Pages

16 January, 2010

pidato pertamaku,,

lagi nyari sebuah arsip, eh ketemu buku catetan pas ngaji. Iseng-iseng tha baca lagi. Wiidiiihh,,ternyata tha dulu(semasa ngaji) udah lebih canggih dibanding sekarang, yang dah ga aktif apa-apa. Ada naskah pidato pertama tha tertera tanggal Minggu, 23 Maret 2003, yang tha bikin sendiri. Dengan naskah buatan sendiri ini, ternyata tha MENANG, juara 1 lawan pengkajian se-Jakarta(ada yg dari pasar minggu lawannya,bagus juga, ikhwan,,)

neyh naskahnya..

Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalammu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillah,,Alhamdulillah illadzi arsalaa rasulahu bil huda wa dinil haq. Liyuzhirahu alad dini kullihi wa kafa bil laahi syahida. Asyhadu alla ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu.
Allahumma salli wa sallim wa baarik alaa Muhammad, wa alaa aalihii wa sahbihi wa man tabi’ahu bi ihsaani illaa yaumiddiin.

Segala puji hanya milik Allah yang mengutus rasulnya Muhammad SAW. Shalawat dan salam kesejahteraan atas Nabi Muhammad SAW, atas keluarganya, juga atas seluruh sahabatnya dan para pengikutnya yang setia sampai akhir jaman. Mudah-mudahan kita semua termasuk di dalamnya. Amiiin..
Hadirin dan hadirat yang saya hormati,

Tidak terasa oleh kita hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Rasanya begitu cepat waktu berjalan. Kini kita sudah berada di tahun Hijriyyah 1424. Alhamdulillah, Allah SWT telah mempertemukan kita kembali dengan bulan yang mulia ini, yaitu bulan Muharram 1424 H.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Bagaimana caranya kita menyambut tahun baru Islam ini? Apakah dengan pesta kembang api, begadang semalam suntuk atau tidak ada tanggapan sama sekali?
Dalam hal ini, Allah SWT telah menuntun secara jelas bagaimana cara menyambut tahun baru hijriah ini. Allah menjelaskan dalam Qur’an surah Al Hasyr ayat 18 yang artinya sebagai berikut :
“wahai orang-orang beriman, hendaklah kalian takut pada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok. Bertakwalah pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menjelaskan bagaimana cara menyambut tahun baru hijriyyah ini, ialah dengan introspeksi diri, mawas diri, dan melihat masa yang lalu untuk masa yang akan datang.
Cobalah sendiri pada kesempatan yang sangat baik ini. Yang jelas usia kita semakin bertambah, namun apakah amalan baik kita juga bertambah seiring bertambahnya usia kita?
Meskipun usia manusia bertambah, namun pada hakikatnya justru kesempatan hidup semakin sempit. Dengan semakin sempitnya kesempatan hidup ini, berarti kita dituntut untuk memanfaatkan sisa usia kita dengan sebaik-baiknya.

Kalau tahun yang lalu belum shalat, tahun ini mulailah shalat. Tahunlalu cukup shalat di rumah, tahun ini cobalah untuk shalat di masjid atau mushalla.
Dengan demikian, tahun baru hijriyyah ini marilah kita jadikan sebagai motivasi terhadap diri kita masing-masing untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal saleh sekaligus berusaha menjadi orang yang mempunyai nilai lebih. Seperti yang telah disabdakan Rasulullah SAW yang bunyinya sbb :
“khairun naasi man too la umruhu wa hasuna amaluhu wa syarunnaasi man too la umrohu wa saa a amaluhu”
-->Sebaik-baik orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Sebaliknya orang yang jelek ialah orang yang panjang umurnya jelek amalnya.

Jadi intinya dalam menyambut tahun baruhijriyyah ini, kita harus hijrah dari yang buruk ke yang baik. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S An Nisa ayat 100 yang artinya:
“siapa yang berpindah pada jalan Allah, niscaya akan diperolehnya di bumi ini rizki yang banyak. Siapa yang keluar dari rumahnya untuk hijrah pada Allah dan RasulNya, kemudian ia meninggal di tengah jalan, maka sesungguhnya pahalanya telah dijamin Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini menerangkan tentang betapa pentingnya hijrah, apabila kita dalam keadaan gelap menuju terang. Dan ayat ini juga menjelaskan betapa tinggi nilainya ganjaran yang akan diberikan Allah pada hamba-hambaNya yang berhijrah ke jalan Allah.
Marilah hadirin dan hadirat yang berbahagia, janganlah ragu untuk berhijrah ke jalan Allah.

Itulah bapak, ibu dan saudara/i-ku sekalian..
Sepatah dua patah kata yang dapat saya sampaikan dalam pidato saya kali ini. Semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya.
Demikian lebih kurangnya saya mohon maaf. Bila terdapat kesalahan kata-kata, semata-mata itu semua datangnya dari saya sendiri.
Billahit taufiq wal hidayah
Wassalammua’alaikum wr. wb


Naahh,,ga nyangka kaan,,
canggih juga yaa,, sekarang aja tha masih ga pernah percaya, kalo tha pernah secanggih itu, nyari dalil-dalilnya itu dapat ide darimana ya??
kesannya dah paham banget ma Qur'an,,,
aduuhh,,,jadi malu sama diri sendiri di 7 tahun yang lalu..(-_-"")

13 January, 2010

cuurrhhat

Iseng-iseng, coba sebuah niatan. Saya ingin beramal hari ini, bagi-bagi aja rejeki yang ada. Tanpa berharap apa-apa. MURNI ISENG AJA. Tak disangka, tak dinyana,,,dalam beberapa saat banyak keberuntungan yang saya dapatkan. Seperti mengalir tak henti, ditambah saya dapat kenalan baru yang menyatakan dia ngefans sama saya. Subhanallah, WOW!! Ga disangka banget, ternyata baginya saya adalah dunianya. Padahal selama ini saya menganggap diri saya ini bukan siapa-siapa bagi dunia ini. Coba aja Tanya, kenal meta ga? Pasti banyakan yang gataw. Hahahahah,,LOL :)

Satu hal lagi, saya pikir Mencintai itu melelahkan. Harus terus memahami kebutuhan orang yang kita cintai, tanpa memikirkan apakah orang yang kita cintai memahami kita. Tapi, saya ‘tersentil’ oleh kalimat yang saya tulis di buku catatan khusus saya, dari seorang aktivis partai (hayo tebak namanya)

“Dalam makna memberi itu posisi kita sangat KUAT. Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdirNya, sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung : MENCINTAI.”



Hahay,,,apa maksud catatan saya ini. Sekedar ingin mengatakan bahwa HIDUP SAYA RAMAI DAN MENYENANGKAN, dengan segala masalah yang ada di dalamnya. Meyakinkan ke diri saya, bahwa mentari akan selalu bersinarr, walau mungkin mendung akan menyapamu dan hujan diringi badai menerpamu, tapi tetap PERCAYALAH bahwa itu tak akan lama, mentari akan kembali bersinar, dan mungkin kau akan terkejut mendapati pelangi menampakkan wajahnya padamu.
Jangan berputus asa guys, coz yang saya tahu IBLIS berasal dari bahasa arab ‘Ablasa’ yang berarti “putus asa”. Nah kalo kalian putus asa berarti kalian sama dengan…...........................

“mintalah Firdaus paling tinggi!!” (sabda Rasulullah SAW)
Lakukan semaksimal mungkin, lalu terimalah apapun yang sanggup kau kerjakan dan apapun yang tak sanggup kau kerjakan.

catatan harian mahasiswi aneh yang tak bisa diam (LAGI!)

cucur hangat (curhat)

Putar-putar seharian
Raga iya, pikiran apalagi
Hasilnyaa…tertawa,,ha,ha,ha
Memuaskankah?
Terlihatkah?

فَاِ ذَ ا فَرَ غتَ فَا ںصَب {7}

7. Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,
8. Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.



Rasa-rasanya sih sudah kulakukan dengan sungguh-sungguh, tapii..
Hmm,,hidup memang tak bisa terlepas dari ketergantungan makhluk lain.
Dasar zoon politicon!
Yaa,,,harap,,harap,,,saja padaNya
Semoga suaraku tak terlalu indah hingga IA terlalu senang mendengarnya dan tak mau mengabulkan doaku,,
Halaaahh apalagi siii,,,

Catatan harian mahasiswi aneh

08 January, 2010

Hidup = trotoar

Pernah jalan di atas trotoar pembatas jalan??

Itu loh, yang ada di tengah jalan, misahin arus pergi dan arus pulang. Jalan setapak yang terdiri atas dua buah batako berwarna hitam dan putih. Yuupp ,,itu dia.

Aku sering. Kalau lagi nggak capek, bawa bawaan berat atau pulang larut malam aku jalan dari kolong jembatan tempat turun angkot sampai rumah. Bukannya irit, melainkan lebih banyak hal-hal bermakna yang bisa ‘kubaca’ jika jalan kaki. Melewati stasiun tanah abang, pasar tanah abang, dan kali banjir kanal barat. Mengingatkan diri untuk terus bersyukur dan memacu semangat untuk lebih baik setiap harinya.

Balik ke topic trotoar pembatas jalan. Tau nggak, aku berpikir sesuatu loh! Kalau boleh disebut, ini teori terbaru meta (again!!). Aku rasa yaa,,Hidup itu hampir mirip kaya trotoar pembatas jalan itu. Kita menitinya tiap hari, tanpa tahu kapan ujungnya. Dan dalam titian langkah kita itu,harus hati-hati biar ga jatuh,malah terkadang kita harus ‘berkorban’ untuk turun sejenak atau berpindah posisi bila terhalangi orang lain agar nggak tabrakan. Sama aja kaya hidup yang kita jalani. Kita nggak pernah tahu kapan hidup kita ini berujung, kapan kita wafat. Dan dalam meniti jalan kehidupan ini, kita harus hati-hati agar jangan sampai terjerembab jatuh. Jaga selalu kehormatan diri kita. Bila suatu saat ada suatu penghalang, atau buah pikiran kita tidak sesuai dengan kepentingan orang banyak, belajarlah untuk berkorban. Contohnya kita bermimpi menjadi penulis komik, namun orangtua berselisih keinginan, memaksa kita untuk menjadi guru. Cobalah kita sedikit mengalah (berkurban perasaan) dengan mempertimbangkan baik buruknya sembari mencari solusinya, sehingga tidak ‘bertabrakan’.

Selain itu, setiap kita melangkah di trotoar, selalu ada pilihan, mau menginjak yang berwarna putih atau hitam. Begitu pula hidup, bukan? Dalam tiap titian langkah kita, selalu ditawarkan pilihan mau baik atau buruk, kufur atau syukur. Satu lagi, yang sering saya rasakan ketika sedang memfokuskan diri meniti langkah di trotoar, seringkali tukang ojek atau supir mikrolet menawarkan pilihan instan, agar cepat tiba di rumah. Hidup pun begitu kawan. Seringkali kita ditawarkan sebuah solusi instan yang begitu menggoda(kaya iklan AXE), namun berhati-hatilah, karena tidak segalanya yang cepat itu baik. Contohnya, kalau saya terima tawaran supir tadi, mungkin lama-lama saya akan terkena ‘penyakit malas jalan kaki’. Padahal kan jalan kaki seribu langkah itu dianjurkan sama ANLENE (loh!). haha,, yaa maksud saya, di kehidupan anda, ada banyak cara instan menggapai impian, misalnya, mau kaya, ya korupsi. Mau kerja bergengsi, ya sogok perusahaannya, mau nilai bagus tanpa belajar, ya nyontek. Begituu kawan. Tapi semua yang instan seperti itu ga enak, Cuma bawa penyakit!! Enakan yang alami, nikmati proses berlelah-lelahnya. Karena Imam Syafi’I pernah bilang

“ Berlelah-lelahlah kamu, manisnya hidup baru terasa setelah lelah berjuang.”

Dan untuk mengantisipasi hal itu, kita harus membentengi diri dengan keteguhan hati. Kalo lagi jalan tu ibaratnya yaa,,,,FOKUS.

Nahh,, ituu menurut meta,,hehehehheh. What about you?? (dengan nada agnes monica di iklan Vario)

Bidadari pun cemburu padamu

Tanpa kata,kau usap lembut keningku
Tanpa kata, kau rasa apa yang kurasa
Tanpa kata, kau angkat rasa sakit itu dari tubuhku
Aku yang sakit, kau yang merasa
Aku yang memendam, kau yang sesak
Sungguh ikatan batin itu sangat kuat
Tak perlu kata, cinta itu telah mengejawantah SEMPURNA
Inilah aku, yang pernah mendiami rahimmu
Sakitku sakitmu
Resahku resahmu
Bahagiaku melipatgandakan kebahagiaanmu
Tapi tak jua ku dapat membalas segala kebaikanmu
Pantas saja bidadari cemburu padamu, wahai IBU

Air mata cinta pembersih dosa

diri ini berlaku semampunya
mungkin tak ada yang hirau
tapi, sebuah cita-cita murni bolehlah diulang-ulang
ditularkan sedapat mungkin
dan ingin berbagi kisah
sekedar ..

di antara mereka ada yang menyembunyikan rasa cinta
ia menjaga keluhan lisan dan memutusnya
di antara mereka ada yang berterus terang
bila dicela, "Tak usahlah mencela" ia bilang
Bukankah hatiku memang tempat ujian-Nya??
bagaimanatah mungkin ia tersembunyi padahal telah nyata?
dimanakah para pecinta dan yang mencintai mereka?
dimanakah yang mencerai dan menyatukan tangisan menghiasi mata mereka?
Sungguh indah mata cinta saat mentikkan air mata
Mereka selalu terjaga, dan itulah keinginan hamba
kala yang lain tertidur lelap dan menutup mata
Di pintu itu mereka tumpahkan ratapan
Sebuah tangisan yang berguna jika tanpa kemunafikan
Air mata itu melindungi mereka
'Tuk memberi syafa'at, air mata "penghamba" tentu bisa

02 January, 2010

belajar mendeskripsikan

10.57 pm
01012010

Tanganku gatal, ingin menumpahkan sebuah cerita. Kisah seorang tokoh, nyata, bernama AKU.

Masa Kecil


Kisahku mungkin tak menarik, tapi aku ingin bercerita. Sekedar recalling saja, mengingat masa-masa yang telah kulewati di moment yang kata orang sih - Tahun Baru- kerennya bikin resolusi. Yeah, aku anak bungsu yang terpaut usia cukup jauh dari kakak-kakakku. Bisa dibilang aku adalah anak yang tak diharapkan oleh orangtuaku –bukan dalam arti akibat suatu hubungan yang nggak-nggak loh!-. Mengapa tak diharapkan? Ya karena, saat ibuku mengandungku, usia beliau sudah terbilang cukup tua untuk melahirkan, 35 tahun. Dokter memprediksi akan ada banyak kesulitan dalam melahirkan sang bayi, dan memang benar, karena aku terlahir vakum dan tervonis akan ‘SANGAT JENIUS’ ataukah sebaliknya ‘SANGAT IDIOT’ tergantung dari kadar protein tinggi yang diasup tubuhku nantinya. Di samping itu, bapakku juga sudah sangat berusia lanjut. Usia beliau hampir dua kali lipat usia ibuku. Tepatnya tak jelas, karena saat ku dewasa dan mencari tahu berapa tepatnya usia ayahku, dokumen yang memuat keterangan tanggal lahirnya selalu berubah-ubah. Ada yang bulan desember tahun sekian, bulan November tahun sekian, dan lainnya lah,,yaahh namanya juga orang dulu. Yang jelas aku menemukan fakta bahwa bapakku adalah teman bincang-bincang kakekku, terbukti dari selembar foto lusuh yang agak menguning yang kutemukan di album foto bapak dan teman-temannya.

Terlepas dari title ‘anak yang tak diharapkan’, tetap saja pada akhirnya orangtuaku justru sangat mengharapkan kelahiranku. Ditelusuri dari arti namaku, yang berisi doa tulus dari bapakku agar aku menjadi anak yang berhasil di masa depan, sampai-sampai perlakuan istimewa yang diberikan orangtuaku terhadap makananku. Terutama ibuku, beliau sangat memanjakanku dengan makanan-makanan bergizi tinggi demi menjaga agar aku tidak menjadi ‘SANGAT IDIOT’ seperti yang dikatakan dokter waktu lalu. Aku tahu itu, dari cerita kakak sulungku, yang mengungkapkan betapa irinya ia padaku. Pengakuannya itu cukup mengejutkanku, karena sudah sejak lama aku sering iri padanya, mulai dari rambutnya yang tebal dan hitam , uang jajannya, dan segala tetek bengek lainnya.
Masa kecilku sangat Amazing menurutku. Setiap harinya aku selalu berdebar menantikan apa yang akan kukerjakan dan apa yang akan terjadi hari ini. Kejutan-kejutan kehidupan yang sangat kunantikan. Mulai dari kegiatan jalan-jalan berdua sama bapak dengan baju kebanggaaanku yang berwarna putih dan rok hijau lumut. Tak ketinggalan topi bunga lebar seperti noni-noni belanda untuk menutupi kepalaku yang berambut jarang. Sore hari yang sering kami lewatkan dengan duduk-duduk ngeteh poci dan makan kue moci di tanah abang (sekarang warungnya udah nggak ada,kena gusur). Sampai foto-foto beraneka macam gaya bak selebriti anak di museum tekstil yang berjarak tak jauh dari rumahku. Banyak sekali foto-fotoku yang dicetak bapak, mulai dari bangun tidur sampai aku terlelap tidur dalam pose memeluk boneka barbieku sembari membentuk sebuah ‘pulau’. Sayang foto-foto itu hanyut terbawa banjir yang menyambangi rumah kami di tahun 2002.

Dalam memoriku, masa kecilku tak bernoda sedikitpun. Segalanya indah pada waktu itu. Hari esok selalu memberikan sebuah harapan dan mimpi baru. Sayang hal itu terhenti sampai aku kelas 6 SD saja..

Hari sabtu, tanggal 17 februari 2001, di subuh yang dingin tiba-tiba ibuku berteriak-teriak seperti ada maling. Membangunkan aku dan kakakku yang terlelap di kamar. Aku dan kakak sontak bergegas turun (kamar kami di lantai 2) ke ruang tamu, menemui ibu untuk tahu ada kejadian apa. Di ruang tamu, kulihat ibuku menangis keras dan menguncang-guncang tubuh bapakku yang terbaring di kursi panjang ruang tamu,-Sudah beberapa hari memang, bapakku sakit, dan beliau tiduran di kursi ruang tamu, tidak mau di tempat tidur-. Beliau berucap di sela tangisnya “Bapak kalian,,bapak kalian,,,”. Kakakku yang melihat hal itu, langsung menangis dan memeluk tubuh bapakku. Aku tak mengerti. Mengapa semuanya menangis? Kusentuh tubuh bapak,,,dingin,,sedingin air es yang biasa kuminum dari kulkas. Tidak berapa lama, ibu dan kakakku bergegas menelpon orang-orang dan membangunkan tetangga sekitar. Aku tetap tak mengerti, apa yang sedang terjadi. Aku diam saja menatap ayahku yang terbaring diam, tak bangun-bangun.

Hari sudah semakin siang, jam menunjukkan setengah tujuh pagi. Rumahku semakin ramai, didatangi tetangga-tetangga yang sibuk entah mau apa, ada yang bawa kertas kuning dan bambu, beras di baskom,,terserahlah, aku tak perduli, tak mengerti. Aku teringat ada ulangan Bahasa Indonesia , jadi aku bergegas mandi agar tak terlambat. Lima belas menit kemudan aku sudah siap mau berangkat sekolah, namun ibu dan kakak yang melihatku akan berangkat malah melarangku sekolah. Aku tak mau. Aku bilang ada ulangan, tapi mereka tetap melarangku sekolah, malah kakak memarahiku sembari menangis dan berkata,” bapak kamu meninggal, jangan sekolah dulu. Nanti ibu gurunya dikasih tahu. Kamu nggak akan kena hukuman.” Aku pun menurut, tapi tetap tidak mengerti.

Hari semakin siang, rumahku semakin ramai. Perutku keroncongan. Ibuku tak memasak. Beliau hanya sibuk menangis di ruang depan dimana bapakku dibaringkan dan wajahnya ditutupi kain putih. Kakakku juga, sedari pagi ia hanya menangis dan pingsan. Aku tak mengerti dengan semua itu. Untung ada tetanggaku yang baik, memberiku makan. Selepas dzuhur, aku dipanggil ke ruang depan. Aku disuruh mencium tubuh bapakku untuk terakhir kalinya. Diiringi tatapan semua orang yang ada di rumahku, sku mencium pipi bapakku. Tubuhnya wangi sekali, dan dingiin. Aku heran, mengapa tubuh bapak masih tetap dingin, padahal kain putih yang dililitkan ke tubuhnya cukup tebal. Dan lebih heran lagi, mengapa setelah mencium pipi bapak, air mataku menetes tiada henti. Hatiku terasa sakit sekali, seperti ada yang hilang. Melihatku menangis, ibu memelukku sambil berbisik lirih,”Bapak sudah meninggal nak, dia sudah nggak ada.” Aku menangis. Hatiku sakit, nafasku sesak.

Aku baru sadar, ternyata bapakku meninggal. Dia benar-benar meninggalkan aku untuk selamanya. Tak akan ada lagi bapak yang menemaniku ngeteh poci, atau bapak yang memotretku dengan berjuta gaya di museum tekstil. Tak ada lagi momen belajar mengerjakan PR bersama bapakku yang jenius. Semua tak akan pernah ada. Dan aku hanya bisa diam, merutuki diri, mengapa pemahamanku akan arti ‘meninggal’ begitu lama. Baru kusadar dunia tak selamanya menyenangkan, dan esok menjadi kelabu. Tak pernah ada lagi hari esok yang kunantikan. Karena esok telah hilang bersama kepergian bapakku.


12.02 am

27 December, 2009

cerpen keduaku (^o^)

Oleh : Iska Meta Furi

TERIMA KASIH AISYAH,

“drrttt,,,drrrtt,,,drrttt” alarm handphoneku berbunyi.
Open
Ulang tahun ibu ke 60.
Kubanting setir ke kanan, menuju Beautiful Florits. Sebentar saja, karena aku ingin cepat tiba di kantor.

***

Di Beautiful Florits,
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” sapa pelayan toko.
“Saya mau kirim bunga untuk ibu saya. Kira-kira bunga apa yang cocok mbak?”
“Untuk ibu ya,,mawar hibiscus mungkin. Karena mawar hibiscus melambangkan kecantikan dan kelembutan. Bukankah setiap ibu selalu cantik dan lembut pada anak-anaknya?” saran pelayan toko sembari tersenyum.
“baiklah, kalau begitu saya pesan satu buket. Bisa dikirim hari ini juga kan?”
“Kalau masih di daerah Jakarta, insya allah bisa mas.”
“Oke kalau begitu. Masih daerah Jakarta kok. Alamatnya Jln. Menteng 2 no.22 Jakarta Pusat.”
“loh, itu kan ga terlalu jauh mas, kenapa tidak diantar sendiri oleh masnya?”
“saya sibuk banget mbak, tidak sempat mengunjungi ibu saya.”
“baik mas, ini total harganya. Silakan dibayar di kasir.”
Setelah melihat deretan angka yang harus kubayar, aku langsung menuju kasir untuk membayarnya.

***

Di luar toko,
“huhuhuhu,,hiks,,hiks,,”
Seorang anak kecil perempuan yang memakai baju lusuh sedang menangis. Aku tergerak untuk mendekatinya, ingin tahu apa yang membuatnya menangis.
“kamu kenapa menangis dik?”
“hiks,,saya,,hiks,,ingin beli bunga untuk ibu saya karena hari ini ia ulang tahun. Hiks,,tapi uang saya nggak cukup kak,,hiks” jawabnya sembari menunjukkan uang ribuan lusuh yang ada di genggamannya. Iba aku melihat keadaannya.
“hmm,,sudah jangan menangis lagi. Sekarang ayo kita masuk ke dalam toko. Kita belikan bunga kesukaan ibumu. Nanti kakak yang bayar.”
“benarkah kak?” tanyanya sembari terkejut
“iya benar,, ayo.” Jawabku sambil tersenyum.

***

“wah, terima kasih banget ya ka. Ibuku pasti senang sekali. Oh iya, namaku Aisyah ka. Kalo kakak siapa namanya?”
“nama kakak Fahri Tamam. Panggil aja ka fahri.”
“baik ka fahri. Hmm,,,kak, maukah kakak menemaniku memberikan bunga ini ke ibu? Sebentar saja, biar ibuku tahu kalau bunga ini dari kak fahri yang baik.”
“wah, kakak harus ke kantor syah. Banyak pekerjaan menunggu kakak disana”
Aisyah menunduk seperti ingin menangis, dengan lirih ia berkata “apa tidak bisa walau hanya sebentar saja kak? Ibuku berada tidak jauh kok dari sini.”
Aku yang tak tega melihat wajah sedihnya akhirnya menyanggupi permintaan Aisyah. Kemudian kami berjalan menuju sebuah gang kecil. Sampai di ujung dang kecil tersebut, ternyata ada sebuah pemakaman umum. Ke sanalah Aisyah mengajakku. Lalu ia berhenti di depan sebuah makam bernisan biru tua. Kemudian Aisyah berkata,
“Assalammualaikum ibu, apa kabar? Lihat deh, aisyah bawa apa. Ini bunga lili putih bu, kado untuk ulang tahun ibu. Kata kakak di toko bunga, lili putih itu menggambarkan cinta aisyah yang murni untuk ibu. Oh iya bu, aisyah juga punya teman baru, namanya kak fahri. Dia yang membelikan bunga ini karena uang aisyah nggak cukup bu. Ka fahri, sini. Kenalan sama ibu aisyah.”
Aku terhenyak melihat betapa aisyah sangat menyayangi ibunya yang sudah tiada. Tanpa terasa air mataku mengalir. Aku teringat ibuku di rumah. Sudah dua tahun aku tak pernah menengok beliau. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Sering bila dia menelponku, aku mereject panggilannya, karena kurasa pertanyaannya tentang keadaan diriku sangat mengganggu konsentrasiku. Aku terlena dengan kejayaanku, padahal rumahku tak jauh dengan rumahnya dan masih di kota yang sama. Paling membutuhkan waktu satu jam untuk menempuhnya. Tetapi walaupun ada waktu luang, aku lebih memilih untuk hang out dengan rekan kerjaku. Astagfirullah,,aku sungguh anak yang tak tahu terima kasih. Aku ingin bertemu dengan ibuku.

***

Jalan menteng, pkl 11.00
“tok,,tok,,permisi”
Pintu terbuka, seorang wanita paruh baya keluar dari rumah mungil bercat putih tersebut.
“ Ya, ada apa mas?”
“Permisi ibu, saya ingin menyampaikan sebuah buket bunga untuk ibu Sri. Ibu sri nya ada?”
“oh,,itu saya sendiri mas.”
“oh begitu, ini bu tolong ditandatangani tanda penerimaannya. Yaa,,dan ini bunganya. Terima kasih ibu. Permisi.”
Kurir itu pergi, dan tinggallah sendiri ibu sri di rumahnya. Suaminya telah meninggal lima tahun lalu, dan anak lelaki satu-satunya telah bekerja dan punya rumah sendiri, meninggalkan ia sendiri di rumah itu. Ia melihat nama pengirim bunga kemudian tersenyum.
Dari fahri, ternyata ia masih ingat hari ulang tahunku. Pasti dia sangat sibuk sampai dia tak sempat mengantarkan bunga ini sendiri padaku. Terima kasih nak, doa ibu selalu menyertaimu.

***

Pkl 17.30
“tok,,tok,,assalammualaikum”
“waalaikumsalam, tunggu sebentar.” Jawab wanita paruh baya dari dalam rumah.
Pintu terbuka, aku langsung bersimpuh di hadapan ibu dan kucium tangannya seraya berkata
“Ibuu,,,maafin fahri buu. Fahri sudah jahat sama ibu, jarang menengok ibu. Fahri anak durhaka buu,,,huhuhu”
“masya allah nak,, akhirnya kamu datang juga. Ibu sudah sangat rindu sama kamu nak. Ibu igin sekali menengokmu, tapi ibu sudah tidak kuat jalan kemana-mana nak. Maafin ibu ya. Ayo bangun nak, jangan begini. Ayo kita masuk ke dalam. Kamu pasti lapar.”
“ibu nggak salah, fahri yang salah bu. Fahri nggak pernah nengokin ibu, terlalu asik sama pekerjaan. Ampuni fahri buu,,”
“iya nak,, ibu nggak pernah marah kok sama kamu. Sudah jangan menangis, sekarang masuk ke dalam yuk, kita bersiap shalat maghrib jamaah. Sudah lama ibu shalat enggak ada yang mengimami.”
Aku pun menuruti perkataan ibu. Ah,, ibuku kau sungguh mulia. Tak pernah marah walau mungkin hatimu sering tersakiti oleh perkataan dan perbuatanku. Ya Allah, sayangilah selalu ibuku sebagaimana ia menyayangiku. Terima kasih hari ini kau telah menyadarkanku melalui seorang aisyah. TERIMA KASIH AISYAH.

25 December, 2009

cerpen islami pertamaku

PUTIH
Oleh : Iska Meta Furi


HERAN!
Kenapa si masyarakat negeri ini begitu mengistimewakan mereka yang berkulit putih. Padahal sudah susah-susah Nelson Mandela menghapuskan politik apartheid di Afrika Selatan sana. Katanya menghormati segala jenis warna kulit, tapi apa? Tetap aja mereka yang berkulit putih lebih diistimewakan. Semenjak diiklankannya sabun mandi yang mengatakan ‘putih itu cantik’, semakin banyak saja orang-orang yang menginginkan wajah putih. Darimana sih datangnya stereotype itu? Huh! Menyebalkan.
Aku berpikir demikian bukan karena semata-mata keprihatinan saja, tetapi karena aku juga merasakan hal tersebut.

Contohnya kejadian tadi siang. Ada seorang mahasiswa baru yang menanyakan keberadaan diriku karena ia ingin mengembalikan formulir pendaftaran organisasi.

Lalu ia bertanya pada temanku Esa yang sedang duduk di depan secretariat
“permisi ka, ka tasya ada ga?”
“tasya yang mana ni? Tasya yang putih cantik atau tasya yang item??” Tanya Esa.
“ngg,,itu ka, yang nama lengkapnya Tasyakuran jamilah.”
“oh, tasya item. Tuh ada di dalem, masuk aja!”Kata Esa.

Aarrrgghh!! Esa menyebalkan. Emang kenapa kalo aku hitam. Bukan mauku kan kalo warna kulitku hitam. Baiklah, aku sudah bosan dibilang hitam. Pulang kuliah nanti aku akan beli obat pemutih wajah yang bagus biar mukaku jadi putih.

***
Ketika aku sedang menunggu bus menuju rumah, tiba-tiba ada yang memanggilku.

“Tass,,Tasya!”
“Heei,, ika. Apa kabar?” sapaku.

Ternyata yang memanggilku adalah Ika, sahabatku sewaktu SMA. Sudah dua tahun kami tidak bertemu, karena dia meneruskan kuliah ke perguruan tinggi ternama di Bandung. Sedangkan aku tetap di Jakarta.

“Baik banget. Kamu sendiri apa kabar tas? Kangen banget deh ma kamu.” Jawab ika sambil merangkulku.
“aku juga baik kok ka. Waah kamu tambah cakepan ka. Di bandung seneng ya? Tambah geulis pisan euy.”
“haha,,bisa aja kamu tas. Kamu beda banget ya sekarang tas. Udah pake jilbab euy, dari kapan tas?” Tanya Ika.
“semenjak kuliah ka. Kamu putihan sekarang ka, sepertinya udara Bandung cocok ya buatmu.” Candaku.
“iya tas, di Bandung teh enak pisan. Aku betah deh di sana, hehe. Kalo soal putihan mah, aku pake obat tas. Dikasi tahu sama temanku, ternyata obatnya cocok. Jadi mukaku putih deh sekarang, enggak kaya SMA dulu lagi.”
“waah nama obatnya apa ka? “ tanyaku
“namanya ‘HOPE WHITE’. Dicoba deh tas, biar muka kamu lebih putihan dan cantik. Enggak terlalu mahal kok harganya. Cuma lima puluh ribu sebotol”
“hmm,,,boleh juga tuh. Nanti kalo punya uang aku mau beli ah.”
“eh tas, aku duluan ya. Udah mau balik ke Bandung lagi ne. tadi Cuma nganterin sepupuku daftar sekolah di dekat sini. Sampai ketemu ya. dadaah”
“oh iya, hati-hati tas. Daahh”

***
Di minimarket,
“permisi mbak, obat pemutih ‘HOPE WHITE’ ada di sebelah mana ya?” tanyaku
“oh, langsung beli dan bayar disini mbak. Mau beli berapa botol mbak?” jawab pramuniaga
“satu botol aja mbak” jawabku sembari menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.

Pramuniaga pun menerima uangku dan dalam sekejap obat pemutih tersebut sudah berada di genggaman tanganku.
Haha,,lihat saja kalian yang memanggilku tasya item. Aku akan berubah menjadi cantik dan lebih putih dengan obat ini.

***
Hari ini aku ada jadwal mentoring dengan kaka kelasku, ka meta namanya. Kebetulan tema yang dibahasnya adalah tentang Wanita.

“sebagai ciptaan Allah SWT, wanita merupakan makhluk yang paling indah. Wanita terindah di mata Allah diukur bukanlah dari fisiknya yang rupawan nan menawan. Melainkan dari amalan-amalannya yang ikhlas karena Allah. Wajahnya cantik karena selalu terbasuh air wudhu. Bibirnya basah karena tak henti berlafadzkan dzikir dan tadarus. Semua itu adalah pesona kecantikan alamiah seorang wanita. Bukan karena obat pemutih, ataupun make up yang menipu. Untuk itu, kita harus senaniasa menjaga hati kita. Menjaga niat amalan-amalan kita. Untuk apa kita berwajah cantik apabila hati kita busuk. Perilaku kita selalu menyakiti orang lain. Inner beauty akan tampak dengan sendirinya apabila kita menjaga hati kita untuk selalu berprasangka dan berbuat baik karena Allah ta’ala.” Papar ka meta.

Astagfirullah..
Aku tersentak dan tersadar mendengar perkataan ka meta. Aku merasa malu pada Allah. Sudah sedemikian indahnya DIA menciptakan diriku. Namun aku malah berusaha merubahnya dan tidak bersyukur. Bukannya giat beribadah namun aku lebih menyibukkan diri untuk memutihkan wajah.

Ampuni aku ya Allah, bantulah aku untuk menjaga hatiku ini agar tetap terjaga padaMu. Aku berlindung dan kutitipkan hatiku padaMu ya Allah. Pulang kuliah nanti, aku akan membuang obat pemutih itu. Aku janji.
***

14 December, 2009

Krisis

Lagi ,,untuk kedua kalinya,,
Perasaan itu hinggap. Terkhianati, terbohongi, oleh orang yang sekiranya dapat dipercaya. Dan imbasnya,,merayap kemudian menjalar dengan cepat terhadap yang lainnya.

Tak disangka, tak dinyana..
Apa yang disabdakan olehnya terasa olehku saat ini,,

“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila ia jelek maka jeleklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah HATI”.(HR. Riwayat Al Bukhari dan Muslim).

Yaa,,HATI,, tanpa terasa, memang dari sinilah segalanya bermuara.
Dikarenakan kecewa teramat sangadh, Hatiku Sakit.
Yang kemudian menjalar ke seluruh tubuhku, otakku merasa lelah dan tersia.
Syaraf tak sadarku bekerja, afirmatif pun hilang.
Semua menjadi negative dan menghitam.
Tubuh pun terasa tak tertopang,
Aku luruh, menyerah, tak berdaya..
Itu tak seberapa, dibandingkan kehilangan yang kurasa.

Perlahan kurasakan, krisis itu melanda diri ini
Krisis KEPERCAYAAN pada segala mereka yang kuanggap TEMAN.
Mungkin hanya butuh waktu, untuk berdialog dengan diri ini.
Berbaikan dan kembali seperti sediakala
Ya,,lebih baik ku menghilang saja untuk beberapa saat…

Text Widget