Pages

01 December, 2009

kunang-kunang

Inilah pertama kali aku melihatnya
Kerlip bercahaya, pendar sinarnya di langit yang gelap sungguh memukau
Walau setitik, sendiri, ia beri rasa bahagia padaku
Ia beri secercah cahaya dan warna di gelapnya malam
Akankah diriku sepertinya?
Memberi riak warna,
walau hanya kecil, tak banyak,,
di lautan dunia manusia ini.
Banggakah dirimu yang istimewa wahai Kunang-Kunang??

-27 Okt 2009-

21 October, 2009

Biarlah

Biarlah..
Di tengah masalah yang mendera kehidupanku
Di tepian kalut hatiku
Selalu tersemai sebuah benih cinta dan harapan
Yang kau titiskan lewat mereka yang tersayang
Selalu kau berikan kesempatan untuk sebuah alas an
Mendorongku untuk tersenyum melewati hari
Semakin ku bermuhasabah, semakin kau dekat padaku
Kau kirimkan malaikat-malaikat tak bersayapmu
Untuk menggiringku kembali ke jalan-Mu

Biarlah,,
Seribu alas an memaksaku untuk bersedih
Asalkan ada SEBUAH alas an untuk ku tersenyum,
Beri aku itu saja,,
Karena itu yang kubutuhkan saat ini, esok, dan selamanya..
hanya satu alasan kubutuhkan untuk tersenyum

15 October, 2009

I wanna talk about life

Budaya membiasakan kita untuk berpikir egois tentang sesuatu, seperti karir, kluarga, uang, punya mobil baru dlsb. Kita terlibat dalam sedikit aksi sebuah kebiasaan. Kita jarang membiasakan diri untuk berdiri di belakang dan melihat hidup kita sendiri. Bertanya, Inikah semua? Inikah yg kuinginkan? Adakah yg terlewat?. Kita butuh seorang guru untuk menunjukkan. Ia bisa siapa saja, apa saja, dimana saja, dan kapan saja. Namun hal tersebut tidak terjadi secara otomatis. Tentu kita harus mengasah panca indera kita.

Bagaimana mungkin kau terus berpikir bahwa “kiamat masih lama”, atau “ besok aku pasti masih hidup, tobatnya kalo udah tua aja”. Padahal sudah beribu peristiwa menegaskan bahwa kematian bukanlah berdasarkan usia, ia terjadi kapan saja, dimana saja, tak mengenal ruang, terlebih waktu. Masihkah kau bisa berleha-leha, bermaksiat, jika kau sadar akan hal itu??

Mungkin, apabila DIA menghendaki untuk memberitahu sisa umur kita semua, pastilah dunia ini akan terasa aman, karena orang akan berbuat segala kebajikan yg ia mampu untuk bekal akhiratnya.
Pertambahan usia, atau menjadi tua bukanlah semata kehilangan/kekurangan. Lebih dari itu, ialah kita BERKEMBANG. Terlepas dari pikiran negative bahwa kau akan mati, tapi positif mengetahui bahwa kau MEMAHAMI bahwa kau akan mati dan kau berusaha hidup lebih baik karenanya.


Ada sebuah kalimat yang bermakna bagi tha, “WHEN YOU LEARN HOW TO DIE, YOU LEARN HOW TO LIVE”. Belajarlah untuk bersiap mati, bagaimana kau akan mati nanti, cara apa yang kau pilih, maukah kau mati dalam keaadaan baik (khusnul khatimah)? Dengan mempelajari hal itu semua, kau akan belajar bagaimana tentang hidup di dunia fana ini. Dan itu mempengaruhi kualitas hidupmu, karena paradigmamu yang mendalam tentang hidup yang sementara ini. Karena kau meyakini, bahwa ada KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN. DAN ITULAH KEHIDUPAN SESUNGGUHNYA.


Each night, when I go to sleep, I die. And the next morning, when I wake up, I am reborn (Mahatma Gandhi).


**Refleksi diri saat subuh, 15 Oktober 2009**
matahari dapat kugenggam apabila aku yakin pada kebesaran-Nya

06 October, 2009

Imaji menembus awan

Sebuah bintang alpha veta telah merubah sistem tata surya ini, matahari tak lagi pusat, inilah awal dari akhir,sketika aku diutus oleh agen neptunus, berlayar dengan perahu kertas.
Terjebak dalam dimensi cinta Laila dan Majnun.
Berontak aku, terdampar di Palestina, bertemu dgn Salwa.
Ternyata hatiku msih ingin beranjak,,Negeri 5 menara dan negeri van oranj tujuanku berikutnya. Selami duniaa kebebasanku.
SENDIRI.


"maaf ya cio, sepertinya kamu tidak akan pernah ditakdirkan untuk menemani dan melahirkan sebuah cerita konsumsi publik yg diterbitkan."

".."

" mungkin, aku memang hanya cinta baca, dan menulis hanya sekedar penyaluran pikiranku,,tak pernah ada niatan meluaskannya,memperjuangkannya untuk diterbitkan."

"tapii,,kalau tentang yg sufi,, aku ingin membuat namun ilmuku masih sedikit. Ingin rasanya, seperti penulis yg berdkwah, ketika di hari hisab nanti, dia akan mendapat kejutan amalan yg mengalir, dikarenakan banyaknya pahala yg kuhasilkan dari tulisanku."


"METAAA,,SOLAT ISYA SANA! TINGGALIN DULU TUH BUKU MA LAPTOP!! KAMUU,,,KALO DAH BUKU ,LUPA DAH SEMUANYA!! CEPEEETT,,,ATAU GAK MAMA BUANG NE SEMUA BUKUNYA!!!!"


UUppss,,,Astagfirullah,,," IYA,,ne juga mu solat ko, ga lupa,,,cuma keasikan!"

"jangan dibuang donk ma,,cukup koleksi bobo dan komikku selemari aja yg mama bakar waktu kecil dulu"(dalam hati)

Ku tak ingin!!

Ketika Kecil,
aku menjadi sandaran bermain kupu-kupu,belalang,dan serangga lainnya.
Kakiku menjejak ke bumi, tempatku berpijak.
Kudapat mendengar senandung semut yg bergotong royong, kepak sayap kupu-kupu berpindah dari tangkai satu ke tangkai lainnya.

Namun,,
seiring bertambah usiaku, aku berkembang,,pesat,
Ku dapat lihat lebih tinggi,,luas..
Dapat kulihat dari tempatku berpijak, seorang bocah bermain ketapel.
Kadang kutantang tiang listrik yg menjulang.
Mentari terasa dekat denganku.

Namun, aku merasa ada yg hilang.
Dimana suara teman2 kecilku??
Ingin aku mendengarnya, namun ku tak mampu untuk merendah.
Mengapa tak kurasai lagi tanah tempatku berpijak?
Apakah aku terlalu jauh berkembang??

Aahh,inikah konsekuensi PERKEMBANGAN & PERTAMBAHAN USIA??
Bertambahnya kebolehanku, di situ pula kekuranganku.


Tak bisa kembali ke pandangan sebelumnya, bertambahnya ilmu/penglihatan yg kudapat, TERNYATA tak menjamin aku lebih mengerti dari sebelumnya.

Sungguh sulit rasanya,,Sesak yg kurasa.
Wahai teman,,bolehkah aku memohon??
Tolong ingatkan aku kala aku terlena dalam memandang sesuatu yg kuanggap lebih kumengerti dari sebelumnya.
Ingatkan aku untuk berpijak di bumi ini,,karena aku bkan burung,,yg dapat terbang ke langit (bahkan burung pun perlu menjejakkan kakinya ke bumi bkan?

Jangan tinggalkan aku di tengah kesombonganku.
Ingatkanlah aku wahai saudarikuu.

Aku tak ingin jadi makhluk yg kufur, tak bersyukur.

TAK INGIIINN!!!



**Special note for my milad next 22 Oct as reflection in my mind,,(^_^)**
inilah aku

Waktu dan Usia

Waktu

Tegas
Kuasa
Disiplin
Berpacu denganmu tiada henti.
Karna dirimu, banyak manusia yang saling melupakan, datang dan pergi, hilangnya sebuah keakraban.
Namun berkat dirimu jua, manusia dapat menyembuhkan luka hatinya, memaknai sebuah kehidupan, kasih sayang dan menjadi dewasa.
Hampir segala hal dapat diselesaikan melalui dirimu.
Berbagai jenis cinta terjawab kepastiannya olehmu.
Bahkan IA,tuhanku bersumpah atas namamu pada para hamba-Nya.
Sedemikian kuasanyakah dirimu??

Usia

4 hruf yg terdengar biasa,bahkan dalam pertambahannya merupakan kebahagiaan bagi pemiliknya.
Namun, sesungguhnya ialah amanah terberat bagi kita.
Segala hal yang kita akukan dalam hidup ini, bukankah inti untuk membuatnya bermakna?
Dan pada saatnya nanti, bukankah itu yg akan dmintai pertanggungjawaban lebih dahulu?

USIAUSI
AUSIAUS
IAUSI
AUS
USIA=AUS
Semakin lama semakin AUS,,terkikis seiring bertambahnya waktu fana,dan berkurangnya waktu kekal.

Khayalan ini . .

Heemm,,setiap abis nonton sebuah film, selalu aja ada perasaan yg terbawa hanyutt. Selalu ingin merasakan bagaimana jadi tokoh utama. Padahal kalau dilihat selalu tokoh utama itu yg memiliki suatu kekurangan, tapi ia juga memiliki sebuah kelebihan. Yang membuat ia tahan dengan segala cobaan yg ia alami. Tapi di satu sisi ku merasa,,sanggupkah aku mengalami hal-hal yang dialami sang tokoh utama itu?


Dan kudapati diriku tersenyum, hatiku bicara. Sepertinya TIDAK. Itulah yang membuat hidupmu kau rasa tidak terlalu berat, hanya persoalan sepele yg biasa menemani, seputar tugas kuliah yg deadline, uang yg menipis, pertemanan, hubungan kluarga yg trkadang salah paham. Tidak pernah terlalu mendalam seperti tokoh utama tersebut. Kau tahu kenapa kau rasa hidupmu terasa flat,bias?? Karena Ia, Tuhan,sayang padamu. Ia tahu seberapa besar kekuatanmu menanggung masalah, maka ia tidak memberimu masalah2 seperti tokoh utama sebuah film/novel itu. Bukankah Ia,Tuhanmu berkata dalam kalam-Nya, “Ia tidak akan memberikan sebuah ujian yang melampaui batas kemampuan hambanya.” Dan kau juga pasti sadar sebenarnya, bahwa kau TIDAK MAMPU menahan masalah sperti tokoh2 utama tersebut.



Heii,,terima kasih telah mengingatkanku! Tapii,,bolehkan kalau diriku penasarn, dan berharap dapat melihat diriku berdiri sebagai tokoh utama dalam sebuah film/novel. Dengan masalah-masalh hidupku yang datar ini tentunyaa
sanggupkah aku Tuhan??


##23 Sept 2009, perenungan di tengah refleksi sebuah hari##

17 September, 2009

Kerikil itu AKU

Ketika Tuhan melemparkan aku, sebutir kerikil,
ke dalam danau indah ini,

aku memecah permukaannya dengan lingkaran riak tak

terhitung.

Tetapi ketika aku sampai ke dasarnya aku diam tak bergerak

Dimana GEMA ku?

Segala khasanah yang kupunya, bagaimana mempertanggungjawabkannya?

Wahai ilalang, adakah catatanmu merasakan pesona hadirku?

Lantas, bagaimana aku membahagiakan ia yg mencintaiku seperti bunga yang mencintai Tuhan-Nya.
Yang mematuhi titah Tuhan-Nya,

Tak letih menebar pesona dan harumnya ke sekitar.

Lantas, bagaimana aku membahagiakan ia yang mencintaiku seperti matahari yang tunduk pada titah Tuhan-Nya.

Tak mengeluh memancarkan sinarnya untuk semua makhluk.


BAGAIMANA??

11 September, 2009

jomblo vs pacaran

Jomblo.
Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih…nggak laku? Emangnya jualan kolor?
Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.

Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzhubillah.

Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.
So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.
Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (hehehe…)

Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak nyari pacar. Tulalit banget kan?
Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.

Belum lagi dorongan media, baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!

Kenapa harus pacaran?

Hayo…bisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmm…mungkin di antara kamu ada yang menjawab:
‘biar nggak kuper’
‘biar nggak dibilang nggak laku’
‘biar ada cowok yang sayang sama kita’
‘biar ada semangat untuk belajar’
‘biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’
‘sekedar pingin tahu rasanya’
dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.

Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?
Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?

Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu nggak bakalan tahu topik beginian. Kalo begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa warna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.

Sebaliknya, pacaran adalah adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah saw., “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)
Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.

Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!


Jomblo adalah pilihan..

Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa’ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?

Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huh…jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: “jomblo tapi sholihah”. Huhuy!!


Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.

Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?

Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa’ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung dating ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo…pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?!


Jomblo tapi sholihah

Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih…nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu ‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.

Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?

Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Benar-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkeredung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!!


Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja ‘jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!’.
Hidup jomblo!


::sumber : jaga kesucianmu ya akhi wa ukhti::

04 September, 2009


Pergi ia,, Meninggalkan sebuah lubang di hati Waktu berselang, datang dia. beringsut menjadi mereka. Menambal lubang itu, bahkan lebih dalam dan lebar. Memang DIA selalu menggantikan yang terbaik untuk hambanya yang tak kenal menyerah dan putus asa. Hilang sorang sahabatku, namun aku mendapatkan mereka.. Saudara-saudariku seiman. Sesal?? Tiada arti dibandingkan kucuran rahmat-Nya selalu melindungi hambanya yg hina dina ini. Jagalah selalu hati, kesucian dan iman kita ya saudara/i-ku

Text Widget