Pages

06 January, 2014

Cinta tak mungkin berhenti

Tak ada kisah tentang cinta
yang bisa terhindar dari air mata
namun kucoba menerima, hatiku membuka
siap untuk terluka

Ur menyisir rambut panjangnya dengan jarinya asal. Ia sudah tak peduli lagi akan penampilannya. Berita yang ia terima barusan sungguh mengacaukan pikirannya. Xanadu akan menikah di bulan purnama. Berarti hanya tinggal dua minggu lagi. Ur kecewa. Sungguh kecewa. Baru ia menyadari betapa bodohnya ia selama ini. Membuka hati pada lelaki utara itu. Padahal sudah banyak teman dan keluarga yang memperingatkannya. Belum pernah dalam sejarah Negeri Lemanyi ada pernikahan antara suku utara dan suku selatan. Perbedaan mereka begitu mencolok. Suku utara yang jauh lebih beradab dan mewah selalu menganggap suku selatan seperti bakteri yang harus dihindari. Sedangkan suku selatan selalu menganggap suku utara adalah banteng yang congkak. Perbedaan alam tempat tinggal mereka memang begitu mempengaruhi. Suku utara yang tinggal di darat yang sudah disulap menjadi kota, lebih hedonis dan necis. Suku selatan yang tinggal di hutan yang masih perawan dan tertutup dari lingkup luar lebih mandiri, namun sayangnya menutup diri dari aksara. Sehingga kebanyakan penduduknya buta huruf. Aah.. Ur terlalu naif, menyangka semua perbedaan itu bisa melebur. Ia berpikir Xanadu berbeda dengan lelaki utara lainnya. Sikap santun, ramah dan tidak pernah meremehkan dirinya sebagai suku selatan--karena Ur salah satu dari sedikit orang suku selatan yang dapat membaca--membuat Ur mau membuka hati pada lelaki itu.

cinta tak mungkin berhenti
secepat saat aku jatuh hati
jatuhkan hatiku kepadamu
sehingga hidupku pun berarti

Jatuh cinta itu mudah, yang sulit adalah berhenti mencintainya. Itulah yang Ur rasakan saat ini. Ketika ia menjatuhkan hatinya pada Xanadu, ia merasa hidupnya jauh lebih berarti. Seakan masa depan cerah tergenggam dalam kepalan tangannya. Muluk memang, tapi selalu ada harapan pernikahan mereka kelak akan menyatukan suku utara dan selatan yang selama ini terpecah. Walau mereka hanya rakyat jelata, namun hal itu pasti tetap dipandang suatu hal hebat oleh Kapefa, penguasa Negeri Lemanyi. Namun hubungan yang dimulai ketika pasang perbani harus kandas menjelang purnama. "Xanadu, teganya kau," Ur terisak lirih.

cinta tak mudah berganti
tak mudah berganti jadi benci
walau kini aku harus pergi
tuk sembuhkan hati

Benci? Seharusnya Ur membenci Xanadu demikian hebat. Namun, ketika cinta memenuhi sel-sel tubuhmu, kata benci pun tak mampu melintas dalam otakmu. Seperti itulah Ur sekarang. Menyedihkan sekali bagi yang melihatnya. Gadis tercantik, pujaan lelaki kaum selatan yang tersakiti. Ur tak sanggup berada di rumahnya, menghadapi berpuluh pasang mata yang menyiratkan keprihatinan atas nasibnya. Ur memilih pergi. Keluar dari Negeri Lemanyi. Pergi ke Benua Besar, mencari peruntungan barunya di sana dan melupakan kisah cintanya di sini.

walau seharusnya bisa saja
dulu aku menghindar
dari pahitnya cinta
namun kupilih begini
biar kuterima
sakit demi jalani cinta

Hidup akan terus berjalan, dengan atau tanpa Xanadu di sampingnya. Ur tak pernah menyesali keputusannya. Ia yang memilih Xanadu. Ia yang sadar dan menyerahkan hatinya walau bisa saja ia menghindar. Semua pilihan itu memiliki konsekuensi. Ur menyadari konsekuensinya yang salah saat ini. Ia menerima kesakitan atas pengkhianatan Xanadu padanya. Demi cinta, dosa termanis di dunia ini. Berangkatlah Ur dengan kepastian, menuju Benua besar.

*cerita lirik lagu "cinta tak mungkin berhenti"- tangga*
*beberapa nama terinspirasi dari novel Nibiru-Tasaro GK*

meta morfillah

02 January, 2014

[Review Buku] 7 Habits

Judul : The 7 Habits of Highly Effective People
Pengarang : Stephen R. Covey
Penerbit: Binarupa Aksara cetakan pertama 1997
Genre : pengembangan diri/non fiksi
Jumlah halaman: 345

Buku ini merupakan buku keenam (semoga saya tidak salah) dari karya Stephen Covey. Tapi baru karya ini yang saya baca, bahkan sudah ada penyempurnaannya menjadi 8 habits (habits terakhir tentang menemukan suara). Namun saya tetap memilih mereview buku ini, karena begitu berbekas dalam benak saya dan dipakai dalam training, bahkan dilisensi oleh salah satu kompetitor perusahaan tempat saya bekerja. Berikut paparan saya mengenai 7 kebiasaan manusia yang efektif.

Oke, dimulai dari daftar isi. Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, berjudul paradigma & prinsip merupakan prolog. Membahas tentang betapa pentingnya sebuah sudut pandang (paradigma), yang biasanya mempengaruhi keberhasilan hidup manusia. Paradigma dipengaruhi pengkondisian yang berdampak pada persepsi. Diilustrasikan melalui sebuah gambar (yang umum sekali). Dari sebuah gambar itu, dapat ditangkap dua hal, yaitu wanita berusia 20 tahun dan wanita berusia 70 tahun. Hal ini membuktikan bahwa paradigma Anda dipengaruhi pengkondisian (dari sudut mana Anda melihat) dan menghasilkan sebuah persepsi yang berbeda. Hal ini bukan masalah logis, tetapi psikologis ketika dua orang dapat melihat hal yang sama, tidak saling sepakat, namun sama-sama benar (h.14).

Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan kebiasaan. (Aristoteles)

Bagian dua, berjudul Kemenangan Pribadi, memuat tiga kebiasaan. Kebiasaan pertama, “Jadilah proaktif” membahas tentang mengubah pribadi dari reaktif (bereaksi sebagaimana stimulus diberikan) menjadi proaktif (mampu memilih dan menetapkan reaksi yang diinginkan terhadap stimulus. Memiliki kontrol kehidupan). Dimulai dari bahasa yang digunakan. Salah satu contoh bahasa reaktif “ia membuat saya begitu marah.”

Kalimat di atas menandakan bahwa emosimu tidak berada dalam kontrol dirimu. Emosimu mampu dikendalikan oleh orang lain. Seharusnya, bersikap proaktif dengan berkata, “Saya mengendalikan perasaan saya sendiri.”

Banyak sekali di antara kita yang menyalahkan kekuatan luar—orang lain, keadaan, bahkan zodiak—untuk situasi mereka sendiri. (h.69)

Mengetahui bahwa kita bertanggung jawab—mampu berespons—merupakan dasar bagi efektivitas dan kebahagiaan kita sendiri. (h.84)

Kebiasaan kedua, “merujuk pada tujuan akhir”. Mulailah segala sesuatu dengan akhir di dalam pikiran. seperti apa Anda ingin dikenang semasa hidup? Buat kriteria dasar dari sekarang. Lalu berfokuslah pada tujuan akhir tersebut. Dijelaskan pula dalam buku ini, ada 10 pusat kehidupan yang biasa dijadikan tujuan akhir manusia. Kesepuluh pusat itu adalah, pasangan, keluarga, uang, kerja, barang/milik, kesenangan, teman, musuh, gereja (organisasi agama), dan diri sendiri. Namun, bila Anda menggunakan salah satu itu sebagai pusat hidup Anda, maka tidak ada yang sejati, semua itu adalah pusat-pusat alternatif. Sedangkan pusat yang sejati adalah prinsip (yang mengandung pedoman, kebijaksanaan, dan daya).

Kebiasaan ketiga, "dahulukan yang utama”. Pernah saya bahas, tips empat kuadran waktu di grup. 

Kuadran 1: penting & mendesak, seperti krisis, proyek dengan deadline yang mendesak.
Kuadran 2: penting & tidak mendesak (kuadran efektif), seperti pengembangan hubungan, rekreasi.
Kuadran 3: tidak penting & mendesak,  seperti interupsi telepon, beberapa meeting.
Kuadran 4: tidak penting & tidak mendesak, seperti aktivitas menyenangkan, pemboros waktu.

Anda harus bersikap proaktif untuk mengerjakan kuadran II, karena kuadran I & III mengerjakan Anda. Mengapa? Karena seringkali urusan mendesak/genting akan menghabiskan waktu Anda & membuat stress, walau masalah tersebut tidak penting. Bila ingin menjadi manusia efektif, buatlah waktu Anda berada di kuadran II selagi bisa.

Dari tiga kebiasaan awal, bila dipraktikkan akan mengubah kita menjadi manusia yang ketergantungan menjadi manusia mandiri. Inilah yang dinamakan kemenangan pribadi. See… semua dimulai dari dirimu.

Bagian tiga, berjudul Kemenangan Publik, memuat tiga kebiasaan. Kebiasaan keempat, “berpikir menang-menang”. Terdapat enam paradigma interaksi manusia (berkaitan dengan negosiasi) yaitu menang/menang, menang/kalah, kalah/menang, kalah/kalah, menang, dan menang/menang atau tidak sama sekali. Pilihan mana yang terbaik? Jawabannya “Tergantung”. Untuk situasi pertandingan sepak bola yang ingin Anda menangkan, maka situasi menajdi Menang/kalah. Tapi untuk situasi hubungan yang menurut Anda persoalannya tidak penting dibandingkan harga hubungan tersebut, mungkin Anda akan berada di posisi kalah/Menang untuk meneguhkan orang lain. Prinsip menang-menang merupakan kepemimpinan antar pribadi (h. 212), dimulai dengan karakter, bergerak pada hubungan dan mengalirlah sebuah kesepakatan. Untuk memperoleh solusi menang-menang, ikutilah 4 proses berikut:

  1. Lihat masalahnya dari sudut pandang pihak lain. Usahakan benar-benar untuk mengerti dan peduli daripada yang dapat mereka lakukan sendiri.
   2. Kenali persoalan pokoknya (bukan posisi) yang terlibat.
   3.  Tentukan hasil apa yang merupakan solusi yang dapat diterima sepenuhnya.
   4.  Kenali pilihan-pilihan baru yang mungkin diambil untuk mencapai hasil-hasil itu.

Kebiasaan kelima, “berusaha dimengerti terlebih dahulu, baru dimengerti”. Hal ini memerlukan perubahan paradigma yang sangat mendalam. Kita biasanya berusaha lebih dahulu untuk dimengerti. Kebanyakan orang tidak mendengar dengan maksud untuk mengerti, mereka mendengar dengan maksud untuk menjawab. Empat respon autobiografis manusia dalam mendengarkan ialah mengevaluasi (kita setuju atau tidak setuju), menyelidik (kita mengajukan pertanyaan dari kerangka acuan kita sendiri), menasihati (memberikan nasihat berdasarkan pengalaman kita sendiri) dan menafsirkan (berusaha memahami dan menjelaskan motif orang berdasarkan motif kita). Dibutuhkan keterampilan mendengar empatik yang harus terus diasah. Dan kuncinya, adalah “baru dimengerti”. Setelah kita berusaha mengerti, maka kita harus mengungkapkan bagaimana kita ingin dimengerti. Unik ya? Ada hubungan timbal balik. Tidak melulu kita yang mendengarkan/mengerti orang lain saja, melainkan kita pun dimengerti. Seimbang bukan?

Kebiasaan keenam, “wujudkan sinergi”. Alam semesta bersifat sinergistik, dan menghargai perbedaan yang ada. Anda dapat menjadi sinergistik dalam diri Anda, bahkan di tengah lingkungan yang bermusuhan. Tidak usah memasukkan hinaan ke dalam hati, luaskan perspektif Anda. Gunakan keberanian Anda dalam kerja tim (sinergis) untuk menjadi terbuka, mengekspresikan gagasan perasaan & pengalaman Anda dengan cara yang akan mendorong orang lain menjadi terbuka pula. Anda dapat menghargai perbedaan dalam keanekaragaman tanpa perlu setuju dengan mereka, anda hanya meneguhkan mereka. Carilah selalu alternatif ketiga ketika pilihan yang ada hanya benar dan salah.

Dari kebiasaan keempat hingga keenam, Anda berubah dari makhluk mandiri menjadi makhluk “saling” tergantung. Maka dari kemenangan pribadi, anda bergerak menuju kemenangan publik.

Bagian empat sekaligus penutup, adalah kebiasaan terakhir yaitu asahlah gergaji.

“Kadang ketika saya mempertimbangkan betapa luar biasanya konsekuensi dari hal-hal kecil… Saya tergoda untuk berpikir, sebenarnya tidak ada hal-hal kecil.” Bruce Barton (h. 287)

Kebiasaan ketujuh ini adalah kapasitas produksi pribadi Anda. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang Anda miliki, yaitu diri Anda (h. 288).

Andaikan saja Anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang sebatang pohon di hutan.
“Apa yang sedang Anda kerjakan?” Anda bertanya.
“Tidak dapatkah Anda melihat? Saya sedang menggergaji pohon ini,” jawabnya tidak sabar.
“Anda terlihat lelah. Berapa lama Anda telah mengerjakannya?”
“Lebih dari 5 jam, dan saya lelah. Ini benar-benar kerja keras!” serunya.
“nah, mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah gergaji itu? saya yakin Anda dapat bekerja lebih cepat setelah mengasahnya,” ucap Anda.
“Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji. Saya terlalu sibuk menggergaji!”

Itu merupakan salah satu ilustrasi mengenai kebiasaan ketujuh yaitu “mengasah gergaji”, hal mana merupakan perumpamaan dari diri Anda. Ketika diri Anda sudah terlalu lelah, maka lakukanlah pembaruan meliputi empat hal, yaitu fisik (olahraga, nutrisi, manajemen stres), mental (membaca, visualisasi, perencanaan, menulis), spiritual (penjelasan nilai & komitmen, studi & meditasi) dan sosial/emosional (pelayanan, empati, sinergi, rasa aman intrinsik).

Tuhan bekerja dari dalam ke luar. Dunia bekerja dari luar ke dalam. Dunia akan membentuk manusia, tapi Tuhan dapat mengubah sifat manusia. Ezra Taft Benson.

Kelebihan buku ini: Gaya bahasanya tidak terlalu kaku walau terkadang menggunakan istilah “agak tinggi”, menggunakan beragam kasus, ilustrasi dan cerita-cerita yang memudahkan pembacanya paham.

Kekurangan: lebih kepada fisik buku ini, masih terkesan biasa dan standar. Saya sih berharap dibuat dari kertas kece seperti bukunya Rhenald Kasali “recode your DNA”.

      4.5   bintang dari 5 bintang.

Thanks,

meta morfillah

Ketidakwarasan padaku

Ketidakwarasan Padaku
Membuat Bayangmu Selalu Ada
Menenteramkan Malamku
Mendamaikan Tidurku

Ragil tahu, hal ini adalah sebuah ketidakwarasan akut. Jika dibiarkan berlarut-larut, mungkin ia akan mencapai taraf gila yang sebenarnya. Tapi baginya, kata-kata "move on" yang terdiri dari dua kata dengan total tujuh karakter itu begitu sulit. Jika pilihannya terperangkap pada masa lalu yang kau imani atau melangkah pada masa depan yang tiada pasti, Ragil tetap memilih masa lalu. Walau sudah jelas kenyataannya, lelaki yang ia imani sebagai jodohnya itu telah berlalu pergi. Seperti itulah, iman yang lebih dalam dibandingkan kata yakin, yang ia pilih untuk menggambarkan kesulitannya menghapus jejak lelaki itu. Setiap malamnya, Ragil akan menghidupkan bayang lelaki itu, yang kemudian akan mengantarkannya pada lelap dan damai tidurnya.

Ketidakwarasan Padaku
Membuat Hidupku Lebih Tenang
Aku Takkan Sadari
Bahwa Kau Tak Lagi Di Sini

Bukankah ketidakwarasan namanya, jika kau tak lagi mampu membedakan kenyataan dan bayangan? Ragil masih terpaku pada bayang masa lalunya. Ragil menolak kenyataan bahwa lelaki itu tak lagi di sini. Untuknya. Bila kenyataan membuat ia sakit, bukankah lebih baik ia bersemayam pada kesemuan bayang-bayang? Mengapa mereka semua memarahinya? "Sebenarnya apa salah diriku? Aku tak pernah merecoki urusan mereka," gumam Ragil.

Aku Mulai Nyaman
Berbicara Pada Dinding Kamar
Aku Takkan Tenang
Saat Sehatku Datang

Perlahan, di bulan-bulan mendatang, Ragil semakin nyaman di kamarnya saja. Bila tidak ada keperluan mendesak, ia lebih memilih berada di kamarnya. Berbicara dengan dinding yang setia mendengarkan dan tak pernah membantahnya. Tak berisik, seperti suara-suara di luar sana yang menyuruhnya untuk move on. Tahu apa suara-suara itu tentang keyakinannya yang terbentur kenyataan pahit? Selangkah lagi! Itulah yang tak bisa ia terima. Berdamai dengan keadaan, yang seharusnya tak menghalanginya meraih kebahagiaan. Dan saat suara-suara itu terkadang berhasil membuat ia kembali pada kewarasannya, ia menjadi tak tenang. Tertawa, menangis, berbisik lirih, lalu menangis. Hingga lelah, sendiri. Tidak! Ia tak mau seperti itu! Ia ingin kembali dalam ketenangannya, dengan menggadaikan kewarasannya.

Ketidakwarasan Padaku
Selimut Tebal Hati Rapuhku
Berkah Atau Kutukan
Namamu Yang Kusebut

Mungkin, ketidakwarasan itu pada Ragil telah menjadi selimut tebal bagi hatinya yang rapuh. Tak peduli pada sekitar, nama lelaki itu selalu ia sebut dalam doa, ucapan serta tindakannya. Bertemu dengan lelaki itu, berkah ataukah kutukan bagi Ragil?

Suara Hati Takkan Mati
Jika Jiwa Terus Menari Dan Bermimpi

"Mengimani dia adalah jodohmu, walau dia telah berlalu begitu lama darimu,"
Begitulah suara hati Ragil. Tak pernah mati atau berganti redaksi. Maka, suatu ketika, bila kau bertemu Ragil di jalan, pasar atau teras rumahnya, jangan lagi kau hakimi dia. Biarkan saja ia menceracaukan nama lelakinya. Biarkanlah... Bila hanya itu satu-satunya cara membuat jiwanya terus menari dan bermimpi.


*cerita lirik lagu "ketidakwarasan padaku"- sheila on 7*

meta morfillah

Jatuh cinta itu biasa saja

Kita berdua hanya berpegangan tangan
Tak perlu berpelukan

My dear..., Saat kamu jatuh cinta, apakah harus berpelukan? Aku dan dia tak pernah. Kami hanya saling berpegangan tangan. Apakah tanpa pelukan, kami tak saling jatuh cinta? Tentu tidak, dear..., Jatuh cinta itu biasa saja. Tak harus show off ketika sedang jatuh cinta. Begitu takutnyakah dirimu berjauhan dengan dia? Takut kehilangan jika tak kamu peluk dia? Percayalah padaku dear, tanpa pelukan..., Semua orang tetap tahu, kalian sedang jatuh cinta. Mata kalian membocorkannya.

Kita berdua hanya saling bercerita
Tak perlu memuji

My dear..., Aku dan dia hanya saling bercerita, jarang memuji. Tapi kami saling jatuh cinta. Apakah harus menghadirkan pujian ketika kamu jatuh cinta? Saat kalian begitu yakin, bahwa kalian saling memuji--walau tak pernah diucapkan dengan sering--dalam mendengarkan cerita pribadi masing-masing.

Kita berdua tak pernah ucapkan maaf
Tapi saling mengerti

My dear..., Aku dan dia pernah salah. Tapi kami sulit mengucap maaf. Apakah tandanya kami tidak cinta lagi? Tidak dear..., Ada kata yang memang sulit diucapkan, namun mudah dirasakan. Seperti "maaf", walau tak terucap, kami mengerti bagaimana meminta maaf dari perbuatan kami. Kami tetap saling jatuh cinta, tanpa kehadiran "maaf".

Kita berdua tak hanya menjalani cinta
Tapi menghidupi

Jatuh cinta itu biasa saja. Sangat biasa. Karena cinta bukanlah hal yang dapat kau pisahkan dari keutuhan hidupmu. Maka ketika bercinta, kami tidak sekadar menjalani cinta... Tapi kami menghidupi. Yaa... Menghidupi hati, jiwa, pikiran kami dan sekitar kami. Cinta kami yang dahsyat, tidak akan tertampung hanya oleh kami berdua. Kami membaginya pada dunia. Cinta kami menghidupi... Dunia.

Ketika rindu, menggebu gebu,
kita menunggu

Tak jarang, jarak baik ruang dan waktu memaksa kami berpisah. Sudah tentu, di mana ada jarak, di sana tertabung rindu. Semakin lama, semakin menggebu-gebu. Apakah dia harus tahu? Yaa. Tapi, apakah harus saat itu juga? Tidak. Kami menunggu. Seperti awan hujan menunggu titah sang Tuhan, sebelum mengucurkan airnya. Membasahi tanah yang kering. Pun rindu kami. Menanti waktu yang tepat untuk membasahi jiwa kami yang dahaga.

Jatuh cinta itu biasa saja
Saat cemburu, kian membelenggu, cepat berlalu

Tak jarang pula, kehadiran pribadi baru atau sepenggal kisah lama membuat kami saling cemburu. Membelenggu pikiran kami, untuk berfokus padanya dan melupakan masa kini. Namun, hiraukanlah, dear. Segera berlalu.. Karena setiap kita memiliki masa lalu. Dan jatuh cinta dengannya, adalah menapaki masa depan bersama. Maka masa lalu, bukan bagianmu.

Jatuh cinta itu biasa saja
Jika jatuh cinta itu buta
Berdua kita akan tersesat
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap

Maka, dear..., Saat kamu jatuh cinta, ketahuilah.. Jatuh cinta itu biasa saja. Bila kau buta karenanya, maka tak usah takut. Kalian yang jatuh cinta dan buta karenanya, akan saling mencari dalam kegelapan itu. Mungkin tersesat, karena mata kalian sama gelap. Mungkin karena terlalu lama gelap, maka hati kalian pun akan gelap. Tapi percayalah dear, pencarian itu akan menemukan terangnya. Jika tidak sekarang, nanti. Pasti nanti. Dan kalian tak akan pernah sendiri. Meski dalam kegelapan.

Jatuh cintalah dengan biasa saja, my dear daughter... :)

*cerita lirik lagu "Jatuh cinta itu biasa saja" - Efek Rumah Kaca


Meta morfillah

Senja Membunuh

Satu senja membunuh
Angin lukai nadi separuh

Siapa bilang senja identik dengan romantisme? Bagi Alan, senja selalu menyakitkan. Membunuh dirinya perlahan. Angin yang berembus kala senja adalah senjata paling ampuh untuk menggoreskan luka. Luka batin, tepatnya. Senja tidak pernah lagi indah atau pun romantis sejak dua tahun lalu.

Ingatan tak membuat lebih mudah
Namun lukanya tak mengalir darah

Pernah Alan membaca sebuah kalimat, entah di mana. Bahwa ingatan terkadang menjadi sebuah kutukan. Kutukan selama kau ingat. Selama hidupmu, ada hal-hal yang berkali-kali ingin kau matikan. Karena hal itu begitu menyakitkan, namun semakin kau lupakan, semakin kau ingat. Itulah yang terjadi pada Alan. Ingatan tak pernah membuat hidupnya menjadi lebih mudah. Ingatan begitu melukai, seperti senja. Namun luka yang mereka hadirkan tak mengalirkan darah. Sehingga tak ada yang tahu, bahwa Alan begitu terluka. Luka dalam.

Pandangan masa lalu
Jelas di depan mataku
Detil tergambar cepat
Berdiriku di lututku

Mengapa senja begitu menyakitkan bagi Alan? Baiklah, kita kembali ke dua tahun lalu. Di suatu senja, di bibir pantai yang masih perawan. Alan dan wanita itu menikmati sunset yang romantis. Diiringi gitar yang dipetik Alan, wanita itu menyenandungkan lagu "Kemesraan" yang dipopulerkan Iwan Fals. Begitu sempurna. Senja, pantai, gitar, dan orang terkasih. Alan ingin menyatakan perasaannya pada wanita itu. Namun ungkapan itu tak pernah sampai pada pemiliknya. Alan terlebih dahulu dibuat kaget oleh wanita itu. Wanita yang telah menemaninya selama lima tahun. Menjadi sahabat terbaiknya. Wanita itu menyimpan kabar yang mengejutkan. Ia mengabarkan akan menikah. Hal yang lebih mengejutkan kedua, ia akan menikah dengan lelaki yang begitu dikenal Alan. Lelaki itu adalah omnya--secara silsilah--yang hanya berselisih usia lima tahun dengan Alan. Sejak kabar itu sampai pada telinganya, maka senja telah kehilangan rona di mata Alan. Yang tersisa hanya kemarahan, hingga saat ia berdiri di atas lututnya, lutut itu bergetar hebat. Namun sebagai lelaki, ia menahan diri. Dan usailah romansa di benaknya.

Takkan terlupakan
Walau kucoba berulang kali
Tiap menit tak terbakar
Semakin bersinar

Satu hal yang tak pernah diketahui wanita itu. Ada perseteruan yang tak pernah henti antara Alan dan Adi--om mudanya. Sejak kecil, mereka selalu disandingkan, dibandingkan. Tentu saja, Adi selalu menang karena kekuatan silsilah. Dan Alan menjadi pihak kalah yang selalu dimaklumi, karena di mata keluarga besarnya ia adalah anak kecil. Dan selalu menjadi yang terkecil. Bagaimana bisa, ia luput melihat hubungan wanita itu dengan Adi? Tiap menit ia mencoba mengingat apa yang menyebabkan bencana ini, lukanya semakin bersinar... Menyilaukan, membesar dan terus menyiksanya. Ia tak rela.

Sampai mati kau takkan mengerti
Takkan paham dia hingga ku tiada
Mengapa aku berakhir di sini?

Wanita itu tak akan mengerti, ada dendam anak kecil yang tak pernah dewasa di dalam dirinya, jika menyangkut persaingan dengan omnya yang satu itu. Pun omnya, hubungan mereka mulai retak, sejak Alan memutuskan keluar dari rumah besar bak istana itu. Namun ternyata, sejauh kakinya berlari, ia tak dapat lepas dari bayangan om mudanya yang terkenal hebat itu. "Mengapa aku berakhir di sini?" Batin Alan.

Dapatkah kita kan bertemu lagi
Ku dan dia menjadi baik lagi
Bila itu relaku
Demi itu demimu

Dua tahun, Alan melarikan diri dari mereka. Tapi dua tahun pula, ia tak dapat menghapus rasanya pada wanita itu. Bahkan, ia ingin kembali. Hanya untuk berada dekat wanita itu. Meski tak dapat memilikinya. Ia rela memperbaiki hubungannya yang retak dengan omnya, demi wanita itu. Bisakah? Bolehkah? Alan menimbang-nimbang.

Yang tak terbuka kan terbuka
Seperti operasi dan bedah
Menuju neraka
Padam di laut merah

Pada akhirnya, di sinilah Alan berdiri. Kembali ia jejakkan kakinya di atas rumah yang telah ia jauhi selama ini. Menjadi Alan Suryodiningrat. Sebuah nama yang selalu memberatkan langkahnya di mana pun, ketika ia menginginkan kebebasan. Hanya demi melihat tante barunya. Biarlah, semua yang tak terbuka, akan terbuka nantinya. Tapi itu, urusan nanti. Sekarang, yang Alan inginkan hanya berada di sisi tante barunya, wanita yang ia cintai--mungkin--sampai mati.

*cerita lirik lagu "Senja membunuh" - Monkey to millionaire*

Meta morfillah

Bermain dengan hatiku

Entah berapa lama
Aku menunggu

Abi sadar sebagai lelaki bukanlah hal yang pantas menanti seorang wanita. Tapi ternyata cinta terkadang memang membutakan logika. Terhadap wanita yang satu ini, ia dibuatnya tak berkutik. Seperti kerbau dicucuk hidungnya. Padahal wanita itu tak cantik. Namun ia adalah satu-satunya wanita yang tahan dan mampu membuat Abi nyaman.

Kau buatku percaya
Kau inginkan aku

Sikap wanita itu... Seperti menginginkan dirinya. Namun ada batas yang ia bangun. Ingin tapi tak ingin. Mungkinkah karena tak ingin merusak persahabatan yang mereka jalin hampir sepuluh tahun? Abi selalu berpikir seperti itu. Tapi ada kalanya, batas sabar akan penantian manusia habis, bukan?

Apa maumu?
Bermain dengan hatiku

Kadang wanita itu terasa begitu dekat, namun kadang ia menjauh. Pandai benar rupanya ia, menarik-ulur perasaan Abi. Timbul tenggelam kabar dan kedatangannya. Abi sadar hal itu, tapi ia sudah terkena candu. Ia rela menjadi pilihan kedua, asalkan ia bisa bersama wanita itu.

Kau beri harapan
Untuk kau remukkan berulang kali

Pernah suatu ketika, saat wanita itu patah hati karena kekasihnya yang tak setia. Tiga bulan wanita itu intens bersama Abi. Abi mengantar-jemputnya, menjadi telinganya, bahkan badut untuk membuatnya tertawa. Abi kira, selangkah lagi untuk mendapatkan hati wanita itu. Namun, yang terjadi adalah Abi terlalu berharap. Setelah tiga bulan, wanita itu mendapatkan pengganti lelakinya. Perlahan ia menjauh dari Abi, dengan alasan tak mau membuat lelakinya cemburu akan kedekatan mereka.

Pernah aku berpikir
Ini tak mungkin
Engkau datang lagi, membutakan aku

Sakit sekali rasanya, tapi sebagai lelaki Abi pantang menampakkan kesedihannya. Yang menyebalkan adalah, ia berpikir untuk menyerah dan menyadari bahwa hubungannya dengan wanita itu tak mungkin lebih dari persahabatan. Namun, wanita itu datang lagi. Untuk patah hati kesekian. Selalu Abi yang ia cari. Membuat Abi kembali goyah atas pendiriannya. Wanita itu berhasil membutakannya. Abi jatuh untuk kali kesekian padanya.

Kau tahu aku,
Terlalu menginginkanmu
Hingga kubiarkan
Hati kau hancurkan
Untuk kusatukan lagi
Dan kuberikan padamu

Hingga detik ini, hubungan mereka masih seperti itu. Wanita itu datang sesukanya, sebutuhnya. Ia tahu, bahwa ia telah memenangkan hati Abi yang bodoh. Ia tahu, bahwa Abi terlalu menginginkannya. Hingga Abi begitu bodoh, memberikan hatinya yang telah hancur untuk disatukan lagi, dan diberikan lagi padanya. Dengan wajahnya yang kearab-araban, sesungguhnya sangat mudah bagi Abi untuk mendapatkan wanita mana pun yang ia suka. Namun entahlah, Abi menjadi begitu bodoh. Seperti Rahwana, berkepala sepuluh namun hanya memikirkan satu wanita, yaitu Shinta. Yaa.. Abi yang malang. Entah sampai kapan, ia akan menyadari bahwa wanita itu hanya mempermainkan hatinya. Abi... Oh... Abi... Semoga kau menyadari, bahwa ada aku di sini yang selalu menanti kesadaranmu. Bahwa aku mencintaimu.

*cerita dari lirik lagu The Rain- "Bermain dengan hatiku"*

Meta morfillah

Tahu Diri

Hai, selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialku lah, kau ada di sini

Asta menggeretakkan rahangnya. Mengapa lelaki itu ada di sini? Sudah jauh ia melangkah, ternyata dunia tetap saja sama. Sempit! Lari dari waktu pun tak mengubahnya. Lelaki itu tetap sama seperti kali terakhir Asta melihatnya. Lima tahun lalu. Tetap mempesona.

Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini

Lima tahun yang panjang bagi jiwa yang merindu. Lima tahun yang pendek bagi Asta yang menghindar. Lihat? Hal ini tak pernah menjadi mudah baginya. Berdiri di depan lelaki itu, membaui udara yang dihirupnya. Parfum yang masih sama. Membuat Asta sesak, limbung dan gatal ingin berlari. Sayangnya, ini adalah acara penting yang ia wakili untuk kantornya.

Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati

Damn! Andai ia bisa berlari, ingin sekali mulutnya puas memaki. Pada keadaan. Ia terjebak. Jantungnya sakit, seperti disayat sembilu. Menahan kekuatan perasaan yang telah ia redam selama ini. Karena ia tak sanggup membunuhnya dari dalam. Ia hanya sanggup memati-surikan perasaan itu di bibirnya. Membuatnya jarang menziarahi tiga kata sakral tersebut pada mulutnya. Ya, tiga kata. Aku, cinta, kamu.

Dan upayaku tahu diri
Tak selamanya berhasil
'Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah bisa kita bersama

Asta menahan tegak tubuhnya. Meredam gelisah sekuat tenaganya. Lelaki itu tak boleh tahu tentang kekalahannya dalam peperangan batin ini. Lihatlah! Lelaki itu membawa perempuannya serta. Menampakkan kebahagiaan serasa dunia hanya milik mereka. "Aku harus tahan! Tahu diri, Asta! Tahu diri! Kamu tak akan pernah bisa bersamanya, menjalin cerita picisan itu" Batin Asta. Hal yang menyebalkan, adalah lelaki itu muncul terus di hadapannya, walau Asta telah mencoba berpindah posisi, berbicara dengan tamu-tamu lain.

Pergilah...
Menghilang sajalah... Lagi...

Tuhan! Tak bisakah ia menghilang saja? Seperti selama lima tahun ini. Jangan tampakkan lagi ia di hadapanku, Tuhan. Aku tak sanggup berupaya waras bila di sampingnya. Ia sungguh seperti buah khuldi di surga yang menggoda Adam untuk memakannya. Sial! Asta semakin merutuk, memaki di dalam hati.

Berkali-kali kau berkata,
Kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali kutelah berjanji
Menyerah..

Akhirnya, acara terkutuk ini selesai juga! Asta merasa lega, ia dapat kembali ke apartemennya. Ia segera meminta Pak Yadi--supir kantor--mengantarkannya pulang. Malam yang sungguh berat. Perjamuan yang mengingatkannya akan janji-janji manis lelaki itu. Semacam perjamuan kematian. Yaa.. Kematian hati Asta. Sejak lelaki itu berkata cinta berkali-kali, namun tak bisa menjadikan Asta pendamping hidupnya. Ia malah memilih perempuan lain. Klise! Pilihan orang tua. Seperti bukan lelaki dewasa, tak mampu menentukan pilihan. Namun lebih bodoh lagi adalah dirinya. Asta mampu memilih untuk menyerah, namun ia bergeming untuk bertahan dan percaya bahwa lelaki itu akan kembali padanya.. suatu saat. Nanti. Lalu menutup hatinya pada cinta lain. Ah.. Asta yang bodoh. Makan itu cinta!

*cerita berdasarkan lirik lagu "Tahu Diri" dipopulerkan oleh Maudy Ayunda*

Meta morfillah

Inilah caraku mengabadikanmu, dari sisa-sisa ingatan

Tahun 2013..
Aku berkenalan denganmu. Kamu, kamu, ya kamu.

Februari, bulan merah muda, indikasi penuh cinta. Awal perkenalan kita. Apakah ini pertanda? Semakin lama semakin cinta?

Maret, mulai berduet ria. Mereka-reka pasangan di antara belasan. Adakah kecocokan?

April, menggali arti nama dari sebuah puisi akrostik. Ada namamu, ya.. Namamu. Ada nama orang terkasihmu. Aku makin tahu.

Mei, surat-suratan tapi bukan kamu dan aku. Kita mencoba peka. Pada dunia, melalui pendidikan.

Juni, bulan inikah kita terpecah? Ah.. Memoriku terlalu buruk untuk mengingat kenangan yang tak kusuka. Perlahan kita merenggang. Kuasa waktu. Wajar.

Juli, apa yang kuingat darimu Juli? Hmm...rasanya ingatanku semakin memudar... Kau begitu baur dalam dunia yang campur.

Agustus, kita coba rekatkan lagi serpihan-serpihan niat. Tercetuslah ide merekam jejak kita bersama. Potret rasa. Apakah rasamu terpotret di sana? Atau hanya rasaku?

September, tak mudah ternyata. Kerikil melukai kaki, debu menghinggapi mata. Masalah tak kunjung reda. Perdebatan kecil senantiasa menyapa. Hubungan kita perlahan mendingin. Saling sapa perlahan menua.

Oktober, energi kita berkurang. Aku rasa kita lelah. Maka jarak mulai berkuasa. Masing-masing membangun batas. Kembali pada hidup yang memaksakan realitas kepenatan.

November, ke mana komitmen? Rasanya aku pun malu bertanya. Menjelang penghujung tahun, terbukti kita tak setia pada janji. Aku melanggar. Tak berkarya, memalukan!

Desember, sisa-sisa waktu yang dirayakan dengan menghitung mundur. Perlukah kita mengadakan perayaan jua? Perayaan kematian janji. Perayaan dinginnya hubungan ini. Perayaan celotehanku sendiri.

Tahun 2014... Seperti apakah akan kita jelang?

Seburuk apa pun... Patut kuucapkan tiga kata ajaib ini pada kamu, kamu, dan yaa kamu.

Terima kasih... Telah menjadi bagianku.
Maaf... Telah mengecewakanmu.
Tolong... Ingatlah yang membuatmu bertahan selama ini, sebelum kau putuskan untuk pergi.

meta morfillah

Memaknai cinta

Cinta yang SEHAT mendidikkan kecerdasan, kematangan emosi, ketenangan hati dan kedewasaan berpikir. Ia mengajarkan kesabaran menahan syahwat. -Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan-

Sudahkah kau menelaah lagi cintamu? Apakah cintamu telah seperti yang dikatakan kalimat tersebut? Mencerdaskanmu, mematangkan emosimu, menenangkan hati dan mendewasakan cara berpikirmu?
Bila belum, apakah yang salah? Cintamu? Orang yang kamu cintai? Atau mungkin caramu mencintai?

Cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab. Kau cintai ia karena keelokan rupa, maka hilanglah cintamu jika ia menua. -Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan-

Apakah niat dasarmu mencintainya? Rupanya? Hartanya? Kepintarannya? Sukunya? Semua itu akan sirna... bila tak kau dasarkan pada sesuatu yang kokoh dan sejati. Apakah sesuatu yang kokoh dan sejati kecuali Tuhanmu? Semua kembali padamu.

Mencari jodoh terbaik adalah selalu mengubah diri menjadi yang terbaik. -Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan-

Mau bagaimana lagi? Satu-satunya cara mendapatkan kualitas terbaik adalah dengan menciptakannya, pada dirimu dahulu, baru orang lain. Lelah? Ya begitulah hidup. Memang sulit menjadi sempurna, namun bukan berarti tidak mungkin. Dan kriteria "terbaik" antara kita pun tak sama. Bisa jadi "terbaik"-ku tak sama dengan "terbaik"-mu. Menarik bukan?

Mukmin sejati memaknai penjagaan kesucian dirinya sebagai sebuah perjuangan, bersabar, menahan dan bertransaksi dengan Allah Ar-Rahmaan. -Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan-

Berat, sungguh berat. Kala godaan dari syaithan menari-nari di sekitarmu. Bahkan bila dari orang terkasihmu yang menyarankan pelanggaran, dengan dalih ketakutan melihat kau terlalu lama sendirian. Tulisan ini pun kubuat sebagai pengingat. Ketika hati telah mulai goyah, semoga semua sejalan dengan apa yang pernah terucap di lidah. Pengingat bahwa telah kuucap ikrar niaga denganNya. Menabung niat dan ikhtiar untuk memetiknya nanti. Deposito dunia akhirat.

Jika terbersit niat ingin bermaksiat, cobalah raba urat leher Anda! Ingatlah, bisa jadi ini adalah jam terakhir dalam hidup kita. Mati dalam kondisi bermaksiat? Mau!? -Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan-

Jika seluruh dunia terasa mulai menggoyahkan, maka berlindunglah pada bayang kematian. Selalu ingat Mati. Mungkin itu satu-satunya pertahanan terakhirmu. Hidup terlalu singkat hanya untuk memikirkan percintaan sesaat.


meta morfillah

Sumur, kesadaran & kematian

Kematian itu begitu dekat.

Yaah.. kesadaran itu selalu ada, tapi selalu hilang saat kau menghadapinya langsung.

Seperti siang ini, di rumahku yang terletak di Bogor. Tiga ponakan tercintaku menginap untuk liburan bersama neneknya tercinta, it means my lovely mom. Hanya ada mama, udaku yang disabilitas, tiga bocah lelaki yang tak dapat diam, dan tentunya aku. Satu-satunya orang dewasa yang dapat diandalkan menurut mereka.

Selesai memasak--baru saja aku melepas penat dengan bercengkerama di grup WA membahas tentang tipe psikologi manusia sembari memilihkan film anak-anak yang pas untuk tiga bocah itu--tiba-tiba terdengar teriakan dari galih--ponakan keduaku.

"Tetaaaaa... daffa niih daffa!!!" lalu ia menghambur masuk ke kamar dan menarikku.

Bersamaan dengan teriakan histeris lain dari mamaku "Ya allah, metaaaaaaaa!!! Tolongin iniii!!!"

Bergegas aku menuju sumber suara, yang ternyata berasal dari samping rumah. Kulihat ada yang janggal, sumur terbuka dan benda-benda di atasnya--seperti papan dan banner yang menutupinya--hilang. Mamaku berteriak-teriak sembari menunjuk ke arah sumur itu. Matanya merah, menangis tak karuan. Dua ponakanku terlihat pucat dan memegangiku. Saat aku melongokkan kepalaku ke dalam sumur yang lumayan dalam itu, barulah aku sadar. Ponakan pertamaku, daffa, terjatuh ke dalamnya. Ia berusaha menahan tubuhnya dengan merentangkan tangan dan kakinya sekuat mungkin, agar tak terjatuh lebih dalam.

Hal pertama yang kulakukan adalah, berkata dengan suara--yang diusahakan--tenang pada ponakanku, "Mas daffa, tenang. Jangan nangis. Baca al fatihah,"

Lalu pada mamaku, "Mama masuk ke dalam rumah. Duduk diam, minum dulu sana. Bawa zahir juga ke dalam. Galih, panggil orang lain di luar, teriak minta tolong yang kencang."

Sementara itu, otakku berpikir cepat mencari apa saja yang dapat menjangkau daffa di kedalaman sumur itu.

Seutas tali tambang disodorkan mamaku. Langsung saja kulemparkan ke bawah. Daffa sudah menangis menjerit-jerit. Ia ketakutan. Aku juga.

Beruntunglah, tak lama kemudian datang seorang lelaki muda menolongnya. Ia masuk ke dalam sumur itu dan meraih daffa, dibantu seorang bapak yang meraih lelaki itu ke atas.
Mama sibuk mengomel sembari menangis histeris pada daffa. Aku pergi mengambilkan minum untuk daffa yang berlumuran lumpur. Lalu kumandikan ia, dan kuobati luka-luka di sekujur badannya dengan betadine.

Setelahnya, kutenangkan mama. Mama terlihat begitu lemah dalam usianya. Gemetaran sekujur tubuhnya.
Satu jam kemudian, barulah ia tenang dan sudah bisa tertawa saat aku melucu.

Tahukah kamu?

Sesungguhnya aku tak dapat berpikir jernih jika pada saat itu aku sendiri. Namun kesadaran itu datang begitu cepat! Bahwa aku adalah satu-satunya orang dewasa yang sehat jasmani rohani yang diandalkan oleh mereka. Mana boleh aku terlihat gemetar, menangis dan kebingungan?

Aku harus tenang. Walau di pikiranku, kelebat kematian membayangi dan perasaan bersalah semakin menghantui.
Jika terjadi apa-apa pada daffa, entahlah bagaimana aku bertahan. Pasti akan kusalahkan diriku yang tak mampu menjaganya, memperhatikan tiga bocah itu saat bermain. Jika terjadi apa-apa pada mamaku, tak dapat kubayangkan betapa rapuhnya aku menghadapi mama yang begitu lemah dan kehilangan kekuatannya karena shock hampir saja kehilangan cucu tersayangnya.

Ah, kesadaran, kematian, berulang-ulang menghantam, menggodam kepalaku.

Kami masih berbicara banyak "keuntungan" dari kejadian ini.
Untung sumur itu, airnya tidak sedang penuh dan dalam.
Untung listriknya tidak hidup.
Untung ada orang yang mampu menolong.
Untung daffa tidak apa-apa.
Dan untung-untung lain yang membuat kami bersyukur.

Ya Tuhan, memang kami makhluk paling lalai. Kesadaran kami seringkali hilang saat menghadapi kenyataan, terutama kematian.

Tapi, kejadian ini memberikanku pelajaran. Tetaplah ingat Tuhan, tetap tenang, dan tetaplah jadi satu-satunya orang yang berusaha tenang. Sebab dengan ketenangan itulah, masalah mampu kau pecahkan, walau sesungguhnya kamu pun tak sehebat itu. Kamu rapuh, tapi demi orang terkasih, jangan perlihatkan emosi berlebih. Karena kamu adalah tumpuan mereka.


meta morfillah

Text Widget