakra sembari tersenyum.
“Aku tahu. Tapi aku gak suka. Setiap kita lagi jalan kenapa kamu selalu ingatnya Tari terus. Padahal kamu kan lagi sama aku, bukan Tari.”
“Soalnya aku kan sering jalan sama Tari dulunya beb. Jadi yaa, tiap tempat yang pernah kita datangi aku ingat dia beb.”
“Oh gitu. Okee.. sekarang gini aja ya Cak. Kamu pilih jalan sama aku atau sama Tari?”
“Loh kok gitu beb?”
“Udah cepet putusin. Kalau kamu pilih aku, kamu harus putusin semua hubungan kamu sama Tari. Aku gak mau dengar kamu sebut-sebut nama dia lagi. Buktiin kalau kamu serius sama aku!”
Cakra berpikir sejenak, dirinya tak suka pertengkaran maka ia pun menjawab “Oke.. aku pilih kamu beb.”
Dewi pun tersenyum lebar.
Cakra ikut tersenyum dan tak menyadari keputusan yang akan membuatnya menyesal nanti.

Diiinn…!! Diin…!!
Cakra tersentak dari lamunannya. Lampu lalu lintas telah hijau.

Semoga aku tidak membuatnya menunggu lama.
***

19 February, 2013

LEARN,UNLEARN & RELEARN

The illiterate of the 21st century will no be those who can't read & write,but those who can't LEARN,UNLEARN & RELEARN.

Mereka yg buta huruf di abad ke-21 bukanlah orang yg tidak bisa membaca & menulis, melainkan mereka yg tidak dapat belajar,melepaskan pelajaran yg kadaluwarsa & belajar kembali.

-Alvin Toffler-


Salah satunya adalah pelajaran tentang BERSYUKUR.

Dalam salah satu pelatihan,saya menyuruh peserta menuliskan “25 hal yang saya syukuri dalam hidup” dalam waktu 4 menit. Dan hanya satu atau dua orang yang mampu menyelesaikannya. Sementara yang lain masih sibuk berpikir.
Inilah bedanya. Ada dua kategori manusia, ‘manusia yang bisa bersyukur’ dan ‘manusia yang mahir bersyukur’.
Manusia yang bisa bersyukur adalah mereka yang bersyukur ketika hidup berjalan sesuai keinginannya dan mengeluh ketika kesusahan datang. Sedangkan orang yang mahir bersyukur tetap bisa mengucap syukur bahkan ketika hidup tak berjalan sesuai keinginannya.

(Andreas Harefa from book “Mindset Therapy : Terapi pola pikir tentang makna Learn, Unlearn dan Relearn”)
  1. Terima Kasih Allah atas nikmat SEHATMU.
  2. Terima Kasih Allah atas nikmat IMANMU.
  3. Terima Kasih Allah atas nikmat ISLAMMU.
  4. Terima Kasih Allah atas nikmat BAHAGIAMU
  5. Terima Kasih Allah atas nikmat SEDIHMU
  6. Terima Kasih Allah atas nikmat RAHASIAMU
  7. Terima Kasih Allah atas nikmat PEMBELAJARANMU
  8. Terima Kasih Allah atas nikmat BELAJARMU
  9. Terima Kasih Allah atas nikmat MALAIKAT TANPA SAYAPMU (Mama)
  10. Terima Kasih Allah atas nikmat MERCU SUARMU (Bapak)
  11. Terima Kasih Allah atas nikmat KASIHMU (Keluarga & semua kenalanku)
  12. Terima Kasih Allah atas nikmat CINTAMU
  13. Terima Kasih Allah atas nikmat UKHUWAHMU
  14. Terima Kasih Allah atas nikmat HIDUPMU
  15. Terima Kasih Allah atas nikmat KARUNIAMU
  16. Terima Kasih Allah atas nikmat REZEKIMU
  17. Terima Kasih Allah atas nikmat SAKITMU
  18. Terima Kasih Allah atas nikmat HUJANMU
  19. Terima Kasih Allah atas nikmat KEMARAUMU
  20. Terima Kasih Allah atas nikmat KECERDASANMU
  21. Terima Kasih Allah atas nikmat RASAMU
  22. Terima Kasih Allah atas nikmat KELENGKAPANMU (Panca Indera)
  23. Terima Kasih Allah atas nikmat KEINDAHANMU (Cantik)
  24. Terima Kasih Allah atas nikmat ILMUMU (Bersekolah hingga Perguruan Tinggi)
  25. Terima Kasih Allah atas nikmat SYUKURMU
Aku membuat daftar ini dalam waktu 7 menit dan lumayan lama berpikir. Jadi aku pun harus banyak berlatih dan belajar untuk menjadi orang yang MAHIR bersyukur, tak sekedar BISA.
Bagaimana denganmu??

With love,
Meta Morfillah

18 February, 2013

Cerpen Keempatku


ALFABET

Namanya Ibu Nimfa.
Dia sangat mencintai ilmu. Bahkan demi ilmu tersebut separuh hidupnya ia habiskan untuk belajar. Konon ia sempat bertemu dengan periplaneta americana yang tinggal di Amerika. Ia adalah sosok kecoa teranggun dan terpintar yang pernah ku lihat selama hidupku. Baru tiga hari yang lalu ia tiba di kota kami dan mengajar di sekolah pusat. Ibu Nimfa sangat bersemangat mengajak kaum kecoa untuk belajar. Namun itu adalah suatu hal yang aneh di kota kami. Kota kami begitu makmur dan tenteram, sehingga para tetua kota menganggap keturunan kaum kami tidak perlu belajar. Sekolah yang dibangun pun hanyalah formalitas dan fungsi utamanya adalah tempat untuk para pejantan dan betina saling berkenalan, sebelum akhirnya mereka saling menyatukan janji menjadi sejoli. Maka, kehadiran Ibu Nimfa pun dianggap sebagai sesuatu yang aneh.


Hari ini pelajaran alfabet di sekolah. Ibu Nimfa yang mengajar. Namun sedari tadi Ibu Nimfa menjelaskan, pejantan dan betina tidak memperhatikan. Mereka malah saling asik memberi kode. Mencoba terlihat menarik sembari berharap kodenya tidak bertepuk sebelah antena (karena kami tidak punya tangan).
“Walaupun kita bangsa kecoa, namun kita tetaplah harus pintar agar tidak mudah dijajah atau ditipu bangsa lain. Untuk pintar kita harus banyak membaca. Dan untuk membaca, maka kita tidak boleh buta huruf. Di sini, kita akan memberantas buta huruf tersebut. Kita akan mempelajari alfabet yang digunakan oleh bangsa manusia.” Jelas Ibu Nimfa.
“Hoaaemm...alfabet apa tuh Bu? Makanan baru ya?” celetuk Rudi yang sering tidur di kelas.
“Bukan Rud, nama betina manusia. Ya kan bu?” seru Budi, yang memang agak budi (budek dikit).
“Ha..ha...ha..ha....” para pejantan dan betina menertawakan Rudi dan Budi.
“Sst.. sudah, sudah. Kembali ke materi. Sebelum kita mulai latihan pengucapan alfabet, ada yang mau ditanyakan?” tanya Ibu Nimfa.
Aku mengacungkan antenaku.
“Ya Blatta?”
“Mengapa kita mempelajari alfabet bahasa manusia Bu? Mengapa tidak bangsa lain saja, seperti kucing misalnya?” tanyaku.
“Pertanyaan cerdas. Mengapa bangsa manusia, dan bukan bangsa lain. Karena kita tahu..bahwa bangsa terhebat di muka bumi ini adalah bangsa manusia. Dan jika kita ingin belajar sungguh-sungguh, belajarlah dari mereka yang terbaik. Selain itu, hampir semua produk dan properti yang kita gunakan berasal dari bangsa manusia dan ditulisi alfabet manusia. Jadi untuk mengetahui kegunaan produk dan properti itu, kita harus dapat membaca alfabetnya dengan benar. Agar tidak terjadi efek samping yang membahayakan.” Jelas Ibu Nimfa.
“Ribet amat sih Bu, buat apa susah payah kayak gitu. Itu kan gak penting. Yang penting itu kita harus meneruskan keturunan. Pejantan harus bisa cari makanan, betina harus bisa bertelur banyak. Itulah tujuan hidup kita bu!”
Ibu Nimfa menghela napas mendengar ucapan Ratu, kecoak betina yang suka dandan. Ratu memang tidak peduli dengan sekolah, dia ke sekolah hanya karena dipaksa oleh ayahnya yang merupakan tetua kota. Sekedar formalitas.
“Memang benar perkataan Ratu. Di kota kalian yang begitu nyaman dan makmur ini, segalanya telah tersedia. Hingga tugas kalian hanyalah meneruskan keturunan. Namun ketahuilah, coro-coroku.. dengan ilmu yang kalian pelajari, kalian akan menjadi kecoa yang berkualitas. Dengan membaca, kalian dapat meningkatkan taraf hidup kalian. Kalian bisa membedakan mana produk yang berbahaya dan mana yang tidak. Dan tidaklah pernah ilmu itu akan merugikan kita.”
Ibu Nimfa menatap seisi kelas. Kebanyakan mereka tak acuh dengan perkataan Ibu Nimfa, dan masih saja asik bertukar kode antena.
“Oke, Ibu rasa cukup pertanyaannya. Sekarang mari kita latihan.” Ucap Ibu Nimfa sembari menghela nafas panjang. Ia tahu ini akan sulit dan butuh waktu yang lama.


“Hei Blatta, lo tahu gak kalau Ibu Nimfa kemarin berdebat dan dicaci sama tetua kota di sidang bulanan kota?” tanya Sari tetanggaku yang senang bergosip.
“Tahu darimana kamu?” tanyaku.
“Ayahku yang cerita, kemarin ia bertugas menjaga keamanan sidang. Dan ayahku bilang, itu adalah perdebatan sengit yang pernah terjadi dalam kurun waktu dua tahun terakhir.”
“Memang apa yang didebatkan?” aku jadi penasaran.
“Ibu Nimfa menginginkan agar dibuat sebuah kebijakan bagi para pejantan dan betina yang berusia 20 hari hingga 40 hari untuk menyelesaikan sekolah. Dia begitu menekankan pentingnya membaca dan memberantas buta huruf. Dia bilang bangsa kita dalam bahaya bila kita tidak melek huruf. Tentu saja tetua kota tidak setuju dengannya. Karena menurut mereka sekolah itu tidak penting. Buta huruf pun masih bisa hidup. Dan usia 20-40 hari adalah waktu yang tepat untuk bertelur, bukannya untuk sekolah. Tapi Ibu Nimfa begitu keras kepala meminta dibuatkan kebijakan itu. Akhirnya terjadilah perdebatan dahsyat itu. Tetua kota tidak menyukai pemikiran Ibu Nimfa. Dan malah mengatainya coro pastur (pasaran turun), karena tidak ada kecoa pejantan yang memilih Ibu Nimfa sebagai pasangannya dan Ibu Nimfa pun belum pernah bertelur.”
“Apa? Tetua kota berkata seperti itu?”
“Iya, ayahku bilang muka Ibu Nimfa sampai mencokelat tua menahan marah dan malu. Lalu ia mengucapkan terima kasih dan pergi dari ruang sidang.”
Duh Gusti, kasihan sekali Ibu Nimfa. Aku tak sampai hati membayangkan ia dipermalukan oleh tetua kota di depan kecoa banyak.


“Huaa....huaaa....ibuuuu....”
“Ayaaahhh...jangan tinggalkan kamii.. Huhuhuhu..”
Begitu banyak tangisan dan ratapan anak-anak kecoa memenuhi kota kami. Ini adalah hari terkelam di kota kami. Banyak mayat-mayat kecoa pejantan dan betina yang mati.
Ini bermula siang tadi. Saat rumah besar yang tiga tahun kaum kami tempati ingin dihuni kembali oleh manusia. Ratu yang melihat manusia itu pertama kali. Kemudian ia memberitahukan pada teman-teman se-gank­nya. Didorong rasa penasaran akan kehadiran manusia, mereka pun melanggar aturan tetua kota. Mereka mendekati barang-barang yang dibawa manusia tersebut. Dan celakanya, Ratu yang tidak pernah serius saat belajar Alfabet, malah mendekati sebuah tabung bertuliskan “TK – Tumpaskan Kecoa!!”. Ia memanjat tutup tabung itu dan menghirup racun anti kecoa. Ia pun mati seketika. Melihat Ratu yang tak bernyawa, teman-teman betinanya menjadi panik dan berteriak minta tolong. Kecoa lain yang mendengar jeritan teman-teman Ratu pun segera terbang menghampiri mereka.
Dan urusan ini menjadi demikian kapiran. Anak perempuan manusia itu melihat kawanan kecoa yang terbang dan menjerit.
“AAArghh..... KECOAAAA!!!!”
Ayahnya yang melihat anak itu ketakutan, segera mengambil tabung lain dan menyemprotkannya pada kawanan kami. Sehingga makin banyak korban kecoa yang berjatuhan dan suasana menjadi gaduh.
Sinta, salah seekor kecoa teman Ratu yang berhasil selamat menceritakan kronologis peristiwa tersebut. Dan inilah akhirnya. Kami berada di pengiringan doa massal dengan diam-diam agar tak ketahuan manusia tersebut. Kami bahkan tak kuasa memakamkan mereka dengan layak.
Ibu Nimfa yang berada di sebelahku memandang sedih pada kecoa yang kehilangan anggota keluarganya. Aku sempat mendengar gumaman lirihnya, “Seandainya kalian tidak buta huruf, ini tidak akan terjadi.”


Cerpen simbolisme yang disertakan dalam lomba “Gerakan Ayo Membaca” EDUWA UNJ ini ditulis oleh...
Iska Meta Furi, Teknologi Pendidikan UNJ angkatan 2007. Hobi membaca, menulis, berkhayal.
FB : meta ‘morfillah’

Text Widget