Pages

29 August, 2017

Batasan

BATASAN

Di era digital dan informasi ini, pertemanan kita seakan tak berjarak, terlebih di dunia maya. Coba dicek, ada berapa sebenar-benarnya kawan yang kita kenal dari ribuan friends di friendlist kita? Coba dicek, berapa range usia? Apa sebab/mutual friends dia menjadi teman kita? Selintas lalu ataukah memang kenal dekat?

Dulu, saya punya berbagai akun dan bangga dengan banyak-banyakan followers, tanpa disaring. Sampai belahan dunia sana, sampai postingan yang tidak sesuai budaya dan agama saya berseliweran di timeline. Mendewasa, ternyata membuat saya berpikir bahwa tidak penting KUANTITAS/banyaknya teman jika tidak BERKUALITAS.

Maka saya mulai membuat batasan. Batasan siapa saja yang menurut saya positif dan potensial saling menasihati/berdakwah. Batasan usia mental untuk membaca postingan saya. Batasan agar tidak memengaruhi kinerja/objektivitas saya.

Hasilnya, berkurang drastis jumlah followers. Dan ternyata, masih banyak yang belum paham etika bermedia sosial. Ada yang lupa diri dengan mengekspresikan segala masalah pribadinya tanpa tujuan (mencari solusi, atau sharing mengambil hikmah) hingga lupa dirinya disorot oleh seluruh teman di medsosnya. Dan itu berbalik menjelekkan pribadinya sendiri.

Maka saya batasi lagi dengan gembok. Saya pun tak segan mengunfriend teman yang menurut saya tidak membawa pengaruh baik bagi saya.

Sebab, sekarang ini terlalu banyak orang yang menjudge pribadi dari medsosnya saja. Mereka lupa tentang sabda Nabi bahwa mabit/safarlah minimal 3 hari untuk mengetahui watak seseorang. Bukan kepolah dengan medsosnya. Apa yang tampak belum tentu yang sebenarnya. Too much information, so please be smart!

Ternyata, sebebas-bebasnya tetap ada batasan. Dan batasan itulah yang menjaga kita dari kejatuhan. Tetaplah jaga batasan itu, sesuai syariat yang telah kamu pelajari.

Meta morfillah

Perbanyak afirmasi positif

"Ma, aku pengin lemari buku kayak gini." Sambil menunjukkan gambar.

"Belilah."

"Tapi rumahnya juga harus besar kayak gitu."

"Ya belilah. Kamu pasti mampu. Minta sama Allah."

~~~

Lain waktu.

"Ma, mobil tadi enak ya. Meta pengin, deh!"

"Iya, enak. Tapi cuma muat 4. Nanti kamu nikah, mama sama uda di mana?"

"Meta gak suka yang gede. Pengin yang kecil aja."

"Yaudah, beli 2. Kalau cuma kamu yang pergi, bawa yang kecil. Kalau ajak mama sama uda, bawa yang besar."

"Mahal, Ma. Gaji ga bisa beli."

"Pasti bisa. Minta sama Allah."

~~~

"Met, kamu harus rapi, elegan, berpikir jauh dan besar. Siapa tahu kamu jodohnya pejabat atau pengusaha. Kamu harus bisa membawa diri dan beretika."

"Yaelah, ribet Ma. Diatur-atur kalau istri pejabat. Lagi gak nyambung ke pekerjaan Meta sekarang, Ma."

"Dimulai sejak dini, Met. Mungkin saja kamu bakal menemani seseorang yant sukses nantinya. Kita gak pernah tahu jalan hidup kita nanti. Pastikan yang terbaik dari dirimu di mana pun kamu berada. Allah Maha Kuasa, doa mama didengar, loh. Jaga sikap kamu di mana pun. Gak usah ikuti orang yang negatif."

~~~

Tahu, gak? Afirmasi yang sering direpetisi itu membuat saya meyakini bahwa masa depan ada di genggaman saya. Saya yang menentukan sikap, saya yang memgubah takdir saya dengan ikhtiar yang diridhaiNya. Dan KEPERCAYAAN yang lebay itu, tapi tidak selintas lalu membuat saya percaya bahwa kemungkinan yang mustahil menurut orang lain, sangat wajar terjadi dengan doa seseorang: mama saya.

Jadi, mengapa tidak kita sering ulangi pada diri anak kita, sekitar kita bahwa mereka BAIK, berhak mendapat TERBAIK, dengan cara yang BAIK dalam koridor ketaatan padaNya. Hingga mereka percaya bahwa benih KEBAIKAN itu ada dalam diri mereka dan mereka tersugesti hingga mengejawantahkannya dalam aksi nyata.

Maafkan dan minimalisir hal NEGATIF dengan PERBANYAK AFIRMASI POSITIF. Kurangilah komentar gak penting dan destruktif, biasakan komentar positif dan konstruktif. Belajar terus ya, Met!

Meta morfillah

27 August, 2017

#BelajarQurban

"Menjelang qurban, banyak yang daftar gabung jadi adik binaan. Sampai 100 orang. Alhamdulillah senang, mereka banyak yang mau mengaji. Tapi juga sedih, ternyata alasannya biar dapat daging qurban."

Itu salah satu percakapan di grup relawan yang saya ikuti. Miris ya? Tapi tetap sikapi dengan positif. Itulah dakwah, tidak sekadar ceramah tapi aksi nyata.

Bagi saya atau mungkin Anda sekalian, berqurban itu mungkin tidak terlalu menyenangkan. Saya pribadi, mual-mual tiap Idul Adha. Tidak tahan dengan bau, amis darah, serta keharusan menyaksikan hewan qurban kita dijagal. Kalau boleh milih, saya gak mau tuh qurban kambing (sebab belum mampu beli sapi) dan menyaksikannya.

Tapi hei, agama ini bukan dibuat berdasarkan kesukaan pribadi, tapi Allah yang Maha Tahu. Ternyata di balik ketidaksukaan saya itu, ada banyak hal baik. Ada orang yang menunggu-nunggu kapan kita berbagi daging dengannya, sebab mereka hanya merasakan nikmatnya sate kambing dan sop daging sapi di hari Idul Adha.

Bahkan demi sekantong daging itu, mereka rela mengikuti apa yang disyaratkan pemberi, misal mengaji tiap pekan. Terbayangkah, bagaimana bila yang memberi bukan seaqidah dengan mereka? Maka mereka tanpa sadar rela menggadaikan aqidahnya. Dan itu terjadi. Benarlah perkataan Rasulullah SAW bahwa kekufuran begitu dekat dengan kekafiran. Agama nomor sekian, yang penting masalah perut teratasi dengan segera. Sebab itu jauh lebih urgent, menyangkut hidup mati.

Itulah mengapa menolong tidak perlu melihat agama. Menolong adalah karena kemanusiaan. Tapi tentunya, yang pertama berhak ditolong adalah saudara terdekat, seiman kalian. Sebab kalian adalah kesatuan.

Membeli gadget mahal, sampai dibelain ngutang. Mengapa kita tidak mulai memaksa diri kita untuk mencicil persiapan berqurban? Jika dengan qurban itu, ada banyak orang yang mau mendekat pada Allah. Jika dengan qurban itu, kita bisa berkontribusi sedikit menyelamatkan aqidah saudara kita. Jangan pikirkan kesenangan diri semata. Yuk #belajarQurban sampai jadi ahli Qurban!

Jangan bosan berbuat baik, meskipun terlihat membosankan.

Meta morfillah

Larutkan emosi negatif dalam air kesibukan positif

Saya pernah baca buku berjudul "Larutkan kesedihanmu dalam air kesibukan". Dan ternyata, tidak hanya kesedihan, masalah juga emosi negatif lainnya bisa dilarutkan dalam kesibukan. Kesibukan dalam kebaikan.

Sibuk belajar, sibuk menolong orang, sibuk bekerja agar bisa bersedekah hebat, sibuk menulis agar banyak yang membaca dan tergerak berbuat baik, sibuk membahagiakan orang lain, dan sibuk baik lainnya.

Saking sibuknya, sampai kita lupa sama gadget sebab lebih peka melihat yang nyata. Saking sibuknya, sudah gak semangat buang waktu haha hihi gak jelas di mall atau diskusi yang gak berfaedah. Saking sibuknya, gak minat bahas yang bikin baper atau mikirin kenapa orang itu jahat sama kita. Yang ada di pikiran hanya: sibukkan diri dengan kebaikan! Kebaikan apalagi nih yang bisa aku lakukan, meski terbatas jarak, waktu, dana, tenaga, dll?

Kita jadi kreatif dan memunculkan energi positif. Meski ada yang sering memicu emosi negatif kita untuk timbul, kita jadi tidak meladeninya. Selesaikan dengan cara meminta maaf, berlaku baik dan kembali stay on the track, menuju goals kebaikan pengantar ke surga. Kita lagi lomba. Fastabiqul khairat. Dengan segala daya upaya kita.

Gak perlu minder, kecil hati, jika ternyata peran kita gak terlalu besar. Mungkin memang di peran figuran itu, kita berkesempatan membuat kebaikan besar. Coba kalau semua mau jadi peran utama, siapa yang akan jadi figuran? Semua kebaikan kita, pada dasarnya karena Allah mudahkan untuk melaksanakannya. Jadi kalau berhasil dengan satu kebaikan, jangan sombong. Terus cari kebaikan lain, bersyukur kalau dikasih kesempatan.

Alhamdulillah... kurangi mengeluh, banyakin bersyukur. Itu pembelajaran yang saya alami beberapa waktu ini.

Meta morfillah

23 August, 2017

Bekal dari Mama

BEKAL DARI MAMA

Mama identik dengan masakannya. Masakan mama selalu yang terlezat. Sebab diramu dengan cinta yang tulus. Disesuaikan dengan selera anaknya. Tiap anak berbeda. Dan mama tahu itu. Mama rela makan dengan lauk sederhana, demi membelikan anaknya daging, ayam, ikan. Padahal anaknya tidak masalah makan apa saja. Tapi mama selalu mau yang terbaik untuk anaknya.

Semakin lama saya tinggal dengan mama, semakin sering saya merasakan cintanya. Sungguh seperti surga. Bangun tidur, sudah disiapkan sarapan, pulang kerja langsung dimasakkan makanan baru. Belum lagi aneka penganan dan cemilan khas. Ada saja makanan SALDI (aSAL jaDI) yang enak dimakan, hasil coba-coba mama. Tak jarang saya dibekali.

Masakan mama adalah candu. Selama ada mama di rumah, saya akan bergegas pulang dan tidak jajan. Justru saya jajan saat mama sedang tak di rumah. Dan seringkali rasanya tetap lebih enak masakan mama.

Teman saya melihat bahwa hal itu tidak baik, membiarkan mama memasak dengan jarinya yang rapuh sementara saya makin malas ke dapur. Tapi ternyata bagi mama suatu kebahagiaan memasakkan makanan untuk anak di usia senjanya. Tentang saya jarang ke dapur, itu semacam apresiasi saya bahwa mamalah ratu di dapur. Saya memberi panggung untuknya. Tapi kalau saya mau masak dan mama minta dimasakkan sesuatu, ya bertukar peranlah. Kami sama-sama tahu dan tidak suka direcoki saat sedang berkarya, lebih baik bekerja sendiri.

Dan sungguh, tidak pernah mama menyusahkan saya. Bahkan saya yang sering menyusahkannya. Jadi, permintaan agar ia ditemani di usia senjanya menurut saya sangat wajar. Bukan pemberat hingga saya belum menikah. Saya hanya perlu bersabar untuk dipertemukan dengan dia yang paham peran ibu dan agama dengan menyeluruh.

Bagi saya, mama selalu menjadi cinta sejati saya. Cinta yang mencukupkan fisik saya dengan makanan dan jiwa saya dengan agama serta teladan. Dan saya mau menjadi ibu yang bisa sehebat mama saya!

Meta morfillah

21 August, 2017

Seperti daun gugur

Seperti daun tua dan menguning yang berguguran
Seperti itulah seharusnya kesombongan kita
Berguguran seiring bertambahnya usia
berlalunya waktu
mendewasakanmu
mengingatkan bahwa kelak
kau akan mati berkalang tanah
dirayapi cacing dan hewan beracun dalam gelap pekat
setinggi apa pun pencapaianmu
semencakar langit pun tinggimu
tetap kau akan rebah
pada tanah
yang kauanggap hina
dan kauinjak-injak tiap harinya
lantas, apa yang mau kausombongkan?

Meta morfillah

*suatu pagi saat pohon jati meranggas, menaati titah Tuhannya.

17 August, 2017

[Review buku] Tabula rasa

Judul: Tabula rasa
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Grasindo
Dimensi: vii + 185 hlm, cetakan ketiga April 2006
ISBN: 978 979 732 714 9

Dua orang yang hidup di masa berbeda, memiliki kisah mendalam dengan seseorang di masa lalu, bertemu dan mencoba menjalin cinta. Namun, Galih tetap teringat pada Krasnaya, kekasihnya di Rusia yang dibunuh. Sementara, Raras memendam cintanya pada Violet yang mati OD tanpa pernah tahu kalau Raras mencintainya. Cinta sesama jenis.

Berlatar belakang Rusia pada tahun 1990an, lalu Yogya di tahun 2000an, kisah ini sarat akan konflik yang kompleks. Isu PKI tahun 1965, LGBT, free seks, dan narkoba menjadikan novel ini begitu mencengangkan alurnya. Ending dengan antiklimaks yang so sad. Ada banyak istilah yang baru saya tahu, juga penggambaran tentang latar tempat dan waktu cukup rinci dan menambah wawasan saya tentang budaya luar.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

"Kamu seperti menara. Selalu dapat kulihat walau jauh dan di kerumunan orang." (H.3)

"Jika seseorang merasa kehilanganmu, berarti kamu berarti."(H.98)

Meta morfillah

[Review buku] Argh! Di mana jodohku?!

Judul: Argh! Di mana jodohku?!
Penulis: Astrid Tito
Penerbit: Matahari
Dimensi: 287 hlm, cetakan I Mei 2013
ISBN: 978 602 17815 86

Perjalanan Freya, teller Bank Nasional yang menyambi kuliah di malam hari dalam menemukan cinta, rezeki, dan jati dirinya. Bertemu dengan Fabian yang suka melakukan kekerasan, Ashley dan ibunya yang meremehkan, Frans yang merupakan gay, Kak Anas yang lebih memilih Ziyah, dan akhirnya Rafa dengan segala kekayaan dan kerendahhatiannya.

Tak luput sahabat sejatinya Irma, Luly, dan Lani, serta atasannya yang baik, Mbak Rini. Semua lika-liku itu mengantarkan Freya pada mimpinya. Ibarat dream comes true!

Novel ini sebenarnya cukup seru, sayang alurnya yang maju mundur, agak membingungkan kronologis sebab tokoh utamanya keseringan mengenang masa lalu. Juga karakternya kurang kuat, seperti sang Ibu, di awal kesannya cerewet, rese, tapi semakin ke belakang dipuji terus seakan santun, tegar, dll. Pun tokoh utamanya, terkesan begitu ustadzah. Banyak sekali nasihatnya, sehingga lebih terasa kayak buku pengembangan diri/teori dibanding novel. Klimaks dan endingnya pun begitu klise, tak ada konflik berarti.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Seberapa besar atau kecil action kamu untuk meraih apa yang kamu inginkan, tergantung dari kedekatanmu pada Tuhan." (H.66)

"Kekayaan hakiki yang ada di hati. Bukan saja kaya harta, tapi juga kaya teman, kaya sehat, kaya kebebasan waktu, kaya iman. Jadilah kaya di berbagai bidang kehidupan." (H.194)

"Ada dua cara menjalani kehidupan. Pertama, menganggap bahwa tidak ada satu pun kejadian yang ajaib. Kedua, menganggap bahwa semua yang terjadi adalah keajaiban." (H.237)

Meta morfillah

[Review buku] Dilema

Judul: Dilema
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Bukune
Dimensi: xiv + 334 hlm, 13 x 19 cm, cetakan kedua oktober 2012
ISBN: 602 220 064 4

Kisah tiga sahabat: Estrella, Kira, dan Adri yang berkembang menjadi kisah cinta dan cemburu. Estrella yang pendiam dan memiliki masalah keluarga, Adri yang cuek dan memendam dendam pada ayahnya, serta Kira yang mencintai Adri namun cemburu pada Estrella. Ini bukan kisah cinta segitiga pada umumnya. Namun tetaplah bergenre teenlit.

Alurnya progresif, konflik dan klimaksnya lebih ke batin, endingnya tertebak. Aah, menurut saya kurang menarik dan membosankan. Atau karena sudah tidak cocok baca teenlit yang konfliknya begitu-gitu aja haha. Tapi lumayanlah, tidak terlalu klise.

Saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

"Lo nggak butuh waktu dan tempat yang romantis untuk ngungkapin perasaan cinta." (H.161)

"Setiap masalah, membentuk lukanya sendiri, menguatkan." (H.257)

"Karena cinta yang tulus bukan soal memiliki, tetapi melindungi." (H.261)

"Karena cerita dimulai ketika kita mengakhiri." (H.332)

Meta morfillah

13 August, 2017

[Review buku] A

Judul: A
Penulis: Dwika Rezza
Penerbit; Wahyumedia
Dimensi; iv + 316 hlm, 12.7 x 19 cm, cetakan I 2013
ISBN: 979 795 771 3

Daniel dan Lucas adalah kakak adik dari konglomerat di Jakarta. Setelah 6 tahun bersekolah di Paris, mereka kembali ke Jakarta untuk kuliah sesuai dengan jurusan yang dipilihkan ayahnya. Daniel, sang kakak selalu menuruti orangtuanya, meski hatinya tidak setuju. Berbeda dengan adiknya, Lucas yang cuek dan sering membangkang.

Tapi semua berubah saat Daniel mengenal Bella, gadis yatim piatu, di kampus. Demi cintanya pada Bella, Daniel membangkang dan memilih keluar dari rumah. Akankah perjuangan cintanya berujung menyatu seperti puncak menara Eiffel?

Alur cerita progresif, dengan PoV 1 dari Daniel. Namun terlalu banyak voice sang penulis hingga membuat cerita membosankan. Lagi-lagi sudut pandang aku tapi tahu segalanya sampai detil. Memangnya Daniel punya banyak mata? Semua bergantung pada prasangkanya. Juga alasan cintanya pada Bella, menurut saya tidak dalam dan mendasar. Aneh! Bahkan seperti memaksa dari kasihan, pun Bella mengapa jadi GRan?

Aah, benar-benar maksa dan gak recommended bagi saya. Membacanya saja, hanya sekelebat scanning karena pilihan katanya pun maksa, kaku, sok puitis padahal gak nyambung.

Saya apresiasi 2 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Text Widget