Pages

20 March, 2013

Cerpen : Sejumput Cinta Di Batas Waktu



Sejumput Cinta Di Batas Waktu
By : meta morfillah


Kamu tahu aku suka sama kamu
Aku tahu kamu suka sama aku
Tapi kita berdua sama-sama tahu
Waktu kita telah habis
Terlambat …
Kau terlalu takut menyatakan
Dan aku terlalu takut menanyakan
Karena tak selamanya kita membutuhkan
Sebuah jawaban …

Tari memandangi handphonenya yang menampakkan layar notes berisi puisi yang dibuatnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya menatap air mancur yang menari-nari di kolam depan Perpustakaan Nasional. Banyak sekali yang dipikirkannya. Banyak pula yang disesalinya. Tak terasa satu jam telah berlalu. Tari menghela napas panjang. Seolah-olah dengan cara itu masalahnya akan selesai dan dunia akan lebih baik padanya. Tiba-tiba handphonenya berbunyi dan menampilkan satu nama.

Cakra.

“Halo, Assalammu’alaikum.” Persis dering kedua Tari mengangkat teleponnya.
“Walaikumsalam. Kamu dimana Ri?”
Suara yang selalu menghantui pikiranku.
“Di Perpustakaan Nasional. Kenapa?” jawab Tari seraya menata hatinya yang dag dig dug.
“Habis ini ada acara lagi gak? Ada yang mau kubicarakan. Bisa?”
“Hmm.. bisa. Kebetulan hari ini gak ada rencana ke tempat lain.”
“Ok. Tunggu di sana yaa. I’m on the way. See you there.”
“Ok.”

Apa yang ingin dibicarakannya? Aneh sekali dia, jauh-jauh dari Tangerang hanya menemuiku untuk bicara.
Akhirnya Tari masuk ke dalam Perpustakaan Nasional yang agak ramai di hari Sabtu demi menunggu Cakra.

***
Di ruang baca fiksi Tari membolak-balik buku di hadapannya. Namun pikirannya melayang ke delapan tahun sebelumnya. Saat ia dan Cakra pertama kali berkenalan.

“Semua harus kenal depan, belakang dan kanan kirinya. Saya beri waktu satu menit. Dimulai dari sekarang.” Tari bersungut-sungut mendengarnya. Ia sebal sekali dengan tradisi OSPEK SMAnya ini. Menurutnya ini semua tidaklah penting.
“Hai.. namamu siapa? Aku Cakra.” Seorang laki-laki di samping kirinya mengulurkan tangan.
“Tari.” tukasnya sambil mengulurkan tangan.
Dan ternyata mereka satu kelas.
Entah siapa yang memulai atau bagaimana -Tari tidak ingat- tiba-tiba saja Tari dan Cakra menjadi sangat akrab. Dan mereka selalu satu kelas dari kelas satu sampai kelas tiga. Walaupun mereka tidak pernah duduk satu bangku. Dimana ada Tari, di situ pasti ada Cakra dan begitu pula sebaliknya. Sampai teman-teman sekelas mereka mencurigai bahwa mereka berpacaran. Namun hal itu tak digubris oleh Tari dan Cakra. Dan lama kelamaan gossip itu pun hilang dengan sendirinya.
Saat kelas tiga SMA awal semester, Tari memutuskan menggunakan hijab dan Cakra mendukungnya. Persahabatan mereka tetap sama. Cakra sering sekali mengajak Tari untuk ikut touring motor dengannya. Walau terkadang Tari risih karena ia satu-satunya wanita di kelompok touring tersebut. Tapi Tari tak bisa menolak permintaan Cakra dan dalam hatinya ia sangat senang sekali bepergian bersama Cakra. Karena Cakra sangat bertanggung jawab dan sudah dikenal baik oleh keluarganya. Semua terasa baik-baik saja. Saat itu.

Waktu kelulusan tiba. Tari dan Cakra pun terpisah. Karena perbedaan universitas yang mereka pilih. Tari memilih Universitas Negeri Jakarta di Rawamangun sedangkan Cakra memilih Universitas Bina Nusantara di Kebon Jeruk. Timur dan Barat. Walaupun terpisah jarak dan berkurangnya waktu bertemu, namun mereka tetap berhubungan baik. Hingga tahun kedua kuliah mereka, Cakra bertemu seorang wanita yang memikat hatinya. Dewi namanya. Dia lebih tua dua tahun dari Cakra. Setiap hari Cakra selalu membicarakan tentang Dewi di SMS dan percakapan telepon, hingga Tari pun merasa sangat mengenal Dewi. Awalnya Tari senang melihat Cakra jatuh cinta. Tapi kian lama, hatinya terusik. Cakra semakin menjauh dan asik dengan Dewi. Melupakan Tari, sahabatnya. Lama-lama frekuensi percakapan telepon dan SMS antara mereka berdua pun berkurang. Dan saat acara reuni SMA, mereka pun tidak saling menyapa. Seperti orang tidak kenal saja. Hingga membuat teman-teman terutama teman touring Cakra bingung.
“Tari,lo berantem sama Cakra?” Tanya Ridwan, teman sekelas Tari dan Cakra yang sering ikut touring.
“Hah? Enggak. Kenapa memangnya?”
“Kok kalian diem-dieman? Biasanya kan dateng bareng, pulang bareng. Udah kaya amplop sama perangko. Lengket. Hehehe”
“Gak selamanya seperti itu lah Wan. Cakra sudah punya pacar, masa iya aku gangguin terus.” Jawab Tari sembari tersenyum tipis.
Dan hingga acara berakhir, mereka berdua sama sekali tidak saling berbicara. Terasa ada lubang di hatinya, tapi Tari tak mengerti mengapa hatinya sakit. Tari merasa kehilangan Cakra.
***
Cakra memacu mobilnya dengan kencang. Lalu lintas Tangerang ke Jakarta lumayan lancar. Sembari mengemudi, pikirannya kembali ke tiga tahun silam. Saat ia berkenalan dengan Dewi.

Dewi adalah wanita dewasa dan pemberani yang pernah dikenal Cakra. Cakra mengenalnya dari Indra, teman kuliahnya yang tinggal di Karawang. Tidak sengaja bertemu dengan Dewi, ketika Cakra dan teman-temannya touring motor ke rumah Indra di Karawang. Dewi adalah tetangga Indra. Wajahnya manis dengan rambut ikal sebahu. Lebih tua dua tahun dari Cakra. Sudah bekerja sebagai Sales Promotion Girl di Jakarta. Kebetulan saat itu Dewi sedang liburan di rumah orangtuanya di Karawang. Dan Dewi melihat kedatangan Indra dan teman-temannya.
“Indra!” panggil Dewi.
“Eh Dewi. Apa kabar? Lagi pulang?”
“Iya. Kangen Karawang. Sama siapa aja nih Ndra? Kenalin dong.” Kata Dewi seraya melihat Cakra.
“Oh iya.. ini teman-teman kuliah gw Dew. Kenalin ini Cakra sama Deri.”
“Hai.. aku Dewi” sapa Dewi sembari menjulurkan tangannya pada Cakra.
“Cakra.” Jawab Cakra tersenyum tipis.
“Gw Deri.” Ujar Deri seraya menjulurkan tangannya pada Dewi.
“Dewi.” Balas Dewi seraya tersenyum.
“Rencana sampai kapan di Karawang Ndra?” Tanya Dewi.
“Besok pagi balik ke Jakarta Dew. Ada kuliah hari Senin pagi.”
“Ooh.. malam mingguan di sini dong yaa. Hehe”
“Iya Dew.” Balas Indra tersenyum.
“Ya sudah, aku balik dulu yaa. Have fun yaa.”
“Iyaa..” Jawab Indra, Cakra dan Deri sembari tersenyum.
“Dewi itu tetangga gw. Dulu sebelum Dewi kerja di Jakarta, gw sering main bareng dia. Cewek paling asik di sini. Walau tuaan dia daripada gw, tapi jiwanya muda. Cantik lagi. Hahaa” Jelas Indra sembari tertawa.
“Dasar lo! Gak boleh liat cewek cakep dikit.” Ujar Cakra menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ah elo sok alim Cak. Kenal sama Dewi, pasti lo bakal suka. Terus lupa dah sama HTS-an lo si Tari.”
“Sembarangan kalo ngomong. Tari itu sahabat gw. Bukan Hubungan Tanpa Status.” Jawab Cakra sembari menoyor kepala Indra.
“Ah.. lo berdua sama-sama bego atau muna. Jelas-jelas saling suka.”
“Udah deh, jangan jelekin gw sama Tari.”
“Oke..oke.. Maaf bos.”

Keesokan harinya, saat Cakra, Indra dan Deri bersiap untuk pulang ke Jakarta, Dewi datang menghampiri mereka.
“Halo Indra, Cakra, Deri..” sapa Dewi.
“Hai.” Jawab Cakra, Indra dan Deri bersamaan.
“Mau balik ke Jakarta ya? Ehm.. aku boleh nebeng gak?”
“Gw sih gak masalah Dew. Tapi gak tau si Cakra noh. Mau gak dia boncengin lo. Soalnya gw udah boncengin Deri. Gimana Cak?” ujar Indra seraya memandang Cakra, meminta persetujuan.
Cakra terkesiap dan nampak agak bingung. Karena ia tak terbiasa memboncengi wanita selain Tari dan ibunya. Rasanya aneh. Namun pada akhirnya, dia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sepanjang perjalanan Dewi mendekap pinggang Cakra dengan erat. Dan tak berhenti berbicara. Memang benar kata Indra, Dewi adalah orang yang asyik. Dan Cakra pun senang berbicara dengannya. Setibanya di Jakarta, Dewi meminta nomor handphone Cakra. Dan hubungan itu terus berlanjut bahkan semakin dekat.

Dewi sering mengajaknya jalan di akhir pekan. Hingga Cakra sering membatalkan janjinya dengan Tari. Bersama Dewi, ia merasa dimanja dan diperlakukan sebagai seseorang yang khusus. Dan tiap berkomunikasi dengan Tari pun, Cakra tak luput membahas tentang kedekatannya dengan Dewi. Dua bulan berkenalan kemudian Dewi “menembak” Cakra.
Cakra kaget mendengar pengakuan Dewi, tapi hatinya pun terasa senang. Karena pada dasarnya Cakra sulit mengungkapkan perasaannya terhadap wanita. Dia terlalu pemalu dan hanya dapat menunjukkan melalui sikapnya saja. Dia pun menerima Dewi. Dan resmilah mereka berpacaran. Tari tahu mereka berpacaran, namun tak tahu bahwa Dewilah yang “menembak” Cakra.

Sudah dua bulan Cakra dan Dewi berpacaran. Hari ini mereka berkencan di Kafe Strawberry Blok M. Dewi ingin sekali mencoba kafe yang memiliki kue dan minuman serba strawberry ini.  Suasana kafe tersebut agak ramai di hari Sabtu.
“Di lantai dua aja yuk, Beb.” Ujar Cakra sembari menggandeng tangan Dewi.
Dewi mengangguk.
Setelah memesan, mereka bermain permainan balok pintar yang disediakan kafe tersebut.
“Hahaa..kamu kalah lagi beb.” Ujar Cakra.
“Iyaa..kamu jago banget sih beb.” Jawab Dewi sembari tersenyum manis.
“Iyaa dong. Cakra gitu looh. Tari juga sering kalah kalau main balok ini sama aku beb. Dia sering gak mau main permainan ini, tapi selalu aku paksa. Hahaha..”
Mendengar nama Tari disebut, wajah Dewi langsung berubah masam dan cemberut. Cakra heran melihat wajah Dewi yang tiba-tiba cemberut.
“Kamu kenapa beb? Kok cemberut?” tanya Cakra.
“Kamu tuh nyebelin. Bisa gak sehari aja gak usah ngomongin atau nyebut nama Tari?” jawab Dewi kesal.
“Tari kan sahabat aku beb. Masak kamu cemburu sih.” ujar Cakra sembari tersenyum.
“Aku tahu. Tapi aku gak suka. Setiap kita lagi jalan kenapa kamu selalu ingatnya Tari terus. Padahal kamu kan lagi sama aku, bukan Tari.”
“Soalnya aku kan sering jalan sama Tari dulunya beb. Jadi yaa, tiap tempat yang pernah kita datangi aku ingat dia beb.”
“Oh gitu. Okee.. sekarang gini aja ya Cak. Kamu pilih jalan sama aku atau sama Tari?”
“Loh kok gitu beb?”
“Udah cepet putusin. Kalau kamu pilih aku, kamu harus putusin semua hubungan kamu sama Tari. Aku gak mau dengar kamu sebut-sebut nama dia lagi. Buktiin kalau kamu serius sama aku!”
Cakra berpikir sejenak, dirinya tak suka pertengkaran maka ia pun menjawab “Oke.. aku pilih kamu beb.”
Dewi pun tersenyum lebar.
Cakra ikut tersenyum dan tak menyadari keputusan yang akan membuatnya menyesal nanti.

Diiinn…!! Diin…!!
Cakra tersentak dari lamunannya. Lampu lalu lintas telah hijau.

Semoga aku tidak membuatnya menunggu lama.
***

19 February, 2013

LEARN,UNLEARN & RELEARN

The illiterate of the 21st century will no be those who can't read & write,but those who can't LEARN,UNLEARN & RELEARN.

Mereka yg buta huruf di abad ke-21 bukanlah orang yg tidak bisa membaca & menulis, melainkan mereka yg tidak dapat belajar,melepaskan pelajaran yg kadaluwarsa & belajar kembali.

-Alvin Toffler-


Salah satunya adalah pelajaran tentang BERSYUKUR.

Dalam salah satu pelatihan,saya menyuruh peserta menuliskan “25 hal yang saya syukuri dalam hidup” dalam waktu 4 menit. Dan hanya satu atau dua orang yang mampu menyelesaikannya. Sementara yang lain masih sibuk berpikir.
Inilah bedanya. Ada dua kategori manusia, ‘manusia yang bisa bersyukur’ dan ‘manusia yang mahir bersyukur’.
Manusia yang bisa bersyukur adalah mereka yang bersyukur ketika hidup berjalan sesuai keinginannya dan mengeluh ketika kesusahan datang. Sedangkan orang yang mahir bersyukur tetap bisa mengucap syukur bahkan ketika hidup tak berjalan sesuai keinginannya.

(Andreas Harefa from book “Mindset Therapy : Terapi pola pikir tentang makna Learn, Unlearn dan Relearn”)
  1. Terima Kasih Allah atas nikmat SEHATMU.
  2. Terima Kasih Allah atas nikmat IMANMU.
  3. Terima Kasih Allah atas nikmat ISLAMMU.
  4. Terima Kasih Allah atas nikmat BAHAGIAMU
  5. Terima Kasih Allah atas nikmat SEDIHMU
  6. Terima Kasih Allah atas nikmat RAHASIAMU
  7. Terima Kasih Allah atas nikmat PEMBELAJARANMU
  8. Terima Kasih Allah atas nikmat BELAJARMU
  9. Terima Kasih Allah atas nikmat MALAIKAT TANPA SAYAPMU (Mama)
  10. Terima Kasih Allah atas nikmat MERCU SUARMU (Bapak)
  11. Terima Kasih Allah atas nikmat KASIHMU (Keluarga & semua kenalanku)
  12. Terima Kasih Allah atas nikmat CINTAMU
  13. Terima Kasih Allah atas nikmat UKHUWAHMU
  14. Terima Kasih Allah atas nikmat HIDUPMU
  15. Terima Kasih Allah atas nikmat KARUNIAMU
  16. Terima Kasih Allah atas nikmat REZEKIMU
  17. Terima Kasih Allah atas nikmat SAKITMU
  18. Terima Kasih Allah atas nikmat HUJANMU
  19. Terima Kasih Allah atas nikmat KEMARAUMU
  20. Terima Kasih Allah atas nikmat KECERDASANMU
  21. Terima Kasih Allah atas nikmat RASAMU
  22. Terima Kasih Allah atas nikmat KELENGKAPANMU (Panca Indera)
  23. Terima Kasih Allah atas nikmat KEINDAHANMU (Cantik)
  24. Terima Kasih Allah atas nikmat ILMUMU (Bersekolah hingga Perguruan Tinggi)
  25. Terima Kasih Allah atas nikmat SYUKURMU
Aku membuat daftar ini dalam waktu 7 menit dan lumayan lama berpikir. Jadi aku pun harus banyak berlatih dan belajar untuk menjadi orang yang MAHIR bersyukur, tak sekedar BISA.
Bagaimana denganmu??

With love,
Meta Morfillah

18 February, 2013

Cerpen Keempatku


ALFABET

Namanya Ibu Nimfa.
Dia sangat mencintai ilmu. Bahkan demi ilmu tersebut separuh hidupnya ia habiskan untuk belajar. Konon ia sempat bertemu dengan periplaneta americana yang tinggal di Amerika. Ia adalah sosok kecoa teranggun dan terpintar yang pernah ku lihat selama hidupku. Baru tiga hari yang lalu ia tiba di kota kami dan mengajar di sekolah pusat. Ibu Nimfa sangat bersemangat mengajak kaum kecoa untuk belajar. Namun itu adalah suatu hal yang aneh di kota kami. Kota kami begitu makmur dan tenteram, sehingga para tetua kota menganggap keturunan kaum kami tidak perlu belajar. Sekolah yang dibangun pun hanyalah formalitas dan fungsi utamanya adalah tempat untuk para pejantan dan betina saling berkenalan, sebelum akhirnya mereka saling menyatukan janji menjadi sejoli. Maka, kehadiran Ibu Nimfa pun dianggap sebagai sesuatu yang aneh.


Hari ini pelajaran alfabet di sekolah. Ibu Nimfa yang mengajar. Namun sedari tadi Ibu Nimfa menjelaskan, pejantan dan betina tidak memperhatikan. Mereka malah saling asik memberi kode. Mencoba terlihat menarik sembari berharap kodenya tidak bertepuk sebelah antena (karena kami tidak punya tangan).
“Walaupun kita bangsa kecoa, namun kita tetaplah harus pintar agar tidak mudah dijajah atau ditipu bangsa lain. Untuk pintar kita harus banyak membaca. Dan untuk membaca, maka kita tidak boleh buta huruf. Di sini, kita akan memberantas buta huruf tersebut. Kita akan mempelajari alfabet yang digunakan oleh bangsa manusia.” Jelas Ibu Nimfa.
“Hoaaemm...alfabet apa tuh Bu? Makanan baru ya?” celetuk Rudi yang sering tidur di kelas.
“Bukan Rud, nama betina manusia. Ya kan bu?” seru Budi, yang memang agak budi (budek dikit).
“Ha..ha...ha..ha....” para pejantan dan betina menertawakan Rudi dan Budi.
“Sst.. sudah, sudah. Kembali ke materi. Sebelum kita mulai latihan pengucapan alfabet, ada yang mau ditanyakan?” tanya Ibu Nimfa.
Aku mengacungkan antenaku.
“Ya Blatta?”
“Mengapa kita mempelajari alfabet bahasa manusia Bu? Mengapa tidak bangsa lain saja, seperti kucing misalnya?” tanyaku.
“Pertanyaan cerdas. Mengapa bangsa manusia, dan bukan bangsa lain. Karena kita tahu..bahwa bangsa terhebat di muka bumi ini adalah bangsa manusia. Dan jika kita ingin belajar sungguh-sungguh, belajarlah dari mereka yang terbaik. Selain itu, hampir semua produk dan properti yang kita gunakan berasal dari bangsa manusia dan ditulisi alfabet manusia. Jadi untuk mengetahui kegunaan produk dan properti itu, kita harus dapat membaca alfabetnya dengan benar. Agar tidak terjadi efek samping yang membahayakan.” Jelas Ibu Nimfa.
“Ribet amat sih Bu, buat apa susah payah kayak gitu. Itu kan gak penting. Yang penting itu kita harus meneruskan keturunan. Pejantan harus bisa cari makanan, betina harus bisa bertelur banyak. Itulah tujuan hidup kita bu!”
Ibu Nimfa menghela napas mendengar ucapan Ratu, kecoak betina yang suka dandan. Ratu memang tidak peduli dengan sekolah, dia ke sekolah hanya karena dipaksa oleh ayahnya yang merupakan tetua kota. Sekedar formalitas.
“Memang benar perkataan Ratu. Di kota kalian yang begitu nyaman dan makmur ini, segalanya telah tersedia. Hingga tugas kalian hanyalah meneruskan keturunan. Namun ketahuilah, coro-coroku.. dengan ilmu yang kalian pelajari, kalian akan menjadi kecoa yang berkualitas. Dengan membaca, kalian dapat meningkatkan taraf hidup kalian. Kalian bisa membedakan mana produk yang berbahaya dan mana yang tidak. Dan tidaklah pernah ilmu itu akan merugikan kita.”
Ibu Nimfa menatap seisi kelas. Kebanyakan mereka tak acuh dengan perkataan Ibu Nimfa, dan masih saja asik bertukar kode antena.
“Oke, Ibu rasa cukup pertanyaannya. Sekarang mari kita latihan.” Ucap Ibu Nimfa sembari menghela nafas panjang. Ia tahu ini akan sulit dan butuh waktu yang lama.


“Hei Blatta, lo tahu gak kalau Ibu Nimfa kemarin berdebat dan dicaci sama tetua kota di sidang bulanan kota?” tanya Sari tetanggaku yang senang bergosip.
“Tahu darimana kamu?” tanyaku.
“Ayahku yang cerita, kemarin ia bertugas menjaga keamanan sidang. Dan ayahku bilang, itu adalah perdebatan sengit yang pernah terjadi dalam kurun waktu dua tahun terakhir.”
“Memang apa yang didebatkan?” aku jadi penasaran.
“Ibu Nimfa menginginkan agar dibuat sebuah kebijakan bagi para pejantan dan betina yang berusia 20 hari hingga 40 hari untuk menyelesaikan sekolah. Dia begitu menekankan pentingnya membaca dan memberantas buta huruf. Dia bilang bangsa kita dalam bahaya bila kita tidak melek huruf. Tentu saja tetua kota tidak setuju dengannya. Karena menurut mereka sekolah itu tidak penting. Buta huruf pun masih bisa hidup. Dan usia 20-40 hari adalah waktu yang tepat untuk bertelur, bukannya untuk sekolah. Tapi Ibu Nimfa begitu keras kepala meminta dibuatkan kebijakan itu. Akhirnya terjadilah perdebatan dahsyat itu. Tetua kota tidak menyukai pemikiran Ibu Nimfa. Dan malah mengatainya coro pastur (pasaran turun), karena tidak ada kecoa pejantan yang memilih Ibu Nimfa sebagai pasangannya dan Ibu Nimfa pun belum pernah bertelur.”
“Apa? Tetua kota berkata seperti itu?”
“Iya, ayahku bilang muka Ibu Nimfa sampai mencokelat tua menahan marah dan malu. Lalu ia mengucapkan terima kasih dan pergi dari ruang sidang.”
Duh Gusti, kasihan sekali Ibu Nimfa. Aku tak sampai hati membayangkan ia dipermalukan oleh tetua kota di depan kecoa banyak.


“Huaa....huaaa....ibuuuu....”
“Ayaaahhh...jangan tinggalkan kamii.. Huhuhuhu..”
Begitu banyak tangisan dan ratapan anak-anak kecoa memenuhi kota kami. Ini adalah hari terkelam di kota kami. Banyak mayat-mayat kecoa pejantan dan betina yang mati.
Ini bermula siang tadi. Saat rumah besar yang tiga tahun kaum kami tempati ingin dihuni kembali oleh manusia. Ratu yang melihat manusia itu pertama kali. Kemudian ia memberitahukan pada teman-teman se-gank­nya. Didorong rasa penasaran akan kehadiran manusia, mereka pun melanggar aturan tetua kota. Mereka mendekati barang-barang yang dibawa manusia tersebut. Dan celakanya, Ratu yang tidak pernah serius saat belajar Alfabet, malah mendekati sebuah tabung bertuliskan “TK – Tumpaskan Kecoa!!”. Ia memanjat tutup tabung itu dan menghirup racun anti kecoa. Ia pun mati seketika. Melihat Ratu yang tak bernyawa, teman-teman betinanya menjadi panik dan berteriak minta tolong. Kecoa lain yang mendengar jeritan teman-teman Ratu pun segera terbang menghampiri mereka.
Dan urusan ini menjadi demikian kapiran. Anak perempuan manusia itu melihat kawanan kecoa yang terbang dan menjerit.
“AAArghh..... KECOAAAA!!!!”
Ayahnya yang melihat anak itu ketakutan, segera mengambil tabung lain dan menyemprotkannya pada kawanan kami. Sehingga makin banyak korban kecoa yang berjatuhan dan suasana menjadi gaduh.
Sinta, salah seekor kecoa teman Ratu yang berhasil selamat menceritakan kronologis peristiwa tersebut. Dan inilah akhirnya. Kami berada di pengiringan doa massal dengan diam-diam agar tak ketahuan manusia tersebut. Kami bahkan tak kuasa memakamkan mereka dengan layak.
Ibu Nimfa yang berada di sebelahku memandang sedih pada kecoa yang kehilangan anggota keluarganya. Aku sempat mendengar gumaman lirihnya, “Seandainya kalian tidak buta huruf, ini tidak akan terjadi.”


Cerpen simbolisme yang disertakan dalam lomba “Gerakan Ayo Membaca” EDUWA UNJ ini ditulis oleh...
Iska Meta Furi, Teknologi Pendidikan UNJ angkatan 2007. Hobi membaca, menulis, berkhayal.
FB : meta ‘morfillah’

21 December, 2012

Romantisme membaca-menulis


Perahu kertasku kan melaju..
Membawa surat cinta padamu
Kata-kata yang sedikit gila,
Tapi benar adanya.


Ku bahagia.. ku telah terlahir di dunia.
Dan kau ada.. di antara milyaran manusia.
Dan ku bisa.. dengan radarku..menemukanmu.


Lagu yang indah..untuk suasana hatiku saat ini. Desember, hujan, liburan, bacaan-bacaan romantis sederhana namun tak picisan berhasil meremajakan pikiranku lagi. Bacaan metropop, teenlit yang sudah lama kutinggalkan, karena menurutku terlalu “basi dan biasa”  menyadarkanku sisi romantisme hidup ini lagi. Yaa.. kata-kata bijak itu benar, “Tidak ada suatu pun bacaan yang tidak dapat diambil manfaatnya. Bahkan ketika bacaan itu buruk atau menceritakan keburukan sekalipun. Hanya diperlukan hati dan pikiran yang bersih untuk dapat mengambil pelajaran dari itu semua.”


Aku yang salah.

Tidak ada tulisan yang tak bagus. Bahkan ketika tulisan itu telah diterbitkan. Hanya harus pandai memilih bacaan. Dan kembali lagi pada bacaan metropop dan teenlit ini.. bacaan yang dulu sering sekali kubaca ketika SMP dan SMA. Entah sejak kapan tiba-tiba kutinggalkan dan dunia berubah menjadi lebih serius. Bacaanku lebih rumit. Tapi beberapa hari ini, kutemukan lagi “harta karunku” melalui bacaan itu. Aku sedang menikmati tulisan karya Ilana Tan yang ada 4 buah dan 4 tokoh yang berbeda. Berhubungan tapi tidak bersambung. Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo dan Spring in London. Sungguh menarik. Aku suka gaya tulisannya. Membuat aku berimajinasi, bahkan aku menciptakan “film” tersendiri di pikiranku. Dan aku suka, dia tidak terlalu menonjolkan unsur romantisme picisan yang biasanya memperkenankan adegan-adegan dewasa. Dia membuat cerita cinta itu cukup sopan dan dewasa. Bagaimana soal perasaan sederhana menjadi tak sederhana dalam pemikiran orang dewasa. Yaa… terkadang semakin dewasa, semakin banyak tuntutan dalam pemikiran kita. Yang menjadikan hal-hal sederhana menjadi rumit. Coba saja kau tanyakan pada anak-anak. Merekalah guru yang paling jujur dan sederhana terhadap kehidupan. Suka bilang suka, tidak suka bilang tidak suka.

Manusiawi sekali.. rasa cinta itu diciptakan. Menjungkirbalikkan logika yang selama ini selalu rasional dan otak kiri. Adanya cinta membuat otak kanan kita lebih bekerja. Menjadi lebih imajinatif, peka dan tiba-tiba dapat menuliskan berbagai ide, menggambarkan berbagai detil. Yaa… sebuah “rasa” yang universal, tidak habis dibicarakan orang-orang yang hidup. Menjadi mata air inspirasi 90 % buku-buku di dunia. Betapa sempurna Tuhan dan skenarionya.
Dan itulah yang terjadi padaku. Akhir-akhir ini, aku merasa kembali remaja dari bacaan yang bergenre metropop ini. Yang tentu saja bahasannya adalah cinta. Sebagai wanita, siapa yang tidak suka keromantisan? Setangkai bunga mawar, parade kembang api, langit malam dengan bintangnya, taman bunga, candle light dinner. Hal-hal kecil namun detail yang sepele namun penting. Siapa sih yang tidak mengharapkannya?? Hanya saja wanita harus menjaga dirinya melebihi pria. Karena ada satu kehormatan yang hanya dimiliki oleh wanita. Maka tak jarang wanita lebih pintar acting. Bertingkah biasa saja namun dalam hatinya memendam cinta yang luar biasa. Bukan berarti mengkhususkan, hanya saja menurut saya dan beberapa buku yang saya baca, wanita cenderung lebih sering dan pandai menyembunyikan perasaannya.

Tapi bukan berarti lelaki tidak. Seperti kisah Bapak Habibie dan Ainun berikut :

“Waktu itu, saya kelas tiga SMA dan Ainun masih kelas dua SMA. Aiunun duduk-duduk bersama 'gengnya' yang cantik-cantik. Entah bagaimana, saya tiba-tiba mendatangi 'geng' itu, lalu berkata kepada Ainun, "Hey, kamu itu kenapa jelek ya? Hitam lagi." Lalu, saya pergi. Pasti Ainun saat itu jengkel sekali. Kenapa? Mungkin ia berpikir saya kurang ajar. Padahal mungkin secara tidak sadar, saya tertarik kepada Ainun, tetapi saya mengekspresikannya dengan cara lain karena saya tidak terlalu berani mengatakan kalau saya suka dia.”

-- "Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat"

Yaah.. begitulah yang saya maksud. Dan inti catatan ini adalah… saya ingin bilang cinta itu perasaan biasa, tapi jadi luar biasa jika kita memberikan porsinya berlebihan dibanding rasa lainnya, seperti sedih, bosan, kesal, dll. Maka kebijakan kitalah bagaimana menempatkan rasa cinta itu pada kadar sewajarnya hingga kita temui muara pelampiasan untuk menumpahkan cinta kita yang luar biasa. Jika belum memiliki pasangan, curahkan dulu kepada Tuhan, keluarga dan pengembangan diri kita.
Dan aku berterima kasih pada Tuhan, karena aku dikaruniai rasa cinta ini. Aku jatuh cinta! Pada tokoh “kamu” dalam tiap tulisan yang aku buat. Sehingga aku cinta membaca dan menulis! Hal itu menenangkan dan menyenangkan  J


Meta morfillah
-Beginilah rasanya ketika kau memiliki banyak ide membuncah, dan ide-ide itu memenuhi ruang kepalamu, hingga kau ingin mengeluarkannya, Dan yang terjadi hanyalah ceracauan yang tak runut, tak jelas dan tak runtut. Tapi tetap kutuliskan, biar aku ingat sensasinya :) -

12 August, 2012

Tentang _-_-_-_-_


Ini masalah hati
Kalian tak bisa menilai
Bukan santun ku terbungkam
Hanya hatiku berbatas tuk mengerti
Hanya DIA sang pemilik hati yang mampu meredakan
Berjuta tulisan terurai atas satu makna
Universal,majemuk,hingga personal
Apakah pertanda bahwa tak ada yang mampu mengurai makna sebenarnya
Tentang C.I.N.T.A
Dan kamu,aku,dia dan mereka memang terbatas
Mengapa memaksa ??

meta morfillah
25 Mei 2010
8 : 30 PM

Yang Terlupakan


Jangan berdebat atas nama kebenaran
Sedang yang kau cari adalah pembenaran
Tak sepaham malah kau heran
Lalu apa arti proses pencarian??

Adakah cinta itu tersia karena pertengkaran?
Adakah rindu ini menguap sebab tak pernah menyatu?

Hadapkanlah wajah ini pada Ia yang Satu
Jika tujuan kita memang satu
Untuk kesatuan,bukan penyatuan

meta morfillah
22 Mei 2010
11:33 PM

Tanya Hatiku


Tak diterka datang

Jamahi kehidupan

permukaan yang tenang, hanya sedikit riak

namun dasarnya bergelombang dahsyat

Buyarkan arahku

biaskan hatiku

kupinta padanya fatwa,

dan tak mudah

yang ada hanya pertanda yang semakin meresahkan

kini ku bertanya-tanya

akankah tiba saatnya 'KESIAPAN' itu datang

atau selamanya diam?

Sesi wawancara dengan Tuhan


Wawancara dengan Tuhan

“Selamat pagi, ya Tuhanku,” aku berseru kepada Tuhan seraya mengetuk pintu dalam doa.
“Silakan masuk,” sambut Tuhan.
“Jadi kamu ingin mewawancari Aku?” lanjutNya.
“Kalau Tuhan ada waktu,” sahutku.
Sambil tersenyum Tuhan berkata:
“Abadilah waktu bagiKu. Maka Aku ada cukup waktu untuk melakukan apa saja. Pertanyaan-pertanyaan apa yang hendak kauajukan kepadaKu?”
Lalu aku mulai bertanya:
“Apa yang paling mengejutkan Tuhan mengenai bangsa manusia?”
Tuhan menjawab:
“Yang paling mengherankan Aku mengenai bangsa manusia adalah mereka mudah bosan sebagai anak-anak dan mau cepat-cepat menjadi orang dewasa dan kemudian rindu menjadi anak-anak lagi. Mereka merusak kesehatannya dengan mengejar uang dan menghabiskan uang itu untuk pengobatan. Mereka terlalu cemas tentang masa depannya dan melalaikan masa kini sehingga mereka tidak dapat menikmati dengan baik masa sekarang maupun masa depannya. Mereka menjalankan hidup seolah-olah tidak akan mati, tetapi mati seakan-akan tidak pernah hidup.”

Setelah itu tangan Tuhan memegang tanganku, lalu kami berdiam sejenak.
Kemudian aku bertanya kepada Tuhan:
“Pelajaran apa saja yang pantas kami pelajari? "

Anak Lelaki dan Paku


Adalah seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukannya di pagar belakang rumah setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah memakukan 37 paku ke pagar. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati ternyata lebih mudah menahan amarah daripada menancapkan paku di pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut bisa mengendalikan amarah. Dia memberi tahu dan mengusulkan pada ayahnya agar mencabut satu paku setiap kali dia bisa menahan marah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki ini akhirnya memberi tahu semua paku telah tercabut. Sang ayah sangat gembira dan menuntun anaknya ke pagar.

‘’Kau telah berhasil dengan baik, anakku. Tetapi lihatlah lubang-lubang di pagar itu. Meski kita sudah menambal dengan baik, tapi hasilnya tetap tidak bisa seperti semula. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang-lubang di pagar ini. Karena itu, berhati-hatilah mengeluarkan kata-kata saat marah.’’

[lubang yang dimaksud adalah lubang di hati orang lain akibat amarahnya]

Ruang Kosong di Hati


Tahukah Anda bahwa dalam hati manusia ada satu ruang kosong yang tak berpenghuni....

Ruangan itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Ruangan itu tak dapat diisi oleh teman dekat maupun sahabat. Sekejap saja teman dekat memberikan seberkas cahaya dalam ruang kosong itu. Ada detik-detik kehidupan di dalamnya. Setiap hari ruang kosong itu diisi dengan canda tawa dua insan yang bersahabat; dipenuhi dengan nyanyian sukacita yang mengumandangkan kegembiraan.

Waktu demi waktu ruang kosong itupun akhirnya terawat dengan kehadiran teman dekat. Suatu kala teman dekat itu tak lagi memperhatikannya, dia enggan singgah di ruang kosong itu. Tak ada lagi menu sukacita dan minuman ‘jus kidding’ yang biasa disuguhkan ketika mereka bertamu di ruang kosong itu. Yang ada hanyalah kehampaan, kesedihan dan sakit hati yang entah apa bisa disembuhkan atau tidak.

Ruang yang kosong itupun kembali ditinggalkan, hanyalah sang penghuni yang setiap hari duduk terdiam mengisi hari-harinya dengan penyesalan. Akhirnya sang penghuni tersadar dan beranjak keluar mencari sesuatu untuk menemani dirinya agar ia tak merasa hampa. Sejenak ruang yang kosong itu dibiarkan begitu saja oleh sang penghuni. Berantakan, dan lebih tak terawat dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Hingga akhirnya dia menemukan pengganti teman dekatnya...yaitu seorang kekasih.

Hatinya kembali berbunga-bunga, kesedihan itu lenyap perlahan-lahan digantikan oleh cinta yang mulai bersemi. Ruang kosong itupun kembali dibersihkan dengan adanya cinta. Hari berlalu ganti minggu....dan tak terasa sudah 8 bulan mereka singgah di ruang kosong itu. Dan suatu ketika sang kekasih itu menginggalkannya tanpa alasan apapun. Sang penghuni mencoba mencari aagr rumah itu tak ditinggalkan hampa. Tapi kekasihnya tetap tak dapat ditemukan. Entah kemana......sang penghuni tentu saja kecewa, dia merasa begitu banyak pengorbanan yang telah ia lakukan, luka lama pun kembali terbuka hingga ada satu penyakit dalam dirinya...penyakit yang ditakuti banyak orang...penyakit yang hanya bisa disembuhkan oleh seseorang, Kesepian dan hanya bisa disembuhkan oleh Sang Khalik.

Sahabat....seringkali kita mengalami saat-saat yang menyakitkan seperti itu. Kita mencoba menggantinya dengan hal-hal yang membuat kita ‘sejenak’ lupa akan masalah dan luka hati kita. Tapi sadarkah kita semakin masalah itu dilupakan, semakin besar kesepian yang kita rasakan. Belajarlah untuk selalu berharap dan memandang ke atas, jangan pernah berkata dalam diri kita bahwa teman, sahabat, kekasih dapat mengisi kesendirian kita. Mereka hanyalah manusia yang setiap saat dapat meninggalkan kita, yang juga dapat menyakiti kita. Jadi.....dekatkanlah diri setiap kita pada Sang Khalik, hanya dia yang dapat memberikan kepuasan di jiwa dan hidup kita.

Dia yang tak pernah meninggalkan dan mengecewakan kita. Jika kita melekat padanya, maka badai kekecewaan, masalah sebesar apapun pasti dapat kita atasi.

Text Widget