Pages

11 August, 2018

[Mentoring] Keimanan

KEIMANAN

Iman adalah diakui dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dibuktikan dengan amal perbuatan.

Iman tak dapat dibeli atau diwarisi. Hidup manusia ditentukan pada imannya di saat terakhir.

Seperti kisah Abu Thalib, paman tercinta Rasulullah, yang juga amat cinta pada Rasul. Beliau yang menjaga, mendidik, dan melindungi Rasul hingga akhir hayatnya. Sayang, hingga nafas terakhir ia embuskan, Abu Thalib tidak juga beriman. Ia memilih agama nenek moyangnya. Betapa sedih hati Rasul yang amat menginginkan surga bagi paman tercintanya itu.

"Al imanu yazidu wa yanqusu."
Iman itu bertambah dan berkurang. (H.R. Ibnu Majah, Baihaqi, dan Ibnu Hibban)

Iman kadang naik, kadang turun (fluktuatif). Terutama pada wanita. Ada keadaan khusus yang kadang bukan kemauan kita (haid, melahirkan, dll). Titik kritis, biasanya di waktu itu iman kita turun, sebab tidak bisa beribadah seperti biasanya.

"Dunia tempat menanam, akhirat tempat menuai/memanen." (Ibnu qayyim al jauzilah)

Seringlah menghisab dan menimbang perbandingan amal shalih dan kemaksiatan kita. Apakah kita termasuk yang rugi atau menang?

Maka pandailah memanage aktivitas. Mana yang harus didawamkan (prioritas), mana yang harus dihindarkan.

Dampak positif memiliki kekuatan iman:
1. Saat diuji, kita tetap semangat dan ceria. Sebab kita yakin dan optimis bahwa Allah akan menolong kita.

"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Q. S. Muhammad [47] :7)

2. Senantiasa memiliki ketenangan dan ketentraman jiwa. Tidak ada kekhawatiran.

3. Memiliki kemampuan memikul beban.
Seperti Fatimah az zahra, ditempa dengan kondisi sulit meski anak Presiden (Rasul sebagai pemimpin tertinggi) sedari kecil, juga saat menikah dengan Ali yang bahkan maharnya saja diberi Rasul, sampai ketika mengadu pada ayahnya (Rasul) meminta khadimat, malah disuruh bertasbih, tahmid, dll. Imanlah yang membuatnya kuat.
Pun keluarga Nabi Ibrahim a.s. yang sarat ujian.

Tanda orang beriman:
1. Adanya amal shalih sebagai pakaian  dakwah
Jika lelaki, ia akan suka shalat berjamaah di masjid. Jika wanita, bisa dilihat panjang pendek kerudung dan pakaian syar'inya. Wallahu'alam dengan hati (menyikapi tren muslimah syar'i sampai cadar), tapi insya Allah mencerminkan keimanan/ketakwaan.

2. Tidak pernah ragu pada apa yang diyakini.

Upaya agar meningkatkan keimanan:
1. Berusaha shalat tepat waktu dan khusyu'
2. Memperbanyak shalat sunnah
3. Shaum sunnah
4. Tilawah quran
5. Zikr dan tafakur
6. Zikrul maut (mengingat mati)

#catatansepemahamanpenulis

Meta morfillah

[Review buku] Secangkir kopi dan pencakar langit

Judul: Secangkir kopi dan pencakar langit
Penulis: Aqessa Aninda
Penerbit: Elex Media Komputindo
Dimensi: 345 hlm, cetakan ketiga Maret 2017
ISBN: 9786020287591

Bagi Satrya, inner beauty is bullshit. Ia selalu menilai bahwa penampilan wanita dan kecerdasannya yang penting. Kepribadian, nomor akhir. Sampai ia bertemu Athaya di kantor barunya. Wanita dengan wajah sederhana, tapi memiliki kepribadian baik. Inner beauty is the true beauty, he thought.

Athaya memendam rasa pada Ghilman sejak kali pertama ia melihatnya di kantor. Sosok lelaki biasa, namun memiliki kepribadian santun. Sayang, ia sudah punya pacar.

Ghilman suka dengan profesionalisme kerja Athaya. Kalau disuruh pilih orang untuk jadi timnya, ia pasti memilih Thaya. Bersama Thaya, ia merasa nyaman dan lebih terbuka dibanding dengan Vanda, pacarnya. Ia hanya menganggap itu rasa suka biasa. Toh, Athaya sedang diincar oleh Satrya, anak baru yang ganteng dan jadi idola kantor.

Cinta segitiga antara Satrya-Athaya-Ghilman perlahan bergulir. Masing-masing memiliki perasaan dan luka yang berbeda. Namun penentunya adalah Athaya. Siapakah yang akan ia pilih? Satrya yang menarik dan fun atau Ghilman yang baik hati dan selalu bikin ia deg-degan? Benarkah dicintai rasanya lebih menyenangkan daripada mencintai?

Sejujurnya, ada beberapa karakter yang kurasa agak aneh, karena awalnya imperfect, tapi lama-lama kok buat kagum ya? Kayak gak sesuai deskripsi awal. Alur ceritanya pun ketebak banget. Tapi, gaya menulisnya itu kok asyik ya diikuti? Bikin aku gak mau berhenti. Ditambah jokes antara Radhi dan Ganesha (Oh, I love these characters. Both of you!).

Belum lagi penggambaran suasana kantor dan hubungan yang terjadi, bikin aku kangen dan teringat kawan-kawan kantor dulu. Terua quotable banget. Banyak kalimat yang "ngena" dan bikin baper haha. Of course, I love the ending too!

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Sastra itu buat gue seperti membuka mata dan pikiran, sisi kehidupan lain yang mungkin nggak akan pernah kita jamah. Pemikiran orang yang kita nggak tahu. Bikin kita lebih empati, lebih buka mata bahwa dunia kadang nggak selalu hitam dan putih. Kalau dulu gue nggak baca buku, mungkin gue nggak se-tough ini. Nggak ngejalanin hidup sesantai ini. Nggak ngerti cara bersyukur yang benar, nggak paham tentang mimpi dan cita-cita." (H.73)

"Membuat perempuan jatuh cinta itu cukup membuatnya tertawa saja." (H.177)

"Walau kerjaannya susah dan capek banget, senang punya teman-teman satu tim yang gila. Mereka tuh hiburan banget. Di balik kesulitan, selalu ada hal yang bisa ditertawakan. Kerja tuh udah berat, capek, susah. Jangan ditambah-tambah lagi drama yang aneh-aneh. Ibarat ya lo butuh gue, gue butuh lo, udah dibawa asyik aja." (H.179)

"Kalau boleh memilih, lebih enak dicintailah daripada mencintai. Because it's easier to fall in love when someone loves you. Tapi, kadang kamu kan tidak bisa memilih siapa yang akan kamu cintai dan siapa yang mencintai kamu." (H.187)

"Apakah dicintai duluan lebih baik daripada mencintai tetapi menunggu?" (H.212)

"Pernikahan itu bukan akhir dari hubungan. When bad times comes, aku ingin suamiku menatap aku seperti ibuku  menatap ayah, seperti ayahku yang tidak mau jauh dari ibuku." (H.274)

"Aku ingin tahu siapa pun lelaki yang menjadi suaminya kelak mengerti akan doa yang aku sematkan di namanya. Menganggapnya seperti hadiah terindah dan mencintainya dengan tulus." (H.314)

"Mengetahui fakta bahwa kita dicintai seseorang itu semenyenangkan ini ya rasanya?" (H.317)

Meta morfillah

09 August, 2018

FIQH DAKWAH - KAIDAH 5: DAI WAJIB MENGOPTIMALKAN UPAYA MANUSIAWI SAMBIL MEMOHON BANTUAN RABBANI

KAIDAH 5: DAI WAJIB MENGOPTIMALKAN UPAYA MANUSIAWI SAMBIL MEMOHON BANTUAN RABBANI

Seorang dai harus berupaya maksimal mengeluarkan kemampuannya (ikhtiar manusiawi) sambil memohon bantuan  Allah. Contoh saat perang uhud, Nabi berbeda pendapat dengan sahabat terkait taktis dan strategi, tapi Nabi menerima dan memakai pendapat sahabat. Sebab itu adalah upaya manusiawi, tidak memaksakan pendapatnya, meskipun wahyu turun melalui beliau.

Dalil Q.S. Al Baqarah: 286, "laa yukallifullahu nafsan illa wus aha...(Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya)"

Pemahaman keliru tentang ayat tersebut, bahwa kemampuan yamg dimaksud adalah batasan minimal yang bisa berubah tergantung motivasi.

Padahal para sahabat pun komitmen dengan  kapasitas kemampuannya. Buktinya, kebanyakan mereka wafat di luar negeri demi dakwah.

Abu Ayub Al-Anshari wafat di benteng konstantinopel, Ummu Haram binti Milhan berakhir hidupnya di pulau Qobros (Yunani), Uqbah bin Amir meninggal di Mesir, Bilal dimakamkan di Syria. Demikianlah mereka mengembara ke pelosok negeri untuk meninggikan panji Islam, dan mengerahkan sesuatu yang mahal dan berharga di jalan dakwahnya.

Jadi, apa batasan kemampuan sebenarnya?

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. At-Taubah : 41)

Maksud dari firman Allah : انفروا خفافاً وثقالاً,  sama saja apakah kalian dalam keadaaan ringan untuk pergi berjihad atau dalam keadaan berat. Keadaan ini mengandung beberapa pengertian.

Pertama: ringan, karena bersemangat untuk keluar berjihad, berat, karena merasa sulit untuk berangkat.
Kedua: ringan, karena sedikit keluarga yang ditinggalkan, berat, karena banyaknya keluarga yang ditinggalkan.
Ketiga: ringan, persenjataan yang dibawa, sebaliknya berat, karena beratnya persenjataan yang dibawa.
Keempat: ringan, karena berkendaraan. Berat, karena berjalan kaki.
Kelima: ringan, karena masih muda. Berat, karena telah uzur usia.
Keenam: ringan, karena bobot badan yang kurus. Berat, karena kelebihan bobot berat badan.
Ketujuh: ringan, karena sehat dan fit. Berat, karena sakit atau kurang enak badan.  

Adapun dakwah di jalan Allah, tidak hanya berperang, tetapi lebih luas dan umum dari itu. Dakwah dengan segala bentuknya adalah bentuk manuver di jalan Allah. Oleh karena itu dalam surat At-taubah disebutkan :

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah : 122)

Imam Ar-Razy berkata : Kewajiban berdakwah bagi para sahabat terbagi menjadi dua golongan, satu golongan keluar untuk berperang, golongan lainnya tetap tinggal bersama Rasulullah SAW. Golongan yang berperang mewakili golongan yang tidak ikut serta. Yang tidak ikut serta mewakili yang berperang dalam hal mendalami ilmu pengetahuan (tafaqquh). Dengan cara inilah urusan agama dapat terselesaikan secara sempurna.

Bila seorang memahami dengan baik hal tersebut di atas, pasti dirinya akan merasa takut jika belum mengerahkan kemampuan sesuai yang dituntut kepadanya dan semakin berhati-hati dalam melaksanakannya. Seorang Mu’min yang paham akan hal ini selalu tidak puas dan rido dengan amalnya, juga dengan kesungguhan yang telah dikerahkannya, khawatir telah mengabaikan tuntutan yang diminta dari seorang Mu'min. Maka berdakwahlah dengan segala upaya yang kalian bisa.

#tausiyahsepemahamansaya

Meta morfillah

06 August, 2018

[Review buku] Elena

Judul: Elena
Penulis: Ellya Ningsih
Penerbit: HutaMedia
Dimensi: viii + 288 hlm, 13 x 19 cm, cetakan pertama Juli 2018
ISBN: 9786025713651

Finally, tahu juga kisah yang bikin emak-emak pada baper dan rembes di facebook! Hahaha... cuma butuh 2 jam untuk melahapnya. Dan memang, bikin hati teraduk-aduk membayangkan jadi sang tokoh utama. Untung bacanya di sekolah jadi nahan air mata!

Elena, mencintai Eugene, lelaki asal Kanada. Sayangnya, perbedaan agama dan keberatan orangtuanya pada hubungan mereka, menyebabkan Elena harus memilih. Ia memilih menikah dengan seorang duda beranak satu, bernama Ibnu, yang dipilihkan oleh orangtuanya.

Bersama Ibnu, Elena mengarungi bahtera rumah tangga. Meski tidak mencintainya, Elena perlahan terbasuh hatinya oleh kesalehan Ibnu. Sayang, dosa zina yang telah ia lakukan bersama Eugene menghasilkan bukti nyata yang harus ditanggungnya selama hidupnya.

Meski begitu, konflik tidak selesai sampai di sana. Perlakuan Ibnu yang berubah setelah Elena melahirkan Al, membuat posisinya semakin terpuruk. Hingga puncaknya, ia dimadu. Tak lama Eugene kembali dalam hidupnya. Lelaki itu pun telah memeluk Islam. Apakah yang harus Elena pilih? Pernikahannya dengan Ibnu yang menduakannya, ataukah kembali pada cintanya, Eugene?

Betapa hijrah tidak mudah. Itu pelajaran utama novel ini. Betapa Allah selalu menjadi yang pertama, utama, dan setia, jika kita memilihNya.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang. Sempat ada typo nama Eugene menjadi Ibnu di halaman 226.

"Cinta saja tidak cukup. Kau takkan bisa meraihnya. Kau takkan mampu bersaing dengan Rabbnya." (H.58)

"Jangan kalian khawatirkan perasaan cinta yang belum hadir di antara kalian. Cintai saja Allah dulu. Orang yang sama-sama mencintai Allah, keduanya tidak akan sulit untuk saling jatuh cinta." (H.106)

"Tidak ada jalan hijrah yang mudah, harga surga tidaklah murah." (H.137)

"Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu." (H.216)

"Ini bukan tentang siapa yang kali pertama datang, bukan siapa yang paling mencintai. Tetapi, tentang yang datang setelahmu, menerimaku, dan bertahan untuk tidak pergi." (H.276)

Meta morfillah

04 August, 2018

[Review buku] Ubur-ubur lembur

Judul: Ubur-ubur lembur
Penulis: Raditya dika
Penerbit: GagasMedia
Dimensi: viii + 232 hlm, 13 x 20 cm, cetakan ketiga 2018
ISBN: 9789797809157

"Gue melihat orang yang bekerja kantoran tapi nggak sesuai dengan minat mereka itu seperti seekor ubur-ubur lembur. Lemah, lunglai, hanya hidup mengikuti arus. Lembur sampai malam, tapi nggak bahagia. Nggak menemukan sesuatu yang membuat hidup mereka punya arti. Gue nggak mau jadi ubur-ubur lembur; gue mau punya tulang belakang. Gue mau bisa berjalan di antara dua kaki. Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita." (H.226)

Khasnya radit, berkisah tentang hidupnya yang mungkin gak kece amat, tapi dia ubah sudut pandang. Bahwa hidup bisa ditertawakan. Semua ketidakberuntungan yang kita alami, bisa dilihat dari perspektif lain. Tentunya dengan gaya komedinya.

Tapi, bagi saya... kali ini terasa radit lebih dewasa, mendalam, dan bijak. Kedewasaan dari pertambahan usia, ragam ujian, dan statusnya yang sudah menikah (meski pada saat buku ini terbit, doi belum nikah) cukup mempengaruhi. Makin matang.

Pelajaran penting yang saya ambil adalah, gak semuanya yang terlihat enak itu enak. Kita gak pernah tahu ada proses sejauh dan sepanjang apa, yang mungkin pahit, nyesek, berair mata sampai jadi ditampilkan seakan sukses dan lucu.

Jadi ingat kata-kata saya sendiri, bahwa kadang orang yang banyak ketawa atau melucu, biasanya orang yang paling berat punya masalah. Semakin kencang tawanya, makin banyak pula masalahnya. Itulah salah satu cara dia menyikapi masalahnya. Ditertawakan saja.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Tumbuh dewasa, ya, begitu. Tempat-tempat lama kita akan terasa lebih kecil dibanding dulu. Tapi tempat itu nggak berubah. Kita yang tumbuh besar." (H.91)

"...sekarang lebih getir dalam melihat hidup. Mungkin karena orang dewasa adalah koleksi trauma-trauma masa lalunya." (H.98)

"Yang penting bikin karya aja. Nggak usah takut apa kata orang. Jelek bisa jadi bagus. Kalau nggak pernah bikin apa-apa, nggak ada yang bisa dibagusin." (H.173)

Meta morfillah

21 July, 2018

[Mentoring] FIQH DAKWAH - KAIDAH 9: MEDAN DAKWAH ITU LUAS

KAIDAH 9: MEDAN DAKWAH ITU LUAS

Sabtu, 21 Juli 2018
Fika

Mulailah berdakwah pada:
1. Lingkungan terdekat
Bisa keluarga, teman kost-an, dll.

2. Anak-anak
Kejernihan dan kepolosan mereka menyebabkan lebih mudah menerima dakwah yang kita sampaikan.

3. Orang yang rendah hati
Seperti fakir dan miskin. Sebab orang kaya biasanya sombong dan sulit dinasihati.

4. Orang-orang terpelajar
Mereka bisa diajak berdiskusi dan mudah menerima ilmu.

5. Rekan seprofesi
Sebab kita banyak menghabiskan waktu bersama mereka.

6. Orang yang belum memiliki aliran apa pun/terwarnai fikrah tertentu
Akan lebih sulit jika memaksa mengubah fikrah seseorang.

Perhatikan pula fase-fase kehidupan objek dakwah kita. Seperti Rasulullah SAW, kita harus tahu kapan perlunya dakwah terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Berdakwahlah dengan segala potensi yang kita miliki. Sebab dakwah bukan hanya tugas ustad, tapi tugas kita semua. Amar ma'ruf nahi mungkar.

#catatansepemahamanpenulis

Meta morfillah

[Mentoring] Prinsip/kaidah komunikasi dakwah

PRINSIP/KAIDAH KOMUNIKASI DAKWAH

Sabtu, 21 Juli 2018
Bu Efi

Menyikapi isu yang marak tentang seorang da'i dengan gaya komunikasinya yang gaul, untuk sasaran dakwah anak muda yang gaul pula. Marilah kita belajar bagaimana kaidah komunikasi dakwah yang benar dan baik. Tidak perlu menghujat, sebab tiap da'i juga manusia dan bisa khilaf. Kita pun adalah da'i sebelum segala sesuatu.

Berikut kaidah komunikasi dakwah:
1. Qaulan sadida (perkataan yang benar, jujur, berdasar fakta, tidak mengada-ada)

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan *perkataan yang benar.*" (Q. S. An nisa [4]: 9)

2. Qaulan baligha (perkataan yang membekas pada hati/jiwa)

"Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka *perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.*"(Q. S. An nisa [4]: 63)

Menyampaikan sesuatu dengan ruh/bermakna. Berdakwahlah dengan hati, sebab hati hanya bisa disentuh dengan hati. Berkata efektif, tepat sasaran, tidak bertele-tele, dan mementingkan substansi bukan estetika. Maka jagalah hati agar senantiasa dekat dengan Allah. Tentunya dengan menjaga amalan-amalan yaumiah.

3. Qaulan ma'rufah (perkataan yang baik)

Perhatikan apakah ada manfaat dari apa yang disampaikan.

"*Perkataan yang baik* dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun."(Q. S. Al baqarah [2]: 263)

Hati-hati saat memberi contoh, jangan sampai malah ghibah.

4. Qaulan karima (perkataan yang mulia)

Ini lebih ditujukan jika objek dakwah kita adalah orang yang lebih tua. Sehingga kita harus mengedepankan sopan santun dan tidak kasar.

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka *perkataan yang mulia.*"(Q. S. Al Isra' [17]: 23)

5. Qaulan layyina (perkataan yang lembut)

"maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan *kata-kata yang lemah lembut,* mudah-mudahan ia ingat atau takut".(Q. S. Thaha [20]: 44)

Lemah lembut tidak berarti harus intonasi pelan, apalagi di hadapan lelaki. Dalam tafsir Ibnu Katsir, perkataan lembut ini bisa dimaknai "kata sindiran".

6. Qaulan Maisyura (perkataan yang ringan)

"Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka *ucapan yang pantas.*"(Q. S. Al Isra' [17]: 28)

#catatansepemahamanpenulis

Meta morfillah

08 July, 2018

[Mentoring] FIQH DAKWAH - KAIDAH 10: WAKTU ADALAH UNSUR PENTING DALAM DAKWAH

FIQH DAKWAH - KAIDAH 10: WAKTU ADALAH UNSUR PENTING DALAM DAKWAH

Seorang da'i saat berdakwah bisa mengalami keputusasaan. Salah satu penyebannya adalah karena waktu.

Hal penting yang harus diperhatikan tentang waktu:

1. Seorang da'i tidak boleh berharap dakwahnya berhasil dalam waktu cepat, sebab zaman now banyak sekali paham yang berbeda dari islam (kapitalis, liberalis, materialis).

2. Bisa jadi dakwah tidak berhasil karena saat itu mad'u (yang didakwahi) sedang fokus ke hal lain.

Seperti dikisahkan oleh Ibnu Mas'ud: Rasul selalu memperhatikan waktu ketika hendak memberikan mau'izah (pembelajaran), agar kami tidak bosan.

Contohnya liqo, kenapa tiap pekan, gak tiap hari? Biar gak bosan. Kenapa gak sebulan sekali? Biar gak kelamaan.

3. Da'i tidak perlu berlama-lama berdakwah, agar mad'u tidak bosan.

4. Sikap da'i yang terlalu terburu-buru dan mendesak mad'u membuat keputusan. Bisa jadi mad'u menolak/menerima, karena belum paham. Maka da'i harus memahamkan dulu, jelaskan dampak positif dan negatifnya di masa depan. Ibarat dokter, menjelaskan dengan detai tentang waktu minum obat.

#catatansepemahamanpenulis

Meta morfillah

[Mentoring] FIQH DAKWAH - KAIDAH 4: DA'I WAJIB MENCAPAI LEVEL MUBALLIGH

FIQH DAKWAH - KAIDAH 4: DA'I WAJIB MENCAPAI LEVEL MUBALLIGH

Berdakwah tidak jauh berbeda dengan mempromosikan barang. Ada banyak sarana mencapainya (ada reward, dll)

'Dan berkatalah orang-orang musyrik: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin)-Nya". Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.' (Q.S. An Nahl [16]: 35)

"(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan." (Q.S. Al Ahzab [33]: 39)

'Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian: "Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan".(Q.S. Al A'raf [7] : 39)

Selain memiliki ide, da'i juga harus memiliki gaya komunikasi yang efektif, sehingga didengar dan pesannya sampai (sampaikan walau hanya 1 ayat, selama dari quran dan sunnah).

"Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Q.S. Al Maidah [5]: 67)

Da'i harus menyampaikan risalah dengan baik. Wajahnya cerah dan berseri di dunia dan akhirat.

Tidak boleh angkuh dan merasa benar dengan kaumnya saja, lalu menghakimi atau menyalahkan serta mengkultuskan kelompok lain.

Unsur balaghah (penyampaian kata yang berbekas) harus diperhatikan. Pilih lafaz yang baik dan mudah dimengerti. Pahami bahasa arab (ilmu, bacaan, sastra, penulisan, dll) dan kaji terus.

Harus fasih dan lancar dalam menyampaikan.

“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (Thaha: 27-28)

1. fasih agar tidak salah pengertian
2. tidak kaku agar jamaah tidak lari
3. fasih dalam berhadapan dengan firaun

Pentingnya teman dalam kesuksesan dakwah. Da'i perlu didampingi atau ditemani bila menghadapi jamaah besar, tapi kalau sedikit sebaiknya da'i sendiri saja untuk menjaga wibawanya.

Harus cari banyak cara efektif. Kadang satu cara tidak efektif di malam hari, tapi efektif di siang hari. Tidak efektif di majelis terbuka, tapi efektif secara rahasia. Tidak efektif pada hati yang sibuk, tapi efektif pada hati yang leha.

Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran), dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat, kemudian Sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,” (Q.S. Nuh: 5-10)

Perdebatan bukanlah termasuk dakwah, ia hanya cara untuk menolong dakwah dengan menekan dan berargumentasi. Perintah dakwah dan debat sangat berbeda. Menjadi da'i zaman now, tingkatkanlah keilmuan kita.

#catatansepemahamanpenulis

Meta morfillah

[Mentoring] FIQH DAKWAH - KAIDAH 3: PAHALA DIDAPAT KARENA BERDAKWAH, BUKAN KARENA HASILNYA

FIQH DAKWAH - KAIDAH 3: PAHALA DIDAPAT KARENA BERDAKWAH, BUKAN KARENA HASILNYA

Bagaimana kalau dakwah kita gagal? Coba lihat kisah Nabi Nuh, gagalkah ia?

'Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman". Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.' (Q. S. Hud [11]: 40)

Jumlah pengikut yang sedikit juga didapat oleh para nabi lainnya. Ketika pada hari kiamat nanti, para Nabi dan Rasul dikumpulkan dan mereka datang dengan umatnya masing-masing, dari mereka ada yang membawa satu, dua, tiga, bahkan ada yang sama sekali tidak membawa pengikut seorang pun.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُرِضَتْ عليَّ الأمَمُ، فَرَأَيْت النَّبِيَّ وَمَعَه الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُل وَالرَّجُلانِ، وَالنَّبِيَّ ولَيْسَ مَعهُ أحَدٌ

“Beberapa umat diperlihatkan kepadaku. Aku melihat seorang nabi bersama satu golongan kecil, seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan seorang nabi yang tidak mempunyai pengikut.” (Muttafaq ‘Alaih)

Oleh karena itulah Allah Ta’ala kemudian mengarahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar setelah berdakwah secara optimal, janganlah sekali-kali menakar kesuksesannya melalui jumlah yang didapat. Allah Ta’ala sendiri telah berfirman,

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ

“Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).”  (QS. As-Syura’ :48)

Dan dalam ayat lainnya,

فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An nahl :35)

Dan dalam ayat,

وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An nur: 54)

Adapun terkait dengan hal hidayah, sesungguhnya itu semua adalah urusan Allah untuk memberikannya.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash: 56)

Oleh karenanya, barang siapa yang memahami kaidah ini secara baik, maka ia akan berdakwah tanpa beban, tidak merasa kecewa ataupun stress hanya dikarenakan dakwah yang siang malam ia lakukan berakhir dengan penolakan dan jumlah pengikut yang sedikit.

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al Baqarah: 272)

Allah menghibur Rasul yang sedih karena disikapi sinis melalui ayat berikut;

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”(QS. An Nahl : 127)

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, Sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).” (QS. Al Kahfi: 6)

Kaidah ini juga menjadi obat bagi mereka yang tergesa-gesa memetik hasil dari dakwah yang selama ini mereka kerjakan. Yaitu mereka yang menunggu hasil yang nampak secara kasat mata duniawi, dan kemudian menjadikannya syarat dan takaran pilihan, antara melanjutkan perjuangan di jalan dakwah ini atau tidak. Cara pandang seperti ini sebenarnya cara pandang yang salah, sehingga bertolak belakang dengan kaidah dakwah yang diajarkan dalam Al Quran dan As Sunnah.

Al Quran telah menekankan, bahwa tidak ada kemestian seiringnya antara dakwah yang dijalankan dengan respon yang di dapat (Istijabah). Seorang dai, bisa saja telah berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan dalam berdakwah, namun sang mad’u tetap pula dengan sikap kerasnya, menolak segala bentuk ajakan kebaikan kepada dirinya. Namun demikian, pada fase seperti inilah sebenarnya akhir dari segalanya itu ditentukan.

#catatansepemahamanpenulis

Meta morfillah

Text Widget