Pages

17 February, 2016

Februari kelimabelas

Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi walau air mata di pipiku.
Ayah, dengarkanlah! Aku ingin berjumpa, walau hanya dalam mimpi.

17 februari 2001 - 17 februari 2016

Ini tulisanku yang kelima belas di tiap tanggal yang sama tiap tahunnya. Membosankan mungkin bagi yang melihat dan membaca. Tapi tidak pernah bagiku. Sebab ini adalah salah satu caraku merayakan kerinduan, menyegarkan ingatan dan mempertahankan kenangan akan sosoknya yang kian detik kian memudar. Agar aku tak lupa bagaimana rasanya memiliki ayah... dahulu.

Bagi keluarga, sosok yang meninggal akan selalu dikenang dan tak tergantikan. Semenyebalkan apa pun sosok tersebut. Apalagi jika menyenangkan. Bahwa segala tindakan sosok itu menjadi hal yang selalu terpatri bagi keluarganya. Ayah... bagaimanakah rasanya menjadi ayah? Menjadi ayahku, terutama... itu adalah salah satu pertanyaan yang masih saja kupikirkan di antara sekian pertanyaan yang tak sempat kutanyakan padamu.

Selamat 17 februari kelima belas. Selamat belajar banyak hal dari kepergianmu.

Meta morfillah

15 February, 2016

Harga sebuah pertemuan

HARGA SEBUAH PERTEMUAN

Kadang kita terlalu nyaman akan keberadaan seseorang, hingga pertemuan dengannya semacam kebiasaan. Lalu kita sibuk dengan segala urusan dunia kita yang terlihat menghasilkan. Lalu kita lupa, bahwa mereka yang senantiasa ada... tak akan berada selamanya di sana. Di tempat mereka berada sekarang. Bahwa pertemuan dengan mereka bisa menjadi begitu mahal harganya.

Mereka yang kumaksud adalah orangtua, pasangan, keluarga, dan sahabat.

Bayangkan, bila suatu hari atau mungkin beberapa detik ke depan kita tak bisa lagi melihat senyumnya, mendengar celotehannya, merasa terusik dengan keriwehannya. Bayangkan bila jasad itu hanya mampu terbujur kaku. Dingin. Tak bernyawa. Jiwa yang biasa kita kenali telah berpindah ke alam lain. Maka, berapakah harga pertemuan yang mampu kita tawarkan selanjutnya?

Cobalah... untuk menghargai pertemuan dengan mereka terutama, dan orang lain umumnya.

Meta morfillah

14 February, 2016

Melipat jarak

MELIPAT JARAK

Jarak antara kota kelahiran
Dan tempat tinggalnya sekarang
Dilipatnya dalam salah satu sudut
Yang senantiasa berubah posisi
Dalam benaknya

Jarak itu pun melengkung
Seperti tanda tanya

Buru memburu dengan jawabannya

*Judul dan puisi oleh Sapardi Djoko Damono*

Bukan kebetulan, saat aku gamang dan melarikan diri ke toko buku, tanganku tertuju pada buku itu. Otomatis membuka halaman berisi puisi itu. Lalu tercekat, seakan Sang Maha begitu tahu apa yang kugamangkan. Apa yang kuresahkan. Tentang kerinduan tanah kelahiran. Tentang jarak. Betapa rasanya aku ingin melipat itu semua, demi menemui semua yang kusayang.

Percayalah, tak pernah ada keputusan yang mudah perihal meninggalkan sesuatu yang telah begitu nyaman. Ikhlas tak semudah mengeja a ba ta. Dalam perjalanannya, niat mudah dibelokkan. Begitu tipis jarak antara ibadah atau terpaksa. Lalu apa niat sebenarnya? Pertanyaan itu selalu buru memburu dengan jawabannya.

Yaa... Maha pembolak balik hati... tetapkanlah hatiku.

Meta morfillah

13 February, 2016

[Cerita lirik] Locked away

If I got locked away
And we lost it all today
Tell me honestly, would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly, would you still love me the same?

Perempuan dan berbagai kekhawatirannya. Perempuan rumit. Itulah aku. Perempuan yang selalu bertanya akan segala macam hal yang mungkin terjadi di saat belum terjadi. Perempuan pengkhayal yang ingin tahu jawaban dari pertanyaan "bagaimana jika.... maka apakah kau...". Perempuan yang amat sangat mungkin melelahkanmu. Bahkan saat diberi kepastian pun, aku tetap gamang. Bumi selalu terasa tak pasti untuk kakiku menjejak.

Seperti saat ini, ketika kau dan aku resmi menjadi kita. Hal yang kutakutkan dan kutahan sedari akad kini kupertanyakan padamu langsung. Permainan "bagaimana jika... maka apakah kau..." kumulai.

Jika aku mengunci hatiku, dan kita kehilangan semuanya hari ini, katakan dengan jujur, apakah kamu masih mencintaiku sama seperti hari ini?
Jika aku menunjukkan padamu semua kekuranganku.
Jika aku tidak bisa sekuat saat ini.
Katakan dengan jujur, apakah kamu masih mencintaiku?

Right about now
If a judge for life me would you stay by my side?
Or is you gonna say goodbye?
Can you tell me right now?
If I couldn't buy you the fancy things in life
Shawty, would it be alright?
Come and show me that you are down
Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?

Kau menggelengkan kepalamu, heran akan kekhawatiranku. Jangan bingung. Sebab kurasa sekarang waktunya yang tepat untuk bertanya. Sebelum kau terlalu menyesal menghabiskan sisa usiamu denganku. Kautahu, sebab kini engkau adalah orang terakhir yang ingin kukecewakan, bahkan kuharap aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Namun kutahu, itu adalah kemustahilan.

Jika seorang menghakimiku, apakah kamu akan tetap di sisiku?
Atau kamu akan mengucapkan selamat tinggal untukku?
Bisakah kau beritahu aku sekarang?

Jika aku tidak bisa membelikanmu hal-hal yang mewah dalam hidup,  apakah itu akan baik-baik saja?
Apakah kamu akan datang padaku dan menunjukkan bahwa kamu akan selalu di sampingku?
Katakan padaku sekarang, apakah kamu benar-benar akan ada untukku?
Sayang, beritahu aku akankah kamu bersedia mati untukku?

Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me?
Baby don't lie to me
If I didn't have anything
I wanna know would you stick around?

Maukah kamu menghabiskan seluruh hidupmu denganku?
Apakah kamu selalu berada di sana untukku?
Katakan padaku, akankah kamu menangis untukku?
Kekasihku, jangan berbohong padaku...
Jika aku tidak punya apa-apa
Aku ingin tahu apakah kamu tetap akan ada di hidupku?

Let's get it diddly-down-down-down
All I want is somebody real who don't need much
A girl I know that I can trust
To be here when money low
If I did not have nothing else to give but love
Would that even be enough?
Girl I need to know

Semoga kamu mengerti alasan kekhawatiranku ini. Sebab yang aku inginkan adalah seseorang yang nyata. Seseorang yang mengenalku dan bisa kupercaya.
Saat aku tidak memiliki cukup uang. Jika aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan selain cinta
Apakah itu akan cukup?
Aku memerlukan pengakuanmu

Tell me, tell me, would you want me? (Want me!)
Tell me, tell me, would you call me? (Call me!)
If you knew I wasn't ballin'
Cause I need a girl who's always by my side
Tell me, tell me, do you need me? (Need me)
Tell me, tell me, do you love me yeah?
Or is you just try to play me?
Cause I need a girl to hold me down for life

Katakan padaku apakah kamu menginginkan aku?
Katakan padaku akankah kamu selalu memberi kabar dan menelepon aku?
Katakan padaku, apakah kamu membutuhkan aku?
Katakan padaku, apakah kamu mencintaiku?
Atau kamu hanya mencoba mempermainkanku?
Karena aku perlu seseorang yang selalu ada di sisiku dan menjagaku  dari godaan dunia.

Di atas segalanya, hal yang paling kutakutkan adalah membuatmu menyesal hingga meninggalkanku akibat kebodohanku sendiri. Maka mengertilah, bila sesekali aku bertanya padamu tentang beragam kekhawatiranku, Sayang.

*cerita lirik Locked away by adam levine ft.

Meta morfillah

Perjalanan tangan

PERJALANAN TANGAN

Tuhan tidak bisa berada di semua tempat sekaligus, karena itulah Dia menciptakan para ibu. (Pepatah Yahudi)

Seorang ibu muda sedang menidurkan bayi perempuannya yang sakit flu di malam yang gulita. Hanya ada mereka berdua di rumah. Hanya ada suara detak jantung keduanya dan detik jam yang menggema di keheningan. Setelah berjam-jam akhirnya bayi itu tertidur juga, meski nafasnya berbunyi. Tangannya menggenggam baju ibunya, tepat di bagian dada. Tangan yang mungil, bersih, putih, halus, lembut, belum tersentuh kerasnya dunia. Sang ibu mengelus tangan itu dengan sayang. Pikirannya membelukar ke waktu-waktu mendatang.

Tangan mungil itu, akan mulai mengenal tantangan saat kakinya mulai menjejak bumi. Tangan yang mungkin akan sering tergores atau terluka saat belajar merangkak, berjalan dan memenuhi rasa ingin tahunya. Tangan itu akan lebih sering memegang pensil saat ia mulai belajar menulis. Tangan itu akan banyak membuka pintu saat remajanya, mungkin juga tangan itu akan menghapus banyak air mata atau menjadi penyebab air mata ibunya. Perlahan tangan itu akan mengepak kopernya sendiri. Tangan itu akan sering membuka pintu rumah untuk meninggalkannya, bekerja, bermain, atau bepergian. Lalu tangan itu akan sering pula menutup pintu yang dia tinggalkan, untuk kembali. Mungkin tangan itu akan jarang menyentuh barang-barang di rumah lagi. Sang ibu berharap agar tangan itu mampu membuka lebar dan memeluknya sesering mungkin di hari senjanya kelak. Tangan itu pula yang kelak membantunya berjalan saat kakinya sering nyeri dan ngilu kedinginan. Semoga saja tangan itu paham mana yang prioritas. Sang ibu pun amat berharap agar tangan itu lebih sering terkatup untuk berdoa, lebih sering terulur untuk menolong dan berbagi dengan sesama. Hingga suatu hari tangan itu akan diberi cincin di jari manisnya dan akan ada tangan kokoh yang menggenggam tangan halusnya. Lalu tangan itu melahirkan tangan mungil lainnya. Di suatu malam nanti, tangan itu akan mengelus tangan mungil bayinya dan membayangkan seperti apa tangan mungil itu kelak. Persis seperti dirinya saat ini.

Meta morfillah

12 February, 2016

Saat bahagiaku

"Ibu Meta sekarang agak gemukan ya, dibanding kali pertama mengajar. Terlihat dari pipinya." Komentar seorang rekan guru.

Saya senyum saja. Bagaimana tidak makin berisi, bila tiap hari saya harus makan catering nasi dengan lauk pauk empat sempurna dan harus habis di depan anak-anak. Padahal porsi nasinya saja bukan porsi saya, terlalu banyak. Belum lagi semingguan ini, saya diberikan snack dari bekal anak-anak yang kebanyakan coklat dan manis. Lalu snack itu mereka hias-hias dan bentuk dengan permen, dan saya harus memakannya di depan mereka. Setelahnya saya harus memberi nilai, seperti acara masterchef. Ditambah, saya banyak tertawa karena ulah mereka tiap hari. Seperti hari ini, seorang anak akhwat membuatkan saya gambar shizuka yang tersenyum di alam kubur. Kata anak tersebut, ibu meta seperti ustadzah oki saat bercerita tentang kisah umar bin khattab. Anak itu ingin menggambar ustadzah oki tapi tidak bisa, jadi dia menggambar shizuka saja. Lalu mengapa di alam kubur dan tersenyum? Sebab orang baik tersenyum saat masuk alam kubur. Dari alam kubur baru masuk surga.

Yaa... semoga saja, salah satu dari mereka akan menarik saya ke dalam surga kelak. Aaamiiin...

Meta morfillah

10 February, 2016

Apa cita-cita ibu?

"Ibu Meta, ini snack time dari kita."

"Kita kumpulin masing-masing, Bu. Coba dimakan, Bu!"

Mereka menyodorkan sebuah roti tawar yang dihias dengan yupi sebagai telinga, caca kacang sebagai hidung dan pipi merah, biskuit dipotong setengah sebagai mulut yang tersenyum, dan mata dari dua roti unyil rasa abon.

"Waah... jazakumullah khair. Sini ibu foto dulu, ceritanya kalian chef handal di masa depan."

Cekrek!

***

"Ibu Meta, cita-citanya dulu apa?"

"Jadi guru ya, Bu?"

"Bukan. Cita-cita ibu mau jadi ibu nomor satu."

"Lah ibu, itu mah bukan cita-cita! Ibu kan memang sudah jadi ibu. Ibu Meta dipanggilnya."

"Hehe... bukan. Itu mah panggilan. Yang ibu maksud, ibu ingin punya anak dan membesarkan anak ibu dengan baik. Paham?"

"Oohh... gitu. Ibu udah nikah belum?"

"Belum."

"Asyiiikk... ibu nikah sama pak ***** aja, Bu! Pasti bahagia!"

"Tahu dari mana kamu ibu bakal bahagia sama pak *****?" Aku terbahak. Anak-anak ini kadang merasa lebih tahu melebihi usianya.

"Kan bapak itu baik. Kita aja semua suka, Bu!"

"Oh iya, ibu mau berapa punya anaknya?"

"Mau sebanyaknya yang Allah kasih."

"50, Bu?"

"Yaa kalau dikasih sama Allah segitu boleeh..."

"Waah banyak banget, Bu! Bisa penuh satu masjid sama anak ibu doang."

"Haha... iya. Ini aja ibu udah punya 23 anak (Sambil menunjuk masing-masing murid. Mereka pun tersenyum dan berceloteh bangga dibilang anak Bu Meta). Apalagi kalau ikhwannya 40, salat jumat ga usah ke masjid deh. Di rumah aja sama saudara-saudaranya. Kan batas minimal salat jumat 40 orang, ya?"

"Iya, Bu! Waah rumah ibu harus gede. Biar anak ibu muat. Semoga Bu Meta kaya. Aaamiiin."

"Aaamiin."

"Ibu, sini tangannya. Dua-duanya."

Lalu pergelangan tanganku dibalik. Mereka menghitung jumlah urat nadi yang tampak.

"Wah, ibu anaknya enam. Nih ibu hitung deh yang hijau sama ungu!"

"Kalau aku cuma satu, Bu!"

"Kalau aku delapan, Bu!"

Hahaha... teori baru. Ada-ada saja! Begitulah kulewati hari-hari bersama mereka. Kawan sekaligus guru kecilku.

Meta morfillah

[Review buku] He 2+ & Balon udara

Judul: He 2+ & balon udara
Penulis: Rosa Amanda Salim
Penerbit: FoUmediapublisher
Dimensi: 292 hlm, september 2009
ISBN: 978 602 95540 0 7

Novel ini berkisah tentang Helena Dustine Cakrawala, putri seorang pengusaha yang berusaha melarikan diri dari masa lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa kakak lelakinya membuat ia tak sanggup berada di Jakarta, terutama bersekolah dan bertemu dengan kedua sahabatnya, Nabila dan Sarah. Akhirnya Helena tinggal di Paris dan menjadi model yang amat sukses. Namun kepergiannya ke Paris harus dibayar dengan kebebasannya, sebab ia harus menerima menjadi tunangan Max, rekan kerja ayahnya yang workaholic. Melalui teori helium dan balon udara, penulis berusaha menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

"Balon udara tak akan dapat terbang tanpa helium. Aku adalah balon udara dan kamu heliumnya." (Hlm. 6)

"Balon udara berisi helium yang dipanaskan, supaya dia bisa terbang. Anggaplah kamu sebagai balon udara, helium sebagai teman-teman dan masa lalumu. Kamu bisa terbang karena masa lalumu itu, walaupun pahit. Mungkin kamu enggak sadar sama semua itu. Helium adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Sama kayak teman-temanmu yang mau kamu lupakan itu. Kamu enggak sadar kalau mereka yang menerbangkan kamu sampai seperti sekarang." (Hlm. 185)

Secara pengemasan, saya kurang suka. Kertasnya tipis, jenis font, jarak, dan layoutnya seperti buku bajakan. Covernya aja menurut saya enggak nyambung. Mengapa gelas dan air? Itu mah H2O. Kalau He 2+, harusnya gambar balon berisi udara.

Secara isi, apalagi... dari awal saya baca sudah begitu ketebak isinya. Namun alur/logika berpikirnya menurut saya begitu absurd. Banyak yang tidak pas, malah membuat bingung karena ada pemaksaan konflik. Semacam lebay. Hal kecil yang selalu dijadikan konflik utama, flashback mengenai kematian kakaknya terlalu dibesar-besarkan. Dan penyikapannya menurut saya seperti memukul nyamuk pakai wajan. Menyebalkannya lagi, hal itu diungkit-ungkit terus dan diulang sampai membosankan. Beragam tokoh pembantu pun hilir mudik tidak jelas, sekadar meramaikan tanpa ada kepentingan. Terkesan asal membuat tebal sehingga memenuhi syarat menjadi novel. Seperti tokoh Gina, untuk apa dimunculkan kalau tidak berguna? Aduuh... benar-benar saya tak habis pikir kok karya seperti ini bisa lolos diterbitkan ya?

Jika saja saya tak konsisten dengan janji saya pribadi untuk menyelesaikan membaca buku apa pun dan membuat review ala saya agar saya ingat kembali cerita buku yang telah saya baca, ingin sekali saya berhenti dan tak melanjutkan membaca di halaman pertama.

Saya apresiasi 1 dari 5 bintang.

Meta morfillah

09 February, 2016

Belajar dari Maryam demi ridhaNya

Di beranda facebook kutemukan gambar dan tulisan yang cukup menohok. Begini kira-kira bunyinya, "Fenomena akhir zaman, wanita sibuk memikirkan perihal jodoh tapi lalai/jahil terhadap Al Quran."

Saya pun berkaca pada diri pribadi. Yaa... tak dipungkiri, dari lucu-lucuan hingga kadang kepikiran kapan bahkan kepikiran terus tentang jawaban kesendirian ini, tapi saya sering lupa sejauh mana ibadah saya, hafalan quran, baca quran dan pengamalannya. Malu... malu sekali rasanya. Beragam tulisan yang saya hasilkan rasanya menampar wajah saya sendiri. Meminta validasi lisan dengan bukti amal perbuatan.

Menjaga izzah (kehormatan diri) wanita yang istiqomah menjomblo sampai dihalalkan seharusnya seperti Maryam. Ya, maryam binti imran yang namanya termaktub dalam Al quran surat kesembilan belas. Wanita yang dimuliakan Allah hingga diberi penghargaan abadi menjadi nama surat dalam al quran tersebut. Wanita yang dilebihkan dari empat wanita yang dipastikan menjadi penghuni surga: Asiyah, Khadijah, Aisyah, dan tentunya Maryam. Mengapa Maryam begitu istimewa?

Sebab Maryam menjaga kehormatannya dengan takwa. Kesendiriannya menjadi ladang amal yang besar. Meski kisahnya yang hamil tanppa adanya suami tidaklah akan terjadi lagi dan tentu berbeda dengan fenomena masa kini. Di mana banyak wanita yang sudah dicabut rasa malunya hingga hamil di luar nikah menjadi hal biasa. Memiliki anak tanpa pernikahan yang sah, tanpa diketahui siapa ayah dari bayinya menjadi berita keseharian. Bahkan rasa sakit saat melahirkan pun Allah cabut, hingga tiada lagi rasa kesyukuran, perjuangan hidup dan mati, pahala saat melahirkan, dan kasih sayang terhadap anak yang dilahirkan, membuat para wanita tersebut dengan mudah membiarkan anaknya mati, aborsi, atau dibesarkan seadanya dan kembali melakukan zina itu lagi. Bahkan keledai pun tak akan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali. Naudzubillah...

Maka, berkaca pada Maryam... dalam kesendiriannya ia tetap menyibukkan diri dan memenuhi kewajiban dan tujuan ia dicipta: beribadah. Begitu sayangnya Allah pada kita, hingga tersedia beragam kisah dan contoh untuk setiap keadaan dengan sirah sahabat atau sahabiyah, serta para salafus salih. Tinggal kita yang mempelajari dan meneladaninya, mau seperti apa?

Semoga saya, dan para muslimah lainnya yang belum dipertemukan dengan jodohnya mampu meneladani Maryam. Bahwa surga bisa kita raih, meskipun mungkin kita belum menggenapi agama ini dengan menikah. Tentunya tanpa berputus asa bahwa setiap hal ada pasangannya. Asal Allah ridha, segala perkara selesai.

Meta morfillah

06 February, 2016

Keteraturan dalam ketidakberaturan

KETERATURAN DALAM KETIDAKBERATURAN

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponsel saya melalui aplikasi whatsapp. Ternyata pesan dari sahabat masa kecil saya, yang sempat terputus komunikasi selama beberapa tahun belakangan. Dulu, kami sering dibilang kembar dan tak terpisahkan. Bahkan dia amat menginginkan saya dan dia bersekolah di sekolah yang sama. Terbayang akan melewati indahnya masa sekolah dengan sahabat yang sudah begitu klop. Namun ternyata Allah menakdirkan lain. Kami mengikuti sebuah seleksi ketat sebuah SMK yang bahkan tak pernah saya ketahui keberadaannya kalau bukan dari dia. Kami duduk sebangku saat mengerjakan soal. Soal kami berbeda kode. Bahkan saya membantunya mengerjakan soal diam-diam, saking kami ingin berhasil masuk sekolah ini. Namun,  takdir Allah benar-benar jauh dari harapan. Saya lolos, sementara dia tidak. Parahnya lagi, keluarga saya begitu menginginkan saya bersekolah di SMK tersebut, sementara saya tidak menginginkannya. Saya ikut tes sekolah itu, hanya karena ingin bersama sahabat saya. Jika tak berhasil, maka saya sudah memiliki SMA pilihan yang memang jadi incaran di jakarta. Saya begitu ingin mengikuti program pertukaran pelajar di SMA tersebut. Nyatanya Allah membuat skenario hidup untuk saya, yang tidak sesuai dengan keinginan saya.

Dari ketidakberhasilan itu, meski kami berusaha mencari sela untuk tetap kompak bersama. Seperti memaksakan berangkat sekolah bareng, kadang lewat rute saya, kadang lewat rute dia, dengan konsekuensi kami telat atau kepagian. Bahkan sampai kadang kami saling menyelundupkan diri ke dalam sekolah masing-masing demi mengenalkan dunia sekolah kami pada satu dan lainnya. Kami pun saling tahu siapa saja teman dekat kami di sekolah, siapa saja lelaki yang menyukai kami. Bahkan di setiap tanggal 14 Februari, saat orang-orang merayakan hari kasih sayang, kami menciptakan hari persahabatan. Itulah hari di mana kami saling memberi hadiah dan surat yang berisi pujian tentang sahabat. Haha... sungguh kebodohan yang lugu.

Lalu, dari pesan yang menerbitkan kenangan lama yang tak lekang itu, dia mengabarkan pada saya bahwa bulan depan ia akan menikah. Seperti janji masa kecil kami, saya adalah orang pertama yang akan diberitahu dan diundang. Lalu, ia pun melontarkan pertanyaan yang berisi harapan dan doa agar bisa bersama merayakan momen penting dalam hidup kami.

"Kamu kapan, Met?"

"Doakan terus yaa..."

"Coba kita bisa barengan ya nikahnya. Double date, double wedding. Semoga kamu cepat nyusul ya, Met!"

"Untuk yang kali ini, kita tidak bisa memaksanya seperti mendaftar sekolah dulu. Jadi, aku akan mengikuti skenarioNya dengan baik dan menjadi pemain yang profesional saja."

Pada akhirnya, segala usaha kita akan terbentur pada kehendakNya. Terkadang, kita merasa hidup kita begitu ruwet, tak linier, dan kusut tak saling menyambung menjalin kisah yang indah. Tapi, dari penglihatan Allah di atas arsy sana, hidup kita mungkin merupakan sulaman indah yang membentuk sebuah pola indah. Semacam jahitan kristik. Semacam keteraturan dalam ketidakberaturan.

Meta morfillah

Text Widget