Pages

18 April, 2015

[Review buku] Kamu: cerita yang tidak perlu dipercaya

Judul: Kamu - cerita yang tidak perlu dipercaya
Penulis: Sabda Armandio
Penerbit: Moka media
Dimensi: viii + 348 hlm, 11 x 17 cm, cetakan pertama 2015
ISBN: 979 795 961 9

Benar-benar cerita yang tidak perlu dipercaya. Bahkan sampai menamatkan buku ini, saya masih ga percaya... cerita apa sih ini sebenarnya? Tapi asyik. Pernah merasa terkesima mendengar seseorang bercerita tentang pengalamannya, meski aneh dan kadang tak masuk logika, tapi kamu menerima dan menikmatinya. Persis seperti itu rasanya membaca buku ini.

Uniknya, tokoh utama di sini tak bernama. Hanya aku dan kamu dan tokoh pendukung lain yang beberapa tak juga bernama. Dengan alur maju mundur, sebaiknya kamu mempunyai pegangan agar tak bingung membedakan realitas dan urutan cerita. Secara isi, saya menikmati cerita yang sepertinya hanya menikmati bagaimana bercerita ini. Gaya bahasanya pun meski seenaknya, yang terasa banget penulisnya anak muda, tapi tetap berbobot, bahkan kadang agak puitis. Namun masih banyak typo dan kurang spasi di beberapa bagian yang cukup mengganggu. Secara tampilan saya suka covernya. Simpel tapi terasa kekinian banget ala anak muda. Biru dan kuning, kayak seragam olahraga smk telkom saya hahaha. Saya beri nilai 4 dari 5 bintang.

Meski tak ada tema khusus, sebab ini cerita tentang kenormalan hidup dan apa saja yang dipikirkan sang tokoh, tapi ada beberapa kalimat yang saya suka dan cukup dalam untuk diresapi. Seperti ini contohnya,

"Keramaian adalah dengung yang semakin didengarkan justru membuatmu kesepian. Orang-orang terus bicara; berbagai jenis suara berlintasan hingga telingamu penuh tetapi kepalamu kosong. Tidak mengerti apa-apa, bukan bagian dari apa-apa." (Hlm. 17)

"Menurutku jatuh cinta itu nggak indah-indah amat. Kau buka hatimu supaya seseorang masuk ke dalam, kau jaga dia agar betah dan sehat, dan seterusnya, dan seterusnya. Seperti memelihara orang lain di dalam tubuh sendiri. Sialnya, kau nggak punya perangkat untuk sepenuhnya memahami orang lain." (Hlm. 279)

"Kita ini sangat ingin dibilang orang kota, sampai-sampai kita lupa, kampungan memiliki makna yang romantis. Dan si orang kota ini terus-menerus mengeluh soal betapa buruknya tata kota, kemacetan, dan membanding-bandingkan keadaan dulu dan sekarang. Lalu mereka dengan tak tahu diri memuja-muja harum tanah basah, mencari udara segar ke hutan, memotret langit senja di gunung atau matahari terbenam di laut, tapi nggak ada yang mau hidup di kampung atau merubuhkan kita mereka dan menjadikannya kampung lagi. Mereka takut kehilangan kemapanan yang merela bangun untuk menunjang hidup enak dan praktis. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mengkhayal tentang kehidupan desa sambil minum kopi," (Hlm. 291)

Meta morfillah

15 April, 2015

Film The Cobbler

Film The Cobbler

Awalnya niat nonton ini tuh untuk menghibur diri. Karena review di tv lucu dan Adam Sandler yang main. Diajak nonton filosofi kopi, tha tolak. Alasannya "Lagi ga mau yang serius dan buat keluar air mata." Ternyata film ini jauh nguras air mata. Tapi, nangisnya setelah nonton, soalnya ga enak sama teman yang nemenin. Hahahha...

Filosofi hidup yang tha dapat dari film ini cukup dalam dan ngena. Pepatah bilang "Don't judge people from their cover, until you walk on their shoes." Film ini benar-benar mengandaikan bila kita memakai sepatu orang lain, it means 'walk on their shoes', kita akan tahu kehidupannya serta cara pandangnya selama ini. Max Simmin, melalui kecelakaan karena mesin jahit sepatunya rusak, terpaksa memakai mesin jahit sepatu lama warisan ayahnya. Takdir bekerja dengan caranya sesuai skenario Tuhan. Max menemukan keajaiban. Semua sepatu yang dijahit memakai mesin itu membuat Max bisa berubah menjadi pemilik sepatu.

Adegan paling menyentuh adalah saat Max memberikan hadiah terbaik dan terindah kepada ibunya, tanpa ia tahu bahwa itu juga akan menjadi hadiah terakhirnya.

Betapa konflik batin yang dialami Max memuncak, manakala ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang ia cintai. Max hampir kehilangan jati diri. Ia menganggap hidupnya selama ini adalah loser, hingga ia tak mampu membelikan nisan yang layak untuk ibu tercinta. Hal-hal buruk pun ia alami saat ia mencoba lari dari kenyataan dengan mengubah diri menjadi orang lain. Hingga ia mendapat kejutan yang membuat ia merasa bahagia kembali.

Memang agak membosankan di beberapa part, tapi saya hargai 8 dari 10. Sebab filosofi hidup yang berat dapat saya maknai dalam film ringan ini. Yakinlah bahwa berkorban untuk keluargamu, terutama orang tuamu tak akan pernah jadi hal yang sia-sia. Meski pun selama kau memberikan waktumu pada mereka, kau tidak menjadi orang hebat yang dikenal dunia. Tapi setidaknya kau telah menjadi dunia bagi mereka. Dan jangan pernah menjudge sepihak dari sisi yang ditinggalkan. Ada banyak hal yang mungkin belum waktunya untuk kamu mengerti saat ini, tapi jangan pernah membenci. Meski itu terlihat buruk bagimu, kau tak pernah tahu kebaikan di baliknya.

Meta morfillah

11 April, 2015

[Review buku] Fatimah

Judul: Fatimah: The Greates Woman In Islamic History
Penulis: Ali Syariati
Penerbit: Mizan Media Utama
Dimensi: xxxiii + 326, cetakan I Juli 2008
ISBN: 978 979 18258 0 1

KAGET!!!
Itulah yang saya rasakan saat membaca buku ini. Ekspektasi saya adalah penjelasan tentang pribadi Fatimah, namun yang saya dapati hingga bab keenam adalah tentang pemikiran Syiah. Saat saya membaca kata pengantarnya, barulah saya paham, ternyata penulisnya berasal dari Iran yang mengaku orang Syiah Alawiyyah, bukan syiah syafawiyyah. Begitu gamblangnya pemujaan terhadap Ali dan Fatimah dibandingkan kekalifahan sahabat. Bahkan sampai ada penyebutan Imam 12, turunan Ali. Saya kaget, mengapa saya bisa memiliki buku ini. Secara logika pun saya agak aneh. Ada beberapa hal yang absurd, seperti mengakui tuhan lain. Menurut saya buku ini menyeramkan bagi orang awam.

Berikut salah satu kalimat aneh yang ingin menjelaskan tentang air mata atau menangis adalah bentuk cinta.

"Mereka menangis agar dapat mengikatkan hati mereka secara mendalam kepada keluarga tercinta ini. Itulah tempat pemujaan yang sesungguhnya, Olimpia sejati tempat bersemayamnya tuhan-tuhan yang tidak mengenal bahasa lain kecuali air mata." (Hlm. 34)

Mengapa harus diumpamakan ke olimpia dan tuhan-tuhan lain?

Juga kronologis usia yang janggal di halaman 197 "Istri Nabi, Khadijah, sudah sangat tua, barangkali tujuh puluh tahun. Dia telah menjalani kehidupan sepuluh tahun masa kenabian dan tiga tahun dalam pengepungan itu."

Padahal di halaman 201, dijelaskan bahwa Nabi berusia 25 tahun, dan Khadijah 40 saat menikah. Berarti selisih usia mereka 15. Nabi diangkat menjadi rasul di usia 40 tahun. Kalau 10 tahun masa kenabian, seharusnya usia nabi 50 tahun dan khadijah 65 tahun, bukan 70 tahun.

Aneh. Sifat Fatimah dan Ali pun begitu aneh di buku ini. Mengejutkan, saya memiliki buku ini. Tertumpuk di tumpukan bawah yang baru sempat saya baca.

Kalau harus memberi bintang, saya beri 1 dari 5 bintang.

Meta morfillah

08 April, 2015

Film Theory of Everything

Film yang mengisahkan hidup Stephen Hawking dari remaja hingga tua, berusia 72 tahun. Sisi romantis dan humanis begitu dalam saya temui. Dari film ini saya belajar memaknai lagi cinta dengan makna sederhana namun dalam. Cinta adalah komunikasi.

Ada suatu kalimat bijak berbunyi "Carilah pasangan yang asyik diajak ngobrol. Sebab saat tua nanti, saat kalian sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi, kalian hanya bisa menghabiskan waktu dengan mengobrol."

Seperti Jane saat mengenal Hawking dan berani mengambil keputusan menikahinya, meski Hawking divonis hanya mampu bertahan dua tahun. Jane sangat mengenali Hawking, dia mampu memahami apa yang ingin Hawking katakan. Di sanalah cinta menguat. Komunikasi mereka, saling mengerti. Lalu, cinta bisa berubah seperti hukum kekekalan energi. Cinta tidak hilang, melainkan berubah bentuk.

Saat Jane sadar, bahwa dia butuh lelaki normal yang mampu menemani dan membantunya menanggung beban hidup yang cukup menyesakkan. Namun dia tetap setia pada Hawking. Cintanya mulai berubah... pada Hawking, ia tak bisa kehilangan. Ia mencintainya. Meski ada cinta lain juga untuk Jonathan.

Lalu, saat kehadiran Elaine yang dengan cepat mampu memahami komunikasi Hawking yang begitu terbatas. Hawking tahu, bahwa cintanya pada Jane yang begitu besar harus sepadan dengan besarnya kekuatan untuk melepaskan Jane dari sisinya. Sebab, ada hal-hal yang tak mampu ia penuhi. Dan sudah ada Elaine yang mampu membantunya dalam berkomunikasi. Jane pada akhirnya menemukan kebahagiaan bersama Jonathan. Meski cintanya pada Stephen Hawking tetap ada, dan cinta itu berubah menjadi rasa sayang sebagai sahabat.

Jadi... siapakah yang mampu memahamimu dengan baik? Mampu kauajak berkomunikasi dengan asyik? Mungkin dialah cintamu...

Meta morfillah

07 April, 2015

[Review buku] Garis batas

Judul: Garis Batas
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi: xiv + 510 hlm, 13.5 x 20 cm, cetakan pertama April 2011
ISBN: 978 979 22 6884 3

Tajikistan yang terlihat modern dengan mobil, namun harga bensin selangit. Kirgiztan, negara pertama yang memproklamirkan kemerdekaan dari Moskow (jajahan Uni Soviet). Kazakhstan yang memindahkan ibu kotanya dari kota kosmopolitan Almaty ke padang gembala Astana. Uzbekistan dengan nilai mata uangnya yang begitu anjlok bahkan kurang dihargai oleh warga negaranya sendiri. Hingga Turkmenistan yang begitu makmur namun terisolasi dari dunia, seperti hidup di negara khayalan. Tak perlu bekerja, tak perlu gaji dan propaganda serta doktrin dari sang pemimpin Turkmenbashi yang membuat warganya puas dan bangga akan tanah airnya sendiri.

Melalui garis batas, agustinus mengajak pembaca memaknai kembali tentang nasionalisme. Dari perjalanannya di lima negeri Asia tengah yang berakhiran Stan, saya belajar beragam kultur, agama, demografis hingga sisi humanis tiap warga negara. Betapa ada banyak hal yang begitu saya syukuri terhadap tanah air Indonesia setelah menikmati perjalanan Agustinus di buku ini. Terkadang, boleh jadi kita menganggap negeri lain lebih indah dan seperti surga, tanpa menyadari bahwa surga bisa dibangun di tanah kita sendiri.

Betapa beruntungnya saya, menemukan buku ini di Gramedia Sale Botani Square Bogor seharga 15 ribu rupiah. Oh ya, agak mengharukan ketika saya membaca bagian penutup buku yang dituliskan oleh penulis, bahwa buku ini dipersembahkan untuk mamanya yang sakit kanker, tanpa sempat melihat terbitnya buku ini.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

05 April, 2015

[Review buku] Surga yang tak dirindukan

Judul: Surga yang tak dirindukan
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: AsmaNadia Publishing House
Dimensi: xii + 308 hlm, 20.5 cm, cetakan keempat Juni 2014
ISBN: 978 602 9055 21 4

"Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak cukup membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?"

Apa artinya rumah yang selama ini kerap dianggap sebagai surga, jika tak lagi menjadi pelabuhan yang ramah dan tak lagi dirindukan oleh pemiliknya? Begitulah suasana yang ditampilkan dalam novel ini. Isu poligami yang diangkat dari sisi agama dan kultural di Indonesia. Memotret tiap rasa dari semua sisi: sisi suami, sisi "korban"--dalam hal ini istri pertama-dan sisi perempuan pemilik istana kedua.

Melalui tokoh Arini, seorang istri yang soleha, cerdas, berkarir sebagai penulis, membaktikan diri pada suami. Sosok yang mendekati sempurna, dikaruniai tiga anak yang sehat, dan pernikahan yang harmonis selama sepuluh tahun. Tak pernah menyangka bahwa suaminya, Pras, akan menikah lagi. Alasan apa yang membuat Pras rela membangun istana kedua bersama Mei Rose, wanita peranakan Cina, mualaf dan memiliki satu anak, sementara kehidupan mereka berdua begitu sempurna bagai di negeri dongeng. Seharusnya segalanya berjalan indah, happily ever after.

Membacanya, mengingatkan saya pada kalimat "It's too good to be true, it means not true." Juga kalimat bijak lainnya "Sesuatu yang terlalu... seperti terlalu baik, menandakan bahwa itu tidak baik." Yaa... hidup yang terlalu sempurna seharusnya hanya ada di surga.

Menarik sekali, ketika saya membaca pengantar dari penulis dan ragam komentar dari pembaca buku di fanpage asma nadia mengenai tanggapan "Apa yang akan kamu lakukan jika ayah/suami/abang/anak lelakimu menikah lagi?"

Pro dan kontra nampak jelas di sana. Saya sendiri, tak dapat membayangkan apa keputusan yang akan saya ambil dalam posisi tokoh Arini. Ending yang dibuat oleh mbak Asma pun begitu menggantung. Membebaskan pembacanya menginterpretasikan sendiri, apakah tokoh utama pro atau kontra terhadap poligami.

Ah... isu ini begitu rumit. Sebab, kita berbicara dengan perasaan. Meski memaksa logika turut mewarnainya, akan tetap ada hati yang limbung, terluka, teriris perih bahkan kehilangan identitas.

Baiklah, saya beri 4 dari 5 bintang untuk novel dengan bahasa yang ringan dicerna ini.

Meta morfillah

04 April, 2015

[Review buku] Menata spiritual muslimah

Judul: Menata spiritual muslimah
Penulis: Ninih Muthmainnah
Penerbit: Tasdiqiya Publisher
Dimensi: xi + 206 hlm, cetakan kedua Juli 2012
ISBN: 978 602 18495 0 7

Buku ini dihadiahkan oleh salah seorang teman lelaki di bulan Agustus 2012. Namun baru saya baca hari ini, karena baru saja dikembalikan oleh kerabat yang meminjamnya.

Buku ini begitu simpel, bahasanya mudah dicerna dan to the point. Memang judulnya diperuntukkan bagi muslimah, tapi lelaki pun bisa membacanya. Sebab  menurut saya ulasan dalam buku ini masih bersifat general.

Terbagi menjadi 5 bab, Teh Ninih mengawali dengan bab "Menguatkan keyakinan pada Allah SWT" dengan sub tentang tauhid, sabar dan shalat, lalu pendalaman terhadap wahyu pertama yakni Iqra'.  Berlanjut ke bab "Meraih ampunan Allah SWT" dengan sub tentang taubat, memohon keselamatan imam dan kesucian saat kita kembali fitri di hari raya. Bab ketiga "Menenteramkan jiwa dengan ibadah" dengan sub tentang ikhlas, bahaya riya terhadap amal dan berbagai amalan yang disukai Allah. Selanjutnya bab "Mengisi hidup dengan akhlak mulia" dengan sub tentang pemanfaatan waktu dan harta, silahturrahim, menjaga lisan, pandangan dan pendengaran serta menjadikan rasul sebagai teladan. Lalu bab terakhir, yang membuat buku ini dikhususkan untuk muslimah, bab "Mengoptimalkan fitrah wanita" dengan sub tentang karir, fitrah wanita, mendidik anak, keutamaan ibu dan belajar dari sosok mulia seperti Khadijah dan Aisyah.

Buku ini cocok untuk mengingatkan kembali diri kita akan hakikat muslimah sebenarnya. Bisa dibaca di sela waktu sibuk atau pun saat santai, sebab bahasanya begitu halus dan mudah dicerna. Tak membuat kening berkerut-kerut.

Saya memberikan 3 dari 5 bintang

[Review buku] The God Of Small Things

Judul: The God Of Small Things (Yang Maha Kecil)
Penulis: Arundhati Roy
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Dimensi: xxxii + 420, 13.5 x 18.5 cm, cetakan kelima Mei 2009
ISBN: 978 979 461 402 0

Berlatar belakang sebuah desa di india, novel ini mengangkat banyak isu seperti gender, seksualitas, SARA, sejarah dan budaya pengklasifikasian kelas/strata di India. Secara cerita, novel ini mengalir tanpa ada twist, sebab semuanya telah ditampilkan di awal. Namun, semakin membaca kelanjutannya, kita akan dibawa maju mundur. Yaa... novel ini memiliki alur maju mundur yang membuat pembacanya harus konsen agar tak kehilangan pegangan, sedang ada di fase manakah saat membacanya. Semua cerita dipusatkan pada kedatangan hingga kematian Sophie Mol, anak Paman Chackoo yang berasal dari London. Satu hari yang mengubah segalanya.

Melalui sudut pandang Rahel kecil dan Rahel dewasa, serta sudut pandang ketiga, novel ini memusatkan cerita pada sebuah keluarga terhormat di Ayemenem. Mamachi, nenek Rahel yang terbiasa disakiti oleh suaminya, Papachi. Chackoo, paman Rahel yang merupakan lulusan Oxford, menyuarakan kesetaraan namun meniduri para pekerja wanitanya. Baby Kochamma, bibi Rahel yang mengalami kandasnya cinta pertama sehingga mengubah agamanya. Ammu, ibunda Rahel yang jatuh cinta pada Velutha dari kasta rendahan, The Untochable. Serta Rahel dan Estha, saudara kembarnya yang pernah mengalami pelecehan seksual di gedung bioskop.

Menurut saya, novel ini begitu berat. Sarat akan banyaknya pengungkapan akan keadaan India di masa itu. Pantas saja, bila di negaranya sendiri, novel ini begitu dihujat dan dilarang terbit. Namun, sebuah karya yang bagus tetaplah bersinar. Novel debut pertama Arundhati Roy ini memenangkan sebuah penghargaan literasi bergengsi.

Secara isi, gaya bahasa, saya agak menemukan kesulitan dalam menangkap makna-makna kalimat atau frase yang dihidangkan. Mungkin, karena memang ada beberapa kata yang sulit dicari padanannya dalam bahasa kita, sehingga agak menghilangkan estetikanya.

Secara tampilan, selayaknya buku sastra lainnya. Novel tebal ini, kurang cantik dikemas. Font yang digunakan begitu rapat, penuh, dan membuat ngantuk. Entahlah, saya masih saja mengharapkan novel-novel sastra dikemas dengan gaya kekinian, yang membuat orang tertarik membacanya. Tidak seperti buku teks yang langsung menjemukan dan harus mengumpulkan niat lebih untuk membacanya... hahaha.

Secara keseluruhan, saya memberi 4,5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

03 April, 2015

[Review buku] Kota-kota imajiner

Judul: Kota-kota imajiner
Penulis: Italo Calvino
Penerbit: Fresh Book
Dimensi: v + 185 hlm, cetakan I April 2006
ISBN: 979 98459 9 8

"Jika Anda menyukai 'Mimpi-mimpi Einstein'nya Alan Lightman, maka Anda harus membaca novel ini. Karena ialah pelopornya." Editor Fresh Book.

Yup, gaya berceritanya seperti novel Alan Lightman. Saya berkata seperti ini karena saya lebih dulu membaca novel Alan, sebelum membaca novel ini.

Bagaimana yaaa... tidak mudah menjelaskan novel ini. Saya sudah berusaha untuk membuat reviewnya dengan cara saya yang biasa, namun rasanya tetap kurang pas. Berkali saya baca ulang, saya hanya merasa terhanyut pada keindahan bahasa puitisnya, juga gambaran kota yang terkadang memiliki sifat seperti manusia, surealis. Kemustahilan imajinasi bertemu dengan pasangan sempurnanya, kefasihan bercerita. Beginilah rasanya. Tak sadar kamu dibuai cerita di dalamnya, meski akal agak protes, karena surealisnya kadang tak masuk logika.

Pada intinya, tokoh Marco polo sebagai sang pencerita beragam kota mengelompokkan menjadi:
1. Kota-kota & kenangan
2. Kota-kota & keinginan
3. Kota-kota & tanda-tanda
4. Kota-kota kecil
5. Kota-kota niaga
6. Kota-kota & mata-mata
7. Kota-kota & nama-nama
8. Kota-kota & kematian
9. Kota-kota & langit
10. Kota-kota berlanjut
11. Kota-kota tersembunyi

Masing-masing kelompok memiliki 5 cerita. Jadi, totalnya ada 55 cerpen tentang kota yang berbeda.

Saya beri 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

02 April, 2015

[Review buku] Renjana dalam bejana

Judul: Renjana dalam bejana
Penulis: Nabila Budayana
Penerbit: Nulisbuku.com
Tahun: 2013

Buku ini dihadiahkan pada saya saat di Yogya. Lina, gadis yang memberikan buku ini, saya curiga bahwa dia pun mengenal cukup baik penulis buku ini.

Buku ini adalah kumpulan cerpen yang terdiri dari 13 kisah. Satu di antaranya berjudul "Renjana dalam bejana". Secara isi, saya suka dengan diksi dan metafora yang digunakan. Namun, ada beberapa cerita yang tidak saya pahami maksudnya. Interpretasi terlalu bebas, dengan gaya metafora sang penulis membuat saya agak lama mencerna tiap kisah. Bukunya sih tipis, tapi dahi saya berkerut lama memikirkan "Maksud cerita ini apa? Tahu-tahu sudah selesai, tapi saya bingung."

Saya sadari, bahwa buku ini diterbitkan self publishing. Bukan mendiskreditkan self publishingnya, tapi di buku ini saya agak kecewa karena editannya yang kurang rapi. Ada beberapa EyD yang kurang tepat, juga typo yang cukup fatal karena mengubah makna, letak preposisi dan prefiks kata di- yang kurang tepat, serta penulisan alinea. Saya menyayangkan, kualitas self publishing seharusnya tetap dijaga dengan self edit, minimal. Sebab hal tersebut sungguh mengganggu dan sempat menyurutkan minat saya melanjutkan baca buku ini.

Berikut cuplikan 13 cerpen tersebut:

1. Kawan dan malam
Menceritakan seorang gadis yang berkawan dengan malam hingga ia dewasa.

2. Perjalanan kenangan
Menceritakan perjalanan kenangan seorang lelaki yang menanti kekasih wanitanya hingga menua di stasiun.

3.Tiga wanita dan toko buku kecil
Menceritakan keterkaitan masa lalu, masa kini dan masa depan tiga wanita di sebuah toko buku kecil, disebabkan ulah seorang lelaki.

4. Berawal dari kepala
Menceritakan tentang ilusi rumah kenangan yang ada di kepala seorang cucu wanita.

5. Kuteks hijau
Menceritakan tentang seorang wanita, sejarah kelahirannya dan kuteks hijau yang selalu diingatnya.

6. Beri tempat semanggiku
Menceritakan perjuangan seorang penjual pecel semanggi di tengah kota dan roda zaman yang menggilas.

7. Sampul ungu tua
Menceritakan kisah cinta sejati nenek dan kakek yang tak berujung pernikahan, namun tetap awet sebagai cinta pertama mereka.

8. Melodi tanah air dalam kotak mimpi
Menceritakan pilihan jalan hidup sebagai musisi.

9. Semu merah pada wajah
Menceritakan seorang wanita yang bersemu merah dan mampu menaklukkan hati lelaki mana pun, namun sebenarnya banyak kepahitan yang tersembunyi di balik semu wajahnya.

10. Sepasang payung berdebu
Menceritakan kisah sepasang pemain sirkus yang saling memendam rasa hingga menua.

11. Renjana dalam bejana
Menceritakan seseorang yang siap dan telah mencintai kematian, lalu menjadi gila saat menghadapi kematian orang terdekatnya.

12. Encore
Menceritakan dua tokoh wanita lintas waktu dan zaman yang terhubung dalam satu tempat.

13. Menemukan manusia
Menceritakan sepasang kekasih yang mencoba menjadi lebih manusiawi dan pasrah pada takdir, tanpa ketergantungan terhadap teknologi.

Secara keseluruhan, saya apresiasi 3 dari 5 bintang.

Meta morfillah

Text Widget